
HAPPY READING
Dengan langkah berat Hana menayunkan kakinya menghampiri 2 pria yang sepertinya sedang tak dalam mode bekerja.
“Kenapa kamu lama sekali, untuk Rio masih mau menunggu di sini…” ujar Andre saat Hana measih berusaha melangkah.
Hana menelan ludah. Apa benar yang aku dengar ini? Apa benar Kak Rio menunggu aku hadir saat ini?
“Kenapa kamu berdiri saja, duduk sini…” Sekarang giliran Rio yang bersuara.
Bukannya segera duduk, Hana kian kaku di tempatnya. Matanya memanas siap menumpahkan air mata kapan saja.
Apakah ini pertanda baik? Hana masih betah bicara dalam hati.
Setelah sebuah tarikan nafas, Rio mengkit dari tempat duduk dan menyingkirkan kursi yang semula menjadi tempatnya. Setelah tak ada lagi yang menghalangi, Rio segera meraih pundak Hana menarik wanita kurus ini ke dalam pelukannya. Pelukan pertama yang ia lakukan dengan adik yang selama ini ditolaknya.
“Hiks, hiks…” Hana terdengar mulai sesenggukan. “Hwaaa!!!!” Semula Hana menahan tangisnya agar tak bersuara, namun sesuatu yang besar mendesak keluar membuatnya tak bisa menahan ledakan.
Andre tersenyum di tempatnya. Kali ini ia rela Hana disentuh pria, bahkan pria itu tanpa ragu mendekap kekasihnya di depan matanya. Ia justru khawatir pada pintu yang sepertinya tak Hana tutup dengan rapat. Ia tak ingin kekasihnya ini malu karena harus ada yang melihat saat ia menangis meraung seperti ini.
Sambil sesekali melirik pintu, Andre melihat bagimana sepasang saudara ini meluapkan emosinya, bahkan Rio yang notabene seorang pria juga nampak sesekali menyeka air mata. Ia juga mengusap punggung Hana yang dengan kuat bergetar di dalam dekapannya.
Dan tepat saat ia kembali mengamati pintu, pandangannya bertemu seseorang yang ia yakini sedang mencoba melihat apa yang terjadi di dalam. Tanpa lebih lama membuang waktu, Andre segera mengisyaratkan agar pintu ditutup rapat.
“Udah, udah… kamu bukan anak kecil Hana, kenapa harus menangis seperti ini…” ujar Rioa yang niatnya menenangkan adik beda ibunya ini.
“Hiks, hiks… Hwwaaaaa…” namun bukannya makin tenang, Hana justru kembali menangis dengan kencang.
Jika tadi Rio terharu sekarang dia terlihat pusing melihat Hana yang tak jua berhenti menangis. Saat ia coba bicara, adik tirinya ini justru kembali mengencangkan tangisnya. Sejak tadi Hana memang tak berkata apa-apa. Ia hanya menangis meraung meluapkan semua yang sepertinya tak akan lepas jika hanya dengan bicara.
“Apa dia memang seperti ini?” tanya Rio pada Andre yang duduk di sofa yang berbeda dengan dia dan Hana.
“Kok tanya, kan kamu kakaknya…” goda Andre pada pria yang baru hari ini mengakui Hana sebagai adiknya.
__ADS_1
“Aku mau ralat. Sepertinya dia bukan adikku, karena aku tak punya adik yang cengeng dan tak bisa diajak bicara seperti ini…” Rio sengaja bicara seperti ini karena ia yang melihat saja sudah lelah, bagaimana dengan Hana yang terus menangis tanpa henti.
Mendengar apa yang Rio ucapkan Hana langsung menegakkan tubuhnya dan menyeka air matanya.
“Ak, ak, hgk, ak, hgk, ah….”
Hana tak bisa bicara. Ia menyerah karena ia terus cegukan tanpa henti.
“Nih…” Andre mengulurkan sesuatu.
“Kok, hgk, kok, hgk, hhhh…” Hana tertunduk lemas. terlalu lama menangis membuat ia cegukan hingga sulit berbicara.
“Iya, tissue basah bukan tissue kering. Aku nggak mau Rio lari saat melihat wajah kamu yang menyeramkan seperti ini,” jelas Andre yang paham Hana ingin melayangkan protesnya.
Dengan wajah cemberut, Hana menerima tissue yang Andre ulurkan. Ia memang menangis hebat, dan berkali-kali mengusap air matanya dengan kasar di sela tangisannya. Sehingga make up yang ia pakai meluber sana-sini.
