Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Ibu Hamil


__ADS_3

HAPPY READING


“Hana apa kabar Pak?” tanya Lili yang merasa canggung karena hanya berdua dua dengan Andre di ruangan Dika seperti ini.


“Dia baik, hanya kondisi kandungannya yang masih kurang baik,” jawab Andre tanpa mengalihkan pandangan dari kertas-kertas di tangannya.


Lili manggut-manggut meski nyatanya sedikit pun Andre tak menatap ke arahnya.


Hana beruntung banget ya bisa sebegitu dicintai oleh pak Andre. Eh tunggu, ini benar-benar cinta atau dasar pak Andrenya saja yang brengsek. Kalau cinta kan mestinya dijaga sampai nikah. Apa Hana tak khawatir nasib anaknya seperti dia. Eh, aku juga sih. Tapi masih untung sampai sekarang aku punya bunda, jadi masih ada yang menjaga dan mengingatkanku.


“Lili…”


Lamunan Lili langsung buyar saat sadar kini Andre tengah duduk dan menatap ke arahnya.


“Iya Pak,” jawab Lili setelah sebelumnya sedikit mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan Andre.


“Apa sebelum Hana bermalam di depan ruko kalian sudah saling kenal?” tanya Andre sungguh-sungguh.


Lili menggeleng. “Malam itu adalah kali pertama saya bertemu dengan Hana,” jujur Hana.


Andre menunduk sejenak dan dengan cepat mengangkat wajahnya lagi dan segera menatap Lili.


Lili menelan ludah. Ia salah tingkah saat Andre menatapnya dengan cara seperti ini. Tatapan penuh curiga meski hanya dengan ekor mata. Bukannya dibuat takut, tapi Lili justru terpesona.


“Apa kamu tak merasa aneh dengan ceritamu?"


"Kalau bagi saya ini sangat aneh. Kamu tanpa curiga langsung membawa orang yang baru kamu temui tanpa kamu kenali ke dalam rumah kamu. Apa kamu tak takut dia hendak merampok atau berbuat jahat kepadamu?”


Lili menghela nafas. Masa terpesonanya sudah habis yang ada hanya perasaan terintimidasi. Padahal niatnya kan mau menolong orang, tapi malah dicurigai dan ditekan seperti ini.


“Ya gini ya Pak, kalau missal nih Hana mau ngerampok di tempat saya, bahkan seluruh barang sampai bunga-bungaan yang bunda punya itu tak sebanding dengan harga barang-barang yang ada pada Hana. jadi kalau misal dia mau ngerampok beberapa jenis bunga, ya tinggal saya sita saja kopernya. Masih untung kok kalau saya jual barang-barangnya.”


“Itu yang pertama, yang kedua. Malam itu saya menemukan Hana dalam keadaan pucat dan lemah. Jadi sekuat apa pun dia misalnya, saya yakin akan dengan mudah mengalahkan dia.”


Andre menghela nafas. “Lalu atas dasar apa ibu kamu juga sampai sebaik ini dengan Hana?”

__ADS_1


“Malam itu Hana bercerita tentang asal-usul dia. Ternyata bunda dulu mengenal mamanya Hana,” ujar Lili menceritakan dengan sejujurnya.


“Bagaimana mereka saling kenal?”


Lili tak langsung menjawab. Ia masih menimbang perlukah dia mengatakan yang sejujurnya atau lebih baik dia diam saja. Karena bagaimana pun juga itu adalah bagian kelam dari hidup sang bunda yang ingin ia simpan dalam-dalam.


“Lili, apa kamu ingin merahasiakan sesuatu dari saya.”


Lili mengangkat wajahnya. “Kalau pun iya itu tak masalah kan Pak, karena saya tak melanggar aturan kerja.”


“Tapi Hana adalah calon istri saya, bagaimana pun cara kamu menutupinya suatu saat pasti saya akan tahu juga.”


“Ya sudah, tunggu saja saat itu tiba.”


“Kamu…”


“Permisi Pak. Nona minta saya membelikan beliau sesuatu.”


Lili meninggalkan Andre begitu saja. Ia berjalan ke luar tanpa menoleh Andre yang begitu kesal terhadapnya. Ia sadar ini merupakan tindakan yang terlalu berani. Tapi ia harus bertahan untuk hal ini.


