Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Terhina


__ADS_3

Hai, hai.


Kalian tenang ya.


Senja nggak akan kabur sebelum kelar.


*So, stay tune***ya...**


HAPPY READING


“Nggak muat Sayang…”


“Masa sih. Coba lagi, lebaran dikit, dikit lagi...”


“Nggak bisa…”


“Bisa. Coba dulu jangan bicara terus.”


“Tapi ini sudah nggak bisa,” ujar Hana setelah sebelumnya kepalanya menggeleng lagi.


“Sekali lagi…” Andre masih memaksa. Ia belum menyerah sepertinya.


Hana tak lagi menggerutu, tapi dia bersiap untuk melakukan sesuatu yang dapat menyelamatkan dirinya.


“Mau kemana. Kelarin dulu.”


Andre memaksa Hana untuk kembali ke tempatnya dan mengunci tubuh wanitanya agar tak pergi kemana-mana.


“Tapi… h h h h...”


Hana hanya mampu mendesah. Adu otot dengan Andre sudah jelas ia tak bisa.


“Buka mulutnya...”


Meski enggan Hana menurut juga, karena tak ada pilihan lain sepertinya.


“Nih...”


“Tap, khb…”


Andre menyuapkan sepotong besar daging yang sebelumnya ia panggang. Tak lupa ia mencelupkannya pada saos yang sudah disiapkan untuk memberi tambahan rasa dan juga menurunkan suhu makanannya.


“Ini... terakhir ya…” ujar Hana  dengan susah payah. Bagaimana tidak, Andre menjejalkan makanan dengan tanpa perasaan.


“Masih banyak sayang. Kita bisa di denda kalau nggak menghabiskan ini semua.”


“Siapa suruh ambil sebanyak ini...” ujar Hana sambil mengelap sudut bibirnya. “Kamu juga ikut makan dong, masa dari tadi aku saja yang kamu jejali makanan,” lanjut Hana melanjutkan gerutunya.

__ADS_1


System all you can eat memang seperti itu, dimana pelanggan harus menghabiskan makanan yang diambilnya sebelum waktu yang ditetapkan habis.


“Aku mah gampang Sayang. Tapi kamu harus makan duluan karena pusing tadi pasti karena nggak makan, iya kan?”


Hana mendengus. “Aku udah nggak muat. Mau muntah ini rasanya mau keluar semua...”


Andre perlahan membagi makanan di hadapannya ke dalam dua wadah yang berbeda. Hana yang tahu apa yang akan Andre lakukan setelahnya hanya bisa diam sambil melihat saja.


“Ayo makan...”


Nah kan. Hana membatin. “Aku sudah nggak sanggup makan lagi.”


“Tapi ini gimana. Masih banyak makanannya. Kan sayang kalau nggak habis. Sayang juga uangnya kalau harus buat bayar denda,” jelas Andre panjang lebar.


“Kalau kamu takut miskin kerena harus bayar denda di sini, mending aku aja yang bayar.” Ketus Hana sembari bangkit dari tempatnya saat itu juga.


Andre panas seketika. Bagaimana pun juga ini adalah sebuah penghinaan baginya. Jangankan hanya membayar makanan, membeli tempat ini saja bukan masalah baginya.


Seketika Andre meletakkan alat makan, dan membersihkan tangannya dengan sapu tangan.


“Kita pulang.”


Hana yang telah bangkit terlebih dahulu kini malah Andre lewati begitu saja.


“Ngambek lagi...” lirih Hana.


“Aku hanya karyawan yang harus berhemat jika tak ingin jatuh miskin. Berbeda dengan kamu yang merupakan calon pewaris perusahaan Rahardja yang tak akan berdebat hanya untuk sejumlah kecil uang saja…” sarkas Andre begitu ia selesai membayar makanan. “Tapi tenang saja, kali ini aku masih ada tabungan untuk membayar makan malam...” lanjut Andre sebelum menyimpan kartunya yang berwarna hitam.


“Andre, kamu ini…” Hana menelan kembali ucapannya saat Andre justru bergegas untuk berjalan keluar. Ia bahkan berjalan seolah tak ada siapa-siapa yang datang bersamanya.


Tak ada yang Hana lakukan selain mengekor dari belakang. Sebenarnya bisa saja ia pulang sendiri atau minta dijemput sopir, tapi sungguh ia tak ingin hubungannya bertambah keruh.


Kenapa jadi seperti ini? Apa setelah papa dan om Edo setuju dengan hubungan ini Andre jadi berubah pikiran dan ingin meninggalkanku? Apa selama ini ia tak sungguh-sungguh dengan perasaannya terhadapku?


Hana menatap Andre sekilas sebelum kembali melempar pandangan ke sembarang arah. Kekasihnya ini hanya fokus dengan kemudi tanpa peduli dengan dia yang duduk di sebelahnya.


Wajar sebenarnya kalau Andre berubah. Dari awal memang aku sudah sadar bahwa aku memang bukan orang yang sebanding dengannya. Jadi mungkin sekarang ia baru sadar dan sedang berfikir ulang untuk melanjutkan hubungan.


