
...*HAPPY READING*...
"Kalian mikirnya gimana sih, masa iya Rina mau kamu nikahin abis lulus SMA. Belum saatnya dia berumah tangga, harusnya Rina masih menikmati masa muda dan mengejar cita-cita."
Seminggu setelah terakhir Rina bertemu dengan Dika, hari ini merupakan hari dimana Dika dan Rina melaksanakan lamaran.
Acara dibuat seringkas mungkin dan sesimpel mungkin. Yang datang pun hanya keluarga terdekat dari kedua belah pihak.
"Mereka yang mau Bu," ucap Ririn sambil menyuguhkan minuman dan makanan kecil pada ibu mertuanya ini.
"Ya mereka mau, tapi kalau sampai mereka punya anak mau dikasih makan apa anaknya."
Ririn hanya menghela nafas. Seandainya Ibu tahu sekaya apa calon mantu saya. Ya walaupun saya juga khawatir dengan masa depan mereka tapi bukan masalah makan yang jadi pikiran saya.
Raut wajah tua itu tiba-tiba berubah. "Jangan-jangan Rina hamil ya. Ya Alloh. Bahkan dia belum lulus SMA."
"Diminum dulu Bu tehnya." Ririn melilih untuk tak menanggapi omelan mertuanya.
"Jangan terlalu stress Bu, biarpun usia Ibu tak lagi muda tapi bukan ide yang buruk kan kalau kesehatan badan sama pikiran di jaga terus," Reno coba meredakan emosi ibunya.
"Ibu stress gara-gara kesembronoan kalian ini."
Perempuan tua dengan hijab menutup rambut putihnya ini segera meraih minuman untuk melegakan tenggorokan yang sedari tadi tak diistirahatkan itu.
"Orang macam apa sih calon suami cucuku ini. Apa dia pria tua yang sudah tidak bisa menunggu Rina dewasa untuk menikahinya."
"Atau jangan-jangan dia orang kaya makanya kamu ngejual Rina sama dia. Astagfirullah kasihan sekali cucuku."
Reno dan Ririn hanya saling menatap dan menghela nafas lelah.
Ini masih mertua, belum nanti kalau ibu dan ayahku datang juga. Bisa pecah telinga saya. Ririn meracau dalam hatinya.
Sebenarnya mereka sudah antisipasi dengan memberi tahu para grandparents di pagi hari. Mereka berharap para orang tua ini akan datang menjelang acara, sehingga tak ada waktu untuk meladeni drama semacam ini.
Namun sayangnya takdir berkata lain, karena nenek Nani saat dihubungi tengah dalam perjalanan menuju rumah Reno dan Ririn untuk menghabiskan akhir pekan.
Berbeda dengan orang tua Reno yang kemungkinan akan tiba sore hari karena harus menunggu adik Reno menyelesaikan pekerjaannya.
"Ibu mending istirahat ya. Acaranya kan nanti malam."
"Kenapa kalian seperti menyembunyikan sesuatu."
Nampaknya nenek Nani belum menyerah untuk mengorek informasi. Ia belum puas karena pertanyaan terkait seperti apa orang yang akan menikahi cucunya belum dijawab.
"Nyembunyiin apa sih Bu..."
Ririn meraih Lengan Reno dan mengusapnya lembut saat melihat suaminya ini mulai hilang kesabaran.
__ADS_1
"Ya seperti apa orang yang akan menikahi cucu saya," jelas nenek Nani dengan suara yang tak kalah sangar.
"Nenek..."
Baru saja Reno hendak menjawab tapi Rina sudah muncul dari kamarnya. Ia segera menghampiri neneknya dan mencium tangannya.
"Ya Allah sayang. Nenek kangen banget."
"Sama Nek..."
Rina segera memeluk manja neneknya ini.
"Karena sudah ada Rina, kami tinggal dulu ya Bu."
Ririn segera mengajak suaminya pergi dari sana. Bukan hanya nenek Nani saja yang galau sebenarnya, tapi Reno juga. Jadi kalau terus ditekan, Reno bisa makin marah karena emosinya akhir-akhir ini pun kurang stabil karena masalah ini.
"Nenek hari ini pengen ngasih kejutan dengan tiba-tiba muncul di sini, nggak tahunya malah Nenek yang dapat kejutan."
Rina melepaskan pelukannya.
"Kamu benar-benar mau menikah?"
Rina mengangguk.
Setelah apa yang terjadi pada dirinya, Rina merasa menikah dengan Dika memang lah harus dilakukan segera. Meskipun Dika tak sampai deposit duluan, tapi rasanya ia tak bisa menganggap bahwa dirinya masih suci.
