
...*HAPPY READING*...
"Oke, stop."
Dika menghentikan mobilnya sesuai arahan Sigit. Sigit sudah melupakan perasaannya pada Rina. Bukan melupakan sih tepatnya, tapi berusaha menganggap perasaan itu tak pernah ada.
Sekarang teman sekelas Rina ditambah Dika tengah berhenti di depan sebuah restoran. Rina terpaku saat menatap restoran di depannya.
"Bengong aja lu," kata Nita sambil menepuk bahu Rina.
Rina hanya menyunggingkan senyum sebagai balasannya. Senyum terpaksa yang sangat tak sedap dipandang mata.
"Lu kenapa sih. Muka lu kayak nahan berak tahu!"
Rina tak menjawab. Matanya sibuk mencari Dika yang hilang tiba-tiba.
"Dika kemana ya?"
"Ke WC," jawab Nita asal.
"Masa iya?"
Rina mulai berjalan memasuki resto. Ia hafal betul bahwa Dika tak akan masuk ke toilet yang biasa digunakan pengunjung.
Nita menahan bahu Rina saat melihat temannya ngeloyor masuk resto duluan.
"Lu mau kemana sih?"
"Nyari Dika," jawab Rina dengan muka polosnya.
"Astaga. Lu udah lupa caranya bercanda ya."
Nita masih tak habis pikir kalau candaannya akan dianggap serius oleh Rina.
"Siapa yang bercanda."
Nita kehabisan kata. Ia memutar kepala Rina ke tempat Dika berada.
"Noh, di sana noh."
Senyum Rina terbit seketika.
"Bucin lu dah nggak ada obat," cicit Nita saat melihat Rina langsung menghampiri Dika yang tampak sibuk dengan ponsel yang menempel di telinga.
Rina langsung memeluk Dika, sementara Dika masih melanjutkan kesibukannya sambil sesekali mengusap lembut kepala gadisnya.
Teman-teman Rina sudah berdatangan.
"Rin!" panggil Nita.
"Duluan aja," jawab Rina masih dengan posisi yang sama.
"Itu tunangannya Rina seangkatan sama kita?" tanya salah seorang anak kepada Nita.
Nita mengangguk. "Doi setahun dibawah kita."
"What!" pekik 2 gadis di kanan kiri Nita.
"Berondong dong. Mereka dijodohin apa gimana sih. Kok udah pake acara tunangan segala padahal masih muda."
Nita menggidikkan bahu. "Gua juga nggak tahu cerita jelasnya."
"Tadi yang nelpon pasti mamanya, nyuruh dia cepet pulang, hihihi."
Nita menoleh ke arah Rina dan Dika.
"Kayaknya urusan kerjaan."
"Maksud lu?"
"Dika itu udah kerja, nerusin perusahaan orang tuanya, makanya dia stop sekolah formal dan homeschooling di sela pekerjaannya."
__ADS_1
"Terus kenapa udah tunangan."
"Kepo lu pada." Nita mempercepat langkahnya mengikuti Sigit yang berjalan paling depan.
Mereka menuju ruang besar di bagian resto yang lebih dalam. Ternyata di bagian atas resto ini terdapat tempat dengan view yang sangat indah.
Para remaja berseragam SMA ini berlomba-lomba untuk mengambil foto dengan angle terbaik. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk diupload di instagram mereka masing-masing.
Di saat para anak muda ini sedang asik bercanda ria dan mengabadikan momen, para pelayan datang dengan hidangan yang sudah dipesan sebelumnya.
5 pelayan sudah datang dengan masing-masing membawa 1 meja dorong. Setelah makanan-makanan itu ditata sedemikian rupa, Sigit berniat hendak memulai acara. Namun suaranya terdekat saat melihat entah berapa pelayan lagi yang datang mengantarkan makanan.
Sigit mulai gelisah. Ya Tuhan. Kayaknya kemaren nggak pesen sebanyak ini deh, uang patungan mana cukup buat bayarin ini semua.
Saat salah seorang pelayan kembali dengan meja dorong yang sudah kosong, Sigit segera mengejarnya.
"Mbak, Mbak!"
Setelah beberapa kali memanggil, akhirnya pelayan wanita itu berhenti juga.
"Maaf, ini pesanan atas nama Sigit kan?"
"Iya Mas, jawab pelayan ini ramah."
"Seingat saya pesanan saya tidak sebanyak ini."
"Maaf Mas, saya cuma disuruh mengantar, untuk detailnya saya tidak paham. Permisi."
Pelayan itu segera berlalu meninggalkan Sigit yang mulai panik.
Ini kalau ternyata bukan pesenan kita gimana? Masa iya sementara nunggu semua jelas temen-temen dilarang makan. Racau Sigit.
"Git, lu emang ketua kelas terdebes. Gokil tahu nggak. Dengan patungan yang nggak seberapa, lu bisa pesen makanan begini mewahnya."
Sigit tak mampu menjawab, bahkan tersenyum pun rasanya berat. Ia mulai berkeringat saat deretan pelayan tak putus-putusnya mengantar makanan.
Hingga semuanya selesai, Sigit masih diam di tempat.
"Iya, kapan."
Anak kelas IPA 1 mulai berisik, pasalnya Sigit masih diam saja saat makanan dirasa sudah tersaji semua.
