
HAPPY READING
Setelah hampir tiga puluh menit berdua di ruangan Hana,
kini Andre keluar dengan dasi terikat tak rapi. Rambutnya juga sedikit berantakan dengan wajah merah dan nampak menahan sesuatu yang membuatnya lelah.
Andre sempat tersenyum saat melewati ketiga stafnya sebelum kembali berjalan sambil menyugar rambutnya.
“Aduh Mama…” pekik Rahma sambil memegangi pipi kira dan kanannya.
“Rahma berisik!”
Rahma langsung mingkem saat Elis nampak berada pada mode tak ramah padanya. Jika Elis saja begini bagaimana Riza. Ibu satu anak ini terbiasa lebih galak dengannya jika ia terus saja berbicara.
Rina yang tiba-tiba mengalami nyeri di perutnya harus Dika larikan kerumah sakit. Hal ini membuat Hana harus mengurung diri untuk menyelesaikan semuanya sebelum akhir pekan tiba.
Sebenarnya ada satu hal yang Hana agendakan sehingga menuntutnya untuk keluar, tapi sayang, gara-gara Andre berulah, ia harus menahan diri untuk mengerjakan apa saja asalkan tidak keluar ruangan.
Hana yang memang tak punya bawahan langsung di kantor ini benar-benar tak keluar dari ruangannya hingga jam pulang . Hal ini tak lain karena keadaan dirinya yang tak memungkinkan. Bajunya koyak karena Andre yang tak sabaran. Entah tak sabaran atau hobi baru yang akhir-akhir ini selalu menjadi agendanya. Ia tak peduli pada Hana yang selalu mencak-mencak saat Andre mengoyak pakaiannya, katanya tinggal beli lagi kalau sang kekasih kehabisan pakaian.
“Kalian belum selesai?” tanya Andre yang muncul dari ruangannya.
Hal semacam ini tentu bukanlah hal yang biasa. Sepertinya ada keajaiban dunia sehingga Andre tiba-tiba mau menyapa ketiga stafnya. Sehingga yang ditanya pun hanya bisa membuka mulutnya tanpa suara.
“Ya sudah, saya duluan…” kata Andre yang berlalu begitu saja.
Belum juga sapaannya mendapat jawaban, Andre sudah berlalu meninggalkan ketiga stafnya yang masih takjub dengan apa yang terjadi pada atasannya.
“Itu tadi bener pak Andre kan?” tanya Rahma yang paling dulu bisa bersuara.
Elis dan Riza hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan rekannya.
Cklek!
Pintu ruangan Hana tiba-tiba terbuka dan Andre muncul bersama kekasihnya yang berjalan menunduk di sampingnya.
“Kita duluan…”
Tiga wanita ini melongo lagi. Jika biasanya Hana yang akan menyapa dan Andre akan acuh pada mereka, kini justru Andre yang menyapa mereka dan Hana nampak sengaja menghindari pandangan dengan menundukkan kepala. Tubuhnya terbalut jas Andre yang nampak kebesaran dan menutupi sebatas paha.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Hana?
“Udah deh, jebol deh. Pasti ini, ya ampun, ck ck ck ck…” Masih terdengar lemas, namun Rahma sudah sanggup geleng-geleng kepala.
“Ngomong apa kamu Ma?” tanya Riza yang sama sekali tak mau ngoyo saat bertanya.
__ADS_1
“Gawangnya Mbak. Jebol sudah. Ah, sudah berkurang stok perjaka di dunia.” Rahma kembali meracau dengan mata menerawang ke atas sana.
Meski tak mau mengakui, tapi Elis mengangguk juga.
“Tapi masa di kantor sih? Nggak elit banget...” gumam Elis yang sebenarnya masih tak tega berpikiran macam-macam terhadap atasannya.
“Terus mau kamu di mana, hotel bintang lima?” seloroh Rahma seakan tak paham apa yang dirasakan sahabatnya.
“Shh, dah lah. Itu urusan mereka. Lagian apa yang kita perkirakan belum tentu benar adanya.”
Rahma mendelik mendengar ungkapan Riza.
“Belum tentu benar, tapi belum tentu salah juga...” lanjut Riza yang meringis di akhir kalimatnya.
"Hiiyyaaahhh, sama aja!!!!"
Riza menutup telingan mendengar kor dari kedua rekannya. Ketiganya lantas memacu langkah untuk pulang bersama.
Di dalam mobil, Hana tak henti-hentinya memukuli Andre. Meski tenaganya tak seberapa, namun jika terus-terusan menyerang pasti tetap akan merasa sakit juga.
“Udah sayang, udah. Nanti kalau aku nggak bisa nyetir gimana?” ujar Andre sambil berusaha menghentikan amukan kekasihnya.
