Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Melamar


__ADS_3

HAPPY READING


Dika baru saja membantu Rina membersihkan dirinya yang baru saja buang air kecil di sofa kamar mereka. Mereka masih bersantai dengan pakaian seadanya bahkan Dika pun masih bertelanjang dada.


“Mau jalan-jalan?” tawar Dika setelah keduanya puas menyalurkan segenap kasih dengan sentuhan-sentuhan lembut diperut Rina untuk peri kecil mereka.


“Mau es krim saja, boleh?” tanya Rina mengungkap hal yang ia inginkan.


“Nggak bosen kamu?” Bukannya menjawab, Dika justru balik bertanya.


Rina menggeleng. “Karena anak kita menjadi alasan mengapa es krim ini ada,” ujar Rina sambil berbicara pada perut besarnya.


Dika menanggapi celoteh istrinya ini dengan senyum lebarnya. “Ya udah, kamu mau rasa apa, biar aku suruh antar ke sini.”


Rina diam sejenak. Ia diam seperti ada satu hal yang kini tengah ia pikirkan. “Emmm, aku mau beli ke outlet langsung,” ujar Rina setelah menimbang beberapa saat.


Mata Dika membola seketika, sesaat sebelum segera ia kembalikan pada kondisi biasa. “Ngapain repot-repot, kan bisa tunggu di rumah,” heran Dika karena permintaan istrinya yang dinilai manjadi hal yang repot tanpa guna.


Mungkin Dika juga lupa kalau sebelumnya ia sempat menawarkan untuk jalan-jalan kepada Rina.


“Gini loh Sayang. Aku juga pengen sesekali melihat langsung bagaimana penjualan produkku,” jelas Rina tanpa melupakan latar belakang yang pasti dibutuhkan saat mengungkap keinginan yang diawal saja sudah mendapat penolakan.


“Kan semua sudah ada di laporan. Semua baik kok. Sambutan pasar juga baik,” balas Dika dengan teori yang tak kalah kuatnya.


“Ya karena yang nyusun laporan juga orang perusahaan jadi mereka cenderung fokus terhadap hal-hal baiknya saja, tapi akan mengabaikan hal-hal yang kurang baik terlebih ini adalah hal kecil. Padahal produk kita ini bukan produk besar atau bernilai krusial, sehingga justru hal-hal kecil lah yang akan membawa pengaruh bagi kelangsungan produk ini di pasaran.”


Dika menghela nafas. Ia kemudian sejenak diam memikirkan  penuturan panjang sang istri yang baru disampaikan. Dika tak boleh lupa jika Rina bukan wanita yang hanya tahu belanja dan bersolek saja. Namun bukan itu yang Dika tekankan masalahnya. Dika sampai rela meninggalkan seluruh pekerjaan demi dapat mendampingi Rina menjelang melahirkan karena takut Rina mengalami stress dan terjadi hal yang tak diinginkan. Ia tak mau Rina kurang perhatian apa lagi kalau sampai banyak fikiran yang berakibat fatal pada kehamilan yang hampir sampai di usia melahirkan. Makanya ia tak mau membahas hal-hal seperti ini sekarang.


“Apa kamu khawatir dengan peredaran produk kita di pasaran? Apa aku perlu membuat tim khusus untuk memantau perkembangan produk kita serta berinovasi penuh agar es krim ini bisa mendunia?”cecar Dika menanyakan berbagai kemungkinan. Yang jelas ia tak mau istrinya mengalami tekanan.


Rina menggeleng. “Aku hanya ingin tahu, selain itu hal ini membuatku senang?” jawab Rina tanpa beban.


“Apa benar? Apa kamu tak merasa tertekan?” tanya Dika memastikan.


“Enggak Sayang. Sekarang mending ganti tuh kolor, dan seperti kata kamu, kita jalan-jalan, ya...”


Kalau sudah begini, mana bisa Dika menolak. Sudah pasti hanya iya yang menjadi jawaban tunggalnya. Ia pun lantas mengganti pakaiannya dengan yang lebih pantas untuk selanjutnya jalan-jalan bersama sang istri tercinta.


“Apa kita mungkin mampir ke kantor?” tanya Rina begitu mobil yang ia kendarai bersama Dika perlahan melaju meninggalkan kediamannya.

__ADS_1


“Apa kamu mau mampir?” tanya Dika menawarkan.


Rina mengangguk antusias. “Pengen ketemu Hana juga. Dia pasti sibuk sama Andre sekarang. Kamu juga hampir seminggu kan nggak tahu kondisi perusahaan?” ujar Rina dengan antusiasnya.


Dika menghela nafas. Sudah susah payah ia bisa punya waktu seperti ini tapi Rina malah bersiap membawanya ke tengah pekerjaan yang ia yakini tak akan ada habisnya. “Ya memang, tapi aku sengaja nggak mau tahu masalah pekerjaan untuk sementara dan sama fokus sama kita,” ujar Dika sembari menggenggam tangan istrinya.


***


“Rapi bener? Katanya malam ini kamu nggak ke rumah sakit?” tanya Andre melihat Dedi mengancingkan lengan kemeja hitam yang membalut tubuh tinggi tegapnya.


“Emang ada ke rumah sakit pakai baju hitam?” Dedi balik bertanya sambil memasangkan jam tangan di pergelangan


tangan.


Andre nampak memperhatikan. “Iya sih. Terus mau ngelayat?”


