
Hai, hai...
Jangan lupa dukung Senja terus ya.
HAPPY READING
“Sepi ya…” gumam Rina saat melihat suaminya keluar dari ruang ganti mereka.
“Apa?” tanya Dika yang baru selesai mengancingkan piama.
“Ya sepi sekarang…” ulang Rina sekali lagi masih dengan mata yang fokus dengan layar laptopnya.
Dika berjalan menghampiri Rina dan kemudian menggeser laptop istrinya. Ia kemudian menutupnya perlahan tanpa melihat terlebih dahulu apa yang istrinya lakukan.
“Sebenarnya istriku ini kenapa sih, bukannya setiap hari rumah kita seperti ini, kok tumben sekarang mengeluh sepi.”
Rina memutar tubuhnya, membuat ia kini persis menghadap Dika. Ia mendongak menatap Dika yang meski sama-sama duduk, suaminya ini tetap saja nampak lebih tinggi darinya.
“Ya kan kemarin ada Rista sekarang dia sudah pergi lagi…” ujar Rina yang tampaknya masih sulit menerima keputusan adik iparnya yang tak betah berlama-lama di rumah.
Dika menghela nafas. “Batin Rista sudah sering sekali terluka, dan sekarang aku tak ingin memaksa dia untuk pulang dengan alasan itu terbaik untuknya.”
“Tapi dia perempuan sayang, aku suka khawatir juga dia berada jauh dari keluarga seperti ini…”
“Kalau masalah itu aku tak masalah. Ayah sudah menugaskan banyak orang untuk menjamin keamanan anaknya, jadi aku percaya saja…”
“Main percaya-percaya gitu aja. Bagaimana pun dia kan…” Rina menggigit bibirnya. Ia merasa salah bicara dan takut Dika akan tersinggung karenanya.
“Apa?” tanya Dika sambil menaik turunkan alisnya. Meminta Rina untuk melanjutkan ucapannya.
“He he…” Rina hanya berani nyengir memamerkan deretan gigi putihnya yang maju dua.
Dika mengangkat sebelah tangannya dan mengusap lembut kepala istrinya. “Dia memang ayah tiriku. Kamu juga tahu gimana kerasnya aku menolaknya dulu. Tapi apa? Ternyata dia sangat baik meski pun tak mampu menggantikan posisi almarhum papa. Karena mereka adalah dua orang yang berbeda dengan peran berbeda pula…” jelas Dika pada istrinya.
Rina mengangguk paham. Tak terasa sudut bibirnya tertarik menciptakan sebuah lengkungan indah. Dari sini ia merasa beruntung karena meskipun suaminya berasal dari keluarga yang broken home, namun Dika masih bisa survive dan tak terjerumus ke jalur yang menyimpang seperti kebanyakan anak broken home lainnya yang pernah ia jumpai.
“Kenapa wajah kamu? Bangga kan punya suami kaya aku…”
Meski pun iya, namun Rina tak ingin mengakui di depan Dika. Ia segera memalingkan wajahnya ke sembarang arah asalkan tak bertemu pandang dengan Dika. Ia tak ingin membuat suaminya besar kepala karena pujian yang sebenarnya memanglah fakta.
“Ngaku aja deh ngaku…” desak Dika.
__ADS_1
Rina sempat mengatur wajahnya sebelum bersiap kembali menatap suaminya. “Apanya? Sombongnya?” sarkas Rina.
“Aku tuh nggak sombong sayang, tapi sadar diri…”
“Sadar diri apanya?”
“Sadar diri kalau luar biasa dan banyak lebihnya, ha ha ha ha…”
Rina mencebik dan bangkit dari tempat duduknya. Dia tak kesal, namun menghadapi suaminya yang kumat menyebalkan bukan hobinya. Jadi ia ingin menghindar dan biasanya Dika akan terus mengejar. Namun ada yang berbeda hingga ia tiba diambang pintu. Ia hanya berjalan dengan santai, namun Dika belum juga menjangkaunya. Setelah dilihat, ternyata Dika sedang sibuk dengan sebuah ponsel yang telah menempel di telinga.
Rina membalik badannya karena penasaran. Suaminya tak bicara tapi nampak serius dengan apa yang tengah didengarnya. Bahkan alis tebalnya hingga tertaut dengan dahi mengkerut.
Rina lupa dengan adegan kejar-kejaran yang baru saja ia bayangkan. Sekarang ia berbalik dan berjalan perlahan untuk menghampiri suaminya. Ia penasaran ada hal penting apa hingga tak bisa menunggu esok hari untuk Dika terima.
“Apa maunya Galih ini? Kenapa ia terkesan ingin mencelakai Hana?”
Kenapa bawa-bawa Hana. Apa yang sebenarnya Dika lakukan? Batin Rina yang penasaran.
Begitu tiba di samping Dika, Rina segera menyentuh lengan suaminya dengan ujung jari. Sadar dengan perlakuan istrinya, Dika pun segera menoleh padanya.