“Kamu cuci muka ya, setelah ini kita lihat Indah di rumah sakit,” ujar Rio pada Hana.
“Mbak Indah kenapa?” tanya Hana yang tanpa ia sadari ia bisa bicara selancar ini.
Hana langsung bangkit. “Kita ke sana sekarang.”
“Jangan buru-buru, bersihkan dulu wajah kamu,” ujar Rio mengingatkan.
Andre hanya tersenyum jahil saat tanpa sengaja bertemu tatap dengan Hana. Ia tahu kekasihnya ini punya banyak pertanyaan termasuk bagaimana Rio tiba-tiba mau mengakuinya. Padahal sudah puluhan tahun ia berusaha, Rio sama sekali tak mau menerimanya. Dan setelahnya, Hana segera melakukan apa yang dua pria ini minta. Ia segera ke kamar mandi dan membersihkan make up di wajahnya.
“Ndre, sudah hampir 15 menit loh, kamu nggak coba lihat Hana?” ujar Rio yang merasa Hana pergi terlalu lama.
“Nggak apa-apa,” jawab Andre dengan santainya.
“Nggak apa-apa gimana. Jangan-jangan dia pingsan.” Rio nampak khawatir sekarang.
“Nggak mungkin Yo. Hana pasti sedang pakai make up sekarang,” jelas Andre yang hafal bagaimana kekasihnya.
__ADS_1
“Kan kita cuma nyuruh dia nyuci muka.” Rio masih kekeh dengan kekhawatirannya.
“Mana mau? Kamu tahu sendiri seputih apa kulit dia, kalau nggak pakai make up dia nggak percaya diri karena merasa seperti mayat hidup.”
Rio memperhatikan tangannya yang tak terbalut jas.
“Nggak jauh beda sama kulit kamu,” imbuh Andre yang dapat menerka apa yang tengah dipikirkan pria yang sebentar lagi menyambut kelahiran anak ketiganya.
“Ha ha ha ha…” Rio tertawa mendengar ucapan Andre.
Mau ditolak seperti apa Hana dan Rio tetaplah saudara. Tak hanya kenampakan fisik mereka yang banyak kemiripan, tapi juga keteguhan mereka saat punya keinginan. Saking teguhnya, mereka bahkan tak segan untuk break the limit saat batas kemampuan menghadang keinginan yang mereka perjuangkan.
Selain itu paras yang rupawan, kulit yang sangat putih untuk ukuran orang Indonesia pada umumnya, mata sipit hidung mancung, bibir tipis. Rio dan Hana punya semua. Hanya saja untuk tinggi badan Rio berperawakan sedang untuk ukuran pria, namun Hana terhitung tinggi untuk ukuran wanita. Mungkin ini gen yang diwariskan oleh masing-masing mama yang melahirkannya.
“Tuh kan, apa ku bilang,” ujar Andre saat Hana muncul dengan make up yang sudah di touch up dan diperbaiki.
“Bilang apa?” tanya Hana yang tahu obrolan apa yang terjadi antara Andre dan Rio sebelumnya.
“Kamu cantik,” jawab Andre sekenanya.
“Ssss, huuhhh… dadaku sesak melihat pemandangan ala ABG seperti ini. Ayo lebih baik kita pergi,” ajak Rio pada sejoli ini.
“Ayo.” Andre bangkit dan mengancingkan jasnya.
Namun tiba-tiba Hana menahannya. “Kamu ikut juga, pekerjaan kamu gimana?”
“Kamu pikir aku hampir semalam tidak tidur untuk apa Sayang…”
“Oh…” Sekarang Hana paham, ternyata semua ini sudah dengan baik disiapkan Andre untuknya.
Rio tak menyahut. Meski Andre belum cerita, ia tahu pria ini sudah tinggal bersama adiknya. Ia tahu ini salah, namun ia tak ingin menyalahkan karena apa yang terjadi padanya dulu tak jauh beda dengan cerita Andre dan Hana. Hanya saja restu orang tua tak pernah menjadi kendala hubungannya dengan Indah, tapi yang bermasalah adalah otaknya yang tercemar racun kebencian melihat kebahagiaan dan keberhasilan orang.
Rio yang berjalan paling depan berinisiatif membuka pintu sekarang. Andre yang di belakangnya mempersilahkan Hana untuk keluar dulu. Baru ia yang paling belakang melewati pintu tanpa menutupnya.
__ADS_1
Bantu aku Ya Tuhan. Permudah semuanya Ya Tuhan, batin Andre di sela langkahnya.
Bersambung…