
...*HAPPY READING*...
Dian dan Rina benar-benar sudah kembali seperti sedia kala.
Maaf memaafkan memang indah, selain itu juga membuat hati menjadi tenang.
Namun bukan hal itu kejutannya. Kejutan pada scene ini adalah keakraban Dika dan Andre.
Awalnya Rina dan Dian heran, namun mereka akhirnya merasa senang, karena tak hanya mereka yang akrab melainkan pacar-pacar mereka.
Tak disangka Andre dan Dika punya ketertarikan yang sama pada dunia bisnis. Meskipun awalnya Dika hanya terpaksa, namun seiring berjalannya waktu ia merasa nyaman berkutat dengan bisnis-bisnis yang sudah diristis papanya.
"Dika, magrib yuk..."
Dika mengecek jam di pergelangan tangannya.
"Ayo..." Dika segera bangkit dari tempat duduknya.
"Kalian..."
Dika sengaja menggantung ucapannya.
"Kalian sholat aja, kita masih pengen di sini."
Akhirnya dua pasangan itu berpisah. For your information ya, Dian dan Andre beda keyakinan dengan Dika dan Rina.
Selepas magrib Dika dan Rina melanjutkan jalan-jalannya. Sedangkan Dian dan Andre sudah tak bersama mereka. Kini dua sejoli ini tengah mengantri di depan bioskop dengan sebuah film romance manjadi incaran mereka.
"Sayang, kamu nggak capek?" tanya Rina yang sadar benar bagaimana sibuknya Dika kini.
"Kalau capek aku masih bisa nahan, tapi kalau rindu aku udah nggak mampu."
Rina mengamit erat lengan Dika dan menyembunyikan wajahnya di sana. Lagi-lagi ia tak dapat mencegah lengkung indah yang tercipta di bibirnya.
"Kamu ngapain sih?"
Harusnya nggak perlu nanya Dika. Kan situ udah tahu kalau Rina lagi nutupin mukanya yang merah.
Dan benar saja, Rina enggan untuk menjawab. Ia masih berusaha menyembunyikan wajahnya di lengan Dika.
Tapi bukan Dika namanya jika ia rela melewatkan wajah cantik kekasihnya, terlebih di saat seperti ini. Saat waktu tak membiarkan mereka saling bersua, wajah merah yang mati-matikan disembunyikan Rina ini adalah salah satu hal yang amat dirindukannya.
90 menit berlalu dengan cepat, tak terasa kini sudah jam setengah 9 saja.
"Sayang, abis ini mau kemana?" tanya Dika saat berjalan meninggalkan bioskop.
"Pulang lah, udah malem kan." Suara Rina memelan diakhir kalimat.
Karena tak ada sahutan, akhirnya Rina mendongak menatap Dika yang masih fokus menatap ke depan.
"Kamu nggak mungkin nginep di rumahku kan?"
Pertanyaan macam apa ini Rina. Rina merutuki kebodohannya dengan menunduk menatap jalan.
Dika tak menjawab. Ia terus melangkah sambil mengenggam tangan Rina.
"Mau kemana?" tanya Rina ketika keduanya berada di dalam lift.
"Ke rooftop."
"Ngapain?"
"Cuma pengen ngajak kamu lihat bintang."
"Bintangnya nggak bakal keliatan."
Dika menunduk menatap kekasih mungilnya yang ternyata juga tengah mendongak menatapnya.
"Kenapa emang. Aku sudah memastikan saat ini tak ada awan yang menutupi bintang."
__ADS_1
"Ya kalau mataharinya sudah bersinar seterang ini, jelas bintang tak akan mampu menunjukkan sinarnya."
Dika terkekeh dan memutus kontaknya dengan Rina.
"Dari mana kamu belajar ngomong kayak gini?" tanya Dika sambil mencubit gemas hidung Rina.
Bukannya merasa sakit, Rista justru tertawa dengan perlakuan Dika.
"Dari kamu lah, dari siapa lagi."
Dika melepaskan hidung Rina dan memainkan jarinya di pipi Rina.
Dan sudahlah, dengan wajah sedekat itu sudah pada tahu kan mereka bakal ngapain.
Ting!
Baru saja kedua benda kenyal itu menempel, suara dentingan lift langsung membuat keduanya menjauh.
Rina salah tingkah, namun itu hanya sekejap. Ia berhasil dibuat kagum dengan apa yang ada di hadapannya ini. Dia berjalan meninggalkan lift yang berada di bagian teratas mall tempat ia menghabiskan malam minggunya bersama Dika ini.
"Dika..."
Rina terpaku di tengah hamparan lilin warna-warni yang ada di sini.
Kekagumannya sirna karena menemukan sebuah kursi santai di salah satu sudut bukannya satu set meja dengan dua kursi berisi hidangan makan malam dilengkapi lilin dan minuman.