Itu pun karena Dedi datang. Jika tidak, bisa saja Rina hamil sebelum ujian akhir sekolahnya.
Flashback On Seminggu yang Lalu.
Dika dan Rina sudah menanggalkan akal sebelum kain di tubuh mereka habis tertanggal.
Keyakinan bahwa tak akan ada manusia yang berani mengusik mereka membuat keduanya merasa sama sekali tak ada halangan untuk mengikuti bisikan setan.
Salah, sebenarnya masih ada Tuhan. Tapi Tuhan kan tak kelihatan jadi dengan mudah mereka lupakan.
"Kamu nggak pengen aku berhenti?" tanya Dika di sela kesenangan hasil tipu daya setan terhadapnya.
"Just do it. Kalau kamu tanya lagi, mungkin kamu akan jadi orang jahat karena nggak bisa mundur padahal mungkin aku akan bilang enggak."
Setan juga telah berhasil memperdaya Rina. Dengan kalimat profokatifnya, membuat Dika makin terpacu untuk mengecap nikmat yang belum seharusnya ia rasakan.
Dika melanjutkan apa yang sempat terhenti. Ia benar-benar sudah gila. Ia begitu terbuai dengan raga gadis yang begitu sempurna di matanya. Rina memang cantik, terlebih saat Dika melihatnya seperti ini.
Semua sudah selesai dijelajahi, tinggal menggapai puncak yang sebelumnya hanya mampu mereka bayangkan.
Brak!
__ADS_1
Keduanya membeku terlebih saat Rina menarik tubuh Dika untuk menyembunyikan tubuh polosnya.
Malu gugup, Dika tak mampu mendeskripsikan apa yang ia rasakan kini. Ia pun menarik selimut untuk menutupi keduanya.
Setelah sebuah helaan panjang, ia memberanikan diri untuk melihat siapa yang sudah berani mengusiknya.
Di sana terlihat Dedi yang mengenggam erat handle pintu. Memang Dika tak mengunci pintunya karena yakin bahwa tak akan ada awak kapal yang berani mengusiknya.
Namun yang datang bukan hanya mengusik, tapi mampu menghajarnya saat itu juga.
Dika sudah bersiap jika Dedi kembali melayangkan pukulan padanya, seperti halnya yang pernah ia lakukan pada Dedi saat memergokinya sahabatnya ia berciuman dengan adiknya.
Sekian waktu mereka hanya diam. Suara isakan mulai terdengar dari balik selimut yang tak lain berasal dari tangis Rina yang entah sejak kapan pecahnya.
"Lanjutin aja, gue bakal jaga di sini."
Ya kalau nggak gila nggak akan ada yang bakal mesum di depan orang lain seperti ini.
"Ded sorry."
"Gue nggak berhak dapat maaf elu."
"Lanjutin, aja gue nggak akan ganggu."
Dedi masih berdiri tegak di ambang pintu.
Dika mengacak rambutnya. Ia segera membenahi posisinya dan membawa Rina dalam pelukannya.
Dan tiga kepala ini akhirnya berbicara. Tak ada pukulan yang dihadiahkan Dedi untuk mengingatkan sahabatnya ini, tapi kali ini ia berusaha kerasa mengembalikan akal yang sebelumnya tercecer entah kemana. Sebelum akhirnya ia memutuskan membiarkan mereka berdua untuk berbicara.
Dedi merasa sudah melakukan hal terbaik sebagai sahabat. Jadi saat ia kembali meninggalkan sejoli itu berdua, ia berharap tak ada hal buruk yang menimpanya.
Flashback off.
"Apa dia benar-benar bisa bekerja?"
"Bisa Nek, bahkan papa juga sudah tahu bagaimana pacar Rina saat bekerja."
Rina menjelaskan pada neneknya bahwa yang akan menikahinya adalah laki-laki seumurannya. Dan sudah dapat diduga reaksi penolakan keras langsung di dapat Rina dari neneknya ini.
Namun Rina menjelaskan bahwa papanya bahkan sudah bekerja sama dengan Dika, sehingga meskipun berat, akhirnya Reno setuju untuk memberi restu untuk pernikahan keduanya tahun depan.
Entah mengapa Rina enggan memberitahu bahwa Dika adalah pemilik perusahaan tempat Reno bekerja.
Ternyata meyakinkan Nani tak sesulit meyakinkan Reno, buktinya sekarang nenek Nani tak lagi mengomel melainkan memberikan bermacam wejangan untuk cucu perempuannya.
TBC
__ADS_1