Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Demam


__ADS_3

HAPPY READING


Menjelang tengah hari, Hana akhirnya datang ke kantor setelah mendapat ijin dari Galih yang hari ini rela tak bekerja demi menemani Hana yang sempat demam tadi malam. Ia juga harus rela ke kantor diantar sang papa yang akan ke


rumah sakit untuk turut menjemput menantu dan cucunya.


Melihat Hana turun dari sebuah mobil mewah, gossip dengan cepat tersebarmembicarakan tentangnya. Spekulasi liar bermunculan tentang kemungkinan hubungan Hana dengan pemilik perusahaan yang menjadi rival Surya Group sejak awal berdirinya.


Tak seperti biasanya, Hana mendadak merasa gugup saat menjejakkan kakinya di gedung perkantoran yang nampak megah ini. Bukan karena memusingkan pandangan orang terhadapnya tapi karena membayangkan pertemuannya dengan Andre yang mungkin akan terjadi beberapa saat lagi. Setelah apa yang terjadi pada mereka tadi malam ia merasa rindu namun canggung di satu waktu.


“Hai…” sapa Hana pada trio sekertaris yang sempat menjadi rekan kerjanya beberapa saat lalu.


“Kok siang Han?” tanya Riza mewakili kedua rekannya.


“Iya. Aku demam semalam terus sama papa diminta masuk siang,” jawab Hana apa adanya.


Jawaban ini terdengar tak biasa karena tak biasanya Hana menyebutkan anggota keluarga tanpa ada momen apa-apa.


“Enaknya, bisa kek gitu,” decih Rahma.


Hana tak menggubris gumaman bernada tak suka dari Rahma. Ia memilih untuk melanjutkan langkah berjalan lurus menuju tempat Rina berada.


“Loh, Hana. Katanya kamu demam?” tanya Rina begitu Hana muncul di ruangannya.


“Demamnya semalam Rin, pagi ini sebenarnya udah enggak. Cuma nggak boleh berangkat aja sama Papa,” jujur Hana mengatakan kondisinya.


“Kamu sudah…”


Ucapan menggantung Rina dengan jari telunjuk tertaut. Hal ini lantas dibalas anggukan oleh Hana.


“Selamat ya. On the way ke pelaminan ini kayaknya,”


 goda Rina dengan cengiran khasnya.


Bukannya bersambut bahagia, wajah Hana justru berubah sendu. Ia menolak lupa bagaimana kerasnya Edo menolak hubungan mereka. Padahal semula Hana sudah merasa lega karena Heni yang tak suka padanya mulai bisa ia dekati. Saat Heni sudah bisa ia ajak berkomunikasi, ternyata Edo yang kemudian menolak tanpa basa-basi.


“Oh ya Han, kamu sudah lihat hasil yang kemaren belum?” tanya Rina mengalihkan topik pembicaraannya.


“Apa Rin?” tanya Hana yang tak mengerti arah pembicaraan Rina.

__ADS_1


Hana kini dapat bernafas lega setelah Rina nampak lupa akan topic bahasan sebelumnya. Ia sadar Rina akan tahu akhirnya namun untuk saat ini ia memang tak bisa cerita.


“Nih. Belum jadi aja sudah sekeren ini…”


Rina menggerakkan tangannya meminta Hana mendekat ke tempatnya. Ia menunjukkan video yang tengah di tontonnya dalam layar laptop miliknya.


“Sumpah deh, kayak model professional kamu,” puji Rina saat melihat penampilan Hana.


“Itu karena crew pengambil gambarnya pinter aja,” jawab Hana merendah.


“Tapi dasarnya kamu emang punya modal,” kekeh Rina yang merasa memilih Hana adalah keputusan yang tepat.


“Tapi aku nggak keluar modal sama sekali kok.” Hana berusaha mencari celah untuk tak langsungmengiyakan pendapat Rina.


“Hah, kamu mah becanda melulu. Oh iya, kalian semalam kehujanan apa gimana sih? Kok mendadak pada demam?” tanya Rina yang baru ngeh Andre juga belum bisa dihubungi sampai sekarang.


“Maksudnya?” tanya Hana tak mengerti tentang perihal apa yang ditanyakan Rina ini.


“Ya demam aja kompakan sama Andre,” jelas Rina.


“Andre juga demam?”


Hana menelan ludah. Melihat hal ini, Rina merasa ada sesuatu yang tak beres dengan Andre dan Hana.


“Ada sesuatu yang terjadi ya?” tanya Rina hati-hati.


