
Hai, hai.
Di tempat kalian dingin nggak?
Di tempat Senja hujan terus, bikin mata kudu merem aja bawaannya.
Nggak ada hubungannya ya sama cerita, wkwkwkw
HAPPY READING
Hana membulatkan mata saat tahu ada orang lain yang melihat kelakuannya. Meskipun ia sudah jauh sekali dari kata suci, tapi ia tetap akan merasa malu jika harus berciuman di depan orang seperti ini. Ia segera mendorong Andre agar segera melepaskan tautannya. Sementara Miko masih bingung sendiri di depan pintu.
Andre yang melihat reaksi Hana santai saja dan menoleh untuk melihat Miko yang menjadi penganggunya di depan pintu. Ternyata di belakangnya ada Nita juga yang mengintip dari balik bahu kekasihnya.
“Hai kalian…” Andre justru melambaikan tangan dan menyapa teman-teman SMAnya.
“Itu Andre sepupu kamu kan Mik?” bisik Nita dengan wajah malu-malunya.
Siapa yang berbuat mesum dan siapa juga yang dibuat malu.
“Ndre, kita tunggu di luar,” putus Miko.
Miko mengajak Nita untuk meninggalkan dua sejoli yang sudah menodai mata suci mereka. Ya, mereka sebenarnya sudah pernah lihat adegan ciuman di drama, tapi kalau live gini rasanya aneh juga.
Jika saja Hana bisa, pasti sekarang ia sudah menggulung tubuhnya seperti trenggiling. Ia malu bukan main, kedapatan seperti ini oleh orang dekat Andre. Ia tak bisa membayangkan apa kesan mereka terhadap dirinya. Pasalnya kesan pertama pertemuan mereka jauh dari kata baik-baik saja.
“Ayo keluar,” ajak Andre dengan santainya.
Hana mendongak dengan wajah merah padam. “Malu Ndre.”
“Kenapa harus malu, hmm.” Andre mengangkat dagu Hana dengan telunjuknya.
“Ya itu tadi.” Hana melepaskan wajahnya dan menunduk kembali.
Andre memegang bahunya.
“Kamu mau ngapain?” panik Hana saat merasa ada ancaman yang kembali mendekat tiba-tiba.
Andre terus mendorongnya. “Ngelanjutin yang tadi.”
Hana bangkit tiba-tiba. “Kita keluar.”
Hana berjalan mendahului Andre begitu saja. Ia bahkan keluar
kamar tanpa menunggu Andre yang masih tertinggal di dalam. Setelah ia bertemu pandang dengan dua orang yang baru saja memergokinya, ia baru merasa salah tingkah dan bingung harus gimana. Hana segera balik badan, dan nyaris menabrak Andre yang ternyata sudah menyusulnya dan sudah berada tepat dibelakangnya.
“Mau kemana?”
__ADS_1
Hana tak menjawab. Ia lebih memilih untuk menundukkan kepala. Hana merasa tubuhnya diputar kemudian tangan Andre memegang pinggangnya. Ia hanya berjalan mengikuti kemana Andre akan membawanya.
“Emm…” Nita segera mengulurkan tangannya. “Aku Nita…”
Nita sedikit merasa diacuhkan saat Hana tak juga menjabat tangannya. Namun sedetik kemudian Andre terlihat menyenggol bahu Hana.
“A, gimana?” Hana tergagap. Ternyata sejak tadi pikirannya tengah menjelajah entah kemana.
“Nita ngajak kenalan,” sambung Andre.
Hana tersenyum dan menjabat tangan Nita. “Hana.”
Setelah acara perkenalan, suasana canggung kembali menyelimuti.
“Mik, kayaknya tadi kalu belum selesai ngobatin akunya,” ujar Andre memecah kaku.
“Oh. Iya sini.” Miko menunjukkan tempat di sampingnya. “Sayang, kamu pindah ya ke samping Hana,” pinta Miko pada kekasihnya.
Nita segera pindah ke samping Hana. Setelah terjadi perpindahan posisi, dua wanita ini kembali beku. Di sisi lain
Andre dan Miko sudah pecah dengan sesekali saling mengumpati.
“Pelan-pelan bangsat. Pasien lu bisa mati semua kalau gini caranya,” protes Andre saat ia sadar benar Miko menekan lukanya dengan kasar.
“Sabuk hitam kamu kasih ke aku aja lah. Mubadzir dikeroyok dikit aja babak belur,” ejek Miko menatap remeh sepupunya.
