
^^^Makasih buat support teman-teman.^^^
^^^Baik dalam bentuk vote, like, comment, atau reader tanpa jejak yang sudah berkenan membaca.^^^
...*HAPPY READING*...
Brugh!
"Maaf, maaf. Saya nggak sengaja."
Rista berusaha mencari keberadaan Dedi dengan berlari kesana-kemari. Dia berlari tanpa arah, membuatnya beberapa kali harus menabrak orang yang lewat di dekatnya.
Mestinya tidak akan susah menemukan mereka karena keduanya punya tinggi di atas rata-rata orang Indonesia.
Rista melesat meninggalkan 3 orang bersamanya. Hanya Rina yang mengejarnya karena tak pantas rasanya jika Rudi dan Santi juga ikut lari-lari seperti anak muda.
"Ya Allah, hahhh, haaahhhh..." Rina berhenti dengan memegang kedua lututnya.
"Kenapa Rista larinya cepat sekali, kalau hilang gimana..."
Rina hendak kembali mencari, namun ia lemas sekali. Nafasnya putus-putus tak karuan.
"Mana tadi belum sarapan lagi..." gerutunya sambil kembali berjalan.
Rista. Kamu lari kemana sih, batin Rina sambil melihat kesana-kemari untuk menemukan adik iparnya.
Saat oksigen dirasa tak mampu sampai ke paru-paru, akhirnya Rina memutuskan untuk berhenti. Ia segera meraih ponsel untuk menghubungi suaminya.
Saat merogoh slingbag yang ia kenakan, Rina terkejut karena ada dua ponsel di sana. Ia mengeluarkan kedua ponsel itu dengan segera.
"Ya Allah, mana Rista ngilang nggak bawa hp lagi."
Dengan langkah gontai, Rina berjalan mencari kursi. Ia harus berhenti karena tak sanggup mencari lagi.
Dari dalam ia dapat melihat sosok tinggi menjulang. Ia sangat tampan dengan kemeja yang ditekuk sesikut dan celana selutut. Rambutnya terlihat tak rapi, dan wajahnya yang kusut.
Ya Allah, terpesona sama suami boleh kan?
Rina masih terpaku dalam pesona suaminya hingga ada seorang wanita muda yang barangnya tampak terjatuh di dekat Dika. Spontan Dika memungutnya dan memanggil wanita muda itu untuk mengembalikannya.
Melihat interaksi itu membuat Rina bersungut-sungut. Kenapa kamu harus sok baik sih, teriaknya dalam hati.
Perempuan itu tersenyum manis saat menerima kuncinya dari Dika. Rina melebarkan mata saat wanita itu mengulurkan tangan pada Dika setelah menerima kembali barangnya.
"Nggak bisa dibiarin."
Rina tadi lupa kalau ia nyaris pingsan karena lelah dan juga kelaparan. Ia berdiri dan bergerak cepat menghampiri suaminya.
"Sayang..."
Rina bergelayut di lengan kanan Dika. Hal ini membuat Dika urung menjabat tangan wanita muda di hadapannya.
Wanita muda itu terlihat kesal.
__ADS_1
"Mbak ini siapa?" tanya Rina pada Dika.
"Oh, tadi tadi siapa namanya?"
"Stefi..." jawab wanita itu dengan lembut dan senyum manis yang menurut Rina sangat tak natural sekali.
"Tadi kunci mobilnya jatuh pas lewat disamping," jelas Dika.
"Cuma itu?"
"Hmm...." jawab Dika sambil menyelipkan anak rambut di telinga Rina.
"Ya udah Stefi, lain kali hati-hati ya. Jangan sampai kunci mobilnya jatuh lagi," ujar Rina sambil mengamit lengan Dika.
Jika ini film kartun dapat dipastikan jika gadis bernama Stefi ini mukanya sudah merah padam dan keluar asap dari telinga dan hidungnya.
Dalam hati Rina tertawa. Syukurin. Siapa suruh kegenitan.
"Kamu kok di sini?" tanya Dika yang masih terkejut dengan memunculkan Rina yang tiba-tiba.
"Astaga, Rista." Rina baru ingat kalau ia tadi punya misi mengikuti Rista. Setelah jejaknya hilang, ia istirahat karena kelelahan.
Rina manarik Dika dari hadapan Stefi dan menuturkan apa yang sebenarnya terjadi. Ia makin gelisah saat tahu ternyata Dedi sudah masuk dan dipastikan tak bisa keluar lagi.
"Sayang, mungkin nggak kalau Dedi keluar buat Rista atau bahkan menunda keberangkatannya?"
"Kamu jangan ngaco deh. Kamu pikir ini novel atau drama? Ini dunia nyata sayang."
