Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Menginap


__ADS_3

HAPPY READING


“Itu tadi habis berapa Han?” tanya Haning yang penasaran dengan total tagihan makanan mereka.


“Nggak tahu Mbak, Andre yang bayar semua,” jujur Hana mengatakan yang sebenarnya.


“Wah.... Enak banget ya, kenapa kalian nggak nikah aja.”


Tak ada yang menanggapi celetukan Haning ini, termasuk Hana yanga hanya menghela nafas dan focus pada kemudi.


“Aku juga mikir gitu Mbak, tapi kehidupan orang kaya ribet sekali,” sahut Risma melihat rekannya tak ingin menanggapi.


“Kamu tahu hubungan mereka?” kaget Haning.


“Tahu lah Mbak. Meski tahunya belum lama juga,” jelas Risma.


“Aku memang sudah mengira Hana bukan orang biasa, tapi setelah tahu semua fakta tentang kamu, baru aku sadar hidup kamu sangat ribet,” ujar Eka dari jok belakang.


Hana kembali menghela nafas dan tersenyum kecut sebagai reaksi.


“Benar. Aku mungkin bisa dianggap kaya, atau setidaknya lebih terjamin lah dari segi materi dari pada kalian, tapi aku nggak punya apa-apa di waktu yang sama,” ujar Hana.


“Kok bisa?” protes Haning. “Kamu punya Andre yang sangat mencintai kamu, kamu punya teman-teman yang peduli padamu, tinggal keluarga saja yang belum pernah kamu tunjukkan pada kami.”


“Aku itu nggak diterima Mbak dikeluargaku sendiri,” ujar Hana tanpa menatap satu pun yang diajak bicara.


“Kenapa? Karena hubunganmu dengan Andre tak direstui?” terka Haning penasaran.


“Bukan. Tapi karena aku sudah tak diterima sejak dulu, bahkan sebelum aku dilahirkan.” Hana kembali tersenyum kecut


mengungkap statusnya yang ini.


“Kenapa. Kamu selalu bilang ditolak keluarga, kamu nggak punya keluarga, kamu nggak ini lah, itu lah. Tapi kenapa. Alasannya apa." Haning menjeda ucapannya. "Kalau alasannya kamu pernah membuat sebuah kesalahan besar itu masuk akal jika kamu mendapat perlakukan demikian, tapi kalau nggak ada masalah ya aneh-aneh saja tiba-tiba semua nggak suka seperti yang kamu alami.


Hana menginjak pedal remnya tiba-tiba saat baru menyadari traffic light di depan mereka menyalakan lampu merahnya. Ia kemudian menatap Haning yang duduk di sampingnya.


“Semua itu pasti ada sebabnya Han. Aku nggak percaya ada kebencian yang muncul tiba-tiba,” lanjut Haning saat matanya bertemu tatap dengan Hana.


“Seperti ketidak sukaan Mbak sama aku?”


Haning mati langkah. Ia langsung melempar pandangannya keluar, sebelum akhirnya menunduk salah tingkah.

__ADS_1


Hana tertawa kecil melihat reaksi ini. Hal yang sama juga terjadi pada Eka dan Risma di jok belakang.


“Eh aku telfon Anin dulu. Minta dia biar siap-siap. Sebentar lagi kita sampai di tempatnya,” ujar Haning untuk mengalihkan pembicaraan.


Hana terus mengulas senyum meski setiap senyuman yang ia lakukan maknanya berbeda-beda. Kali ini yang ada adalah senyum lega karena keyakinan dan kesabarannya selama ini membuahkan hasil. Haning memang tak seburuk yang nampak selama ini. Meskipun ucapannya sering tak enak di dengar, Hana sadar itu semata karena ia sendiri yang melakukan tindakan yang membuat orang penasaran dan berfikir macam-macam. Di saat orang lain bisa menahan diri dan menjaga sikap, Haning hanya melampiaskan dan mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikirannya saja. Suka bilang suka, nggak suka ya tidak segan untuk ditunjukkan. Itu lah yang terkedang membuat Haning terkesan jahat.


Setelah menjemput Anin, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Andre. Mereka sebelumnya sempat berbelanja, jadi mereka harus berbagi tempat di mobil ini dengan barang-barang yang tadi mereka beli. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Hana berhasil membawa rekan-rekannya ke rumah Andre yang terlihat apik dengan taman yang begitu tertata. Namun sayang, nampak banyak pria berpakaian hitam tersebar di berbagai sisi. membuat mereka tak nyaman jika harus bertindak macam-macam.


