Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pertentangan Sebenarnya


__ADS_3

HAPPY READING


Andre segera menggeak habis minumannya. Ia sadar para orang tua ini mulai tak sungkan mengatakan apa yang mereka rasakan tanpa perlu membuat perumpamaan untuk memperhalus ucapan.


“Maafkan Andre Om, Papa, Mama…” Andre menghela nafas sebagai jeda atas ucapannya. “Andre memang sudah lancang, tapi semula Andre mamang belum berfikir untuk punya hubungan yang begitu serius.”


Galih menghela nafas. “Jadi maksudnya ini hanya main-main?”


Meski Galih masih baru tanpa ragu mengakui Hana, tapi tetap saja ini tentang anak gadisnya.


“Bukan semacam itu yang terjadi.”


“Lantas apa yang terjadi?”


Dibanding Edo, Galih terlihat lebih dapat menguasai diri saat ini. Mungkin hal ini karena banyak hal yang membuat hatinya terombang-ambing terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini.


Andre sempat menatap Hana meski kekasihnya ini sama sekali tak memandang ke arahnya. Karena meski hanya diam, Hana berhasil memupuk keyaknan dan keberanian yang Andre rasakan.


“Papa dan Om Galih sudah terlibat dalam konflik Surya dan Rahardja jauh sebelum ada saya dan Hana, benar kan? Dan niat awal kami pun mendekat karena ingin saling menghancurkan. Saya sebagai amunisi Surya dan Hana sebagai amunisi Rahardja. Jadi sudah sangat jelas seperti apa hubungan kami diawal perkenalan kami.”


“Tapi Surya tak pernah mengindahkan cara kotor semacam itu Andre!” potong Edo dengan nada tinggi. Ia tak terima dengan statement pembuka dari anaknya yang seakan memojokkan Surya.


“Papa dengarkan dulu.” Andre harus banyak-banyak menghela nafas sepertinya. Berurusan dengan para orang tua memang harus menggunakan cara yang berbeda.


Terlebih Galih yang semula nampak tenang mulai tersulut karena Edo yang tak segan menunjukkan ketidak sukaan.


Hana yang memilih diam sebenarnya juga tak tenang. Ia tak menyangka Andre akan membongkar kebusukan masing masih di awal seperti ini, dari pada membuat citra baik agar hubungan mereka lebih mudah diterima oleh para orang tua.


Sementara Heni sudah melupakan ketakutannya terhadap lemak yang mungkin akan tertimbun di tubuhnya. Buktinya ia sudah selesai dengan desert pertama dan mulai mengambil desert kedua. Ia selama ini hanya menjadi istri dan ibu dalam keluarganya. Ia tak pernah tahu intrik apa yang harus suaminya mainkan saat bekerja di luar sana.


“Andre sudah hidup dari Surya bahkan sejak belum lahir di dunia. Dan Hana hidup dari Rahardja, berasal dari Rahardja dan merasa turut memiliki tanggung jawab pada Rahardja.” Entak apa yang ada di otak Andre. Sudah tahu sedang keruh, tapi ia terus membuat gelombang yang membuat keadaan kian bergejolak.


Edo ingin protes tapi Galih berhasil menahannya. Entah apa yang terjadi, yang jelas dua pria berusia matang yang selalu dipertemukan dalam persaingan ini tumben-tumbenan seiya dalam sisi yang sama. Galih tertarik dengan apa yang akan Andre katakan sehingga ia tak mau kehilangan kesempatan karena Edo mengacaukannya.


“Atas bakti kami terhadap perusahaan, kami mulai mendekat dengan tekal untuk saling menghancurkan.” Andre diam sejenak. Sepertinya ia merasa terdapat bagian yang tak tepat dan tak semestinya diucapkan.

__ADS_1


“Mungkin bukan menghancurkan, tapi menakhlukkan lebih tepatnya,” ralat Andre setelah menemukan bagian yang harus ia benahi segera.


Andre merasa kali ini kalimatnya baru tepat. Ia sempat mengangguk samar setelah sejenak merenungkan kalimatnya sesaat.


“Namun bukan perusahaan yang berhasil kami takhlukkan, namun justru hati kami yang takhluk dan saling membutuhkan.”


Andre meraih tangan Hana yang sejak tadi diam dan menunduk di tempatnya. Pandangan keduanya sempat bertemu sebelum Hana memutuskan untuk menunduk kembali.


“Saya tak mau menunda lagi. Papa, Mama, Om… Meski tanpa tante Mustika di sini, ijinkan kami meminta ijin untuk melanjutkan hubungan kami.” Andre meminta pada kedua orang tua dan papa Hana dengan menggenggam erat tangan kekasihnya.


Edo tersenyum. Bukan senyum menawan penuh charisma seperti yang biasa ia munculkan selama ini namun senyum kecewa sebagai gambaran dari nyeri yang ada di hatinya.


