
HAPPY READING
Dedi gagal melarikan diri karena Ken buru-buru menahannya. Mereka sudah dewasa, dan tahu untuk berhenti menggoda saat yang diajak bercanda sudah tak merasa nyaman kini. Sehingga Ken memutuskan untuk meninggalkan wacana perjodohan dan mengambil bahasan tentang pekerjaan.
Kenzo memang pernah berpartner dengan Dedi, dimana ia menjadi investor dalam bisnis yang Ken jalankan. Dari sini lah mereka membangun keakraban, di luar bisnis ke dunia pertemanan.
Setelah dirasa cukup masalah pekerjaan dibicarakan, Ken akhirnya undur diri untuk menyapa rekan-rekan lainnya yang juga datang diacara lamaran Andre dan Hana. Undangan yang hadir sebagian besar memang berasal dari kalangan bisnis, mengingat background keluarga Rahardja dan Wiguna. Sehingga Ken lebih banyak memiliki relasi di sana ketimbang Dedi, Miko dan Nita.
Nita dan Miko sempat membiarkan Dedi larut dalam kediamannya sebelum dokter cantik coba membuka suara.
“Ded...”
Segera Dedi menanggalkan pikiran yang bergelut di benaknya. Di sana ada orang lain dan sepertinya hendak mengajak bicara.
“Ya,” jawab Dedi dengan segera.
“Kok bisa-bisanya sih kamu dulu yang dari SMK langsung putar haluan ambil kuliah kedokteran. Tahu gitu kan masuk SMA saja?” tanya Nita yang nampak jelas rasa penasarannya.
Dedi tersenyum mendengar pertanyaan ini. Karena jujur ia juga tak pernah punya rencana seperti ini dalam hidupnya. Ia pun menggelengkan kepala masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
“Itu bukan jawaban ya.”
Dedi melebarkan tawanya. Namun masih belum juga ia mau menjawab pertanyaan Nita.
“Ya kejeniusan Dedi akan membawa manfaat besar jika disalurkan di bidang yang tepat,” sela Miko berharap Dedi tak tertekan dengan hasrat ingin tahu kekasihnya.
“Tck. Terlalu berlebihan kamu...”
“Ya nggak lah kalau berlebihan,” kembali Nita bersuara. “Kita aja nih yang persiapan sejak lama masih harus merasakan perihnya tak lolos tes masuk FK. Lha situ yang awalnya jurusan apa, banting setir home schooling tiba-tiba lulus setahun lebih cepat dan jadi eksekutif muda,” ujar Nita dengan julidnya.
“Dan belum selesai,” potong Nita cepat saat dua pria di hadapannya sedang menyusun kalimat untuk menimpalinya. Menimpali dengan kalimat berbeda berdasarkan masing-masing isi kepala. “Abis itu masih kasih kejutan lagi dengan banting setir lagi masuk jurusan kedokteran, terus di Harvard, terus beasiswa lagi,” lanjut Nita dengan komuk serius dan ekspresi serius bak pembawa acara berita infotainment.
“Apanya coba yang nggak gila,” lanjut Nita lagi dengan suara lebih pelan dan tenang setelah ia sempat menghela nafas sebelumnya.
Dedi merasa jawabannya begitu dituntut sekarang. Sehingga ia merasa tak ada salahnya juga bila sedikit membagi cerita. “Nggak tiba-tiba juga sebenarnya. Aku lama mempersiapkannya, hanya saja aku tak berani bicara karena masuk di fakultas kedokteran itu bukan perkara yang gampang. Tak hanya masalah kemampuan tapi keuangan. Yatim piatu seperti aku jelas susah kalau sudah berurusan dengan yang satu ini,” jelas Dedi.
“Ya tapi jadinya Harvard gitu loh...” lanjut Nita yang masih berkobar-kobar ketidak terimaannya.