“Aku bisa gantiin,” ketus Hana yang bersiap memukul lagi.
“Tapi masa iya aku kamu setirin.” Andre meraih pergelangan tangan Hana dan menciumnya.
“Kamu ngomongnya seakan aku ini adalah seorang pria yang lemah.”
“Emang kamu lemah!”
Andre memegang bahu Hana dan menghimpitnya.“Perlu dicoba?”
“Ihhh, jangan mulai deh...” Kali ini Hana sedikit melembutkan suaranya. Ia tak bisa bertingkah sekarang, atau akan terjadi sesi yang mendebarkan setelah ini.
“Aku itu, hanya lemah, saat harus berhadapan sama kamu.” Nah kan, sudah mulai. Hana merasa dirinya tak aman saat suara Andre terdengar berat saat berbicara.
Andre kembali merangsek dan menciumi Hana sekenanya. Meski wanita ini terus menghindar tapi sudah adatnya ia tak pernah berdaya.
“Lagian kenapa sih kamu hobi banget ngerusakin baju orang?” Hana berusaha mencari topik bahasan, agar Andre berhenti bergerak sekarang.
“Aku hanya suka merusak baju kamu.” Andre berhasil Hana hentikan saat membenarkan kalimatyang baru ia tuduhkan. Sayangnya ia justru kian maju saat tak ada kalimat yang harus diucapkan.
“Tapi kalau gini kan malu. Kamu tadi nggak tahu gimana Mbak Riza, Elis, dan Rahma ngelihatin aku. Pasti disangkanya kita macam-macam di kantor tadi.” Hana berbicara panjang sambil menahan dada Andre agar tak langsung menghimpitnya sekarang.
“Ya biarin.” Andre cuek dan bersiap menyasar leher kekasihnya.
__ADS_1
“Ya nggak bisa gitu dong. Gimana kabar profesionalisme kita. Tak hanya itu, moral kita juga dipertanyakan.”
Hana dapat bernafas lega saat berhasil membuat Andre menarik tubuhnya. Tak peduli setajam apa tatapan yang terarah padanya yang jelas satu bahaya telah terlepas.
“Ya kan tinggal jawab saja kalau ada yang tanya.” Andre to the point sekali dengan ucapannya. Sekarang ia sudah nampak serius dan kehilangan minat pada kekasihnya.
“Ya terus jawabnya gimana? Kita jujur tentang hubungan kita? Itu namanya gila!” Hana mulai berani bicara lagi, karena tahu Andre sudah dalam mode tak bahaya lagi.
“Ya biarin. Aku memang sudah tergila-gila sama kamu.”
Spontan mata Hana terpejam. Disangkanya Andre sudah berhasil dijinakkan, ternyata kini ia kembali mendapat penyerangan.
Mereka sudah sepakat untuk segera menikah, dan mereka tahu usaha yang mereka perlukan tak mudah. Sehingga mereka bertekat untuk tak memulu menuruti nafsu dalam perjalanannya menuju ibadah yang paling lama dalam hidupnya.
Lantas apa yang terjadi dengan Hana di ruangannya tadi? Begini ceritanya.
Flashback 2 jam yang lalu.
Hana menutup mulutnya saat sedikit lagi Andre menjangkau bibirnya.
“Jangan menahanku…” ujar Andre tepat di depat telinga Hana.
Andre menyingkirkan tangan Hana dan melakukan apa yang diniatkannya. No s*x and no more s*x sebelum mereka sah menjadi suami istri. Tapi untuk yang lain-lain Andre tak bisa janji. Meski sama dosanya, yang jelas mereka tak membiarkan iblis mendapatkan mahkota.
Itu kalau bisa. Kalau tidak yang semampunya saja.
“Jangan di sini…” cegah Hana saat merasa apa yang diperbuat Andre akan meninggalkan bekas di lehernya. Memang rambut Hana panjang, namun dengan kulitnya yang begitu putih maka saat sedikit terbuka orang lain akan dengan mudah melihat tanda merah yang ada di sana.
“Terus dimana?” tanya Andre yang enggan menarik tubuhnya.
“Ya kan malu kalau di leher ada merah-merahnya.” Hana rasa harus menjelaskan alasannya, jika tidak jangan harap Andre akan menarus simpati.
“Itu namanya tanda kepimilikan.”
“Kamu jangan kekanakan…”
“Anak-anak nggak ada yang bisa bikin ginian.”
“Tap…”
Srrrkkkkk! Ssrrkk! Srk!
Mata Hana membulat sempurna. Ah ya sudahlah. Mungkin ini sudah nasibnya. RIP baju yang baru ia pakai sekali.
Flashback off
__ADS_1
Bersambung...