
HAPPY READING
Dika lemas dipojokan, pasalnya makanan yang ia buat dengan segenap jiwa raga khusus untuk memenuhi permintaan istri tercintanya kini justru membuat istrinya muntah-muntah. Dan lebih nelangsa lagi, hal ini terjadi saat Rina baru saja memasukkan suapan pertamanya.
Rudi menghampiri Dika yang mengenaskan.
“Kok bisa sih Yah. Kan aku masaknya bener," ujar Dika begitu sadar ada Rudi tak jauh darinya.
Rudi tertawa kecil mendengar aduan Dika. “Sabar. Wanita hamil itu memang susah. Dia nggak hanya bikin susah tapi ia pun sebenarnya merasa susah dengan kondisinya. Jika sudah
mau sulit untuk menahan, jika sudah tak suka pun demikian. Paham kan? Ini semua salah satu factor terbesarnya adalah ketidak seimbangan hormone yang mereka alami.” Rudi yakin anaknya sudah tahu masalah ini, jadi ia hanya mengingatkan saja, berharap putranya ini bisa lebih sabar dan bersikap dewasa dalam menghadapi Rina.
Dika mengangguk pasrah. Ia hanya bisa iya-iya saja karena ia sendiri masih berusaha mengobati kecewa karena merasa seluruh usahanya benar-benar sia-sia.
“Nak. Jangan sampai kamu marah atau kesal dengan Rina ya, karena yang dikandung itu adalah anak kamu. Dia dengan suka rela berada dalam ketidak nyamanan ini demi meneruskan keturunan kamu,” imbuh Rudi sambil menepuk bahu anak tirinya.
Dika mendongak menatap Rudi. Sekali lagi ia mengangguk untuk mengiyakan hal ini.
“Saya mau turun. Kamu mau ikut apa di sini saja?”
Dika tampak menimbang. Rina tadi menolak saat Dika ingin membantunya ke kamar mandi, dengan alasan bau Dika yang seperti sphagetti yang menjadi biang mual-mualnya ini. Dengan keberadaan Dika di dekatnya, itu akan membuat kepalanya makin pusing dan perutnya semakin mual.
Pun saat Santi menawari ingin membantu menantunya, ia juga ditolak dengan alasan yang sama. Ya sepertinya ini masuk akal, karena Dika lah yang membuat masakan itu. Jadi tak heran kalau bau badannya sama dengan makanan yang dibuatnya karena selama proses memasak pastilah uap makanan itu mengenai tubuhnya.
Hingga akhirnya tinggal Rista yang harus turun tangan dalam hal ini. Ia menemani Rina yang muntah-muntah di kamar mandi. Rina memuntahkan semua isi perutnya bahkan yang sudah ia makan tadi malam dan belum tercerna sempurna oleh perutnya.
Dika bangkit untuk melihat istrinya dari kejauhan. Ia kemudian berbalik dan menghampiri sang ayah. “Ikut saja…” putusnya kemudian.
Kedua pria beda usia ini berjalan beriringan meninggalkan kamar Rista yang menjadi saksi sia-sianya perjuangan Dika sejak pagi buta.
***
“Ndre…”
Andre merasa ada yang mengguncang tubuhnya pelan serta suara lembut yang memanggil-manggil namanya di waktu yang sama.
Andre masih terlalu berat untuk membuka mata karena sebenarnya ia baru tidur belum lama.
“Andre…”
Sekali lagi suara itu menyapa Andre. Meskipun matanya belum juga terbuka juga, namun telinganya sudah dapat
mengenali suara itu milik siapa.
“Aku masih ngantuk Han…” ujar Andre dengan suara seraknya.
“Tapi ini sudah jam 6 Ndre, gimana kalau kamu telat…” ujar Hana memperingatkan.
Andre melenguh dan mengencangkan tubuhnya. Ia membuka wajahnya yang semula ia tutupi dengan jaket. Wajahnya terlihat benar-benar kusut dengan mata memerah dan nampak basah.
__ADS_1
“Kamu kenapa juga tidur di sini?” tanya Hana.
Andre enggan menjawab. Ia hanya tersenyum sambil menyentuh wajah Hana.
“Apa aku bikin kamu marah?” tanya Hana was-was.
Andre menggeleng. “Apa kamu mencari aku semalam?” Andre balik bertanya.
“Iya….” Hana menggantung ucapannya. Ia ragu apakah ia menanyakan perihal kepergian Andre semalam atau lebih baik ia diam saja.
“Hana…”
Andre langsung bangkit dan kini ia berhadapan dengan Hana dengan jarak yang sangat dekat.
“Aku tahu ada yang sedang kamu pikirkan, tapi aku tak punya ilmu untuk membaca pikiran…”
Mendengarkan kata-kata Andre, Hana langsung memusatkan pandangannya pada lelaki ini.
“So, katakan jika memang ada yang mengganjal di pikiran,” lanjut pria ini.
Hana menghela nafas. Sebenarnya ia ragu, namun sepertinya ucapan Andre ada benarnya.
“Kamu tadi malam…”
Katanya mau mengatakan apa yang ia pikirkan tapi nyatanya Hana masih saja tak segera menuntaskan ucapannya.
Mata Hana membola. Semula Hana merasa ia yang menyimpan rahasia, ternyata sebenarnya Andre lah yang tahu semuanya. Hana kemudian tersenyum sebagai tanda pengakuannya.