Dedi menghela nafas. “Mau ngelamar,” jawabnya asal kena.


“Ngelamar?” kaget Andre.


Kali ini Dedi membalas keterkejutan Andre dengan anggukan pasti.


“Siapa? Rista?” tebak Andre dengan alis yang ia naik-naikkan. Ia tak mungkin melewatkan kesempatan untuk menggoda Dedi yang kaku dan tak ekspresif ini.


“Bukan,” jawab Dedi dengan singkat tanpa basa-basi.


“Bukaannn??!!!” kaget Andre lagi. Kali ini bahkan ia setengah berteriak karena benar-benar tak menyangka akan ada kalimat seperti ini keluar dari mulut Dedi. “Terus siapa?” lanjutnya lagi dengan suara yang lebih ramah.


Namun yang ditanya hanya diam dan enggan menanggapi. Bahkan helaan nafas yang menjadi jawaban Dedi.


“Seenaknya banget Lu ya. nggak tanggung jawab itu namanya!” omel Dedi dengan bersungut-sungut.


“Kamu nyindir diri sendiri,” sarkas Dedi yang tak terima dikatai seperti ini.


“Ehkm…” Andre buru-buru berdehem karena nyaris saja ia tersedak hanya dengan mendengar kalimat singkat seperti tadi. “Duduk dulu deh, kamu cerita apa yang sebenernya terjadi. Apa kamu dipaksa untuk menikahi seseorang? Apa kamu dijebak? Apa kamu.... Akh. Cepet cerita, kenapa kamu mendadak ingin melamar wanita?” cecar Andre yang sudah mirip dengan penggali berita.


Mendengar pertanyaan beruntun Andre, Dedi nyaris saja dibuat tertawa. Untung saja wajahnya terbiasa kaku dan dingin dalam segala situasi. Sehingga ia tetap nampak biasa saat seperti ini.


“Sebenarnya aku nggak tahu apa aku akan diterima atau ditolak, tapi aku merasa punya peluang untuk bisa masuk dalam kehidupannya,” jawab Dedi dengan tenangnya.

__ADS_1


Andre terdiam beberapa saat lamanya.


“Kamu apa sudah pernah menyatakan perasaan sebelumnya?” tanya Andre memastikan.


Dedi menggeleng.


Reaksi ini tentu kian membuat Andre tak mengerti.


“Kalau begitu, apa kamu pernah menolak pernyataan cintanya dan sekarang kamu putus asa dan berubah pikiran sehingga mau datang dengan kepastian dan melamarnya?” Kembali Andre bertanya setelah merubah dugaan.


Kembali Dedi menggeleng sebagai jawaban.


Semakin tak paham Dedi dengan jalan pikiran sahabatnya. Ia lantas diam dan tak kembali bertanya. Ia sama sekali tak tahu kemana pikiran sahabatnya ini akan bermuara. Yang jelas ia hanya berusaha menahan Dedi agar pria ini tak segera pergi.


“Sesempurna apa dia sehingga kamu yakin ia bisa menggantikan Rista?” tanya Andre setelah cukup lama mereka hanya diam saja.


Kali ini Andre mengeluarkan senjata pamungkasnya. Meski tak pernah Dedi akui, tapi semua juga tahu jika Rista masih menjadi satu-satunya cinta Dedi.


Dedi menghela nafas. “Rista bukan benda yang dapat dengan mudah aku genggam. Dia adalah putri dan cahaya dalam keluarga Andika dan Surya. Sehingga menjangkaunya pun aku tak pantas rasanya.”


Andre benar-benar tak percaya Dedi bisa bicara dengan seringan ini.


“Tck. You’ve to know brother. Aku dengan mata kepalaku, pernah melihat sendiri bagaimana keintiman hubungan kalian kala itu. Dan yah, come on... Rista itu perempuan Dedi. Masa iya kamu tega...”


Bugh!!


“Jaga mulut kamu. Jangan samakan aku dengan kamu,” ujar Dedi dengan pelan dan penuh penekanan. Ia bahkan tak membiarkan Andre menyelesaikan ucapan. Dan bogem mentah pun ia layangkan sebagai pembungkam mulutnya.


Andre mengusap setitik darah di sudut bibirnya. Pukulan ini memang keras, namun tak akan membuat ia meraung apa lagi tumbang.


“Tapi Ded, aku nggak bisa pura-pura lupa dengan apa yang pernah aku lihat di sana. itu yang tak sengaja terlihat lo, bagaimana dengan yang terjadi saat kalian hanya berdua,” lanjut Andre masih belum bersedia mengalah dengan argumennya.


Happ!!


Kali ini Andre lebih siaga. Ia tak membiarkan Dedi kembali memukulnya. Setelah kepalan tangan  itu berhasil ia tahan, lantas setelahnya segera ia hempaskan.


“Aku juga nggak lupa kalau kalian pernah tinggal bersama saat keluarga Dika sedang dalam kondisi kacau-kacaunya. Ini nggak adil Ded, nggak adil buat Rista dan Dika yang bahkan sudah menganggapmu seperti saudara…”


Dedi terdiam. Niat hati ingin memberi pelajaran, kenapa ia yang malah mendapat tamparan.

__ADS_1


“Terserah kamu mau bicara apa, terserah juga kamu mau berfikir seperti apa, yang jelas aku bukan bajingan seperti kamu yang sudah merusak Hana, tapi tak juga memberikan kepastikan hubungan kalian berdua.”


Bersambung…


__ADS_2