
HAPPY READING
“Kak Rio…” sekali lagi Hana memanggil Rio.
Dengan perasaan yang acak-acakan, Rio memberanikan diri untuk balik badan.
“Sumpah lu ya. Sakit aja nyusahin, gimana kalau sehat!?” umpat Rio sebelum merarik kasar tangannya yang Hana pegang.
“Dingin banget itu tangan. Masih hidup apa udah mati sih…”
“Sepertinya sudah tak ada kehidupan,” ujar Hana dengan wajah datar.
Fix Rio merinding. Ia mengangkat tangan dan mundur ke belakang. “Jangan temui aku lagi. Aku bahkan belum sempat berbuat jahat padamu…”
Rio mengambil ancang-ancang untuk lari. Dan sedetik kemudian, ia memutus kontak dengan Hana dan menghilang dibalik pintu.
Di dalam Hana kembali merenung.
Untuk apa Kak Rio ke sini? Apa mungkin dia mengkhawatirkanku? Atau jangan-jangan dia justru senang melihat keadaanku? Hana hanya hanya dapat mengucapkannya dalam hati, karena ia sudah menggunakan seluruh tenaganya untuk mengucapkan beberapa patah kata dengan Rio tadi.
Hana menatap sekeliling. Setelah melihat selang infus dan selang oksigen yang terpasang di tubuhnya, barulah ia sadar di mana ia sekarang berada.
Hana kemudian meraba perutnya saat merasa ada yang tak biasa. Kenapa perutku rasanya panas?
Sayang. Maafin Moomy ya. Mommy kurang hati-hati makanya sampai jatuh lagi. Kembali Hana mengucap dalam hati. Sejak membuka mata tadi, selain lemas Hana merasa pusing dan mual. Mual itu kini makin menjadi hingga ia harus menutup mulut dan matanya dengan rapat demi menahan isi perutnya agar tak tumpah di sana. Pasalnya tubuh Hana susah sekali digerakkan. Jangankan untuk bangun, untuk menoleh saja dia kesulitan. Sehingga ia tak bisa membayangkan apa jadinya jika ia harus muntah sekarang.
Apa aku sudah mau mati? Batin Hana ditengah lemah tubuhnya dan rasa tak nyaman yang dirasanya.
“Ugk…”
Hana mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Mama, aku nggak tahan. Racaunya dalam hati.
Dari samping terdengar pintu terbuka. Dapat Hana lihat dengan ekor matanya, bahwa Andre lah yang muncul dari sana.
“Ndre, hoek, hoek…”
Niat hati ingin memanggil Andre, namun yang keluar bukanlah suara melainkan isi perut yang sejak tadi ia tahan.
“Hana…”
__ADS_1
Andre berlari menghampiri Hana dan meraih apa pun untuk menahan muntahan Hana. Tak lupa sebelah tangannya menekan tombol darurat untuk memanggil suster demi mendapat bantuan.
Hana tak mampu berkata. Isi perutnya terus keluar bersama dengan air matanya. Ia merasakan mual dan sakit di perutnya dalam waktu yang sama. Hana sudah tak mampu memikirkan apa-apa sekarang.
“Sus, istri saya…” ujar Andre begitu melihat seorang perawat masuk.
“Permisi Pak, biar saya bantu….”
Andre bersiap mundur, namun ia urungkan saat melihat tatapan Hana yang seakan memohon agar dia tak menjauh.
Andre membantu memegangi Hana yang terus muntah saat badannya dimiringkan. Ia memang belum mampu duduk karena pengaruh obat bius yang belum sepenuhnya hilang. Hana terus muntah hingga tak ada lagi yang keluar dari mulutnya. Andre benar-benar tak tega melihat Hana. Bahkan saat anaknya sudah tak ada di rahim lagi, dia masih harus menderita seperti ini. Bagaimana jadinya jika Hana sudah tahu jika anaknya sudah tak mampu bertahan di rahimnya.
“Saya saja…” ujar Andre saat melihat suster ingin membersihkan muntahan di tubuh Hana
“Tapi Pak…”
“Saya bisa,” potong Andre.
Akhirnya suster itu menyerahkan baju ganti yang hendak ia
bawa untuk Hana.
“Suster boleh pergi…” ujar Andre lagi.
“Andre…” Hana akhirnya berhasil memanggil nama Andre.
“Diam saja kalau masih lemes,” ucap Andre sambil membuka kancing baju Hana.
“Kamu nggak jijik?” tanya Hana yang jujur saja malu dengan kondisinya.
