Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Amunisi


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


"Pagi Pak Restu..."


"Selamat pagi Pak..."


"Selamat pagi Pak..."


Seluruh karyawan yang berpapasan dengan Dika tak pernah absen menyapa bosnya ini, namun tak pernah satu pun dibalas oleh Dika. Jangankan dibalas, sekedar menatap pun enggan. Ia terus saja berjalan lurus ke depan.


Rina yang berjalan dibelakang hanya mampu tersenyum segan kepada setiap orang yang diacuhkan suaminya.


Ting


Dika dan Rina masuk lift dan tak lagi ada sapaan karena hanya ada mereka berdua.


"Sayang, kamu kok judes banget sih. Kalau males jawab, ya setidaknya tersenyumlah."


"Nggak ah. Senyumku untuk kamu saja."


Rina menghela nafas.


"Gini loh, kalau sebagai bos kamu itu ramah, para pegawai juga pasti seneng hatinya, kalau mereka seneng hatinya pasti bakal tambah bagus kerjanya. Nah kalau mereka bagus kerjanya, perusahaan kan jadi untung tu. Kalau perusahaan untung, kamu kan makin kaya. Kalau kamu makin kaya, aku kan bisa makin enak hidupnya. "


Tuk


" Aadduuuuhhhh.... Kok diketok sih," protes Rina sambil mengusap jidat mulusnya.


" Ya kamu nggak bersyukur banget. Apa selama ini hidup kamu kurang enak? "


" Ya enak sih. Intinya aku mau tahu kalau ramah itu nggak bikin rugi. "


" Aku nggak akan debat kamu sekarang, dan aku akan ngikut mau kamu keluar lift ini sampai ruangan aku."


"Jangan nyesel setelah melihat apa yang terjadi," lanjut Dika memperingati.


Rina mendongak menatap suaminya yang menjulang tinggi. Ia sekarang malah jadi bingung sendiri.


Ting


Pintu lift terbuka, dan Dika segera keluar bersama Rina.


"Pagi Pak."


"Selamat pagi Pak Restu."


"Selamat pagi Bapak."


" Pagi Pak Restu."


Dika masih tak menjawab, hanya saja ia mengembangkan senyum di wajahnya sejak pintu lift terbuka.


Tepat di depan pintu ruangannya, dia segera memutar badan dan menatap para karyawan. Rina masih penasaran dengan apa yang akan suaminya lakukan.


"Selamat pagi semuanya dan selamat bekerja."


Dika tak menunggu jawaban dari para stafnya dan meneruskan langkah memasuki ruangan.


Ha? Cuma gitu doang? Apanya yang bikin nyesel?

__ADS_1


Melihat Dika masuk ke dalam, buru-buru Rina mengikutinya.


"Nah kan, nggak terjadi apa-apa kalau kamu ramah sama mereka," kata Rina sambil mendudukkan pantatnya di meja kerjanya yang berada di ruangan yang sama dengan Dika.


"Lihat aja nanti," jawab Dika sambil mulai menyalakan laptop di hadapannya.


Rina tak mau ambil pusing.


"Kalau ada yang harus aku kerjakan kasih tahu ya, aku mau melanjutkan ini."


Niatnya mau mulai kerja, tapi Dika justru asik memperhatikan istrinya. Sebenarnya kamu tak perlu membuktikan apa-apa pada dunia, dengan jadi diri kamu sendiri kamu sudah sangat luar biasa.


Tok tok tok


Baru saja Rina bangkit dan hendak membuka pintu, namun pintu sudah terbuka dan memunculkan Hana dengan nampan berisi minuman dan kotak makanan.


Hana berjalan melewati Rina yang mejanya tak jauh dari pintu menuju ke arah Dika tak tampak belum fokus pada pekerjaannya.


"Permisi Pak."


Hana menyuguhkan secangkir kopi dan membuka kotak makanan berisi sandwich.


"Karena pak Andre sedang sibuk dan sepertinya asisten anda belum tahu apa yang harus ia kakukan, maka saya yang berinisiatif membuatkan kopi spesial untuk Bapak. Ini juga ada sandwich buatan saya sendiri. Silahkan dinikmati."


Mata Rina membola mendengar apa yang barusaja Hana katakan.


Sementara itu, Hana nampak membungkuk untuk membuka kotak bekalnya.


Kenapa gitu banget gayanya. Kan buka kotak bekal cukup di tekan. Batin Rina yang mulai geram.


Setelah semuanya selesai, Hana masih diam ditempat sambil sesekali menatap Dika. Ia berlagak merapikan bajunya menciptakan gerakan yang membuat Rina tak nyaman melihatnya.