Dedi menyambar minuman yang dibawa pelayang yang kebetulan lewat di sebelahnya. Ia butuh cairan untuk membasahi tenggorokannya sekarang.
“Aku mengikuti tes di banyak perguruan tinggi. Setiap ada program beasiswa yang persyaratannya terpenuhi pasti aku ikuti.”
Miko dan Nita menyimak dengan seksama kalimat yang baru saja Dedi ucapkan. Mereka sadar betul ada perjuangan besar yang Dedi lakukan meski nampak mudah bagi orang yang hanya menyaksikan.
“Fokusku memang universitas di luar negeri. Sedikit jahat memang, tapi aku tak mungkin bisa fokus belajar jika masih di tanah air. Aku sangat berterimakasih dengan kebaikan Dika, tapi aku pun punya harapan untuk tak terus bergantung pada kebaikannya.”
Nita dibuat terdiam mendengar kalimat ini. Sekilas menatap Miko namun kekasihnya ini nampaknya juga masih merenungkan kalimat yang baru didengarnya.
“Dan Harvard menjadi jawaban atas doa yang aku panjatkan. Beasiswa penuh aku dapatkan dan kesempatan untuk bekerja juga ada untukku bertahan hidup di sana.”
__ADS_1
Miko menelan ludah. Ia lantas menepuk bahu Dedi sebagai isyarat bahwa ia sungguh sangat bangga bisa mengenalnya.
“Speechless kita,” ujar Miko.
Dedi tersenyum. “Ada harga yang harus dibayar dalam setiap hal yang ada pada diri kita. Dan aku juga senang bisa mengenal kalian.”
Setelah menuntaskan kisah, Dedi memisahkan diri setelahnya. Meski tak seluas Ken relasinya, namun Dedi tetaplah pelaku bisnis pasif yang menjadi incaran. Sehingga namanya cukup banyak diperbincangkan di kalangan pengusaha yang juga hadir di sana.
Pertunangan Andre dan Hana adalah momen istimewa yang harus diabadikan tentunya. Dan salah satu cara mengabadikan momen ini adalah dengan cara berswafoto bersama kerabat dan orang terdekat.
Rina menjadi salah satu yang paling antusias di sana, di mana ia tak mau melewatkan privilegenya sebagai ibu hamil yang pasti mendapatkan prioritas atas keinginannya. Selain itu ia adalah istri seorang Restu Andika yang powernya tak terkalahkan di sana.
“Udah Sayang ya...” ajak Dika pada Rina untuk duduk karena sudah cukup lama mereka berpose bersama pasangan yang baru mengukuhkan hubungannya ini.
“No, no, no. Masih kurang,” tolak Rina dengan lantang. Sudah banyak foto diambil, dengan berbagai pose dan gaya. Namun hingga kini belum puas juga ia.
“Sayang, yang lain juga mau foto sama Andre dan Hana,” bisik Dika yang mulai merasa tak enak.
“Belum. Aku belum dapet foto yang bagus,” tolak Rina dengan membeberkan alasannya.
Dika mengambil kamera yang sejak tadi membidik pose mereka. Ia lantas menunjukkan hasil fotonya kepada Rina. “Udah bagus Sayang. Nih lihat cantik kan…” ujar Dika kemudian.
Rina menggeleng. Ia yang sebelumnya di samping Hana lantas menyela di tengah Andre dan Hana.
Namun begitu dapat posisinya, ia malah berkacak pinggang. “Huhh, kalian tinggi banget sih. Kan kesel aku jadinya, bulet sendiri di tengah. Nunduk napa?”
“Ha?”
“Atau aku lepas high heels aja,” tawar Hana.
“Tetep aja Han, aku akh…”
Tiba-tiba Rina memegangi perutnya. Alisnya mengernyit dan mulutnya menganga.
“Kenapa Rin,” serempak Andre dan Hana karena Rina yang ada di antara mereka tiba-tiba, merintih dan nyaris limbung di antara mereka. Saat itu juga secara spontan Andre menahan tubuh istri sahabatnya.
