
HAPPY READING
“Silahkan masuk Pak Andre.” Dokter Halima mempersilahkan Andre untuk masuk ke ruangannya begitu Andre muncul dari balik pintu.
“Terimakasih Dokter,” jawab Andre setelah menutup pintu dan berjalan mengampiri dokter Halima.
“Silahkan duduk…”
Andre segera melakukan apa yang dokter Halima minta dengan duduk di kursi yang sudah tersedia.
“Maaf Dok, sebenarnya bagaimana kondisi Hana dan anak saya…?” tanya Andre to the point.
Ada kecewa di hati dokter Halima saat harus menangani pasien seperti Hana. Ia mengandung dengan status gadis dan belum pernah terlibat proses pernikahan dengan Andre yang merupakan ayah dari janin yang berada dalam kandungannya. Dalam hatinya gundah, antara mereka tak malu dengan dosa besar yang telah mereka lakukan atau lah mereka sebenarnya malu namun berusaha mempertanggung jawabkan dosa yang telah mereka lakukan.
Dokter Halima menghela nafas. “Dengan berbagai insiden yang dialami nona Hana, dapat saya katakan bahwa janin yang ada di kandungannya sungguh kuat.”
Andre menyimak dengan seksama apa yang dokter Halima katakan. Ia tak ingin melewatkan informasi apapun terkait perkembangan anaknya.
“Saya dengan sebelumnya Nona sudah mengalami pendarahan, bahkan sampai sekarang masih muncul flek yang mengindikasikan bahwa kandungan Nona belum baik-baik saja,” lanjut dokter Halima lagi.
“Apa ini akan membahayakan anak saya Dok?” tanya Andre akhirnya.
“Sangat Pak. Saya tidak tahu apakah janin akan bertahan jika nona Hana harus jatuh satu kali lagi. Biasanya dalam kondisi pasca pendarahan di trisemester pertama seperti ini, kandungan akan luruh jika mengalami benturan semacam ini. Tapi nyatanya janin yang masih sangat rentan ini tahan dan
mampu bertahan.”
“Saran saya tolong anda berhati-hati jika memang masih ingin
mempertahankannya,” pungkas dokter Halima.
Raut wajah Andre berubah seketika. Ia merasa ada tusukan yang menghujamnya di bersama dengan kata yang diucapkan dokter Halima. Ia yakin ini ada hubungannya dengan status pernikahan antara ia dan Hana. Ia tahu kesalahan yang ia lakukan sangat bertentangan dengan adat ketimuran yang dianut di Indonesia. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur.
“Dokter, terlepas bagaimana pun background saya, saya harap anda bersedia melakukan yang terbaik untuk calon istri dan anak saya,” pinta Andre dengan sungguh-sungguh.
Kini Andre tak lagi menyebut Hana sebatas nama, tapi ia menyebutkan status Hana yang sebenarnya meskipun kondisinya yang mengandung tak lazim untuk diakui di depan orang lain seperti ini.
Dokter Halima mengangguk paham. Ia menjunjung tinggi kode etik profesinya dimana menyelamatkan nyawa adalah menjadi prioritas utama bagaimana pun latar belakang pasiennya.
***
Empat orang pria sedang duduk menghadap seorang pria tua di atas kursi kebesarannya.
“Kenapa hanya satu satu perempuan saja masih gagal.”
“Maaf Tuan. Tapi rumah itu dijaga dengan ketat. Kami kalah jumlah.”
__ADS_1
“Apa kalian sudah coba melakukan perlawanan?”
“Maaf Tuan, kami tidak berani memulai. Karena kami hanya berempat, sedangkan di sana yang berjaga di depan saja sudah hampir sepuluh orang. Belum lagi kalau di dalam ternyata ada.”
“Jadi hanya segitu nyali kalian.” Sarkas pria ini, sebelum bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan mengampiri empat pria kekar yang beridiri berjajar di hadapannya dan mulai menatap mereka dengan seksama. “Sepertinya sudah saatnya regenerasi untuk kalian,” lanjut pria ini lagi.
“Jangan Tuan…” keempat pria ini bersahutan menggaungkan hal yang sama, namun pria tua ini nampak mengacuhkan mereka dan jusru menghubungi seseorang.
“Pa, tunggu Pa…” seorang pria muncul menghampiri pria paruh baya ini. Ia mengambil ponsel yang telah menempel di telinga itu secara perlahan.
“Bukan begini caranya Pa. Kalau Papa memberhentikan setiap orang yang menurut Papa salah, Papa akan kehabisanpengiku setia. Padahal Rio tahu benar empat
orang ini adalh orang-orang lama. Benarkan?”
Galih menatap keempat orang tersebut. Benar apa yang dikatakan Rio. Aku tak boleh mengorbankan kesetiaan mereka hanya karena kegagalan kecil ini. Lanjut Galih dalam hati.
Melihat emosi papanya yang perlahan turun, Rio mengisyaratkan pada keempat orang itu untuk segera meninggalkan ruangan papanya.