" Apa masih ada lagi? "


Hana tampak terkejut dengan perubahan sikap CEO nya ini.


"Apa pak Andre tak menyampaikan pada kalian, apapun keperluan saya harus melewati Rina. Kalau pun dia tak bisa, itu jadi urusan saya. Kamu tidak berhak mengambil alih dan merasa punya hak untuk mengambil keputusan."


"Jadi jangan hanya karena saya menyapa kalian, kalian bisa berubah seenaknya. Mengerti."


Oh, I got the point. Batin Rina.


"Silahkan keluar, dan bawa ini semua."


Hana terlihat tak terima dengan perlakuan ini, tapi ia harus bersabar saat ini.


"Baik Pak." Hanya itu yang mampu Hana katakan.


Hana segera undur diri. Ia sempat melambatkan langkah saat lewat di samping Rina. Sepertinya Hana ingin mengabarkan berdera perang dengannya.


Pintu tertutup dan wajah kaku Dika mengendur seketika. Ia berjalan menghampiri Rina yang masih berdiri dibalik meja kerjanya.


Dika menahan Rina yang hendak duduk dan justru mengangkat tubuhnya ke atas meja.


"Mau ngapain?" tanya Rina karena berada begitu dekat dengan wajah suaminya. Bahkan kini nafas Dika terasa hangat membelai wajahnya.


"Mau lihat muka kamu," jawab Dika sambil mencubit hidung istrinya.


Rina membalas tatapan sang suami. Keduanya tersenyum dengan mata saling mengunci. Sedetik kemudian keduanya mulai berpagut mesra.

__ADS_1


Jika sudah seperti ini Dika pasti tak bisa menahan diri. Tangannya akan bergerilya untuk bermain di tempat favoritnya. Jika dulu sebelum menikah mereka harus segera berhenti jika sudah sampai tahap ini, maka kini mereka sungguh menikmati setiap aktivitas ini.


"Udah?" tanya Rina saat Dika membebaskan bibirnya.


"Belum. Aku belum menyapa mereka pagi ini."


Perlahan Dika bergerak turun.


"Mau kemana?"


"Mau ngisi amunisi."


Rina melepaskan cekalannya. Ia menggigit bibir untuk meredakan gugup dan gelisah. Ia harus tetap waras karena ini ada di ruang kantornya.


***


Meeting siang baru selesai dilakukan. Dika keluar bersama Rina dan Andre di kedua sisinya.


"Andre, mau gabung makan siang bersama kami?" tanya Dika.


"Nggak usah Bos, saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan."


"Jangan lupa makan. Saya tak ingin menghamburkan uang perusahaan untuk biaya berobat kamu."


Dika terus berjalan tanpa menoleh pada Andre yang sudah tak lagi melangkah.


Sementara itu Andre masih melihat punggung Dika yang bergerak menjauh. Ia tersenyum sebelum merubah haluannya. Ia tahu bosnya ini hanya bercanda.


Semua berhenti dan menunduk hormat saat Dika berjalan melewatinya. Tiba di lobi, sebuah mobil sudah tampak siap menunggu kedatangan Dika. Dika mempersilahkan Rina untuk masuk terlebih dahulu sebelum ia sendiri masuk setelahnya. Sejurus kemudian mobil melesat pergi meninggalkan kantor ini beserta para pegawai yang mulai penasaran dengan sosok Rina.


Saat ini sedang jam makan siang. Para pegawai yang tidak menyiapkan bekal menyerbu kantin dan tempat makan di sekitar kantor. Andre sebagai salah satu pegawai memilih untuk melewatkan jam makan siang di kantin karena sedang malas untuk keluar.


"Pak Andre. Boleh gabung?" tanya Hana.


"Silahkan."


Kantin memang sedang ramai sehingga hampir semua kursi sudah terisi.


"Sendiri aja Pak?"


"Memang harusnya sama siapa?" jawab Andre tanpa menatap Hana.


Seorang pria berkacamata nampak sedang mencari tempat.


"Lukman."


Pria itu tampak celingak-celinguk saat Andre menyebut namanya. Ia kemudian menunjuk dirinya saat tahu Andre melihatnya.


"Iya kamu Lukman."


Lukman datang dengan nampan berisi makanan.


"Ada apa Pak?"


"Cuma pengen ngajak gabung."


Sebuah senyuman terbit di wajah Lukman.


"Makasih Pak."

__ADS_1


Andre tersenyum miring saat melihat Hana yang tak nyaman duduk di sebelah Lukman.


TBC


__ADS_2