Andre tak menjawab. Ia menghentikan gerakan tangannya dan menatap wajah Hana. Ia kemudian tersenyum sambil meneruskan gerakan tangannya. Hingga sampai pada kancing ke tiga, tiba-tiba Hana memejamkan mata. Sebenarnya ia ingin menahan tangan Andre, sayang ototnya masih belum bisa diajak kerja sama.
Andre tertawa kecil, melihat reaksi Hana. Hubungan keduanya sudah sangat jauh melampaui batas wajah, namun Hana masih tetap saja seperti ini saat tiba di titik ini.
Aku menyesal dulu menganggapmu ******. Mana ada ****** yang dadanya baru kelihatan sedikit mukanya sudah seperti tomat matang seperti ini. Batin Andre.
Meski ia tahu Hana tengah malu, ia tetap melanjutkan gerakan tangannya untuk membuka baju Hana hingga kancing itu lepas semua. Nafas Andre terdengar berat saat melihat tubuh bagian atas Hana terekspos sempurna. Hal ini membuat Andre harus menetralkan dirinya teelebih dahulu untuk memastikan ia tak membahayakan Hana sebelum ia memulai membersihkan tubuh wanitanya.
Setelah Andre merasa siap, barulah ia mengambil handuk yang sebelumnya terendam di dalam air hangat. Ia memerasnya perlahan untuk mengurangi kadar airnya. Setelah sebuah helaan nafas, Andre mulai membersihkan tubuh Hana. Ia menyapukan handuk basah itu ke tubuh Hana dengan perlahan.
Hana tampak menggigit bibirnya saat benda hangat dan basah itu menyentuh kulitnya. Tanpa ia tahu Andre harus menelan ludah berkali-kali karena Andre cukup lama tak melihat Hana dalam kondisi seperti ini.
__ADS_1
Andre mati-matian berusaha menahan dirinya. Ingat Andre ingat. Kondisi Hana sedang tak baik-baik saja. Batin Andre memperingati dirinya.
“Fuhhh…”
Spontan mata Hana terbuka mendengar Andre yang menghembuskan nafasnya dengan kasar. Saat itu juga mata keduanya bertemu. Perlahan Hana menarik apa pun untuk menutupi tubuhnya. Ia belum dapat bergerak dengan cepat karena tangannya sangat lemas. Selanjutnya ia memutus kontak dengan Andre dengan memiringkan kepalanya.
Andre kembali melanjutkan aktifitasnya dengan grasak-grusuk. Dadanya bergemuruh, pikirannya tak karuan. Ia benar-benar kalut dengan kebrengsekan yang muncul di saat yang tidak tepat. Ia harus segera menyelesaikan aktivitasnya ini sebelum ia tak bisa menahan dirinya lagi untuk memakan Hana. Padahal semua tahu jika kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk sebuah aktifitas percintaan.
“Fuihhh…”
Terdengar hembusan nafas kasar sekali lagi. Saat ini Andre terduduk lemas di kursi. Ia baru saja selesai memakaikan baju untuk Hana.
Kini Hana perlahan memberanikan diri untuk menatap Andre begitu bagian atas tubuhnya sudah berhasil di tutupi.
“Maaf ya Ndre…” ujar Hana.
Andre hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Kamu jijik banget pasti. Harusnya kamu tadi biarin suster saja yang gantiin baju aku…”
Andre tak menjawab. Ia hanya bereaksi dengan sebuah helaan nafas.
“Tuh kan, bentuk kamu udah persis kaya orang mabuk,” lanjut Hana lagi.
“Kayak tahu aja…”
“Ya tahu lah.”
“Kita kan sama-sama mabuk waktu itu.”
“Ya ingat lah. Aku juga ingat kamu yang ngoceh tak karu-karuan.”
“Tck…” Andre tersenyum miring menatap Hana. “Tapi ini kan aku diem, berarti nggak mabuk dong…”
“Iya juga…”
Dengan senyum yang masih tercetak di wajahnya, Andre hanya menaik-naikkan alisnya. Hana juga membalas dengan senyum serupa, karena ia tak punya cukup tenaga untuk tertawa.
Iya Hana, aku mabuk. Aku mabuk bukan karena muntahan kamu, tapi aku mabuk karena begitu merindukan tubuh kamu. Oh *** Man!* Andre terus mengumpati dirinya. Mulai satwa liar hingga peliharaan rumahan banyak yang ia keluarkan. Namun
gejolaknya tak juga mereda.
__ADS_1
Bersambung…