Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Makan Siang


__ADS_3

HAPPY READING


Kruyk…


Mata Andre langsung terbuka lebar saat mendengar suara tak enak menyapa telinganya.


Kkrrkkk…


Baru saja ia ingin kembali memejamkan mata, suara yang lebih berisik kembali mengganggunya.


“Hana, perutmu kenapa berisik sekali!” gerutu Andre sambil menenggelamkan kepalanya.


“Aku terakhir makan kemarin pagi,” lirih Hana saat Andre mengeratkan pelukan pada dirinya.


“Sama. Tak ada makanan lain yang masuk ke perutku selain omelet yang kamu suapkan kemaren,” ujar Andre dengan mata setengah terpejam.


“Kamu nggak lapar?” tanya Hana heran.


Andre menggeleng.


“Kok bisa.”


“Karena aku sudah kenyang makan kamu.”


Hana memalingkan wajah. “Nggak masuk akal.”


“Mau bukti?”


Hana menatap Andre yang telah membuka matanya.


“Kamu mau apa?” Hana mendorong Andre yang mulai menunjukkan tanda-tanda bahaya.


“Aku mau makan kamu.” Andre kembali mendekatkan wajahnya.


Hana yang sudah siaga segera menahannya. “Kan tadi udah…”


“Aku lapar jadi harus makan.” Andre kembali mendekatkan wajahnya namun secepat itu pula Hana menahannya.


“Biar aku masak.”


Andre menarik tubuhnya dengan wajah tak senang. “Apa kamu mengalami gangguan pendengaran?”


Hana menggeleng.


“Lalu kenapa kamu sulit sekali memahami kata-kata yang aku ucapkan?” Andre terlihat sangat kesal. Ia mendorong tubuh Hana dan memunggunginya.


“Ndre, marah ya?” Hana menyentuh punggung Andre dengan telunjuknya.


Andre menggerakkan punggungnya seakan tak ingin Hana menyentuhnya.


“Kamu kenapa sih?” Hana berusaha membalikkan tubuh Andre namun ia tak mampu.


“Ndrreeee. Jangan begini ah…”


“Jika aku tak seperti ini, mana ngerti kamu kalau aku benar-benar tak suka.”


“Tak suka apa?”


“Tak suka jika kamu menolakku.”


Hana tersenyum manis. Ia tak menyangka jika Andre akan merajuk seperti ini hanya karena ia menolak ciumannya. Ia meraih wajah Andre dan mendekatkan wajahnya. Andre membalas senyum Hana dan menyambut bibir Hana yang datang padanya. Namun sedetik kemudian pria ini mendorong Hana dan kembali memunggunginya.


“Ndre, kenapa lagi sih?” tanya Hana heran karena kini giliran Andre yang malah menolaknya.


Andre menatap Hana sekilas dan kembali memunggungi wanita ini.


“Andreee…”

__ADS_1


Hana menggunakan lebih banyak tenaga untuk membuat Andre membalik badannya. Setelah berhasil, ia langsung


menindih tubuh pria ini.


“Apa yang tadi batal?” tanya Hana.


Andre menelan ludah saat melihat kondisi Hana.


Semakin diacak-acak kok makin cantik sih.


“Andre…”


“Aku masih tersinggung,” ketus Andre.


“Maaf…” ujar Hana masih dengan posisi yang sama.


Andre menyentuh wajah Hana. Ia sudah tak tahan ingin memakannya, tapi ia harus bersabar. Ia masih ingin bermain


sekarang.


“Apa dengan maaf belum cukup?” tanya Hana lagi.


“Belum.”


“Aku bahkan sudah terlebih dulu menciummu, menggantikan ciumanmu yang gagal sebelumnya.”


Andre menarik tubuh Hana dan sekarang ganti ia yang berada di atas tubuh ramping wanitanya.


“Kamu ingat aku tadi aku bilang ingin apa?” tanya Andre dengan menatap lekat wajah cantik Hana.


“Mau cium?”


“Bukan. Sebelumnya”


Hana terdiam. Ia berusaha menyusun ingatan tentang apa saja yang sudah Andre katakan. Setelah beberapa saat diam,


Andre tersenyum miring. “Aku pikir kamu sangat cerdas, ternyata ingatanmu buruk sekali Nona.”


“Andree…”


Andre tak membiarkan Hana berbicara.


“Sudah dimaafkan?” tanya Hana saat kembali dibiarkan berbicara.


“Belum.”


“Kok belum?”


“Karena aku belum mendapat jatah makan siang.”


Hana merasa begitu diinginkan. Ia menarik tengkuk Andre dan memulai permainan.


Mama, maafkan Hana. Aku kehilangan kemampuan menjaga kehormatan saat bersama pria muda ini. Mama, maafkan  Hana yang menceburkan diri pada kubangan dosa ini. Mama, maafkan Hana.