Melihat keduanya tertawa, Hana jadi ingat kejadian yang tadi menimpanya. Saat Andre tengah dikeroyok, ternyata ada satu orang yang berhasil mengejarnya. Hana panik. Ia tak bisa berkelahi untuk membela diri. Saat orang itu hendak membawanya, ia panic dan mencari apa saja untuk menyerang pria ini. Ternyata tak jauh darinya ada botol soda yang tebuat dari kaca. Ia memukul kepala laki-laki itu dengan botol di kepala. Pria itu langsung tersungkur dengan darah mengucur.
Hana panic. Ia ingin mengecek kondisi pria yang telah dilukainya itu, apakan masih hidup atau sudah mati. Namun pria itu masih punya tenaga untuk mencekal pergelangan tangannya. Ia makin panic dan meraih apa pun untuk memukul pria ini lagi. Dan saat Hana lihat lagi, ternyata pria ini benar-benar tak sadarkan diri.
“Hana, Hana…”
Nita harus mengulang beberapa kali untuk memanggil Hana. Karena wanita cantik ini sama sekali tak nyambung saat diajak berbicara.
“A iya…”
“Sebenarnya kamu kenapa?” tanya Nita hati-hati. Karena melihat Andre yang menenaskan dan Hana yang terlihat seperti tertekan membuat Nita yakin jika mereka baru saja mengalami hal yang tak menyenangkan.
Hana menghela nafas beberapa kali. Ia tak tahu apakah Nita ini sosok yang bisa dipercaya untuk diajak bicara atau tidak.
“Kita tadi tiba-tiba diserang sama orang nggak dikenal Nit,” sahut Andre yang tengah diobati oleh Miko.
“Emangnya kalian dimana terus lagi ngapain?” tanya Nita beruntun.
“Kita tadi lagi makan di pinggir jalan. Ya feelingku nggak enak saat melihat ada orang yang tampak mengawasiku dan Hana. Saat aku amati lebih jelas lagi, ternyata tak hanya satu orang yang tengah mengawasi kami. Jadi kita buru-buru lari dari sana. Ternyata komplotan ini ada banyak, yaa…, sekitar sepuluh orangan lah ya.”
“Mereka mau ngerampok?” tanya Miko.
__ADS_1
“I don’t know. Kita nggak kehilangan harta benda apapun,” jawab Andre.
“Saingan bisnis mungkin?” lanjut dokter muda ini.
“Ya kalau saingan bisnis mana mungkin nyerangnya aku, pasti nyerangnya Dika.”
“Ya kan tahu sendiri Dika pengamanannya berlapis-lapis, jadi mungkin mereka pilih menyerang kamu saja sebagai alternatif untuk menjatuhkan mental Dika.”
Andre diam seketika. Dahinya mengernyit memikirkan kemungkinan yang Miko ungkapkan.
“Kalian kenal sama bosnya Andre?” tanya Hana tiba-tiba.
“Aku, sama istrinya Restu Andika itu sahabatan sejak SMP," jawab Nita.
"Nona Rina?" tanya Hana.
Nita mengangguk. "Nggak sama Rina, tapi Miko dan Andre juga. Sebenarnya ada satu lagi sih…” ujar Nita menggantung.
“Dian?” tebak Hana.
Nita tersenyum lebar dan menatap Andre di seberang.
“Mata lu kenapa, awh!” Andre merintih saat Miko dengan sengaja menekan lukanya. “Lu kenapa sih. Kalau nggak ikhlas ya nggak usah ngobatin!” ketus Andre pada sepupunya.
“Bacot lu kurang ajar. Ngapain ngatain Nita kayak gitu!” balas Miko tak terima.
Andre dan Miko bertengkar lagi. Mereka memang suka lupa umur kalau sudah bertemu. Miko tak lagi jadi dokter kalem seperti biasanya, dan Andre tak lagi berbibawa karena harus terkontaminasi mulut recehnya yang suka muncul saat bertemu dengan orang dekatnya.
“Udah biarin aja,” ujar Nita melihat Hana yang tempak berkali-kali terkejut melihat interaksi Andre dengan Miko.
Hana tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Oh iya, kamu tadi nyebutin Dian, udah kenal sama dia?” tanya Hana lagi.
Kembali Hana mengangguk. “Kita udah pernah ketemu beberapa kali.”
Nita hanya tersenyum dan meraih martabak yang ia bawa tadi. “Ayo dimakan martabaknya, aku belinya di depan tadi.”
Hana sedikit kecewa melihat reaksi Nita, karena sebenarnya ia berharap Nita akan bercerita tentang hubungan Dian dan Andre dulu bukan diam dan menawarkan martabak seperti ini.
“Nggak suka ya?” tanya Nita saat melihat Hana diam saja.
“Suka kok.”
Hana segera meraih martabak yang sama dengan Nita dan keduanya mulai ngobrol bersama.
Bersambung…
__ADS_1