
Hai semua...
Lili bakal sering muncul nih kayaknya.
Prediksi kalian bakal seperti apa karakternya?
HAPPY READING
Bangun di tempat yang baru, orang yang baru dan suasana pun juga baru. Itu lah yang saat ini dialami Hana saat ini. Takdir Tuhan memang tidak ada satu pun yang bisa menebaknya.
Hana yang sejak kecil selalu menderita tiba-tiba menjadi Nona diakhir masa remaja. Menjelang dewasa ia menjadi wanita anggun nan bertalenta. Mencapai posisi yang tinggi dalam karir, namun dalam sekejap terhempas ke dalam jurang terdalam karena misi gelapnya dibongkar dengan cara mengenaskan. Sudah terhempas masih ditekan pula hingga ia terjerembab semakin dalam. Hingga akhirnya bertemu Andre yang semula ingin dijebaknya namun malah ia yang terperangkap oleh jerat pria muda yang membuat ia menyerahkan segalanya. Saat ia merasa sedang melayang di atas awan, tiba-tiba ia kembali terhempas ke jalanan. Merasakan kerasnya hidup dan kejamnya kenyataan.
“Hana, mulai sekarang kamu bantu Bunda ya,” pinta mama Lili.
“Makasih Bun,” jawab Hana yang begitu bahagia karena merasa punya tempat pulang sekarang.
Di tengah kejamnya kenyataan, masih ada setitik manis yang ia rasakan, kala ia tahu ternyata wanita yang sekarang disebutnya Bunda ini dulu ternyata mengenal sang mama. Meski pun tak terlalu akrab, tapi mereka sama-sama pernah merasakan pahitnya dunia malam. Bedanya bunda Lili masih punya keluarga sebagai tempatnya pulang, sedangkan Erika benar-benar terhempas bahkan sejak ia belum tersesat di dunia malam.
“Bunda, Lili berangkat ya…” Lili mencium tangan bundanya sebelum keluar menghampiri Hana yang sudah mulai bantu-bantu di kios mereka.
“Nitip Bunda ya Han,” ujar Lili saat berpamitan pada Hana.
Hana menegakkan tubuhnya. “Siap Bos,” jawan Hana dengan posisi hormat.
Keduanya saling tertawa dan memeluk sekilas, sebelum Lili mulai memacu langkah untuk segera menuju tempat kerjanya.
“Hana…”
“Iya Bun…”
Hana pun segera memenuhi panggilan itu. Ia berlari meninggalkan pekerjaannya dan ke belakang ke tempat bunda Lili berada.
Hana dengan mudah beradaptasi di sana. Ia dasarnya memang bisa mengerjakan apa saja, ditambah pembawaan dirinya yang cukup baik membuat orang akan dengan mudah suka dengannya. Begitu juga dengan bunda Lili ini. Ia langsung suka dengan Hana meskipun baru semalam anaknya membawa dia pulang.
***
Pagi ini Rina lagi-lagi tak ikut suaminya ke kantor. Ia ingin jalan-jalan sendiri. Tidak sendiri juga sih sebenarnya, karena ada Lili dan 4 bodyguard lain yang disiagakan untuk selalu menjaganya. Kadang Rina merasa privasinya terganggu jika seperti ini, namun sayangnya Dika bukan sosok yang gampang diajak kompromi.
__ADS_1
“Nanti kalau nyusul boleh kan?” tanya Rina yang berjalan di samping Dika sambil membawakan jas suaminya.
“Nyusul kemana?” tanya Dika sambil sesekali membenahi dasinya.
“Ya ke kantor sayang,” jawab Rina sambil bergelayut di lengan suaminya.
“As you wish, tapi jangan lupa telfon dulu ya. Kan sayang aja kalau kamu ke kantor tapi akunya malah rapat atau ketemu clien.”
Rina mendongak dan menatap suaminya penuh selidik. “Kenapa harus telfon? Aku kan udah biasa nunggu. Atau jangan-jangan ada clien yang nggak boleh aku tahu?”
Dika menghela nafas. Akhir-akhir ini Rina memang cukup menyebalkan dan acap kali membuat ia kesal. Namun jika berusaha bersabar semampunya, meskipun kadang ia tak bisa menahan diri untuk tak berkata kasar kepada sang istri.
Dika tiba-tiba berhenti dan memegang kedua bahu istrinya. “Ya udah. Intinya aku akan selalu berusaha ada untuk kamu. Sesibuk apa pun aku, selelah apa pun aku, dan dimana pun posisiku.” Dika mengakhiri kalimatnya dengan ciuman di kening istrinya. Semua yang tak sengaja melihatnya tak merasa terganggu dengan hal ini. Mereka terus menjalankan tugasnya denganpandangan lurus ke depan. Kecuali seorang pegawai baru yang notabene seorang perempuan dan berdiri di jajaran para bodyguard yang semuanya adalah laki-laki.
