
Rinanya murah senyum, Dikanya cool gitu.
...*HAPPY READING*...
"Kok sepi sih?" tanya Rina saat Dika memarkirkan mobilnya di depan villa.
"Iya, ayah sama mama juga belum nyampe kayaknya." Dika segera keluar dari mobilnya disusul oleh Rina.
Dika merentangkan tangannya dan sekuat tenaga menghirup udara saat itu juga.
"Aku lama banget nggak ke sini." Dika berjalan menghampiri Rina yang nampak diam sambil memperhatikan sekitar. "Mau jalan-jalan apa mau istirahat?"
"Emmm, mau keliling villa ini boleh?"
"Ya boleh dong."
Dika kembali ke mobil untuk mengeluarkan bawaan mereka.
"Den Restu."
Seorang pria paruh baya datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri Dika.
"Maafin Pak Min ya Den, tadi sibuk di belakang jadinya nggak tahu Aden datang."
Laki-laki ini segera mengambil alih bawaan Dika. Dengan senyum di wajahnya, Dika menyerahkan bawaan yang baru saja dikeluarkannya dari dalam mobil.
"Iya Pak. Saya emang baru banget kok sampainya, jadi belum sempat manggil Bapak."
"Mau disiapin apa Den, atau dimasakin apa, kebetulan si mbok ada di belakang?"
"Emm apa ya..." Dika menatap Rina seolah bertanya.
"Terserah kamu," ucap Rina tanpa suara.
"Air anget aja deh Pak, abis ini kayaknya kita pengen mandi."
"Terus untuk makannya Den?"
"Apa aja deh. Apa aja yang udah siap."
Sebelum kemari Dika memang sudah mengabari perihal rencana kedatangannya, sehingga orang yang ditugaskan mengurus villa sudah mempersiapkan segala sesuatunya.
"Baik Den."
"Kita mau keliling dulu Pak..."
"Baik Den..."
__ADS_1
Rina sempat tersenyum pada pak Min sebelum ia berjalan mengikuti Dika. Pak Min segera masuk mambawa barang-barang Rina dan Dika.
"Tadi di jalan aku kayak lihat ada kebun strawberry."
"Iya, ada strawberry, wortel, kol apa lagi ya, banyak deh. Daerah sini emang cocok buat sayur dan buah. Kamu pengen ke sana?"
"Pengen sih, tapi entar aja deh."
"Entar malem dong?"
"Ya nggak malem juga."
Dika tersenyum melihat ekspresi Rina yang baginya lucu ini. Ia segera meraih tangan Rina dan menggenggamnya.
"Kamu tadi bilang kalau berantem sama Dian kenapa?"
Rina menghela nafas. "Dia kepo, nanya-nanyain kamu, aku sebel kan, soalnya kamu juga nggak ada hubungin aku..."
"Kamu juga sayang..." potong Dika cepat.
"Iya deh iya, kita nggak saling menghubungi," ketus Rina.
"Terus?"
"Terus aku sampai teriakin dia pas dia terus aja nanya padahal aku udah berusaha nggak nanggepin. Akhirnya kita sampai nggak saling sapa pas ketemu di acara ulang tahun Nina, adiknya Nita."
"Dian kenal sama Awan?"
"Kamu suka sama dia?"
Rina menyipitkan mata dan melirik Dika. "Berasa jadi tersangka tahu nggak."
"Aku cuma pengen tahu sayang." Dika menarik bahu Rina agar mereka merapat sambil berjalan.
Rina melihat sebuah batu besar dan mengajak Dika duduk di sana.
"Aku kenal Awan tu nggak sengaja, pas aku pulang dari Nita dijalan ban ojolnya bocor, dan Awan nawarin diri buat nganter pulang. Sampai rumah dia minta kontak aku, aku kasih lah sekalian biar kalau ada waktu biar bisa makan siang bareng. Nah besoknya apa lusanya gitu aku lupa, kita janjian makan siang bareng. Pas itu dia nembak aku. Dan aku terpaksa nerima dia gara-gara dia bilang kudu nemenin dia jalan-jalan dulu kalau nolak. Ya aku pilih yang simpel dong, jadian terus aku pulang."
"Bukan karena dia ganteng?"
