
...*HAPPY READING*...
Setelah lebih dari 4 tahun menunggu akhirnya Rina benar-benar merasa bangga atas dirinya. Ia berhasil mendirikan perusahaan sendiri, meskipun tetap ada dalam naungan perusahaan suaminya.
Galery sudah siap dibuka dengan berisi hasil karya Rina.
"Semuanya sudah hampir siap Mbak Rina."
"Oke, Mbak Ratih. Saya serahkan semua sama Mbak ya, saya harus menangani hal lain di kantor pusat."
"Siap Mbak. Kami yang di sini akan berusaha semaksimal mungkin."
Rina bergegas menemui Dika di kantornya. Ia ingin mengeluh kenapa Andre harus pergi saat dirinya juga sedang sibuk dengan urusannya sendiri seperti ini.
Di sisi lain, Hana masih belum menyerah untuk merebut hati Dika. Ia masih sibuk memikirkan cara bagaimana menyingkirkan wanita ini dari pria yang diincarnya. Ia merasa punya segalanya yang lebih baik dari Rina. Prestasi akademis, wajah, tubuh yang lebih tinggi dan proporsional daripada Rina dan ia juga merasa lebih elegan saat bersanding dengan Dika.
"Selamat siang semua."
"Siang bu Rina," balas deretan staf sekretaris yang barusaja di sapa Rina.
Rina terus berjalan tanpa berhenti, buru-buru menemui sang suami.
"Sayang, aku telat ya. Maaf tadi ke gallery bentar, ngecek segala sesuatunya di sana."
"Tenang, masih ada 5 menit untuk bernafas."
Rina mengambil air di salah satu sudut dan meminumnya dengan tergesa.
"Andre emangnya kemana sih?"
"Dia lagi ngehandle proyek besar," jawab Dika sambil serius menatap lembaran-lembaran di tangannya.
"Oh."
Rina duduk di sofa. Ia diam sambil mengumpulkan serpihan ingatan tentang project-project penting yang langsung di handle oleh kantor pusat. Namun ia belum ingat juga hingga Dika menginterupsinya.
"Sayang. This is the time."
Rina berdiri dan merapikan penampilannya sebentar, setelah itu berjalan keluar bersama Dika untuk menemui clien bersama.
Begitu pintu terbuka, tatapan Rina langsung tertuju pada Hana. Dan tanpa diduga Hana juga tengah menatap tajam dirinya. Rina makin yakin jika staf sekretaris suaminya ini benar-benar tak menyukainya.
Dan meeting berjalan lancar tanpa sedikitpun menemui kendala.
"Sayang, makan siang aku mau cek persiapan di gallery ya..."
"Jangan, makan siang aku janjian sama Rio, kamu tolong temani ya, dia sama Indah juga kok."
Rina nampak gelisah.
"Tapi aku mau cek persiapan di sana. Aku gak mau ada masalah untuk acara malam nanti."
"Kan sudah banyak yang ditugaskan di sana."
"Tapi aku gak tenang kalau gak mantau sendiri."
"Jadi kamu lebih mentingin agenda kamu dari pada suamimu."
Rina mendesah. "Ya gak gitu, tapi kalau pertemuan dengan Rio kan bukan bahas bisnis, jadi kamu pasti bisa sendiri."
__ADS_1
"Ya tapi dia sama istrinya, masa aku sendiri."
Rina menatap aneh suaminya. Kenapa Dika mendadak manja seperti ini. Selama ini kan dia biasa sendiri, kenapa sekarang mendadak kekeh ingin ditemani?
"Kayak berat gitu mukanya."
Rina menghela nafas. Mungkin aku terlalu gak mentingin Dika selama ini.
Rina berjalan dan menghampiri suaminya.
"Oke sayang, kita akan pergi bersama," putus Rina.
Dika menarik pinggangnya dan mendarat kan sebuah kecupan di kening istrinya.
***
Sekarang sudah hampir pukul 4 dan Dika terus menahan Rina untuk di dekatnya. Rina sedikit kesal karena hal ini, namun ia juga sadar kalau Dika sudah banyak sekali berkorban untuknya sejak dulu hingga kini.
"Sayang, apa aku beneran gak dikasih waktu untuk lihat persiapan di galeri?" tanya Rina yang mulai gusar karena hari ini ia tak bisa memantau persiapan dan hanya mengutus orang untuk menggantikannya.
"Udah lah. Yang di sana itu semua ekspert di bidangnya. Kamu nggak usah khawatir ya..."
"Tapi aku harus memastikan semua sesuai Dika."
"Ya udah. Sekarang telfon aja."
Rina menghembuskan nafasnya kasar. Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi Ratih selaku orang keoercayaannya.