Ya Tuhan aku baper.
Suara hati siapa ini? Tentunya suara hati Lili. sebagai orang baru di link Restu Andika, dan tentunya ia tak pernah membayangkan ada keuwuan yang abadi seperti ini. Katanya pernikahan akan manis di awal saja, namun yang dilihatnya ini sangat jauh berbeda. Pasangan bosnya ini sudah menikah 4 tahun lebih, namun nyatanya mereka lebih mirip sepasang muda-mudi yang sedang pacaran dibanding dengan suami istri yang telah bertahun-tahun mengarungi mahligai pernikahan.
Ah, mungkin karena mereka tak pernah merasakan rasanya kehabisan kuota diakhir bulan, tak bisa ketemu karena terhalang uang bensin yang habis karena belum gajian, dan banyak lagi rintangan yang membuat para pasangan kehilangan kemesraan.
“I, iya.”
Dan pria dempal yang baru saja menyenggolnya sama sekali tak ada niat untuk bersuara. Ia hanya menunjuk Rina dengan matanya berharap Lili akan mengikuti arah pandangnya.
“Saya sudah beberpa kali manggil kamu,” ujar Rina setelah Lili menatapnya.
“Sekarang ikut saya,” lanjut Rina sebelum memulai langkahnya.
Lili segera melakukan apa yang Rina minta. Ia berjalan mengekori Rina. Saat Rina berbelok ia berbelok juga, saat Rina naik tangga ia juga melakukan hal yang sama.
“Ayo ikut saya…”
Lili sempat berhenti sebelum kemudian jalan lagi saat Rina membuka pintu kamarnya. Ia dibuat takjub saat melihat kamar semewah ini dalam dunia nyata. Biasanya ia hanya akan melihat di sosmed atau di tv saja. Tak hanya berhenti disitu. Lili kembali terperangah saat Rina membuka salah satu pintu yang berada di dalam kamarnya.
“Tugas kamu bantuin aku.”
Belum juga lepas dari ketekajubannya, Rina kembali membuat Lili merasa terkejuta lagi. Rina menatap heran asistennya ini. Mulut dan matanya terbuka hampir sama lebar, memantung di depan pintu ruang bajunya.
__ADS_1
“Lili…”
Panggilan Rina diacuhkan. Ia berjalan dengan kesal menghampiri Lili.
“Lili…” sekali lagi Rina memanggil wanita muda ini. Ia bahkan mencoba mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Lili. Namun sepertinya tangannya berubah transparan karena Lili terus menatap lurus ke depan tanpa merasa ada yang menganggu pandangan.
“LILIIIIIIII!!!!!!!”
Lili gelagapan saat tiba-tiba Rina berteriak tepat di depan wajahnya.
“Ma, maaf Nona!” Lili langsung membungkuk menyadari ia kembali tak fokus dalam bekerja.
“Kamu sedang mikirin apa sih?”
Rina harus sedikit mendongak untuk dapat menatap langsung wajah wanita muda yang lebih tinggi darinya ini. Kenapa semua orang harus lebih tinggi dariku sih. Bahkan anak yang belum lulus SD pun ada banyak yang lebih tinggi. Ini sebenarnya aku yang terlalu pendek atau standar tinggi badan orang Indonesia yang meningkat? Ah entah lah.
“Li, tolong pilihkan baju untukku. Aku tak mau pakai rok atau dress,” pinta Rina sebelum berjalan ke kursi yang ada di ruangan ini.
“Tapi Nona, saya tak ahli masalah yang satu ini.”
“Kamu tak perlu ahli untuk mencarikan saya baju, cukup turuti permintaan saya tadi, asalkan bukan dress atau rok, cukup.”
Lili mengela nafas. “Berarti bawahan celana?” tanya Lili memasktikan.
Rina mengangguk sebagai persetujuan.
“Untuk atasanya anda ingin apa?” tanya Lili lagi.
“Emmm, aku mau outfit serba pink dan ada motif strawberry,” ujar Rina dengan senyum penuh damba.
“Ha? Apa di sini ada?” Lili menyapuka pandangannya di ruang yang ukurannya jauh lebih besar dari kamarnya dan penuh dengan baju-baju mahal dengan berbagai merk dan model.
“Aku tak tahu. Aku tak hafal semua motif dan model baju-bajuku. Dan tugasmu di sini adalah menemukannya untukku.”
Rina merebahkan tubuhnya di atas sofa, dan ia perlahan memejamkan mata membiarkan Lili yang bingung dan harus mulai darimana.
Bersambung…
__ADS_1