"Yaaaa," Rina merasa terjebak dengan kata-katanya. "Ya gantengan kamu lah."
Dika tersenyum simpul. "Terus?"
"Apanya yang terus Yang?" Rina menatap wajah Dika. "Nggak biasanya deh kamu kepo sama mantan aku?"
Dika menggela nafas. "Pas hari ulang tahun adiknya Nita, di resto daerah timur aku nggak sengaja katemu Dian pas abis ketemu client. Dan dia nunjukin foto kamu lagi sama mantan berondong kamu itu."
"Awan?"
__ADS_1
"Menurut kamu?"
"Dian maksudnya apa coba." Rina menggerutu dengan suara tertahan. "Jadi kamu nggak percaya sama aku?" Rina bangkit dengan nada suara yang sedikit naik.
Dika mencoba sabar. Dia menarik Rina agar duduk kembali. Dia membawa wajah Rina, agar mau menatap wajahnya. "Ini yang pengen aku bahas sama kamu. Aku pengen tahu dari kamu bukan dari orang lain. Aku pengen tanya sama kamu bukan sama orang lain. Karena kadang yang terlihat tak seperti apa yang sebenarnya terjadi."
"Dika..."
Dika menarik Rina dalam pelukannya. "Sayang, kita akan sulit bertemu, you know?"
Rina mengangguk.
"Dan hal yang bisa mengikat kita saat seperti itu adalah kepercayaan dan kesetiaan. Bohong kalau kemarin aku tak marah saat melihat fotomu bersama laki-laki lain, tapi aku berusaha berfikir positif dan sedikit bersabar untuk bisa bertanya langsung sama kamu. Dan ternyata benar kan? Kenyataannya memang tak seperti apa yang terlihat."
Rina merasa tersentil dalam diam. Gara-gara iya yang main menyimpulkan tanpa mau mencari kebenaran membawanya pada sebuah perpisahan dengan Dika. Meskipun kini mereka telah kembali bersama, namun tatap saja Rina merasa berbeda karena Dika belum kembali memintanya menjadi pacar seperti sedia kala, dan justru mengklaim dirinya begitu saja, tanpa sebuah pernyataan perasaan seperti pasangan pada umumnya.
"Kenapa diam?" Dika meraih dagu Rina agar mendongak. "Inget masa lalu ya, main nuduh selingkuh dan langsung mutusin, padahal ternyata yang dilihat itu adiknya bukan pacarnya?"
Wajah Rina memanas. Ia segera memalingkan wajah dan menatap sembarang. Apa pun boleh ditatap, asal itu bukan wajah Dika.
Dika berusaha membawa wajah Rina untuk menatapnya.
"Apa sih...." Rina melepaskan diri dari Dika dan segera bangkit dari sana.
"Hei, kamu mau ke mana?"
Rina berjalan cepat meninggalkan Dika. Dan Dika pun melakukan hal yang sama. Dia berjalan mengikuti Rina tepat di belakangnya. Sebenarnya bisa saja dia menahan tubuh Rina, namun ia masih suka melihat gadisnya ini berlari menghindarinya.
Mereka terus berlari dan saling mengejar, berteriak dan tertawa hingga tak sadar jika ada dua pasang mata tengah memperhatikan mereka.
"Mas, apa kita bisa percaya sama pilihan Restu?"
"Apa kamu ingin mengulang kisah kamu, dengan menjodohkan anak kamu dengan gadis yang menurutmu terbaik dan tak mempercayai pilihannya?"
Santi menggeleng.
Rudi membawa Santi kembali berjalan ke villa. Mereka baru sampai dan mendengar gelak tawa dan jeritan sesekali. Karena penasaran, mereka berusaha mencari sumber suara yang ternyata itu adalah Dika dan Rina.
"Semoga mereka tak mengulang kisah kita ya Mas..."
"Makanya, kamu jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan mereka, kita cukup berdiri dan memantau dari jauh, agar semua berjalan dengan semestinya."
"Makasih Mas?"
"Untuk?"
"Untuk ketulusanmu pada anakku."
"Dia juga anakku, anak dari sahabatku."
__ADS_1
Santi tersenyum, da dengan tangan saling mengenggam, mereka segera memasuki villa untuk melepas lelah.
TBC