Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Saling Memaafkan


__ADS_3

HAPPY READING


“Makasih Sayang.”


Rina tersenyum lembut. “This is what I should have done. Even, I can’t be the perfect one.”


Ada sesuatu yang mencelos di dada Dika. Dia merasa bersalah atas sikapnya terhadap Rina. Spontan Dika menarik Rina ke dalam pelukannya, dan mendekapnya dengan erat kemudian.


“I’am sorry. Aku lupa caranya menjadi suami yang baik.”


Pandangan Rina mengabur. Air mata yang ia kira telah habis semalam ternyata sekarang keluar lagi. Meski tak deras tapi cukup untuk membuat aliran di wajahnya. Ia menangis tanpa isak. Ia menangis karena rasa bersalah yang menyerang hatinya.


Dika tahu istrinya menangis namun ia tak ingin mengucapkan sepatah kata pun sekarang. Ia ingin menenangkan diri bersama dengan istrinya saat ini.


Saat Rina maraca cukup puas menumpahkan sesaknya, ia menarik diri dari pelukan suaminya. “Sayang maafkan aku. Karena keegoisanku sekarang kita harus mengalami masalah seperti ini,” ujar Rina di sela isaknya.


Dika tersenyum dan mengusap air mata yang mengalir di wajah istrinya.


“Aku tahu kesalahanku sangat banyak, aku tahu banyak masalah yang timbul karena keegoisanku, tapi ijinkan aku egois lagi kali ini dengan tetap memohon kamu bersedia memaafkanku.”


Tangan yang semula memegang kedua sisi wajah Rina itu perlahan turun menyusuri leher dan berhenti di pundak. Dika memegangi kedua pundak istrinya dan memandang teduh wanita yang menjadi cinta keduanya ini.


“Aku tak seharusnya membiarkanmu seperti kemarin. Aku juga tak seharusnya menjadi pengecut dan tak berani mengungkapkan bahwa aku kecewa. Aku hanya sibuk merasa kecewa dan lupa bahwa kamu juga merasa sama.”


Rina menghambur lagi ke pelukan suamianya. Ia kembali menyemburkan tangisnya. Jika sebelumnya tangis pilu, kini menjadi tangis bahagia karena Dika ternyata kembali dengan mudah memaafkan kesalahan fatalnya.


“Aku janji nggak akan gini lagi. Aku janji akan membunuh egoku dan menyerahkan setiap keputusan padamu.”


Dika mengusap lebut rambut istrinya. “Aku juga janji akan lebih terbuka sama kamu. Bilang iya dan tidak sesuai dengan yang aku rasakan.”


Kedua suami istri ini saling berpelukan.


“Aku memintamu pada papa Reno untuk dibahagiakan, jadi aku akan membahagiakan kamu sampai batas kemampuanku.”


Rina mengangguk dalam pelukan Dika. “Aku bersedia menikah denganmu karena aku siap menjadi makmum dalam kehidupanmu, jadi aku tak akan melakukan apa pun yang tak sejalan denganmu.”


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Rina menarik diri dari pelukan DIka. Ia berlari ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


“Masuk,” ujar Dika sambil membenahi dasinya.


Dari balik pintu muncul Andre dengan pakaian rapi namun dengan wajah yang berantakan.

__ADS_1


“Oh…., sudah berani muncul kamu,” ujar Dika saat melihat sosok sekertarisnya ini.


“Maaf Bos, ada sedikit kendala tadi, jadi saya baru bisa ke kantor sesiang ini.” Ada rasa bersalah yang Andre rasa melihat wajah tampan bosnya kini babak belur karena harus berjuang sendiri sejak kemarin.


“Apakah tak ada alat komunikasi yang bisa kamu pakai untuk mengabari saya?” tanya Dika dengan angkuhnya.


“Maafkan saya Pak. Saya bahkan tak sempat memeriksa ponsel.”


Dika hanya menggerakkan kepalanya, dan Andre sangat paham maksudnya. Pria berperawakan sedang ini segera menutup pintu dan berjalan menghampiri bosnya. Dia berhenti tepat di hadapan Dika.


“Duduk.” Titah Dika.


Andre mematuhi apa yang Dika katakan.


Setelah sebuah tarikan nafas Dika mulai menatap serius sekertaris yang sudah menjadi sahabatnya ini. “Ndre, sebenarnya ada apa? Sudah 5 tahun kita bekerja bersama, tapi baru kali ini kamu kacau seperti ini.”


“Maaafkan saya,” ujar Andre dengan menundukkan kepala.


“I don't need your apologize, I just need you to tell me what really happened to you.”