“Han, ini rumah siapa?” tanya Eka saat ia baru saja keluar dari mobil yang dikendarai Hana.


“Ini rumah Andre. Kan tadi kalian juga dengan sendiri…” jawab Hana apa adanya.


“Nona sudah datang…”


Belum juga pertanyaan kedua terucap, sudah ada satu kejutan lagi yang membuat mereka bernar-benar berhasil terkejut. terkejut.


“Iya Bi.” Hana membiarkan bibi mengambil alih bawaannya.


 “Bibi sudah siapkan kamar,” ujar Bibi yang berjalan paling depan di depan Hana dan kawan-kawannya.


“Harusnya nggak usah repot-repot Bi. Saya bisa kalau sekedar menyiapkan kamar…” balas Hana tak enak.


“Ya saya yang nggak enak dong Non. Masa iya makan gaji buta. Oh iya, bagaimana kabar Non Hana, apa sudah benar-benar sembuh?”


Haning meringis meski tak ada yang memperhatikannya. Jangankan turut merawat, ia saja baru tahu kalau Hana pernah sakit. Ia juga selalu jahat terhadap Hana selama ini meski sebenarnya ia suka tak tega, tapi salah sendiri Hana yang baru muncul bisa menggeser semua termasuk dia dengan mudahnya.


“Bibi tinggal ya Non.” Pamit bibi pada Hana dan rekan-rekannya.


“E tunggu Bi. Itu kenapa orangnya banyak sekali? Mereka biasa seperti ini setiap hari?” tanya Hana yang menyiratkan ketidak nyamanannya.


“Enggak Non. Mereka datangnya juga belum lama. Setelah tuan Andre mengabari saya tak lama mereka berdatangan,” jujur Bibi.


“Suruh istirahat saja Bi. Saya yakin tak akan terjadi apa-apa juga nanti,” kata Hana pada bibi.


“Nggak bisa Non. Nona tahu sendiri kan kalau Tuan Andre sudah memerintahkan.”


Hana hanya mampu menghela nafas. Maksudnya sih biar merera bisa leluasa ngapain aja, tapi kalau ada banak orang seperti ini kan nggak enak juga. Tapi sebenarnya orang-orang itu hanya berjaga di luar, tak ada yang masuk selain bibi, sehingga mereka masih bisa menjaga privasi. Tapi tetap saja, mereka sadar jika banyak orang yang berjaga di luar.


“Hana…”


Hana menoleh saat baru saja Anin memanggilnya. “Apa…”

__ADS_1


“Eenngggg….” Bukannya lekas berbicara Anin malah garuk garuk tak jelas, sementara tiga orang lainnya masih sibuk meneliti setiap sudut rumah ini.


“Mau ke kamar mandi?” tebak Hana.


Anin menggeleng.


“Dia pasti bingung tuh,” ujar Eka.


Anin mengangguk cepat sebagai tanda persetujuannya.


“Sama, kita juga masih bingung,” timpal Risma.


“Ha ha ha ha…” semua tertawa sebelum membanting dirinya di atas ranjang king size di kamar itu.


“Terus kita mau ngapain sekarang?” tanya Risma pada Hana.


“Terserah kalian mau apa, mau mandi dulu, mau nonton, mau nyemil, apa saja bebas…” ujar Hana sembari mengikat rambutnya.


“Kita takut ilang Han,” ujar Eka sambil nyengir.


“Kalau ilang teriak aja, pasti ada yang denger kok…” ujar Hana sambil berjalan meninggalkan rekan-rekannya.


“Kamu mau kemana?” tanya Haning.


“Aku mau ke kamar. Mau ikut? Di dalam ada home teather sama kamar mandi juga. Aku mau mandi sekarang,” jelas Andre.


“Eh ikut dong.”


Haning langsung melesat dan mengamit sebelah lengan Hana.


“Eh kita juga…”


Akhirnya mereka berempat sama-sama masuk ke dalam kamar.


“Eh eh, kamu mau ngapain?” panic Haning saat ia melihat Hana dengan sembarangan membuka sebuah lemari di kamar supermewah itu.


Hana melanjutkan pergerakan tangannya dang mengeluarkan sebuah handuk berbentuk kimono.


“Aku cuma mau ambil ini…” Ujar Hana sebelum menghilang dibalik sebuah pintu yang diyakini adalah sebuah kamar mandi.


Keempat perempuan ini hanya mampu beradu pandang sebelum serempak mengangkat bahu.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2