
HAPPY READING
Chu!!
Mata Hana membola saat tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di pipinya. Belum juga otak cerdasnya mencerna keadaan macam apa yang dialaminya, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
“Kamu mencuci piring, tapi kenapa tidak ada makanan di meja?” tanya Andre yang tengah meletakkan dagunya di bahu Hana.
“A, e, itu…”
Hana kehilangan fokus saat bibir Andre dengan lancang menyusuri rahangnya.
Andre tak berhenti meski Hana terlihat tak nyaman. Namun saat Hana pasrah, ia justru dengan sengaja menjauhkan tubuhnya.
Hana hanya mampu mendengus tertahan mendapat siksaan seperti ini dari mantan bosnya.
Ya Tuhan. Kenapa saya bisa mengharap lebih. Tidak mungkin Andre mau dengan saya, apa lagi sampai sengaja menyemai benih dalam rahim seorang Hana. Itu tidak mungkin.
“Lain kali kalau buat makanan jangan lupa buatkan juga untuk saya. Kamu tidak lupa kan kalau bahan yang kamu masak itu saya yang beli semua,” ujar Andre dengan wajah tanpa dosa.
Hana meletakkan piring di tempatnya dan memutar tubuh menghadap Andre yang duduk tak jauh darinya.
“Bukankah anda sendiri yang bilang kalau saya tak bisa berbuat seenaknya termasuk berinisiatif membuat makanan untuk anda?” Hana coba memperingatkan Andre tentang aturan yang pernah dibuat Andre untuknya.
“Ya itu kalau saya sudah makan. Nyatanya sekarang kan saya lapar,” ujar Andre dengan santainya.
Hana merengut. “Ya mana saya tahu kalau kamu belum makan.”
“Ya tanya dong, kalau sudah tahu langsung bikinin makan.”
Hana berjalan ke kulkas. Ia ingin membuat makanan untuk Andre sekarang.
“Kamu mau ngapain?” tanya Andre saat melihat Hana sibuk memilah bahan apa yang akan ia masak.
“Mau bikin makanan Andre.”
“Taruh semua!” ujar Andre dengan nada tak terbantahkan.
__ADS_1
“Ha?!” Hana mematung dengan memegang cabe di tangan.
“Taruh,” ujar Andre sekali lagi.
Hana tak punya banyak pilihan selain menurut.
“Saya sudah terlanjur lapar,” lanjut Andre masih dengan wajah datarnya.
“Iya ini saya masakin. Nggak lama kok,” ujar Hana meyakinkan.
“Saya nggak bisa nunggu.”
Hana merasa tak nyaman dengan tatapan Andre. Ia merasa ada yang tidak beres dengan senyum dan tatapan yang dilayangkan pria ini kepadanya saat ini.
“Biar saya makan seadanya saja.”
“Maksud kamu?”
Andre bangkit dan mengangkat tubuh Hana begitu saja. Hana belum dapat mencerna keadaan dengan baik sehingga ia hanya diam saja dan tak banyak meronta. Sepertinya sejak bersama Andre kecerdasannya berkurang secara signifikan. Ia yang biasanya mampu berfikir dengan cepat sekarang butuh waktu lama hanya untuk mencerna sebuah kejadian sederhana.
“Wait, wait, wait, iighhh….”
“Makan daging mentah bukan ide yang buruk untuk makan malam. Kamu juga bisa makan makanan mentah kan?” tanya Andre dengan senyum miringnya.
Hana menggeleng cepat.
“Tapi kamu tidak berhak menolak, karena ini adalah permintaan saya.”
Andre langsung membungkam mulut Hana saat wanita ini terlihat membuka mulutnya untuk berbicara. Ia tak peduli Hana masih bernafas atau tidak, yang jelas Andre mulai suka mencium Hana secara spontan seperti ini. Ia sangat suka ekspresi Hana yang terkejut dan takut-takut, tapi ia berani bertaruh jika sebentar lagi wanita ini pasti akan hanyut.
