
HAPPY READING
Rista sangat kesal saat Rina membiarkan dia menghabiskan 1 mug es krim rasa pisang yang sangat tak disukainya. Bukannya langsung diberi tahu, malah Rina malah diam saja dan menertawakannya saat Rista menyadari apa yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya. Jadi lah sekarang adik kesayangan suaminya yang kini juga menjadi adik kesayangannya merajuk dan memaksa segera pulang. Padahal sesuai rencana Rina masih ada beberapa kedai es krim yang ingin dia datangi untuk melanjutkan project yang ia gadang sebelumnya.
“Rista, please ya please," mohon Rina sambil menggoyang-goyangkan lengan adik iparnya. "Masa kamu tega mempersulit ibu hamil yang masih harus bekerja ini…” lanjut Rina dengan nada.
“Ya siapa juga yang suruh kerja. Apa kak Restu sudah semiskin itu sampai membiarkan istrinya yang sedang hamil untuk membantu pekerjaannya,” sarkas Rista.
“Ya tapi proyek ini penting untuk Kakak Ris. Karena proyek ini tercetus karena keinginan dari calon keponakan kamu yang masih baru saja terbentuk di rahim Kakak.”
“Kok bawa-bawa calon keponakan. Jangan bawa-bawa dia masuk dalam konspirasi yang Kak Rina buat,” ujar Rista masih dengan nada kesalnya.
“Bener Ris. Tanya saja Lili kalau nggak percaya. Ya kan Li?”
Lili memang menjadi saksi bagaimana kecintaan Rina terhadap es krim sejak ia awal bekerja. Ia juga turut menjadi korban bagaimana sesaknya menghabiskan es krim, dan militannya Rina terhadap strawberry.
Rina merasa aneh saat Lili yang biasanya akan menyahut saat ia bicara, tapi bedan dengan saat ini. Karena penasaran, Rina menoleh untuk mengecek asistennya ini. Dan wownya, ia mendapati asistennya ini sedang menyangga dagunya dengan kedua tangan yang lengannya disatukan di atas meja.
“Lili!!”
Brug!!!
Lili meringis saat kepalanya yang ambruk dengan mengenaskan di atas meja.
Plak!!
Belum juga hilang rasa sakit di kepalanya, Lili harus menatap malang lengannya yang digeplak oleh Rina.
Plak plak plak!!!
“Addd dduuuhhh….” Lili tak berani berteriak. Ia hanya berani meringis dan merintih lirih karena serangan Rina dengan tambahan tenaga dan bumbu dari kesalnya karena diacuhkan oleh asistennya.
“Kamu tadi ngapaiiiiiiinnnn???”
Setelah Rina menghentikan serangannya, Lili menegakkan kepalanya yang ambruk tadi. Ia meringis dan menatap enggan nonanya. “Maaf Nona…”
“Now, answer my question."
Rina melipat tangannya di depan dada. "Kamu kerja untuk siapa?” tanya Rina sambil memicingkan mata.
“Untuk Nona Rina,” jawab Lili cepat.
“Lhah terus tadi yang kamu perhatikan siapa?”
__ADS_1
“Nona Rista,” jujur Lili.
Rina mendengus. “Kamu tahu apa yang terjadi kalau sampai kamu mengabaikan saya?”
Lili mengangguk mengerti.
“Jangan ngangguk-ngangguk aja. Jawab gimana akibatnya?!”
Lili menghela nafas. Menghadapi kedua wanita cantik nan kaya raya ini membuatnya capek juga.
“Ih, Kakak. Jangan neken Lili dong. Kasihan…”
Lili berbunga-bunga saat merasa dibela oleh idolanya. Jika saja ia tak ingat ada banyak orang di sekitarnya, mungkin sekarang ia akan salto saking bahagianya.
“Lhah, siapa yang tadi duluan marah dan emosi banget sama Lili, begitu tahu dia penggemar kamu, langsung berubah aja jadi ramah. Emang tadi kalian kenapa sih? Belum kejawab loh dari tadi…” tutur Rina.
“Ya nggak gitu sih, tapi…”
Rista meraih satu lagi cangkir es krim. Es krim yang kini dia ambil adalah es krim rasa coklat yang sudah sedikit mencair. Rista memastikan bahwa ia tak akan asal ambil seperti tadi.
Melihat Rista melakukan berbagai cara agar Rina tak terus menanyainya, sekarang wanita hamil ini menatap Lili.
“Sebenarnya tadi kalia kenapa sih?” tanyanya dengan nada rendah.
“Li…” panggil Rina lagi.
Lili membalas tatapan Rina takut-takut. Tadi Nona Rista sudah bilang tak akan marah kan ya kalau aku jujur? Batin Lili dalam hati.