“Apa aku menyakitimu?”


Rina menggeleng.


“Kamu istirahat saja dulu. Tak apa-apa kan kalau aku keluar?”


“Iya…”


“Kamu panggil aku kalau kamu sudah selesai membersihkan diri.”


Rina menjawab dengan anggukan. “Nanti kalau Lili sudah kembali dari membeli makanan, biarkan dia di luar dulu ya. Aku ngerasa nggak enak kalau ada dia di sini.”


Dika menyanggupi permintaan istrinya. Setelah memastikan tubuhnya bersih dan penampilannya rapi, Dika berjalan meninggalkan Rina untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Udah kenyang?” sarkas Andre saat bosnya muncul dengan wajah segar, rambut sedikit basah dan baju yang berbeda dengan yang tadi ia kenakan.

__ADS_1


Dika berjalan dengan cuek dan kembali duduk di tempatnya. “Gimana yang udah kenyang sebelum sah?” balas Dika dengan tak kalah cadasnya.


Andre tersenyum kecut sebelum kembali pada pekerjaannya.


“Bos, ini es krim mau dilanjut nggak?” tanya Andre saat baru tahu perusahaan ini tengah mempersiapkan sebuah produk baru.


“Itu sih mau-maunya Rina saja. Nggak tahunya itu bawaan orok karena dia lagi ngidam,” jelas Dika.


Memang rapat yang membahas masalah es krim ini dilakukan saat Andre tak ada, jadi tak heran kalau sekertarisnya ini baru tahu sekarang.


“Tapi menurut aku boleh juga nih, sampai mana risetnya Rina?”


“Sampai bikin orang mau pingsan karena kekenyangan es krim, ngebuat orang serumah sakit sarapan es krim, dan Rina sendiri sempat kembung karena terlalu banyak makan es krim,” jelas Dika. Masih dalam kandungan saja anaknya sudah bikin heboh seperti ini, gimana nanti kalau lahir, gimana nanti kalau sudah sekolah, gimana nanti kalau remaja. Ah Dika jadi ngeri-ngeri sedap membayangkannya.


Andre menggosok hidungnya untuk menutupi tawa yang hampir menyembur dengan lancangnya.


“Gitu-gitu yang dikandung anak kamu.”


Dika menjeda sejenak pekerjaannya. “Dan anak ini sudah kunantikan sejak lama,” lanjut Dika dengan tatapan menerawang. Setelah puas bermain dengan hayalan, tangannya pun kembali bekerja. Ia mulai membahas dengan serius tentang es krim yang digadang oleh Rina sebelumnya. Menurut Andre, project ini harus dilanjutkan karena semua kalangan menyukai es krim. Mulai anak-anak hingga orang tua. Jadi dengan range usia yang sekian panjang rupa akan sangat mudah memasarkannya.


“Jadi siapa yang menurut kamu pantas menghandle proyek ini?” tanya Dika.


“Kenapa tidak Rina saja,” usul Andre.


“Ya yang benar saja. Bisa dihajar sama mama kalau dalam keadaan hamil aku membiarkan Rina bekerja.”


“Ya kan dia cukup memantau perkembangan proyek saja. memberi instruksi untuk lanjut jika semua oke, dan berkata tidak dan menginstruksikan untuk mencari alternative lain jika no. Its so simple.”


“Simpel pala Lu. Bakal simple kalau moodnya baik dan bakal kacau kalau moodnya hancur. Kamu nggak tahu ya kalau wanita hamil itu suka moody. Apa Hana nggak mengalami mood swing. Hati-hati Ndre. Kalau terlalu banyak nahan, Hana bisa stress  dan yang kena imbasnya adalah anak yang ada dalam kandungannya.”


Andre mendadak diam. Ingatannya kembali pada peristiwa tadi pagi dimana Hana sebenarnya ingin ikut pergi dengannya. Namun dengan status mereka yang tak jelas, maka Andre hanya bisa mengacuhkan berlagak tak tahu apa yang sedang Hana inginkan.


Diam-diam Andre menatap Dika yang sedang konsentrasi dengan pekerjaannya. Apa sebaiknya aku bilang saja ingin membawa Hana ke kantor seperti Rina. Apakah Dika akan setuju atau malah menolaknya mentah-mentah.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2