“Speaker ya, aku mau dengar,” pinta Rina dengan suara berbisik.
Dika sempat mengecek pintu, takut-takut jika pintu kamarnya masih terbuka. Sepertinya ia benar-benar tak ingin ada yang mendengar hal yang mereka bicarakan ini. Setelah merasa semua aman, akhirnya Dika menekan tombol loudspeaker sesuai permintaan istrinya.
“Bukan Galih kayaknya Bos…”
Oh, ternyata Melvin. Ada misi apa sampai Dika harus meminta bantuannya. Batin Rina.
“Kalau bukan Galih siapa lagi? Sepertinya hanya dia yang mengincar Hana?”
Terdengar helaan nafas dari seberang sana. “Aku tak yakin…”
“Bagaimana kamu bisa sepercaya diri ini memberikan laporan yang kamu sendiri tak yakin?”
“Jadi menurut kamu aku lebih baik diam saja ketimbang memberi laporan yang belum 100 persen keakuratannya? Padahal situasinya cukup mendesak…”
Dika nampak berfikir. “Jangan lagi bertanya, katakan saja apa pun yang ingin kamu katakan.”
“Aku tak akan menyela,” imbuh Dika setelah sebelumnya sempat mengakhiri ucapannya.
“Oke oke. Gue minum dulu.”
__ADS_1
Jika Dika sudah berurusan dengan Melvin, biasanya ada ganjalan yang tak bisa disingkirkan dengan mata terbuka. Tentu saja ini bukan maksud sebenarnya. Ini hanya perumpamanaan untuk mengungkap berbagai kompleksiti sudut pandang dunia bisnis. Tapi kenapa sekarang harus bawa-bawa Hana. Bukankah wanita ini sudah tak berkiprah lagi?
“Ngapain kamu nyelidiki Hana?” bisik Rina nyaris tanpa suara.
Dika hanya menggerakkan tangannya meminta Rina akan menunda dulu rasa penasarannya.
Dari sudut pandangnya, wajah Dika terlihat kaku. Ia juga nampak menghindari pandangan langsung dengan Rina. Jika demikian, berarti Dika memang sedang serius dan tak ingin diganggu sementara waktu.
“Halo Bos. Lu masih di sana?”
“Iya,” singkat Dika.
“Ehm, ehm…” setelah dua deheman, Melvin mulai menceritakan informasi apa yang telah ia dapatkan selama ini. Sebenarnya bukan Hana yang diminta Dika untuk menjadi fokus Melvin, tapi semakin ke sini penyelidikan yang Melvin lakukan malah menghasilkan fakta yang mencengangkan tentang wanita ini. Termasuk keterlibatan Rio yang awalnya tak masuk ke dalam target untuk diselidiki.
Saat Andre tak sempat lagi melanjutkan misinya dengan Melvin, Dika ternyata masih melanjutkan misi ini. Ia paham Andre sudah tak ada waktu untuk memikirkan yang lain. Memikirkan Hana, pekerjaannya dan orang tuanya saja sudah begitu menguras waktu dan pikirannya, jadi Dika yang merasa turut andil dalam masalah ini tak mau lepas tangan begitu saja membiarkan sahabat sekaligus sekertarisnya ini kesusahan seorang diri.
Rina menutup mulutnya setelah Dika menyelesaikan panggilannya. Dia sempat menggeleng tak percaya dengan semua fakta yang baru saja diketahuinya ini.
“Sayang…” panggil Dika saat mendapati wajah shock istrinya.
“Aku kaget sumpah…” ujar Rina tanpa ditanya.
“Sama.” Kata-kata itu muncul begitu saja dari mulut Dika.
“Tapi buat apa kamu menyelidiki semua ini? Bukankah itu tak ada urusan dengan kita?”
“Mereka memang tak ada hubungannya dengan kita. Tapi Andre bukan orang lain buat kita. Apa kamu tak merasa demikian?”
“Iya juga ya…”
Rina menghela nafas. “Aku nggak nyangka Hana ternyata kasihan sekali. Dalam dirinya ternyat begitu banyak menyimpan luka.”
“Kamu sudah bisa memaafkan dia?”
Rina nampak berfikir sejenak. “Aku nggak yakin. Tapi…” Rina menjeda ucapannya. “Kasihan pada hidup Hana dan menyesalkan perbuatannya waktu adalah dua hal yang berbeda. Aku nggak mau munafik ya dengan bilang sudah memaafkan dia dan melupakan semuanya, tapi jujur aku mulai simpati sama Hana jika membahas masalah ini…”
Dika meletakkan ponsel yang dari tadi masih di tangannya. Ia kemudian perlahan merengkuh tubuh istrinya.
“Sayang, semoga perjalanan hidup kita dimudahkan sama Allah ya. Semoga kehidupan kita diberkahi kebahagiaan dunia dan akhirat,” ujar Dika sarat akan harap.
Rina mengangguk dalam pelukan suaminya. “Aamiin…”
__ADS_1
Bersambung…