Lili menghela nafas lagi. “Maafkan saya Nona. Saya sadar sebagai seorang fans saya sudah terlalu lancang sampai berani mengenakan pakaian Nona. Sekali lagi saya minta maaf Nona. Saya benar-benar tak bermaksud mengusik kehidupan pribadi Nona Rista. Saya benar-benar tak tahu jika anda adik pak Restu, saya…”
“Stop, stop, stop.”
Bukan hanya Lili yang berhenti bicara, namun kini Rista pun berhenti memakan es krimnya.
“Jadi kamu marah karena Lili make baju kamu?” tanya Rina tak percaya. “Sejak kapan kamu itung-itungan kaya gini?”
Bukan tanpa alasan Rina terkejut seperti ini, pasalnya selama sekian lama mengenal kakak beradik ini, mereka tak akan marah hanya dengan masalah seperti ini.
Rista nampak acuh. Ia masih asik melanjutkan makan es krim di tangannya. Akhirnya Rina pasrah dan mengalihkan pandangan kepada Lili.
“Lili, bisa kamu jelaskan?” tanya Rina lagi karena menganggap penjelasan Lili tak masuk akal untuknya.
Lili menunduk. Ia merasa sudah mengatakan semua. Ia benar-benar tak tahu kesalahan apa lagi yang ia perbuat sehingga membuat idolanya marah seperti ini.
__ADS_1
“Lili…”
“Iya Nona.”
“Kenapa kamu jadi diam saja?”
Lili kembali mencuri pandang sejenak ke arah Rista, namun menunduk segera karena Rista benar-benar mengacuhkannya.
“Saya benar-benar tak tahu keslahan apa lagi yang saya perbuat…” ucap Lili akhirnya karena ia merasa tak menutupi apapun dari nonanya.
Rista kasihan juga melihat wajah frustasi asisten kakaknya ini. Lili memang tak tahu apa penyebab kekesalannya, namun ia lah dalang kesalah pahaman ini. Tapi Rista merasa tak mungkin juga mengungkapnya di depan Lili dan Rina tentang apa penyebab kekesalannya.
“Udah lah Kak, nggak perlu dibahas lagi. Kan aku udah janji juga akan memaafkan dia kalau dia mau jujur mengakui yang sebenarnya.”
“Jadi benar kamu marah karena alasan yang baru saja Lili tuturkan?” desak Rina karena ia tak tenang jika dalam hatinya masih ada penasaran.
“Kak please. Aku nggak mau bahas. Dan Lili, aku anggap sekarang sudah tak ada masalah lagi diantara kita."
Seteleh berbicara dengan Rina, kini ia beralih menatap Lili. Dan satu lagi, jangan pernah kasih tahu sama teman-teman kamu kalau kamu mengenalku di dunia nyata. Kalau sampai hal ini bocor…” Rista menggerakkan telunjuknya di depan wajah Lili.
“Kalau bocor?” ulang Rina yang meminta Rista segera menyelesaikan ucapannya, sementara Lili masih diam dengan perasaan harap-harap cemas menantikan kalimat lanjutan yang belum selesai Rista ucapkan.
“Udah, udah, udah, udah…” Rista menggeleng-geleng dan
mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. “Aku nggak mau bahas lagi. Titik.”
“Tapi Ris…”
“Kak!”
Rina terkejut karena bentakan Rista.
“Jangan bahas lagi. Atau Rista pergi,” pinta Rista dengan sungguh-sungguh.
“E jangan, jangan.” Rista meraih tangan Rista yang sudah berdiri. “Kamu duduk manis sini baik-baik, Kakak janji nggak akan nanya lagi,” putus Rina yang nampak terpaksa.
Rina masih mempertahankan senyumnya meski pun Rista sendiri tahu itu palsu. Sejak awal perkenalannya, Rista dan Rina menang sudah dekat. Mereka merasa cocok dan nyambung karena keduanya sama-sama susah diam dan punya rasa ingin tahu yang tinggi juga. Itu lah yang membuat mereka dekat meski di awal perkenalannya Dika bukanlah pacar Rina.
Rina dan Rista menuntaskan rindu dengan terus bercanda dan menghabiskan waktu bersama. Karena sore nanti Rista harus pergi lagi ke kota tetangga yang menjadi tempatnya menimba ilmu.
Sejak SMA Rista sudah memutuskan untuk hidup mandiri. Mandiri untuk melakukan semuanya sendiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Bukan Rudi sebagai ayahnya atau Dika sebagai kakaknya tak mampu membiayai segala keperluan Rista, tapi atas keinginannya sendiri ia tak ingin jika hidupnya terlalu tergantung dengan orang lain. Ia tak mau merasa kecewa lagi saat orang yang ia jadikan tempat bergantung harus pergi meninggalkannya seorang diri seperti saat ini.
Bersambung…
__ADS_1