“Iya kan?” tanya Andre memastikan.
Hana mengangguk. “Kok kamu diam saja kalau tahu aku nggak beneran tidur?” protes Hana.
“Karena aku tahu sedang tak ingin bicara."
"Kamu sedang butuh waktu untuk sendiri, dan aku menghargainya.”
Hana menghela nafas. Ia benar-benar terharu dengan perlakuan Andre padanya ini. Rasanya ia sungguh beruntung dengan pria tampan, kaya raya dan berhati malaikat seperti Andre. Bahkan saat marah Andre tetap stay menjadi malaikat, malaikat zabaniyah tepatnya?
Ada yang tahu apa tugas malaikat ini, tulis di kolom komentar ya, xexexe.
“Tapi Han, meskipun aku tahu ada yang sedang kamu pikirkan, aku tak pernah tahu apa yang ada di kepala kamu kalau tak kamu katakan. Dari pada aku menduga-duga dan ternyata dugaanku salah, lebih baik kamu bilang ya. Aku nggak mau kita ada masalah hanya karena masalah yang sebenarnya tak jelas."
Hana tak tahan untuk tak memeluk Andre. “Maafin aku…” ucapnya.
Hana menarik tubuhnya dan menatap mata Andre yang nampak berair karena menahan kantuk. Ia kemudian menghambur lagi ke dalam pelukan pria ini. Andre tak membalas apa-apa, kecuali mengusap lembut rambut Hana.
“Kamu sudah susah payah dan sangat pengertian kepadaku, tapi aku masih terus saja menyusahkanmu,” ujar Hana lagi.
Akhirnya Andre membalas pelukan Hana.
__ADS_1
“Tidak ada yang menyusahkan dan disusahkan Hana. Kamu dan aku sekarang adalah kita. Semua kesulitan yang kita hadapi ini adalah konsekuensi dari perbuatan yang kita lakukan. Kamu mengerti?”
Hana mengangguk dalam pelukan Andre.
“Kita berjuang sama-sama ya…”
Akhirnya Andre meminta Hana untuk memeluknya. Ia bilang ingin mendapatkan energy dengan cara ini.
***
Pagi ini Lili datang sedikit terlambat ke tempat kerjanya. Karena ia harus datang ke rumah mertua Rina yang belum pernah ia datangi sebelumnya sama sekali. Sehingga ia harus beberapa kali salah alamat sebelum akhirnya mendatangi alamat yang tepat.
Meskipun harus banyak kehilangan waktu di jalan, ia dapat bernafas lega karena akhirnya kini dia sudah bisa berpakaian normal tanpa embel-embel strawberry seperti beberapa waktu terakhir melekat di tubuhnya.
“Li, kamu ganti baju ya?”
“Ha?” baru saja ia bernafas lega, tapi Rina sepertinya memang tak memperkenankan dia tampil layaknya manusia normal seperti sedia kala.
“Ganti apa Nona?”
Rina mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dekat dagu. Sepertinya ia sedang berfikir, penyiksaan macam apa yang akan dia berikan pada asistennya ini.
“Ris, Rista…!”
Teriakan Rina membuat Lili deg-degan. Siapa lagi Rista ini?
Tak berselang lama, seorang wanita cantik muncul di ujung atas tangga. Ia muncul dengan hotpant dan kaos oblongnya. Meskipun sederhana, hal ini sama sekali tak mampu menyembunyikan aura cantinya.
Ini siapa sih. Jangan-jangan istri pak Restu yang lain?
Entah apa yang ada di pikiran Lili sehingga ia bisa berfikir seperti ini.
“Kenalin, ini Lili asisten aku. Dia nggak cuma multi talenta, tapi jago bela diri loh,” ujar Rina dengan bangga memperkenalkan Lili pada Rista.
Rista mengulurkan tangan. ”Saya Rista, adiknya Kak Rina.”
Meskipun tak ada yang tahu isi pikirannya, namun Lili tersenyum canggung membalas sapaan gadis cantik ini.
Nggak heran kakaknya cakep banget, lha ini adiknya juga masyaallah. Batin Lili sambil menjabat uluran tangan Rista. “Saya Lili,” ujarnya kemudian.
Keduanya bertahan dengan posisi tangan paling menggenggam. “Nona cantik sekali…” ucap Lili yang masih terpaku pada wajah cantik Rista.
Rista yang tak nyaman, terlebih dahulu berinisiatif untuk melepaskan jabatan tangan. Dan saat tangan keduannya terlepas pun, Lili masih saja memandangi wajah Rista. Sementara Rina sepertinya tak sadar akan hal ini, sehingga ia asik mengatur rencana jalan-jalan mereka hari ini.
Rista sebenarnya berencana berangkat pagi ini, namun karena Rina terus merengek agar ia tinggal barang sehari lagi, akhirnya dengan berat hati harus Rista turuti. Ini semua demi calon keponakannya,
Saat Rina asik berbicara panjang lebar, Rista merasa sedikit risih dengan keberadaan asisten kakak iparnya ini. Lili kerap ketahuan mencuri pandang ke arahnya, dan ini membuat Rista benar-benar tak nyaman meskipun tak tahu maksudnya apa.
Bersambung…
__ADS_1