
HAPPY READING
“Lihat tuh lihat. Lihat baik-baik…” lirih Rahma pada Elis.
“Belum ada yang keluar oncom…” balas Elis.
“Ya lihatin aja. Biar kamu tahu seberapa mirip wanita itu sama Hana.”
“Iye, iye…”
Keduanya harus mendesah kecewa saat yang keluar bukanlah orang yang dinantikan melainkan pasangan Dika dan Rina yang nampak jomplang dengan perbedaan tinggi badannya. Hingga keduanya menghilang, tiga orang yang tersisa di dalam masih belum juga menunjukkan tanda-tanda segera keluar dari sana.
“Mereka bertiga ngapain sih di dalam?” tanya Elis penasaran.
“Iya ih. Jangan-jangan mereka berantem lagi…” ujar Rahma menduga.
“Duh, gimana dong…” Elis cemas jika sampai kedua pria itu baku hantam untuk memperebutkan wanita yang ada di dalam.
Kedua wanita ini terdiam sibuk dengan masing-masing kerumitan pikirannya. Hingga akhirnya nampak seseorang menarik pintu dari dalam. Rahma dan Elis pun segera bersiap dengan pandangannya, dan akhirnya muncul lah Dedi yang diikuti Hana dan Andre di belakangnya.
Elis dan Rahma menunduk hormat setelah sempat mencuri pandang ke arah ketiganya. Sayang Hana berjalan di sisi kanan Andre sehingga kedua wanita ini tak dapat dengan jelas melihat wajahnya karena terhalang tubuh atasannya.
“Duh nggak jelas lagi,” kesal Rahma saat orang-orang itu melaluinya
“Iya. Kenapa juga harus ngumpet di sisi tubuh pak Andre segala sih,” imbuh Elis yang terlihat sekali tak suka.
“Iya, dan sudah jelas kan wanita tadi jalannya sama pak Andre. Berarti dia…” Rahma menjentikkan jari sekan menegaskan status pujaan hatinya masih aman.
“Ya kalau jalannya sampingan nggak berarti juga meraka ada sesuatu yang spesial kan,” kesal Elis karena rekannya ini seakan mengibarkan bendera kemenangan.
“Yang ada apa-apa kalau kita nggak segera pulang. Ayo pulang…” Rahma tak mau berdebat. perdebatannya dengan Elis hari ini sudah cukup panjang.
Dua staf ini turut pulang karena seharusnya ia memang sudah pulang sejak tadi. Namun karena begitu penasaran dengan Hana, akhirnya mereka masih bertahan di sini.
"Tapi suer deh, dia mirip sama Hana," ujar Rahma sambil mengemasi barang-barangnya.
"Kalau memang benar Hana, masih punya muka dia menampakkan diri di kantor ini."
Rahma bergidik. "Tapi iya kan. mirip sama Hana kan?"
"Nggak tahu Rahma. Kan tadi kehalang badan kekar pak Andre."
"Badan kekar kamu bilang? Bahu lebar iya," balas Rahma.
"Dah lah. Yuk..." keduanya masuk lift dan ingin segera pulang.
Andre, Hana dan Dedi secara bersama-sama tiba di lobi. Meski keadaan kantor sudah tak seramai saat Hana datang tadi pagi, tapi masih banyak karyawan yang lalu lalang dan belum pulang. Dan lagi-lagi Hana menjadi pusat perhatian terlebih ketika ia berjalan beriringan dengan sekertaris utama perusahaan ini.
Dedi yang merasa tak nyaman karena menjadi pusat perhatian segera memacu langkah untuk meninggalkan pasangan yang tingkahnya membuat ia geram sejak tadi. Tapi mau dikata apa. Namanya juga bucin, dan dia pernah ada di posisi mereka. Meskipun tak sampai sejauh yang keduanya lakukan, tapi tak lantas dia bebas dari yang namanya dosa.
“Ded, Ded…”
__ADS_1
Dedi langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara Dika memanggilnya. Ia baru sadar jika ternyata sahabatnya ini masih menunggu mereka di luar.
“Apa Dik?” tanya Dedi setelah ia menghampiri sahabatnya ini. Ia tak mungkin memanggil Dika dengan cara ini jika tak berada dalam posisi yang dekat seperti ini. Hal ini bisa menurunkan wibawa sahabatnya sebagai orang nomor satu di perusahaan. Meski faktanya Dika tak pernah keberatan dengan cara apa pun Dedi memanggilnya.
“Kamu nggak makan malam dulu sama kita…?” tanya Dika saat melihat Dedi yang hendak ngeloyor seorang diri.
Dedi menggeleng. “Aku shift malam,” ujarnya kemudian.
“Lu mau ke luar kota dong?”
“Enggak. Aku shift malam rumah sakit om Rudi…” jawab Dedi tanpa membalas tatapan sahabatnya.
Dika menyentuh hidungnya untuk menyamarkan lengkung yang tercipta tanpa bisa dicegahnya. “Ini masih sore Ded, gabung dulu lah…” ajak Dika.
Dedi menggeleng. Ia kemudian melanjutkan langkah menuju mobilnya. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.
“Kalau aku ikut, Rista pasti nggak mau datang…” ujar Dedi tanpa menoleh dan setelahnya ia kembali melangkah.
Dika melotot. Sayang Rina sudah memejamkan mata di dalam mobil. Jika tidak, pasti dia juga akan sama terkejutnya dengan Dika.