Rina baru sadar jika Dika ternyata sudah tak disampingnya.
"Ya Tuhan..., kenapa kakak beradik ini hobi ngilang gini sih..."
Mata Rina bergerilya mencari. Untung suaminya ini sangat tinggi, jadi dengan mudah dapat ia temukan di tengah kerumunan orang.
***
Rista duduk termenung di sebuah kursi panjang. Ia menatap keatas dengan sesekali meneteskan air mata.
Sudah tiga pesawat lepas landas yang dilihatnya sejak dia memutuskan untuk berhenti di sana. Pada salah satu pesawat, ia yakin ada Dedi di dalamnya.
Dedi tak dapat ditemukan, dan ia benar-benar kecewa dan merasa kehilangan.
Kenapa kamu tega. Sebelumnya, kamu akan melakukan apapun saat aku marah, tapi kenapa sekarang kamu tetap pergi meski tahu aku akan sedih sekali.
Dedi Yohanes, selamat jalan. And see you for a long. Apakah kamu akan tetap menjadi orang yang sama saat kembali nanti?
***
Seminggu setelah kepergian Dedi, Rista baru saja menyelesaikan ujian susulan yang sempat ia tinggalkan. Entah bagaimana hasilnya, selain ia bukan termasuk anak jenius, ia juga telah kehilangan fokus.
Saat ini Rista sedang makan malam bersama kedua orang tuanya, sementara Dika dan Rina sudah kembali ke rumahnya.
"Sayang, makanannya jangan cuma diaduk-aduk dong..." tutur Santi.
__ADS_1
"Nggak selera Ma..."
"Jangan gitu dong. Kamu harus makan meski dikit."
Bukannya menurut, Rista justru bangkit dan meninggalkan meja makan.
Rudi menahan Santi saat istrinya ini hendak mengejar anaknya. Meski tak suka, Santi tak ingin membantah suaminya. Ia kembali duduk dan melanjutkan makan.
"Anak kita kok gini banget sih Mas, belum juga kelas 2 SMP, udah sebegitunya mikirin laki-laki."
"Ada banyak faktor sayang yang bikin Rista jadi demikian. Aku minta maaf karena datang di waktu yang tidak tepat. Akhirnya anak kita yang harus jadi korban karena merasa kurang kasih sayang dan menjadikan Dedi pelampiasan."
"Jadi Dedi akar masalahnya?"
"Bukan seperti itu."
Rudi menghabiskan air putih di gelasnya.
"Kita ke teras belakang yuk. Udah lama nggak ngobrol sambil lihat ikan."
Pasangan suami istri itu berjalan beriringan dan akhirnya duduk lesehan di tepi kolam. Rudi mengambil pakan ikan dan melemparkannya sedikit. Ikan koi warna-warni itu dengan senang hati datang menghampiri Rudi.
"Mas. Kok malah asik sama ikan sih, katanya ke sini mau ngobrol."
"Ini lagi ngobrol. Ngobrol sama ikan," jawab Rudi dengan wajah jenaka.
"Ck. Serius dong."
"Ini juga serius sayang."
Rudi menyimpan kembali toples makanan ikan itu saat dirasa sudah cukup memberi makan para koi kesayangan.
"Dedi dan Rista itu sama. Sama-sama kesepian dan haus kasih sayang."
Kata-kata Rudi membuat Santi berfikir. Ia ingat awal kedekatan Dedi dan Rista adalah saat putrinya ini kabur dari rumah dan mengira Rudi selingkuh. Saat itu juga Dika memutuskan untuk mulai terjun ke perusahaan mantan suaminya karena merasa harus mencukupi kebutuhan Rista juga yang ikut dengannya. Dedi yang berkarib dengan Dika dipercaya untuk menjaga Rista saat Dika harus pergi mengurus pekerjaan.
"Dedi yatim piatu dan tak punya siapa-siapa, kemudian menemukan Rista dan jadi teman berbagi cerita. Sedangkan Rista yang kurang perhatian menemukan Dedi yang dapat selalu ia andalkan."
"Kurang lebih seperti itu," timpal Rudi atas analisa istrinya.
"Jadi kita harus gimana Mas?"
"Kita hanya bisa mengarahkan dan sebisa mungkin tak terlalu banyak melarang. Karena jika kita terlalu keras, maka tak menutup kemungkinan Rista akan lebih berani untuk berontak. Karena dulu dia sudah berani kabur. Untung saja tak salah jalur. Kalau sampai hal ini terulang, Rista belum tentu seberuntung sebelumnya. "
Santi menyadarkan kepala di bahu suaminya.
" Makasih ya Mas... "
" Untuk? "
" Untuk kesabaran kamu selama ini."
TBC
__ADS_1