Zona Berondong

Zona Berondong
Misteri Box 1


__ADS_3

^^^Mau dibawa kemana, cerita ini...^^^


^^^Dukung terus ya...^^^


^^^-HAPPY READING-^^^


Indah membatu saat melihat Rio meminta maaf dihadapan dewan guru. Ia memainkan peran sebagai mahasiswa magang dan sebagai anak dari pemilik yayasan.


"Sekali lagi saya minta maaf. Terimakasih atas bantuannya selama ini. Saya pamit."


Rio menyalami semua orang yang ada di sana. Saat melewati Indah, Rio sempat tersenyum dan memegang puncak kepala Indah.


"Kamu lanjutkan semuanya ya." Setelah mengucapkan itu, Rio berjalan melewati Indah.


Wajah Indah memang tak terlalu jelas dalam gambat itu, dan Rio juga tak mengungkap sosoknya. Dia memutuskan akan mempertanggungjawabkan semuanya sendiri. Ia tak ingin merusak cita-cita dan masa depan Indah.


Merasa tak tahan, Indah memutuskan untuk mengejar Rio.


Saat melewati kelas Rina, ia sempat melihat Rina yang memanggilnya, namun ia memberi isyarat agar Rina diam saja. Indah kemudian memacu langkahnya agar bisa segera menyusul Rio.


"Kamu mau kemana?" tanya Rio saat Indah berhasil menyusulnya.


"Aku nggak bisa di sini tanpa kamu, aku mau sama kamu." Indah berjalan dengan menundukkan wajahnya. Wajah putih yang memerah karena menahan tangis.


"Ndah, kamu harus menyelesaikan semuanya. Dari awal jalan kita sudah berbeda, hanya saja aku terus memaksakan diri untuk selalu ada di dekat kamu."


"Yo..." Indah tak mampu lagi menghalau air matanya agar tak jatuh.


Tak ingin lebih banyak mata melihat kondisi Indah yang menyedihkan, Rio mempercepat langkahnya dan membawa Indah menuju mobilnya.


Di dalam mobil, Indah menghambur ke pelukan Rio.


"Apa sih yang kamu tangisin?" tanya Rio yang mengeluh rambut sebahu Indah.


"Bentar lagi Yo bentar lagi. Ini semua cita-cita kamu." Indah masih terisak sambil berbicara.


Rio tertawa. Sekilas ia nampak biasa saja tapi sungguh miris saat menatap matanya. "Dari awal takdirku bukan di sini, kamu tahu kan?"


Indah mengangguk dalam pelukan Rio.


"Mungkin ini cara takdir menyadarkanku, bahwa ini bukan tempatku, bukan duniaku."


"Kenapa foto itu harus muncul sekarang, tidak menunggu kita selesai wisuda..." Indah sungguh menyesalkan apa yang menimpa kekasihnya.


"Sudah ya." Rio mendongakkan wajah Indah dan membersihkan air mata dengan tisu di tangannya. "Kamu masuk ya, dan segera selesaikan semua..."


Indah mengangguk yakin. Dia memeluk Rio sekali lagi dan beranjak keluar dari mobil. Ia berjalan untuk bergabung bersama teman-tamannya yang lain.


Sepasang mata sejak tadi terus mengawasi pergerakan Rio.


"Pak, Mas Rio sudah meninggalkan area sekolah. Apa tugas saya sudah selesai?"

__ADS_1


"..."


"Terimakasih Pak."


Orang dengan pakaian serba hitam itu turut meninggalkan area sekolah bersama Rio yang sudah terlebih dahulu menjalankan mobilnya.


***


Sore ini Dika sudah tiba, namun ia tak langsung pulang melainkan pergi ke kantornya.


Saat mulai menginjakkan kakinya di lobby perusahaan, ada ragu yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.


Apa aku bisa melalui ini semua? Dika menatap logo Matahari yang terpajang di berbagai sisi. Aku pasti bisa.


Dia memantapkan kakinya untuk melangkah. Ini bukan kali pertama Dika menginjakkan kakinya di kantor setelah memutuskan untuk mengambil alih perusahaan. Para staff menunduk hormat saat CEO muda ini melewati mereka.


"Om," sapa Dika saat memasuki ruangan Edo.


"Mas." Sapa Edo yang cukup terkejut karena kedatangan Dika yang tiba-tiba.


"Santai aja, saya datang sebagai Dika, bukan CEO Surya Group."


"Baik Mas." Edo kembali ke posisi semula.


"Apa saya bisa menerima hasil dari apa yang saya minta beberapa hari yang lalu?" tanya Dika sambil membolak-balik lembaran dokumen di harapannya.


Edo melepas kacamata yang bertengger di wajahnya. "Informasi apa yang Mas Restu ingin tahu?"


Edo menatap Dika. "Apa Mas Restu masih ingat masa-masa dimana Pak Hendro nyaris kehilangan perusahaan ini?"


Dika mengangguk. "Kalau tak salah saat itu Om Rudi muncul untuk pertama kali menjadi penyelamat untuk perusahaan ini."


"Bukan pertama kali, tapi itu merupakan kemunculannya lagi Mas."


"Maksud Om?"