Niat awal hanya ingin mengerjai Hana hingga habis nafasnya, namun Andre ternyata belum bisa berhenti sampai di sini saja. Ia mulai turun mencari kulit yang kering untuk dibasahinya. Cukup lama ia bermain di sana, hingga meninggalkan beberapa jejak yang cukup ketara.
Andre tersenyum miring melihat ia berhasil menguasai Hana. Wanita ini pasrah dan nampak mulai menikmati permainannya.
Kembali Andre merasa tak cukup dengan hanya bermain di sana. Ia bergerak turun untuk menemukan sesuatu yang lain. Ia membuka satu persatu kansing dress Hana. Sesekali ia mencuri pandang wajah ayu wanita yang tengah bermain bersamanya. Mata sayu itu berhasil membuat Andre gila. Ia menjadi tak sabar dan menarik kain itu dengan sekuat tenaga. Dan apa yang ia cari terpampang di depan matanya.
Andre menarik tubuhnya agar bisa menikmati pemandangan ini dengan lebih leluasa.
__ADS_1
Ini, bakpao, mochi, apa squishy?
Andre kembali menenggelamkan dirinya. Ia girang mendapat mainan baru yang biasanya hanya mampir di angannya saja.
Tiba-tiba Andre menarik dirinya. Ia kemudian berjalan meninggalkan Hana begitu saja dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Tanpa ada yang tahu, Hana tiba-tiba menitikkan air mata.
Kenapa aku terus berharap untuk berbagi dosa bersamanya. Padahal aku tak lebih dari seorang jalang di mata Andre.
Hana mengusap air mata dan meraih apapun untuk menutupi tubuhnya. Bajunya tak bisa dipakai lagi karena sudah teronggok mengenaskan karena Andre tadi merobeknya.
Aku harus siaga dan pergi segera begitu kesempatan itu ada.
Hana membulatkan tekat dalam hatinya. Ia diam di kamar Andre karena tak ada kamar lain selain kamar ini di apartemen ini. Dia heran kenapa apartemen ini hanya punya satu kamar. Apakah jika ada orang yang bermalam akan di ajak Andre tidur di ranjang yang sama dengannya?
Tak sampai setengah jam, Andre sudah keluar dengan handuk yang melilit sebatas pinggangnya. Hana memalingkan muka saat mata nakalnya dengan lancang mencuri pandang pada otot perut Andre yang terbentuk sempurna.
Sial!
Hana mengumpat dalam hati.
Aku hanya sedetik melihatnya, kenapa jelas sekali rekaman yang dikirim mata ke otakku ini. Satifying sekali seandainya aku bisa merabanya. Titik-titik air itu ya ampuunnn. Hana heboh meracau dalam hati. Hal ini membuat semburat merah muncul di wajahnya.
Andre tertawa kecil saat melihat Hana salah tingkah dengan wajah memerah. Ia sepertinya tahu apa yang ada di otak wanita ini. Dengan sengaja ia berjalan dan berhenti di depan Hana.
Hana menutup wajahnya saat melihat Andre membuka handuknya.
“Hanya satu handuk yang tersisa.” Dengan santai Andre menyerahkan handuk yang baru saja dia pakai untuk Hana.
Hana menerima handuk itu dengan sebelah tangan sementara sebelah lagi masih sibuk menutupi wajahnya. Ia segera berlari ke kamar mandi dan menghilang setelah pintunya tertutup.
“Iiihsg….” Hana menahan geram di kamar mandi. Kenapa juga dia harus lari ke sini. Saat Andre tiba tadi dia kan baru saja mandi. Dari pada makin malu akhirnya ia memilih untuk mandi sekali lagi.
Di luar Andre benar-benar merasa terhibur dengan mempermainkan Hana.
Apakah aku seseksi itu hingga ia benar-benar tak sanggup menahan pesonaku?
__ADS_1
Andre masih tertawa sambil memperhatikan penampilannya dari atas ke bawah. Dia tidak gila Man! Dia melepas handuknya dengan santai karena ia sudah mengenakan celana boxer di dalam. Tapi reaksi Hana benar-benar di luar dugaan. Wanita ini pasti mengira jika Andre telanjang bulat setelah melepas handuknya.
Bersambung…