Dika sadar bahwa Rina terpaku menatap kursi santai yang bagi kebanyakan orang kontras dengan taburan lilin dan bintang di angkasa.
"Kamu suka apa kecewa?"
"Suka lah, tapi..." Rina memaksakan senyumnya.
Dika membawa Rina berjalan menghampiri sofa dan mengajaknya duduk di sana.
"Awalnya aku pengen bikin candle light dinner, tapi hari ini kita udah capek banget, jadi menurut aku kursi santai yang empuk ini lebih cocok untuk menemani malam kita."
"Dika, thank you..."
Dika mengangkat lengannya dan menyandarkan Rina di dadanya.
Tak berselang lama, seseorang datang dengan membawa coklat panas dan makanan ringan.
Sempat Rina ingin menegakkan tubuhnya namun dicegah oleh Dika.
"Kamu sengaja nyiapin ini?"
Dika mengangguk.
"Aku tadi rencananya ngajak kamu ke sini abis isya', tapi karena kamu ngaja nonton nggak jadi deh."
"Yaahhh, maaf ya..." ucap Rina dengan penuh sesal.
Tak berselang lama, datang lagi dua orang dengan membawa makanan.
Dika masih meminta Rina bertahan di posisinya.
"Jangan gerak, aku masih kangen."
Itu lah yang diucapkan Dika saat Rina merasa segan dengan waiters itu.
"Tapi aku malu."
"Makanya aku ngumpetin muka kamu."
Rina mendengus. Ia masih bertahan hingga orang-orang itu pergi darinya.
"Malu ya..." tuduh Rina.
Dika melonggarkan pelukannya.
__ADS_1
"Karena aku nggak suka terlalu banyak orang yang mandangin kamu."
Rina menegakkan tubuhnya dengan muka cemberut.
"Aku nggak perlu di protect sebegitunya Dika. Kamu tadi nggak lihat apa, berapa banyak mata para wanita yang mandangin kamu kayak orang kelaparan, terus bisik-bisik pas aku kelihatan."
Dika tertawa kecil dan menarik tubuh Rina untuk kembali merapat kepadanya.
"Ya biarin lah. Orang itu mata punya mereka."
"Curang kamu mah."
Rina kembali menegakkan tubuhnya.
"Curang gimana sih sayang."
"Ya aku diumpetin, sedangkan kamu mau show off," ketus Rina.
Dika tak kembali membawa Rina untuk memeluknya, namun ia lebih memelih meraih tangan dengan jemari mungil itu untuk menggenggamnya.
"Makan yuk."
Dika mengajak Rina untuk memakan steak yang terhidang di hadapan keduanya.
"Aku udah ijin sama Om Reno tadi. Kamu tenang ya."
Rina hanya mengangguk dan mulai makan dalam diam.
"Aku adalah wajah dari Surya Group," ucap Dika tiba-tiba saat keduanya telah menyelesaikan makanannya.
"Saat ini belum banyak yang mengenalku, namun seiring berjalannya waktu, akan semakin banyak orang yang melihatku."
Rina diam. Ia tak mampu menutupi kecemasannya. Aku bukan siapa-siapa dibanding kamu. Aku tak punya hal istimewa yang membuatku merasa pantas untuk bertahan di sampingmu.
"Mukanya kok gitu sayang?" tanya Dika bersama sebatang rokok yang sudah terselip di jarinya.
Rina hanya menggeleng dengan memegang coklat yang tak lagi panas itu di kedua tangannya.
"Aku nggak bodoh ya."
"Kenapa sih harus aku?"
Dika mengernyit.
Rina mendesah karena ia tak ingin terlalu banyak berbicara menjelaskan posisinya pada Dika.
"Kamu terlalu, terlalu, dan terlalu."
"Terlalu apa sih sayang, ngomong yang jelas dong."
Sekali lagi Rina menghela nafas.
"Kita berada di status sosial yang berbeda, kamu punya segalanya, kamu tampan, kamu punya otak yang cemerlang, kamu..."
"Terus mananya yang terlalu..." potong Dika.
"Kamu terlalu sulit aku jangkau, kamu..."
Mata Rina membulat. Dika tak membiarkannya terus berbicara. Ia mengerjap-ngerjap mencerna apa yang terjadi padanya.
Rina meraba bibirnya yang masih basah.
"Dan aku terlalu sayang sama kamu."
Dalam sekali tarikan, kedua ***** itu menyatu, saling me***at dan m***isap.
Dosa, sampai kapan kamu akan terus membayangi kami. Rina memejamkan mata dan bersama Dika menyalurkan segenap rindunya di sana.
TBC
__ADS_1
Pengennya bikin cerita dengan karakter perfect tanpa dosa. Tapi rasanya kurang manusiawi aja.
Enjoy ya, 🙏😊