Andre menatap lamat bosnya. Maafkan aku Dika. Aku tak berani jujur masalah ini. Aku takut jika kamu punya pikiran lain terhadapku. Percayalah, aku hanya tak ingin Hana bebas dan kembali membuat kita semua susah, karena…


Karena aku sekarang mulai lemah.


“Apa yang kamu pikirkan, apakah sebuah masalah berat?”


Dika memicingkat mata. “Jadi…”


Andre menghela nafas. “Saya mabuk.”


Dika nampak terkejut dengan apa yang Andre tuturkan.


“Saya janji tak akan seperti ini lagi. Sekali lagi maafkan saya,” ujar Andre cepat.


Ia tahu Dika kesulitan hari ini. Jelas sekali dilihat dari penampilannya dan meja kerjanya yang berantakan dengan tumpukan berkas berserakan dan beberapa diantaranya harus jatuh mengenaskan.


“Saya tidak mau berbohong dengan mengatakan taka apa-apa, tapi kamu bisa pulang kalau pengaruh alcohol masih belum hilang dari diri kamu.”


“Sudah Pak. Saya yakin sudah. Saya baru berani muncul sekarang karena harus memastikan bahwa saya sudah waras sepenuhnya.”


“Syukurlah. Jadi saya tak perlu buru-buru mencari orang baru karena sekertaris yang saya punya sudah gila.”


Dika sangat baik, dan Andre sungguh bersyukur memiliki bos seperti dia. Saat itu juga Rina muncul dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih rapi.

__ADS_1


“Loh, Rina. Eh Bu Rina,” ralat Andre cepat-cepat. Ia terkejut dengan kemunculan Rina yang tiba-tiba sehingga ia lupa baik mana memanggil istri bosnya dengan baik


“Aku tidak suka di panggil Bu,” ujar Rina sambil berjalan menuju suaminya. “Boleh nggak sih kalau aku dipanggil dengan panggilan lain,” ujar Rina pada suaminya dengan manja.


Dika meraih tangan Rina agar lebih mendekat ke arahnya. “Apa perlu aku buatkan pengumuman agar semua orang memanggil istriku ini dengan sebutan Tuan Putri?”


“Ya nggak gitu juga, tapi asalkan jangan Bu saja.”


“Oke lah, tak akan masalah. Andre akan membereskan masalah ini.”


Andre yang hendak meraih berkas membulatkan matanya, namun sedetik kemudian senyum cerah terbit di wajahnya.


Dika sudah seenaknya memberi perintah seperti sedia kala. Baiklah, setidaknya kamu sudah memaafkanku.


“Siap Bos. Saya siap menerima perintah.”


Dan tiga orang ini mulai berkolaborasi membereskan berkas-berkas yang harus Dika tangani. Rina dan Andre bekerja sama dengan baik yang membuat Dika tinggal taken pada berkas yang lolos pengecekan oleh dua orang di sana.


***


“Kemana perginya gadis ini. Kenapa dia tiba-tiba menggilang seperti di telan bumi.”


Seorang pria setengah baya sedang duduk di kursi kebesarannya dengan cerutu di sebelah tangannya.


“Kalian sama sekali tak bisa mengecek keberadaannya?”


“Maafkan kami Tuan. Terakhir ponselnya terdeteksi di daerah pinggiran kota, setelah itu tak pernah lagi terdeteksi keberadaannya.


“Bagaimana dengan orang yang ditugaskan untuk mengawasi dia?”


“Terakhir Nona meminta untuk tidak diikuti, katanya agar Nona lebih mudah bergerak, tapi sampai saat ini Nona belum juga kembali.”


“Dasar tak tahu diuntung! Dia hanya tanah liat jika aku tak membuatnya menjadi keramik yang berkilau dan memiliki harga. Lihat saja kalau kamu mau mencoba kabur dariku.”


Pria setengah baya ini membuang cerutunya.


“Cari dia sampai ketemu dan bawa ke sini dalam kondisi hidup.”


“Baik Tuan.”


“Kalian bisa pergi.”


Beberapa orang berperawakan kekar itu meninggalkan si pria tua. Pria ini masih terus memutar otak bagaimana menyingkirkan para musuhnya. Dia sempat merasa punya senjata ampuh saat menemukan anak yang selama ini tak pernah diakuinya. Seorang gadis cantik yang sangat cerdas yang ia yakini bisa mengantikan Rio, anak durhaka yang tak mau menurut pada papanya. Anak perempuan itu adalah Raihana R.

__ADS_1


Huruf R dibelakang Hana tak memiliki kepanjangan karena Galih tak pernah mengijinkan simpanannya untuk menyematkan Raharja di nama Hana.


Bersambung…


__ADS_2