“Woy. Masih inget lu…!” Dika tak dapat menahan teriakannya.
Persetan dengan para karyawan yang menatapnya heran. Yang jelas ia tak dapat menahan euforianya. Pasalnya Dika yang terkenal selalu menjaga wibawa, kini berteriak layaknya bocah yang kegirangan karena dikasih layang-layang oleh ayahnya.
Dedi hanya menggerakkan tangannya sebelum menarik pintu dan menghilang setelah ia menutup pintu mobilnya.
Tepat saat Dedi pergi, datanglah Andre dan Hana yang sempat menghilang entah ke mana. Sejak tadi Hana memang menolak untuk Andre gandeng, karena ia tak ingin menciptakan rumor bagi Andre di perusahaan ini. Sehingga seperti ini lah mereka, berjalan berdampingan tanpa saling bersentuhan.
Sementara Andre berbincang dengan Dika, Hana menegok ke dalam mobil. “Itu?” tanya Hana sambil menunjuk Rina.
Dika dan Andre serempak melihat ke arah yang Hana
tunjuk.
“Iya. Dia jadi gampang ngantuk sekarang. Emang kamu sebelumnya nggak gitu?” tanya Dika.
Hana menggeleng dengan wajah muram. Meskipun kehamilan yang dialami bukan suatu hal yang patut dibanggakan, namun hal tersebut tetap saja menjadi anugerah yang luar biasa bagi Hana.
“Sekarang Rina selain gampang lapar juga gampang mengantuk. Kata dokter itu hal yang wajah terjadi pada ibu hamil,” lanjut Dika menjelaskan.
“Oh…” jawab Hana yang sudah menunduk wajahnya.
“Karena Rina tidur, kita pulang masing-masing saja
ya…” potong Andre cepat. Ia sadar jika mungkin Hana sekarang sedang kecewa. Sehingga ia ingin membawa Hana segera pergi dari hadapan Dika. Dan rencana makan malam mereka pun terpaksa dibatalkan.
“Nggak apa-apa Ndre kita misah gini?” tanya Hana saat
keduanya sudah berhasil memisahkan diri.
“Nggak apa-apa. Sekarang kamu mau ke mana?” tanya Andre bergitu ia menjalankan mobilnya.
__ADS_1
“Kemana ya? Ke rumah Risma mungkin…” jawab Hana ragu.
“Apa dia sudah pulang?” tanya Andre.
Hana meraih ponselnya untuk mengecek sekarang jam berapa. “Mungkin belum,” jawabnya kemudian.
“Ya udah, kita jalan-jalan kali ya. Sepertinya kita sudah lama tak jalan seperti pasangan normal lainnya,” ujar Andre mengutarakan usulannya.
“Kamu yang milih buat jadi nggak normal,” jawab Hana asal.
“Karena Tuhan mentakdirkan kita bersatu dengan cara tak normal Han…” balas Andre tak terima.
“Jangan mengatas namakan Tuhan di atas dosa-dosa yang
kita perbuat Ndree…” ujar Hana mengingatkan.
Andre mengembangkan senyumnya dan meraih tangan Hana.
“I miss you…”
Hana menatap tak percaya dengan apa yang baru saja pria ini katakan. “Kita beberapa hari ini barengan terus Andre…”
“Tadi kamu lama pergi sama Rina, jadi aku kangen nungguinnya,” jawab Andre sambil mencium tangan Hana. Kali ini Hana diam saja. Jujur ia bahagia dengan ada Andre di sisinya.
“Kamu nggak punya baju kan…” ujar Andre tiba-tiba setelah merasa punya ide untuk melewatkan waktunya bersama Hana.
“Banyak Ndre. Di rumah kamu ada, di tempat Risma juga banyak sekali.”
“Tapi di apartemen kamu nggak ada Han.”
“Ya nanti kan mau ambil ke rumah Risma. Kalau kamu nggak keberatan bisa di simpan di apartemen, dan kalau tiba-tiba ada sidak biar kamu mampus kena marah mama kamu…”
Andre tertawa kecil dengan ucapan Hana. “Jangan kurang ajar ya ngatain mertua…”
“Siapa? Aku belum punya mertua.”
“Emang kamu nggak mau punya mertua mama?”
“Yaaa…, yaaa…, itu, yaa…” Hana jadi bingung kan. Jujur ia mau, tapi ia tak tahu takdir akan membawa kenyataan macam apa untuknya.
“Ya, ya, ya, apa?! Hmm, apa? Ngomong yang jelas,” desak Andre melihat kekasihnya bingung harus berkata apa.
“Tau!” ketus Hana yang dihadiahi tawa renyah oleh kekasihnya.
“Yang jelas aku mau cari baju couple buat kita. Sepertinya kita belum punya.”
“Ih jijik. Masa iya cowok badannya keker kaya kamu couplean sama aku. Enggak, enggak, enggak.” Hana menolak keras keinginan Andre. Sekasmaran-kasmarannya mereka, ia tak pernah berfikir semacam itu untuk dilakukan bersama kekasihnya.
“Tapi aku mau.” ujar Andre dengan nada tak terbantahkan.
Dengan gaya percaya diri, Andre memacu mobil untuk membawa Hana ke pusat perbelanjaan. Entah untuk apa, yang jelas ia ingin bersenang-senang dengan menghabiskan waktu bersama Hana.
__ADS_1
Bersambung...