“Pa, lepaskan dia Pa. Kenapa sih Papa masih obsess sekali dengan anak haram itu?” Rio mulai terbawa emosi setiap kali membahas tentang Hana.
Galih meraih gilingan tembakau yang ada di mejanya dan mulai menyalakannya.
“Pa…” sekali lagi Rio memanggil papanya. Ia benar-benar tak rela menanggalkan gelar anak tunggalnya karena Hana.
“Bagaimana perkembangan perusahaan kamu?” tanya Galih mengabaikan panggilan putra satu-satunya tersebut.
Rio paham Galih sama sekali tak ingin membahas masalah ini. Tapi bagaimana pun juga Rio harus tetap menghalangi Hana sebelum mengambil seluruh hati papanya.
“Pa, please. Jangan lagi cari Hana lagi ya. Biarin dia dengan
kehidupannya,” pinta Andre dengan memelas.
“Warisanku cukup banyak kalau hanya untuk dibagi dua,” ucap Galih sembari mengepulkan asap putihnya.
“Pa… Ini bukan masalah uang, tapi…” Rio menghela nafas. Masalah hati pa. Masalah hati Rio, masalah hati mama. Lanjut Rio dalam hati.
“Papa hanya ingin mencari penerus untuk menjalankan perusahaan,” ucap Galih tanpa menatap putranya.
“Rio bisa Pa.”
“Tapi dengan cara kamu Papa nggak yakin Rahardja masih bisa dipertahankan.”
“Papa meragukan kemampuan Rio?”
“Kemampuan kamu memang tak diragukan lagi, tapi mental kamu yang membuat papa tidak yakin.”
__ADS_1
Galih berjalan meninggalkan Rio yang masih berdiri di ruangannya.
***
Seorang pria dengan tubuh tinggi menghampiri seorang wanita cantik yang sedang duduk di teras seorang diri. “Kenapa kepalanya dipegangin?” tanya pria ini kemudian.
Perempuan cantik ini mendongak ke arah sumber suara. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Ken menarik kepala Dian untuk dibawa bersandar padanya.
“Apa kamu ingin segera pulang ke Indonesia?” tanya Ken sembari mengusap lembut rambut lurus sepundak Dian.
“Kalau kamu ngajak balik ya ayo, tapi kalau kamu masih ingin tinggal di sini lebih lama aku tak masalah kok.”
“Beneran?” tanya Ken dengan wajah berbinar.
Kembali Dian mengangguk.
Ken merendahkan tubuhnya untuk sejenak memeluk Dian. Setelah pelukannya lepas, ia menatap wajah cantik wanita yang telah diklaim sebagai calon istri di depan keluarga besarnya ini. “Kita tidur sekarang ya…”
Sebelum menjawab, Dian terlebih dahulu menoleh ke dalam. Di sana masih banyak sekali keluarga Ken yang sedang bercengkerama karena telah dalam waktu lama mereka tak saling bersua.
“Jangan Ken. Yang tua-tua aja masih pada betah ngobrol, masa kita yang muda mau cabut,” tolak Dian atas ajakan Ken.
“Ya kan kondisi tubuh setiap orang nggak sama. Ini bukan cuma masalah usia, tapi masalah suhu juga. Aku yakin kamu tak biasa dengan suhu serendah ini. Aku saja yang sudah akrab dengan hawa sedingin ini mulai nggak tahan dengan suhu di sini karena sudah lama di Indonesia yang nggak pernah ada suhu serendah ini,” jelas Ken panjang lebar.
Sekali lagi Dian menatap ke dalam. “Tapi apa kata mereka Ken…?”
“Mereka pasti ngertiin kita…” jawab Ken dengan santai.
“Ngertiin? Emang kamu mau ngapain?” tanya Dian dengan memicingkan mata.
“Mau meluk kamu, dingin,” kilah Ken sambil benar-benar memeluk Dian.
Mata Dian membulat.
“Yuk lah…” Ken menarik tubuh Dian untuk berdiri kemudian merangkulnya berjalan ke arah keluarga besarnya. Ia kemudian berpamitan untuk istirahat terlebih dahulu bersama Dian.
Nenek yang dimaksud adalah nenek buyut dimana Ken sudah menjadi generasi keempat setelahnya. Saat ulang tahun seperti ini memang menjadi momen bagi wajib bagi seluruh keluarga besar untuk berkumpul. Keluarga besar Ken tidak hanya tinggal di China tapi juga di beberapa negara lain seperti Ken dan orang tuanya yang memilih untuk menetap di Indonesia.
“Tuh kan mereka pada ngeliatin…” kesal Dian saat baru saja mereka meninggalkan ruangan yang menjadi tempat berkumpul keluarga besar Ken.
“Nggak masalah kan? Punya calon istri secantik kamu pasti resikonya bakal jadi pusat perhatian banyak orang. Kayak…” Ken menoleh menatap beberapa orang yang masih menatap kepergian mereka.
“Tck. Apaan sih…”
__ADS_1
Bersambung…