Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Jalur Khusus


__ADS_3

HAPPY READING


Meski tak bisa membuat Hana dan Andre tinggal terpisah, cara Dika dan Rina sementara ini cukup berhasil membuat keduanya sejenak mengurangi aktifitas memadu cinta. Pulang kerja keduanya sibuk dengan agenda masing-masing hingga akhirnya tertidur pun di tempat yang terpisah.


Andre sibuk mempelajar produk digital yang merupakan kerjasama Surya Group dan perusahaan Rio sedangkan Hana sibuk dengan project es krim yang tengah digarap Rina karena ia merupakan asisten pelaksananya.


“Kamu baru jogging ya?” tanya Hana yang menyambut Andre dengan muka bantal dan rambut ia gelung asal.


“Iya,” jawab Andre singkat. Saat jogging ia rasa kurang, ia kembali melakukan gerakan tambahan.


Hana yang matanya belum terbuka sempurna mengambil segelas air putih dan diminumnya hingga habis. Ia kemudian mengambil segelas lagi untuk Andre yang pasti sedang membutuhkan air saat ini.


Hana belum punya cukup daya karena ia tidur hampir pagi. Sebenarnya Andre juga sama, namun ada dosa rasanya jika ia tak menyempatkan diri untuk olahraga di pagi hari.


 “Maaf ya, aku belum bikin apa-apa buat kamu,” kata Hana sambil menyodorkan segelas air putih untuk kekasihnya.


Andre menghentikan push upnya dan bangkit sambil menurunkan resleting jaketnya.


“Buka aja nggak apa-apa,” ujar Hana sambil mengulurkan handuk yang ia bawa.


“Bilang aja kalau mau lihat badanku…”


Hana merengut. Ia menarik lagi handuk yang semula ia ulurkan.


“E, e, e. Mau dikemana itu. Udah terlanjur nggak pake baju juga,” protes Andre karena perubahan sikap kekasihnya.


“Aku masih membutuhkan handuk ini,” ujar Hana dengan santainya.


“Tapi kamu kan bawa itu buat aku.” Andre berusaha mengingatkan Hana karena tadi telah menawarkannya.

__ADS_1


“Nggak. Aku mau mandi,” Hana berkilah dan bersiap pergi. Saat ia ingin berbalik dan segera pergi, ternyata Andre bergerak dengan gesit mengangkat dan bembawa tubuh Hana menuju kamar di lantai dua.


Apa mereka akan lanjut melakukan olahraga pagi?


Tentu tidak, karena Hana masih ada tamu yang akan bertahn entah untuk berapa hari lamanya.


Siang hari di kantor Surya Group…


Andre sibuk dengan pekerjaannya sementara Hana sedang meninjau bakal tempat produksi es krim yang targetnya harus selesai awal bulan depan. Hana harus melakukannya sendiri karena Rina tak mungkin ada bersamanya. Selain Dika yang tak akan mengijinkan, hal ini karena kehamilan Rina membuat wanita ini gampang sekali diserang lelah saat beraktifitas lebih.


Menjelang jam makan siang barulah Hana selesai melakukan peninjauan dan bersiap kembali ke kantornya. Lewat jalur khusus, ia memang berhasil kembali menjadi karyawan Surya Group. Namun ia tak ingin menyalah gunakan kesempatan ini dengan bermalas-malasan. Ia benar-benar bekerja keras selain karena tanggung jawab besar yang dipikulnya tapi juga sebagai balas budi karena kebaikan yang diterima oleh pemilik perusahaan ini.


Saat baru saja ia masuk ke dalam mobil, sebuah pesan tiba-tiba masuk ke ponselnya. Hana menghela nafas dan memejamkan mata saat tahu pesan itu dari siapa. Ini adalah pesan pertama yang orang ini kirimkan karena sebelumnya ia selalu membuat panggilan meski tak pernah Hana jawab juga.


Setelah sejenak berfikir, akhirnya Hana memutuskan untuk membuat panggilan. Ia tak boleh diam saja karena dalam pesar Marshal kali ini menyinggung soal denda yang harus Hana bayarkan jika melanggar kontrak yang telah mereka sepakati.


“Selamat siang. Apa bisa saya bicara dengan bapak Marshal?” tanya Hana yang belum  sadar bahwa Marshal yang kini menjadi lawan bicaranya.