***
"Saya punya informasi besar untuk anda."
"..."
"..."
"Oke, good. Ini adalah skandal hubungan gelap antara pemimpin Surya Group dan asistennya. Asisten yang kini bersiap menjadi pemimpin cabang Surya yang akan diresmikan malam ini."
"Akan saya kirimkan gambar mereka saat melakukan pertemuan di luar jam kerja, saya yakin anda akan untung besar saat menyiarkan beritanya."
"..."
"Segera tulis berita terkait, dan post sebelum acara peresmian."
"Terimakasih."
Hana menutup ponselnya. Ia tak tahu lagi cara menyingkirkan Rina dari Dika. Hanya menghancurkan nama keduanya Hana rasa dapat memukul mundur dan menghancurkan Rina. Semula ia tak ingin Dika tercemar namanya, namun tak ada cara lain selain mengungkap hubungan mereka.
Ia yakin Rina memperoleh semuanya hanya karena ia adalah kekasih Dika. Meskipun sah-sah saja, ia merasa ini tak fair dalam dunia bisnis.
"Rina. Aku tak akan membiarkanmu berjaya dengan cara kotormu."
Hana kembali bekerja seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Ia benar-benar tak tahan melihat Rina hancur saat peresmian galerynya.
Beberapa jam menunggu, Hana mendadak ingin sekali keluar dari ruangannya. Baru saja ia mengirim berita ke website kantor. Ia yakin saat ini semua mulai heboh dengan berita yang baru mereka baca.
Hana berjalan dengan santai seolah tak tahu apa-apa. Ia melihat beberapa karyawan yang mulai bergerombol. Ia yakin jika ditengahnya ada ponsel yang memuat berita yang memuat tentang pemimpin mereka.
Saat ini Dika sedang bersiap meninggalkan kantor bersama Rina. Ia ingin menemani Rina bersiap-siap untuk acaranya malam ini. Saat melewati jajaran stafnya, mendadak Rina merasa semua menatapnya. Dan mulai berbisik saat ia dan Dika melewati mereka.
__ADS_1
Ini ada apa sih?
Rina terus memacu langkah bersama suaminya, menuju tempat yang telah direkomendasikan oleh Santi. Perempuan ini tak pernah mau lepas tangan untuk urusan penampilan Rina, karena Rista anak perempuannya sudah punya fashion stylist untuk setiap penampilannya.
"Ya ampun sayang, jam segini kok masih nyampe sih, acaranya kan jam 8, masa iya kita nggak datang lebih awal," omel Santi pada anak dan menantunya.
"Ya maaf Ma. Di kantor kerjaan numpuk."
Rina menatap sekilas suaminya sebelum kembali menatap mertua cantiknya. Sibuk apaan. Hari ini kelewat santai malah.
"Rina sini sayang."
Rina pun menghampiri mertuanya.
"Mbak, ini menantu saya. Pokoknya harus mentereng dari ujung kaki sampai ujung kepala. Saya nggak mau ada yang miss atau salah tema sekecil apapun itu."
Wanita dengan dress hitam itu mulai mengamati Rina dari atas hingga bawah, dan berjalan memutar kemudian.
"Mbak suka gaya make up apa nanti?" tanya perempuan itu.
"Saya mau make upnya no make up look."
"Yah, kok no make up look sih Nak, kan jadi nggak kelihatan wow."
"Istri Dika nggak perlu dicemong-cemong Ma, dia udah cantik gitu aja," imbuh Dika.
"Ya tapi kan untuk acara sebesar ini. Menurut Mbak gimana?"
"Mbaknya udah cantik, mau di make up kaya gimana juga tetep cantik. Make up itu kan untuk menunjang penampilan, sebagus apapun make up nya kalau nggak PD kan percuma, mending sesuaikan sama konsep acara, gaun dan selera Mbaknya aja."
"Saya setuju Mbak," sahut Dika cepat.
"Ya, oke Mama ngalah kali ini. Udah Mbak, cepet dimulai. Kuku, kaki, badan, tangan, muka, jangan sampai ada yang kelewatan."
"Baik Bu."
Semua orang sedang bersiap dengan tugasnya masing-masing sementara Rina dibimbing untuk mengganti pakaiannya.
Tiba-tiba ponsel Dika berdering, ia segera menggeser tombol hijau di sana.
"Kenapa Ndre?" tanya Dika saat mendengar suara Andre yang tak santai.
"..."
"Memangnya ada apa, Rina masih bawa HPnya sendiri."
"..."
"Oh, ya biarin lah."
"..."
"Iya. Aku serius."
"..."
"Iya, terimakasih banyak. Sampai jumpa."
TBC
__ADS_1