"Sigit kenapa sih?" tanya Rina pada Nita yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Nggak tahu," jawab Nita sambil menggidikkan bahu.
"Jangan-jangan dia kesambet," bisik Rina.
"Masa iya sih..." Nita mulai berjalan menghampiri teman yang setahun terakhir sekelas dengannya ini.
Baru saja beberapa langkah berlalu, Rina tiba-tiba menahannya.
"Jangan Nit, serem tahu," cegah Rina.
Nita melepas tangan Rina yang menahan lengannya.
"Udah, tenang."
Nita kembali melanjutkan langkahnya.
"Git, are you okay?"
Sigit menelan ludah.
"Nit, ini ada yang nggak beres."
"Apanya?" tanya Nita penasaran.
"Gue nggak pesen..."
"Assalamualaikum semuanya..."
__ADS_1
Sigit harus menelan kembali ucapannya saat orang yang tadi mengaku sebagai tunangan Rina datang dengan seorang laki-laki yang terlihat tampan dengan usianya yang matang.
"Waalaikum salam..." jawab mereka yang beragama Islam.
"Maafkan anak saya yang tiba-tiba bergabung dengan kalian. Saya hanya ingin memeriahkan acara kalian, dan hidangan tambahan itu adalah persembahan dari restoran kami untuk kalian. Sebagai ucapan terimakasih telah menjadi teman bagi calon menantu saya dan selamat karena telah menyelesaikan ujian akhir SMA."
Banyak mata yang saling beradu pandang di ruangan itu, tak sadar bahwa ada satu diantara mereka yang tengah tersipu malu.
"Rin, itu bokap Dika?" bisik Nita.
Rina hanya mengangguk.
"E tunggu deh, berarti ini resto punya Dika dong?"
"Bukan, punya Ayahnya."
"Ya sama aja dong," lirih Nita.
Rina hanya menghela nafas, terlalu panjang kalau ia harus bercerita.
"Terimakasih telah memilih resto kami untuk acara kalian, dan enjoy the meal."
Rudi segera undur diri setelahnya. Dika masih menangkap wajah-wajah bingung dari rekan-rekan calon istrinya.
"Maafkan saya bikin kalian bingung, beliau tadi adalah ayah saya."
"Ohh..." terjawab sudah kebingungan teman-teman Rina.
"Saya juga baru tahu kalau resto yang kalian tuju adalah milik ayah saya, jadi aji mumpung saya mau ikut nimbrung, itung-itung ucapan terimakasih karena saya sudah diizinkan bergabung."
"Dan, kalau masih ada yang ingin dipesan, kalian pesan saja apapun yang kalian mau, nanti tagihannya biar sama saya."
Rina berjalan menghampiri Dika.
"Sayang, ini berlebihan."
Dika menggeleng. Dia meraih kedua tangan Rina dan menggenggamnya.
"Nggak ada yang berlebihan buat kamu. Saya nggak merasa terbebani sama sekali, dan bahkan nanti apapun yang saya lakukan, kamu lah yang yang selalu menjadi tujuan untuk saya bahagiakan."
Dika mencium tangan Rina yang disambut sorak sorai para muda-mudi yang ada di sana.
"He, kalian! Jangan di sini kalau mau pamer kemesraan. Kita banyak yang nggak ada pasangan nih," canda Nita.
"Sekali lagi maafkan saya, untuk sekarang saya kembalikan Rina pada kalian," ucap Dika sambil mempersilahkan Rina kembali bergabung dengan teman-temannya.
Rina sempat memeluk Dika sekilas sebelum ia menjauh.
"Dan Sigit, silahkan kamu melanjutkan acara."
Setelahnya, Dika berjalan ke salah satu sudut di dekat jendela, sementara Sigit tengah berusaha mencairkan kebekuannya.
Setelah sebuah tarikan nafas, Sigit mulai berbicara.
"Oke teman-teman. Pertama-tama saya ingin mengucapkan banyak terimakasih, karena kalian sudah mempercayakan kelas pada saya setahun terakhir. Banyak suka duka yang kita lalui bersama selama SMA, namun sebentar lagi kita akan berpisah dan berjuang untuk hidup masing-masing kedepannya."
Banyak yang merasa haru mendengar kata-kata sederhana Sigit, bahkan sudah ada yang terlihat menitikkan air mata.
"Sebelum kita berpisah, saya harap akan tetap ada wadah untuk menjaga silaturahmi kita, dan saya berharap kalian mau memaafkan kesalahan saya baik yang saya sengaja atau pun tidak."
"Saya rasa cukup sekian, dan terimakasih untuk Dika yang sudah menyemarakkan acara."
Dika tersenyum dari sudut ruangan. Dan acara makan-makan pun dimulai. Semua merasakan suka cita diujung kebersamaan mereka.
Selepas membuka acara Sigit pun tak mampu menahan air mata saat teman-teman tak segan mengucap sanjungan dan kesan terhadap kepemimpinannya. Air mata bahagia karena apresiasi yang didapatnya, dan air mata kecewa karena gadis yang menghiasi hatinya ternyata sudah bahagia dengan pria yang sepertinya cukup sulit untuk diimbanginya.
TBC
Agak panjang ya part ini. Hehehe
Enaknya kisah Dika dan Rina *End***nya gimana ya, 😅**
__ADS_1