
HAPPY READING
“Semua sudah baik…” ujar Rudi di sesi akhir pemeriksaannya.
“Ya memang seharusnya baik,” cuek Dika seolah tak menghargai usaha sang ayah untuk memeriksa istrinya.
Rudi menghela nafas. Ia kesal, untung ia tak sampai mengelus dada dengan kelakuan anak tirinya. “Jadi sudah tidak ada lagi kan?”
“Ayah kok nyolot sih…”
“Saya hanya ingin mengimbangi gaya kamu.” Bukan hanya nyolot, karenajika Rudi mau memukul kepalanya, itu sah-sah saja.
“Tck…”
Dika berdecak dan disambut tawa oleh dokter tampan yang sebentar lagi usianya menginjak kepala lima.
Dengan dibantu suster, Rina membersihkan gel yang dioleskan di perutnya. Ia kemudian bergabung bersama Dika dan Rudi yang nampak asik dengan entah topik apa yang diobrolkan.
“Kamu coba calling Andre Gih…” ujar Rina tiba-tiba saat baru saja ia muncul di depan Dika dan ayahnya.
Tanpa menjawab, Dika langsung meraih ponselnya. Namun saat ia hendak menekan tombol dial, secara tiba-tiba tangannya terhenti tiba-tiba.
“Istrinya Rio mau melahirkan…” ujar Dika yang paham akan sorot tanya dari ayahnya.
“Kok yang dihubungi Andre?” spontan Rudi bertanya.
“Lagi berusaha mepetin keluarga Hana,” jawab Dika apa adanya.
“Oh. Mereka sudah mau menikah?” kembali Rudi bertanya.
“Mohon bantu doa ya. Mau nggak peduli tapi Andre itu orang penting buat Dika.”
“Iya. Karena nggak akan masuk surga seseorang yang hanya peduli dengan kebaikan dirinya namun mengabaikan semua yang tak baik di sekitarnya,” lanjut Rudi yang setuju dengan keputusan anak tirinya.
“Terimakasih Ayah…”
Bukan hal yang mudah bagi Dika dan Rudi mengatasi masalah keduanya. Yang satu merasa tak pantas, yang satu merasa tak sudi. Hal ini lah yang membuat mereka saling menjauh dalam waktu lama sebelum akhirnya takdir meruntuhkan kebekuan keduanya.
Nging nging nging!
Dika mendelik saat tiba-tiba merasa ujung jasnya ditarik-tarik.
__ADS_1
“Kenapa?” tanyanya saat tahu Rina lah pelakunya.
“Nelfon Andrenya kapan…” tanya Rina dengan wajah cemberut namun justru nampak imut dan menggemaskan.
“Ha ha ha…”
Tak ayal hal ini mengundang tawa oleh dua pria yang ada di sana.
***
“Oeeee, oeee, ooeeeee!!!!!”
Dasarnya memang semua tegang tek bersuara mendengar suara tangis yang menyeruak membuat mereka mengharu-biru bahagia.
“Alhamdulillah…”
Suara ini terdengar cukup kontras dengan berbagai ucapan rasa syukur yang menggaung di depan ruang bersalin ini. Spontan hal ini menelan semua suara yang ada di sana.
“Dokter Rudi, Dika…” Andre yang paling cepat keluar dari suasana diam segera menyapa Dika yang datang bersama istri dan ayahnya.
“Pas banget ya…” ujar Dika menjawab sapaan sekertarisnya.
“Iya…” singkat Andre yang jadi malu sendiri kenapa ia yang bukan siapa-siapa kini repot-repot ada di sana dan pula ikut merasa bahagia.
Untuk sementara Galih masih bertahan dalam kediamannya sementara Mustika melakukan hal yang sama. dengan yang Rudi lakukan padanya.
“Anda berdua orang tua istrinya…” ucapan Rudi menggantung. Jangankan nama Indah, nama anak Galih saja dia ingat-ingat lupa.
“Namanya Indah Ayah,” lirih Dika menyela ucapan ayahnya. Meski begitu suasana yang sepi membuat semua dapat menyaksikan betapa akrabnya ayah dan anak ini.
“Indah maksud saya,” lanjut Rudi membenarkan kalimatnya.
“Iya, kami berdua orang tuanya Indah,” jawab Bunda Indah.
“Dika ini partner bisnisnya Nak Rio, dan saya ayahnya,” ujar Rudi memperjelas hubungan mereka.
“Oh…”
“Sekaligus pemilik rumah sakit ini…” imbuh Andre membuat mata kedua orang tua Indah membulat seketika dari yang semula hanya oh saja jadi wow walau tanpa suara.
“Ya ampun sampai repot-repot ke sini. Terimakasih dokter.”