***


Waktu istirahat tiba, dan Dika sedang makan siang berdua dengan Rina.


“Sayang, itu pending dulu dong,” ujar Rina saat melihat suaminya yang masih fokus bekerja.


“Tanggung sayang, kalau ini udah kelar kan bisa tenang makannya.”


“Ya kan anti kalau nunggu itu kelar makanannya keburu dingin.”


Dika menatap sekilas istrinya dan tersenyum sebagai balasannya. Rina hanya mampu mendengus jika suaminya sudah seperti ini. Tanpa banyak bicara lagi, Rina meraih piring Dika dan mulai menyuapinya.


Saat Rina menyuapkan sesendok makanan, Dika segera membuka mulut dan perlahan mengunyahnya. Hal ini dilakukan tanpa sedikitpun  mengalihkan pandangannya pada jajaran tulisan di hadapannya. Dika nampak memberi tanda di beberapa bagian sebelum membaliknya. Begitu seterusnya hingga habis satu bendel penuh. Setelah habis satu, ia mulai meraih satu yang lainnya. Ia terus menerima suapan Rina dengan mata dan tangan yang terus bekerja.

__ADS_1


“Kamu nggak makan?” tanya Dika saat sadar Rina terus menyuapinya dan sama sekali tak menyuapkan makanan untuk dirinya sendiri.


“Kamu dulu, nanti aku gampang,” jawab Rina sambil menyuapkan makanan terakhir di piring yang ia pegang.


“Nih,” Rina mengambilkan air putih untuk suaminya.


“Makasih sayang…” Dika meminum air putih itu sebelum kembali bekerja.


Rina menghela nafas kemudian mulai memakan makan siangnya.


“Sayang…”


“Hmm…”


“Aku tambah gendut deh kayaknya.”


“Masa iya?” tanya Dika tanpa sedikitpun menatap istrinya.


“Menurut kamu gimana?” tanya Rina sambil memperhatikan wajahnya dalam pantulan kaca.


“Ya biasa saja sayang,” jawab Dika masih dengan gaya yang sama.


“Kok biasa sih?”


“Terus gimana, kudu bilang iya?” Dika mulai mengalihkan pandangannya.


“Kok iya, berarti aku gendut dong.” protes Rina menanggapi ucapan suaminya.


Dasar wanita. Maunya apa sih. Dia yang ngerasa gendut, kita yang kena amuk. Padahal udah aku bilang biasa aja. Untung cinta, kalau nggak cinta mah udah lama aku buangnya.


“Sayang?!!!” suara Rina meninggi.


Bener kan. Dijawab salah nggak dijawab apa lagi.


Dika bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri istrinya.


“Pipiku tembem, lenganku juga besar, bokong juga pasti tambah gede nih…” Rina tak hanya bicara, tapi juga menunjukkan pada suaminya.


Dika tersenyum miring dan duduk di samping istrinya. Ia merangkul bahu Rina dan menarik lebih dekat. Sebelah tangangannya meraih pinggang istrinya. Sedikit bergeser dan berhenti di perutnya.


“Perut aku juga tambah gendut ya?”


Dika belum menjawab. Tangannya merambat ke atas dan mulai meraba dengan lembut.


“Sayaaanng…” Rina merengek manja saat suaminya meremas dengan lembut bagian depan tubuhnya.


“Ini juga tambah besar nggak?” tanya Dika sambil menatap wajah istrinya yang nampak gelisah.


Rina meletakkan cermin yang sebelumnya ia pegang. Ia kemudian mengalungkan lengannya di leher suaminya.


“Menurut kamu gimana?” Rina balik bertanya dengan mata yang entah sejak kapan berubah sayu. Bagaimana tidak. Kini tiga kancing teratasnya sudah terbuka sehingga Dika sudah menguasai gundukan itu sepenuhnya.


Dika menyusuri rahang istrinya. “Tunggu sebentar aku kunci pintu.”


Dika bangkit dan berjalan dengan tergesa untuk mengunci pintu ruangannya. Tak ingin membuang waktu, ia segera kembali menghampiri Rina di sofa. Tanpa banyak berfikir, ia segera mengangkat tubuh istrinya.


Dengan kasar, ia menyingkirkan berkas-berkas di atas mejanya sehingga membuat kertas-kertas itu berserak mengenaskan.


“Sayang, kerjaan kamu.”


“Tak masalah, asalkan aku bisa menikmati makan siang istimewaku,” ujar Dika dengan menatap lapar istrinya.


“Di sini?” tanya Rina tak percaya.


“Belum pernah coba di sini kan?”


“Tap…” Rina tak mampu melanjutkan ucapannya saat Dika tanpa ragu membungkam mulutnya. Pria tampan ini benar-benar menginginkan sajian istimewa ini untuk makan siangnya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2