“Saya belum setua itu untuk dipanggil Bapak,” ujar Marshal dari seberang sana. Jelas Hana langsung terhubung dengan Marshal, karena sejak awal Marshal selalu menghubungi dengan ponsel pribadinya.


“Maaf, saudara Marshal.”


“Hmm, bagaimana? Apa ada kendala sehingga kamu belum update sampai sekarang?” tanya Marshal to the point.


“Emm, gimana ya. Saya sebenarnya ada pekerjaan dadakan, dan sekarang saya benar-benar tak ada waktu luang,” jujur Hana.


“Butuhkah waktu luang?” suara Marshal terdengar tak senang. “Bukankah kemarin kamu berkomitmen untuk dikenal dengan karya dan kamu ingin memperjuangkan cita-citamu di bidang ini?”


“I, iya tapi…”

__ADS_1


“Tapi apa? Karena uang yang dihasilkan tak sebesar yang bisa kamu peroleh saat ini?”


Hana menghela nafas. Masuk akal sih kalau Marshal marah, karena kontrak yang telah keduanya sepakati merupakan kontrak berjangka yang tak hanya penting untuk Hana tapi juga demi kredibilitas platform tempat Marshal bekerja. Oh iya, di sini Marshal memperkenalkan diri sebagai editor bukan founder dan owner dari newrite.


“Saya siap membayar denda,” ujar Hana dengan kesadaran penuh karena apa pun alasannya ia harus bertanggung jawab atas keputusan yang telah ia buat.


Jika tadi Hana yang dibuat terkejut dengan kemarahan Marshal yang tak suka dengan keputusannya, sekarang giliran Marshal yang harus dikejutkan dengan ucapan Hana.


“Jangan buru-buru. Ini masih bulan pertama. Kamu masih saya tunggu sampai bulan depan. Persiapkan karya kamu dengan baik. Saya kira pembicaraan kita kali ini cukup,  dan sampai jumpa.”


Marshal dengan segera memutus panggilannya. Keputusan macam ini. Jika sampai David tahu, mungkin Marshal akan jadi bulan-bulanan sahabatnya ini. Dalam kontrak jelas disebutkan jika setelah taken dilangsungkan, pihak kedua yaitu Hana a.k Black Pearl harus mulai menunjukkan karyanya, jika tidak kontrak akan diputus sepihak, Hana akan diblokir dan dikenakan denda yang tak kecil jumlahnya jika dibanding dengan penghasilan bulanan yang mungkin Hana dapatkan.


Namun Marshal masih belum rela melepaskan wanita cantik yang dengan beraninya membuat tidurnya tak nyenyak.


Tak mau lebih banyak yang ia pusingkan, Hana segera membawa mobilnya meninggalkan tempat yang ia tinjau kali ini. Setelah menempuh hampir setengah jam perjalanan, akhirnya Hana tiba di kantor lama yang baru ia masuki lagi beberapa hari terakhir. Ia yakin sebagian bahkan sudah meninggalkan pekerjaan karena ini memang jam makan siang. Namun satu yang membuat Hana heran, kenapa Andre sama sekali tak menghubunginya sejak tadi. Apakah kekasihnya ini terlalu sibuk hingga berniat melewatkan makan siang?


Setibanya di ruang teratas gedung ini, Hana berjalan lurus menuju ruangan dimana Andre bekerja. Percuma olahraga rajin, kalau makan tak bisa menjaga. Badan lama-lama akan sakit juga. Gerutu Hana dalam hati.


Saat melewati trio staf sekertaris, Hana hanya melambaikan tangan tanpa memelankan langkah. Tanpa permisi atau mengetuk pintu, ia mendorong pintu ruangan Andre yang nampak tertutup dari luar.


Cklek!


Hana yang semula tanpa ragu membuka pintu, kini ia mendadak beku. Langkah Hana terhenti bersama masuknya sosok yang ia rindukan sekaligus ia hindari selama ini ke dalam indera penglihatannya.


“Hana, kamu sudah kembali?”  tanya Andre dari tempatnya.


Hana tak menjawab pertanyaan Andre. Ia masih menatap tak percaya sosok yang tiba-tiba memutar badan bersamaa  dengan Andre yang mengucapkan sapaan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2