"Pak Rudi bukan orang baru di kehidupan almarhum bapak."


Dika diam, namun keterkejutannya sangat jelas terlihat. "Apa ini seperti yang dikatakan Om Reno?" gumam Dika yang samar-samar masih bisa di dengar Edo.


"Reno Agustin?"


"Saya nggak tahu siapa nama lengkapnya."


"Apa Mas Restu bersedia mendengarkan jika saya sedikit cerita tentang masa lalu almarhum bapak dan pak Rudi?"


Dika meletakkan lembaran dokumen yang sebelumnya ia pegang. "Apakah ini rahasia besar?"


"Tidak juga, hanya saja Mas Restu belum mengetahuinya."


"Apakah saya harus mengetahuinya?"

__ADS_1


"Saya tak akan bicara jika Mas Restu tak ingin mendengarnya."


Dika terdiam. Aku penasaran, tapi aku takut dengan apa yang akan aku dengar. Dika menghela nafas. "Katakan Om."


"Ketika saya masuk di perusahaan ini, sebenarnya bapak tidak sendiri. Surya Group didirikan bersama seseorang, namun orang tersebut tak ikut menjalankan, hanya sebagai penyandang modal, sebesar 50%. Nilai yang sama dengan yang bapak miliki. Orang itu adalah orang yang bersahabat dengan bapak sejak SMA, berasal dari kekuarga kaya namun ia tak tertarik menjadi pengusaha. Orang itu adalah bapak Rudi Andika."


Dika membulatkan mata. Sudah ada firasat bahwa orang yang dimaksud adalah Rudi, namun Dika tetap terkejut karena fakta batu yang diterimanya.


Flashback On


"Dika, ini Edo sekretaris ku," Hendro mengenalkan Edo pada Rudi yang kali itu mampir ke perusahaan.


"Kok laki sih Hen, biasanya kan sekretaris itu cewek."


"Mau kerja apa mau ngeceng," timpal Hendro.


"Kan bisa sekalian," jawab Rudi.


Keduanya tertawa.


"Pak Edo, ini Rudi Andika, pemilik sebagian saham perusahaan ini. Dia udah kelewat kaya, makanya nggak mau jadi pengusaha." Canda Hendro.


"Jangan gitu lah. Aku cuma tahu dunia bisnis itu keras, nggak sehat. Makanya aku milih jadi dokter biar kalau sahabatku ini sedang tak waras, aku bisa mengobatinya."


Flashback off.


"Tak berselang lama, Pak Hendro dijodohkan dengan ibu Santi, mama Mas Restu. Saya kurang paham bagaimana detail ceritanya. Hanya sedikit yang saya tahu bahwa sebenarnya ibu dan Pak Rudi sempat dekat."


"Papa tahu hal ini."


"Tahu, tapi setelah beliau bertunangan."


"Sebelumnya nggak tahu?"


"Sepertinya tidak, karena setahu saya pak Rudi sedikit tertutup terlebih dengan wanita, berbeda dengan bapak yang sangat pandai bergaul dan membawa diri. Jadi tak heran ketika beliau memutuskan menjadi pengusaha, beliau dengan mudah menggaet banyak relasi dan cukup di segani."


"Selanjutnya apa yang terjadi?"


"Pak Rudi jarang terlihat lagi, dia sibuk menjalani karirnya sebagai dokter yang memperkaya ilmunya dengan melanjutkan kuliah spesialis."


"Hingga suatu peristiwa membawa pak Rudi kembali. Saat itu ibu pergi belanja kebutuhan menyambut kelahiran Mas Restu. Sebenarnya sudah dilarang, namun bu Santi pergi diam-diam dengan alasan terlalu bosan hanya diam di rumah. Di jalan ibu tiba-tiba terpeleset dan mengalami perdarahan. Ketika di larikan ke rumah sakit kebetulan itu adalah rumah sakit milik pak Rudi. Di sana pak Rudi terpaksa melakukan operasi tanpa menunggu persetujuan bapak, karena bapak saat itu bersama saya sedang ada client penting hingga harus mematikan ponsel agar tak mengganggu pertemuan. Mas Restu berhasil selamat meski harus menjalani perawatan intensif. Masalah belum berakhir karena pasca operasi bu Santi kembali mengalami pendarahan, stok darah habis karena tak ingin membuang banyak waktu, pak Rudi yang kebetulan bergolongan darah sama dengan ibu segera mendonorkan darahnya. Beliau hingga harus turut mendapat perawatan karena banyaknya darah yang diambil dan stamina yang kurang baik."


Edo menjeda ucapannya, memberi waktu pada Dika untuk menerima semua.


"Selanjutnya gimana Om?" Dika kembali bertanya dengan mimik wajah yang sulit dibaca.


"Saat bapak kembali, beliau terpukul melihat bu Santi yang belum sadarkan diri dan mas Restu yang mendapat perawat intensif. Dia menemui pak Rudi yang juga terbaring dan mengungkapkan penyesalannya di sana. Saya ingat betul kalau bapak sempat berkata akan melepaskan bu Santi dan mengembalikan pada Pak Rudi."


TBC


Hahh, say something temen-temen.

__ADS_1


__ADS_2