“Kenapa perlu ada yang seperti ini? Bukankah kalian terbiasa memutuskannya sendiri?” sarkas Edo yang enggan menatap anaknya.


Galih menyeruput kopi hitam tanpa gula di hadapannya. Berat memang untuk Edo memberi restu untuk Andre berhubungan dengan Hana terlebih setelah Edo bersama Surya harus terlibat berbagai konflik tak menyenangkan dengan Rahardja. Galih paham jika Edo khawatir hal ini akan terus berlanjut di kehidupan Andre dan Hana di masa yang akan datang.


“Iya. Kami, terlebih saya terbiasa memutuskan semuanya sendiri selama ini, tapi kami sadar untuk menikah bukan hanya menjadi urusan saya dan Hana tapi juga urusan dua keluarga.”


“Lantas mau kamu apa?” tanya Edo yang sepertinya masih kecewa dengan situasi yang dimiliki anaknya.


“Ijinkan kami menikah. Restui pernikahan kami.” Segenap kesungguhan Andre curahkan. Ia berharap bisa segeramembawa Hana dalam kebahagiaan yang sebenarnya.


Edo menghela nafas. “Menikah ya menikah saja. Toh tinggal ini proses yang belum kalian lewati.”


“Maksud Pak Edo apa?”


Galih tersinggung dengan nada bicara Edo yang nampak tak peduli dengan keputusan apa yang baru saja diucapkan anaknya. Padahal di dalamnya ada nasib Hana juga yang belum jelas muaranya.


“Pak Galih. Orang tua seperti kita ini bisa apa? Kenapa begitu buru-buru ingin menikah. Atau jangan-jangan…” Edo mengalihkan pandangannya dari Galih menuju anaknya.


“Kamu menghamili Hana lagi, Iya!?”


Galih membulatkan mata mendengar bentakan Edo terhadap anaknya. Sudut hatinya terasa nyeri. Kenapa anaknya harus mengalami yang seperti ini.


“Pantaskah Pak Edo berkata seperti itu? Andre ini anak pak Edo sendiri.”

__ADS_1


“Karena dia anak saya, makanya saya tahu seperti apa dia. Dan mungkin pak Galih juga harus tahu jika anak-anak ini sudah sejauh itu.”


Edo menunjuk Hana dan Andre yang sudah terpojok seperti tersangka. Edo benar-benar kalut dengankejutan bertubi yang diberikan anaknya.


“Ya sudah, lebih baik kita nikahkan saja mereka,” ujar Galih menganggap pernikahan adalah solusi untuk masalah anak-anak mereka.


“Saya sadar, saya gagal menjadi orang tua yang baik, tapi saya paling tidak suka ada yang mempermainkan pernikahan. Itu satu-satunya yang bisa saya tekankan pada anak saya.”


“Saya yakin mereka bukan akan mempermainkan pernikahan. Jika ditanya sebenarnya saya juga tak seratus persen setuju jika Andre yang akan menikahi Hana, tapi mereka sudah terlalu jauh, saya bisa apa.”


Terlihat sekali Galih tengah berjuang keras menahan egonya. Tapi keadaan sekarang sedang terbalik tak seperti biasa.


“Terserah, terserah. Menikah saja kalau mau menikah. Saya tidak akan melarang. Tapi satu hal yang perlu anda dan kalian ketahui.” Edo menjeda ucapannya dan menghadap penuh pada anak lelakinya.


“Saya tidak pernah menghendaki pernikahan semacam ini.” Edo mengetukkan jarinya diakhir ucapannya.


“Dan saya maklum kalau pak Galih tak keberatan, mengingat cerita pernikahan Anda yang...”


Kentara sekali Edo sengaja menjeda ucapannya. Jelas hal ini membuat Galih kian emosi karena Edo tanpa segan mengusiknya.


“Iya. Saya memang punya lebih dari satu istri, dan mungkin hal ini tak sesuai dengan prinsip anda yang mendambakan pernikahan seumur hidup sekali.” Galih ikuti saja permainan Edo, toh sepertinya mereka sama sekali tak sepaham sejak awal tadi.


Samar-sama Edo mengangguk mengerti. “Karena sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, saya permisi…”


Heni bagkit meninggalkan desertnya saat melihat sang suami bangkit dari tempatnya. Keduanya segera pergi meninggalkan ruagan yang sempat memanas beberapa saat tadi.


“Hana ikut Papa…”


Belum jga Edo dan Heni melewati pintu ruangan ini, Galih sudah bergerak dengan mengajak Hana pergi.


“Tapi Om…” Andre ingin mencegah tapi sepertinya ia sama sekali tak punya kuasa.


Dengan berat hati Andre harus merelakan Hana pergi bersama papanya. Ia memang sudah mempersiapkan diri untuk situasi semacam ini, namun ia tak pernah menyangka jika pertentangan sesungguhnya justru berasal dari sang papa.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2