Dika yang menyadari juga segera menghampiri.
“Akh…”
Kembali Rina merintih.
Spontan Hana mundur saat merasa ada cairan yang mengenai kakinya. Hal ini membuat Dika langsung mengambil alih tempatnya.
“Sayang, are you okay?”
Rina tak menjawab. Di tengah rasa nyeri yang tiba-tiba menyerang, ia melihat cairan yang mengalir di kakinya.
Dika menghela nafas. Ia bisa dengan cepat menyimpulkan karena hal ini pun sudah biasa dialaminya. Kenapa harus pipis di sini. Gerutu Dika dalam hati.
__ADS_1
“Ayo ke kamar mandi…” ujar Dika dengan pelan. Sedikit malu, tapi ia yakin semua juga akan maklum melihat hal itu.
Rina menggeleng. Keningnya berkerut, alisnya tertaut. Butiran keringat mulai muncul dan perlahan mengucur.
“Ayo Sayang. Nggak apa-apa,” bujuk Dika sekali lagi.
Rina menggeleng lagi. “Aku nggak pipis,” lirih Rina membela diri ditengah nyeri yang ada kini.
“Terus ini apa?” tanya Dika masih dengan penuh rasa sabar.
Dika hendak membawa istrinya melangkah, namun tiba-tiba Rina memekik. “Akhhh…”
“Aduh, aduh, kepala gue, rambut guee!!!”
Andre berteriak karena tiba-tiba Rina menarik kuat rambut hasil tatanan hair stylish untuk hari istimewanya. Namun bukan itu masalahnya. Antara sakit dan terkejut yang Andre rasakan karena Rina menarik kepalanya dengan kuat dan tiba-tiba. Sontak kejadian ini mengejutkan semua yang ada di sana.
“Itu kenapa?”
Dedi yang baru menyadari adanya keributan mendekat untuk memastikan. Ternyata di sana ada Dika dan beberapa orang yang berusaha melepaskan jambakan Rina dari kepala Andre yang sudah belingsatan tak karuan.
“Sepertinya Rina mau melahirkan,” setelah analisa kilatnya.
“Melahirkan? Terus gimana?” tanya Dika dengan linglungnya.
“Bawa ke rumah sakit bego!” bentak Dedi dengan kesalnya.
“Terus, gue gimana, ssshh…” Andre tak bisa lebih banyak berkata, karena kulit kepalanya seakan ditarik dengan paksa.
Saat Dedi bersama Nita yang baru muncul hendak membawa Rina, tiba-tiba Dika menahan langkah mereka.
“Tck. Maksud lu apa sih,” kesal Dedi pada sahabatnya.
“Kasian Andre Ded. Ini juga kenapa?” ujar Dika yang nampak frustasi dengan kelakuan istrinya.
Dedi menarik Dika dengan paksa dan menjuhkan dari Rina. Dika hendak protes namun Dedi menahannya.
“Now listen. Rina pecah ketuban, dan dia mau melahirkan,” ujar Dedi sungguh-sungguh.
Dika terdiam sejenak. “Tapi Andre kasihan.”
Dedi membulatkan mata tak percaya. “Kalau ketuban ini sampai kering, bukan hanya nyawa anak kamu yang terancam, tapi nyawa Rina juga. Jangan sampai kamu aku cekik ya.”
Dika malah terdiam. Ia menatap istri dan sahabatnya yang teriak kesakitan.
Plak!
Tamparan Dedi sepertinya masih belum mampu menyadarkan Dika.
“Astaga…”
__ADS_1
Dedi mengambil alih situasi. Ia menyiapkan mobil setelah muncul Heni dan Ririn yang juga hadir di acara ini. Dika pun tidak sampai ketinggalan sebenarnya, namun ia lebih mirip orang yang hilang sebagian akalnya karena panic dan bingung harus berbuat apa.
Bersambung...