Hana menggeleng. Rina yang paham bahwa sepertinya Hana tak nyaman untuk membahas ini sekarang. Ia segera bangkit dari tempatnya dan mengangkat sebelah tangannya untuk ia letakkan di bahu Hana.


“Ingat, kalau ada masalah jangan dipendam sendiri tapi ceritakan. Dengan begitu akan lebih mudah  untuk menemukan solusi daripada hanya berhenti di kamu sendiri. Kamu tak hanya berhenti sebagai asistenku tapi juga sahabatku.”


Hana benar-benar tersentuh dengan tulusnya hati Rina ini. “Makasih Rin…” ucapnya tulus.


Hana tak kuasa untuk memeluk Rina. Ia harus rela merendahkan tinggi badannya agar sejajar dengan tubuh mungil Rina. Hana benar-benar tak habis pikir kenapa ia pernah begitu jahat pada Rina. Jika saja ia sejak dulu dapat menyadari kesalahannya, mungkin ia tak akan pernah mengalami pahitnya kehancuran seperti yang pernah dialaminya.


“Makasih banyak Rina.” Hana rasanya tak cukup dengan hanya sekali berucap terimakasih. Bahkan ia merasa seribu kalipun ia mengucapkan terimakasih, itu tak akan cukup untuk balasan atas kebaikan Rina.


“Sama-sama Hana.”


“Coba sini aku lihat,” ujar Hana setelah pelukan keduanya terlepas. Ia ingin melihat apa yang tadi baru saja Rina tunjukkan kepadanya.

__ADS_1


“Belum jadi gini...” ujar Hana setelah sadar video yag dilihatnya masih mentahan.


“Ya emang belum jadi. Aku kan tadi udah bilang…”


Hana menertawakan ketidak fokusannya ini. Jelas-jelas Rina sudah bilang tapi ia sama sekali tak paham. Setelah merasa cukup melihat-lihat, Hana kembali melanjutkan pekerjaan yang hampir semua kini menjadi tanggung jawabnya.


Rina yang sudah hamil besar pergi ke kantor hanya untuk bisa berdekatan dengan suaminya. Dan hal ini pula yang dicita-citakan Dika sejak dulu, sebelum menikahi Rina. Ia ingin membawa Rina di sisinya kapan pun dan dimana pun ia berada.


Di tempat lain Andre baru saja pulang ke apartemennya. Ia semalam menginap di tempat Dian. Ia tak bisa pulang karena ia mabuk berat dan sekarang pun kepalanya masih terasa sedikit berat karena efek alcohol yang sejujurnya sangat jarang disentuhnya.


Andre masih kecewa berat dengan papanya. Memang ia tak dilarang berhubungan dengan Hana, namun cara yang digunakan papanya pasti membuat Galih tak rela Hana ia nikahi. Kenapa papanya pikirannya sempit sekali. Kalau memang persoalan perusahaan bisa mengacaukan hubungannya dengan Hana, Andre bisa saja keluar dan memulai bisnisnya.


Edo tak mungkin tak tahu kan kalau di luar jabatannya yang tinggi di Surya Group Andre punya banyak sekali bisnisnya sendiri. Dengan apa yang sudah dimilikinya selama ini, ia tak mungkin jatuh miskin dan kelaparan jika tak lagi menjadi bagian dari Surya Group lagi.


Saat baru saja Andre menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang king size yang sebelumnya ia tempati bersama Hana, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Semua ia pikir itu adalah Hana, namun ternyata sang Mama.


Kekalutan isi kepalanya membuat ia enggan bicara dengan orang tuanya. Ia lantas membiarkan saja panggilan yang dibuat sang mama hingga dering itu diam sendiri.


Ting!


Setelah panggilan sang mama ia acuhkan, sekarang sebuah pesan terdengar masuk dalam ponselnya. Takut jika itu ternyata Hana, Andre segera membukanya.


Andre mendesah saat tahu itu mamanya, dan sekarang perempuan itu sedang berada di depan pintu apartemennya. Mau tak mau Andre harus bangkit dan membukakan pintu untuk wanita yang telah melahirkannya ini.


“Nak…” Heni nampak panik saat keadaanputranya yang kacau tertangkap netranya.


Heni segera masuk setelah ia terlebih dahulu menutup pintu.


“Kamu kenapa nggak masuk kerja. Ya ampun…”


Heni mengendus-endus bau badan anaknya.


“Kamu nggak mandi Nak?” tanya Heni yang sepertinya tak paham dengan bau aneh yang menguar dari tubuh anaknya.


Andre menggeleng dan membanting tubuhnya di sofa.



Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2