__ADS_1
“Sama-sama. Kebetulan saya baru baru menyelsaikan pemeriksaan pasien VIP,” jawab Rudi yang tak sedikit pun menatap Dika dan istrinya yang menampakkan raut berbeda.
“Tadi saya diminta memeriksa keadaan calon cucu saya, jadi saya sengaja mengosongkan jadwal untuk hari ini.”
“Nona. Sudah berapa bulan?”
Bunda Indah sepertinya baru menyadari keberadaan Rina dengan perut besar yang nyempil di belakang Dika. Hal ini tak lain karena saking kuatnya pesona ayah dan anak ini sehingga berhasil menyamarkan keberadaannya.
“Tujuh bulan Tante…” jawab Rina dengan senyum lebarnya.
“Maaf loh ya, saya sampai tidak tahu kalau nona sedang hamil besar. Terlalu bahagia karena mendengar tangisan cucu ditambah pemilik rumah sakit sebagus ini sudi mempir ke sini,” ujar Bunda Indah lagi.
Rina hanya tersenyum menanggapi.
“Saya dengan tingga badan saya memang gampang sekali tidak kelihatan, apa lagi di tengan suami dan ayah mertua saya yang menjulang seperti ini,” ujar Rina yang sedih akan keadaannya namun lagi-lagi akan menggemaskan bagi yang melihatnya.
“Loh, ada Hana juga…” ucapan Rudi berhasil kembali menginterupsi keadaan di sana. Memang anak Rio sudah dilahirkan, namun semua juga tahu tak ada yang diijinkan untuk masuk ke ruang persalinan sebelum semua proses terselesaikan.
“Iya Dokter…” ujar Hana yang baru muncul bersama Rida dan Rangga. Ia tadi memang pergi bersama dua keponakannya ini untuk membeli es krim dan snack untuk dua bocah yang mungkin akan rewel jika harus menunggu terlalu lama.
Rudi tak mau banyak berkata. Ia hanya menepuk bahu Andre beberapa kali sebagai tanda bahwa ia pun mendukungnya. Ia kemudian menatap Galih yang masih diam di pojokan seorang diri dan tepat saat itu juga, tanpa sengaja pandangan keduanya bertemu. Melihat hal ini, Rudi tak mau menyia-nyiakan waktu untuk mengobrol dengan orang yang sejak dulu berseteru dengan mendiang sahabatnya.
“Saya tidak suka drama. Saya di sini karena ingin melihat cucu saya…” ujar Galih tiba-tiba saat melihat Rudi yang hampir menjangkaunya.
“Tapi setidak sukanya anda dengan drama, tapi cucu anda belum boleh dilihat sekarang, jadi saya harap anda sudi berhenti di sini untuk menemani saya mengobrol sembari menunggu menantu Andre menyelesaikan operasi.”
Saat Andre ingin menghampiri dua pria ini, dengan cepat Dika menahannya dengan memegangi sebelah bahunya.
“Ayah hanya ingin mengobrol, tenang saja,” lirih Dika yang harus sedikit memunduk untuk menyamakan tinggi badannya dengan Andre.
“Tapi aku tak ingin merepotkan orang lain untuk masalah ini.”
“Jangan terlalu percaya diri, belum tentu juga ayah mau bantu kamu.”
Andre menghela nafas dan segera menggendong Rangga. Bermain dengan bocah lucu yang susah diam ini rasa-rasanya menjadi salah satu jalan keluar baginya untuk menghadapi kegugupan ini.
Iya gugup. Author nggak lagi salah ketik kok. Andre memang jago memanipulasi, tapi percayalah itu hanya covernya saja. Namun sejatinya, rasa takut dan gugup itu tetap saja ada dalam dirinya. Namun kemampuannya untuk menguasai diri membuat seolah perasaan semacam itu tak pernah ada dalam diri Andre.
Namun rasanya ternyata berbeda saat ia harus menguasai diri saat menghadapi Galih saat ini. Ia harus menghadapi Galih untuk memperjuangkan niatnya meminang Hana. Ini bukan lah perkara sederhana. Tak sulit memang tapi keadaan mereka cukup rumit sehingga Andre harus tenang dan tak boleh gegabah dalam menentukan sikap dan tindakan.
Hana dalam keluarga Rahardja posisinya antara ada dan tiada. Ia nyatanya ada, terkadang diakui namun hanya samar samar saja. Katanya anak namun tidak pernah masuk dalam kartu anggota keluarga. Tidak diakui namun hidupnya masih dibayangi. Sehingga serba salah menjadi Andre. Mau tidak peduli tapi tidak mungkin, mau peduli tapi tak dianggap seperti ini.
__ADS_1
Bersambung…