***


“Tck, kok bisa di sini sih kamu…”


Pria muda bertubuh jangkung itu pun berjongkok untuk coba memeriksa laki-laki yang duduk tak beraturan di depan pintu apartemennya.


“Hey. Kamu ngapain di sini? Hey…” ujar pria ini sambil berusaha menyadarkan pria yang sepertinya sedang dalam pengaruh alkohol dari baunya.


Tak hanya sekali, pria ini terus berusaha membangunkan pria yang disinyalir adalah temannya. Namun bukannya bangun, ia justru ambruk dengan mengenaskan di atas dinginnya lantai tempatnya duduk semula.

__ADS_1


Dedi yang sudah sangat ingin mengistirahatkan badan sepertinya harus menunda hasratnya. Ia harus mengabaikan sementara letih yang menyerang tubuhnya. Ia pun segera membuka pintu huniannya dan coba mengangkat tubuh Andre yang nampak tak berdaya.


“Aaarrgg, hhuufff…”


Dedi menyerah. “Kenapa badan kamu berat sekali. Mana bau alcohol lagi…”


Dedi nampak begitu kesal. Ia menegakkan tubuhnya sambil mengipas-ngipas area di depan hidungnya. Berharap dengan begitu bau menyengat itu tak terlalu mengganggunya.


Setelah terdiam beberapa saat lamanya, Dedi memutuskan untuk memanggil security saja agar membantunya. Ia tak mampu menopang berat badan Andre dalam kondisinya sekarang untuk membawanya ke dalam.


“Tolong ya Pak,” ujar Andre setelah menunjukkan pemandangan tak menyenangkan yang ia temukan.


“Baik Dokter…” jawab security yang paham benar siapa pria yang memanggilnya ini.


Dedi membuka pintu dan mempersilahkan security untuk membawa masuk tubuh Andre yang kesadarannya tinggal beberapa persen saja. Setelahnya ia tak lupa mengucap terimakasih atas bantuan yang diperolehnya.


Kedua security itu segera pergi setelah berpamitan pada Dedi. Dedi yang kini hanya berdua dengan Andre hanya menatap tanpa minat rekannya yang menyusahkan ini.


“Kapan kamu dewasanya? Kenapa setiap ada masalah kamu jadi merepotkan seperti ini…” ujar Dedi  sambil menatap jengah temannya yang tergeletak tanpa, daya, kharisma dan wibawa.


Dedi yang sebenarnya begitu lelah membiarkan saja Andre dan meninggalkannya begitu saja. Dia baru saja melewati shift panjang karena harus menggantikan jadwal jaga dokter yang masih nyambi menempuh study. Terserah akan ada kekacauan macam apa yang akan Andre timbulkan nanti, yang jelas ia begitu butuh istirahat saat ini.


***


Mentari sudah tak malu lagi menampakkan diri, karena ini memang sudah jam delapan pagi. Meski Dedi tidur dini hari, tapi saat ini ia sudah siap dengan makanan untuk mengisi perutnya pagi ini. Ia juga harus memikirkan Andre yang menginap di rumahnya saat ini. Karena bagaimana pun kondisi Andre saat tiba tadi, yang jelas ia tetaplah tamu Dedi.


“Aku cuma bisa bikin ini,” ujar Dedi sambil meletakkan roti yang habis ia panggang. Ada beberapa pelengkap siap makan yang sebelumnya sudah sedia dalam penyimpanan.


“Terimakasih…” jawab Andre singkat.


Sesaat kemudian keadaan kembali hening. Keduanya hanya diam karena mulut sibuk mengunyah makanan.


“Sebenarnya kamu ada masalah apa? Bukankah seharusnya kamu sedang bahagia karena akhirnya kamu tak perlu kucing kucingan dan menentang restu orang tua?” tanya Dedi setelah sebelumnya mereka diam beberapa saat lamanya.


Andre enggan menanggapi. Ia bahkan buru-buru mengambil roti untuk menyumpal mulutnya agar ada alasan untuk tak perlu segera bicara.


“Setelah sholat dhuha aku mau tidur lagi…” lanjut Andre saat ia sadar Andre tak berniat untuk memberikan tanggapan atas pertanyaan yang baru saja ia ungkapkan.


Andre urung memakan roti yang sudah ia gigit ujungnya. Sebenarnya ia kesini bukan hanya untuk bersembunyi, tapi ia butuh teman bicara untuk membongkar kerumitan yang belum jelas benar dimana akarnya.


“Aku malu Ded. Aku merasa tak pantas untuk Hana…” ujar Andre tiba-tiba saat Dedi terlihat bersiap meninggalkannya.


Dedi diam saja. Dengan santai mengambil susu yang baru dihangatkan dan meminumnya dengan perlahan setelah ia kembali duduk di meja makan. Ia tak ingin cepat-cepat berkomentar dan menunggu jika Andre memang mau mengatakan semua.


“Semula aku menganggap harus berjuang keras agar Hana nampak layak untuk mendapatkan restu papa mama, tapi ternyata sebaliknya…”


Dan Andre akhirnya bicara juga. Sedikit ada clue tentang masalahnya. Meski belum jelas, ia adalah seputar Hana.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2