
HAPPY READING
Kali ini Hana tak membiarkan Andre mengantarnya sampai ke depan pintu toko seperti sebelumnya. Ia berhasil turun dari mobil setelah memberikan ‘sarapan’ yang Andre minta. Entah lah dosa macam apa yang mereka tumpuk sekarang, yang jelas ia akan berusaha untuk tak kembali berz*na.
“Hana tumben nggak sama Risma?” tanya Anin yang datang pertama kali karena kuncinya ia yang membawa.
“Iya. Aku di tempat teman ku semalam…” jawab Hana tanpa menghentikan langkahnya.
Hana terus berjalan dan muncul lagi dengan membawa sapu di tangan. Ia ingin membantu Anin bersih-bersih sebelum ada pelanggan yang datang.
Saat Hana menyapu, Haning dan Eka datang diwaktu yang hampir bersamaan, tak lama berselang Risma pun muncul dengan setengah berlari dan nafas terengah-engah.
“Kenapa Hana bisa datang lebih dulu dari kamu?” tanya Haning pada Risma.
“Iya, soalnya aku ada perlu tadi.” Risma meringis untuk menyamarkan kebohongan tak bermutunya.
“Loh, kata Hana dia tadi menginap di tempat teman lamanya.” Anin tiba-tiba muncul dan nimbrung begitu saja membuat Risma kalang kabut dan tidak tahu harus berkata apa, karena sebelumnya ia belum janjian dengan Hana harus bicara apa. Beruntung Hana segera melihat dan langsung mendekat dan disambut senyum lega oleh Risma.
“Kenapa nih pada nimbrung di sini?” Tanya Hana yang datang dengan sapu ditangannya.
“Ini nih, Mbak Haning tanya kenapa aku baru datang sedangkan kamu sudah dari tadi,” jelas Risma untuk memberitahukan apa yang terjadi pada Hana.
“Oh itu. Aku semalam menginap di tempat teman
lamaku…” ujar Hana seperti yang sudah ia katakan pada Anin tadi.
“Dan aku saat perjalanan ke sini ada urusan juga,” imbuh Risma untuk menyamarkan kebohongan yang terlanjur ia ucapkan.
Setelah mengatakan ini Risma berharap Hana dapat merancang sendiri scenario untuknya jika kembali ada yang bertanya.
“Clear kan? Sekarang siap-siap yuk, karena sebentar lagi akan ada pelanggan yang datang…” ujar Hana sebelum kembali menlanjutkan kesibukannya.
Anin dan Risma saling menatap sesaat. “Semangaaattt!!!!!” kompak keduanya dengan riang meninggalkan Haning yang merasa tak berhasil mendapat korban pagi ini.
“Semangat,” lirih Haning dengan bibir mencebik. Haning kemudian berjalan untuk melihat apa yang bisa ia kerjakan. Siapa tahu ia bisa segera menemukan mangsa yang bisa ia kerjai nanti.
***
Saat Andre muncul ketiga staffnya bersiap untuk menyapa atasannya ini. “Pagi Pak Andre…” serempak Elis, Riza dan Rahma.
“Pagi…” balas Andre meski tanpa menatap ketiganya.
Ketiga wanita yang baru saja menyapa Andre ini tentu saja terkejut dengan reaksi tak biasa yang baru saja Andre berikan. Biasanya Andre nyaris tak pernah membalas sapaan.
“Pak Andre aneh,” celetuk Rahma tiba-tiba.
__ADS_1
“Nggak aneh, tapi dia mempesona,” timpal Elis dengan wajah sumringah karena sikap Andre yang tak biasa.
“Sadar kamu, sadar. Jangan sampai karena naksir atasan kamu kehilangan karir yang kamu bangun susah payah,” ujar Riza mengingatkan.
“Iya. Jangan sampai kayak Hana. Yang gara-gara naksir pak Restu, sekarang kita nggak tahu dia ada di mana,” imbuh Rahma.
Senyum merekah di wajah Elis lenyap seketika. Ia jadi teringat kejadian di sebuah toko baju tempo hari. Saat ia mendampingi Andre bertemu dengan client, tiba-tiba Andre menyuruhnya membayar sejumlah belanjaan dan menitipkan sesuatu untuk seorang wanita bernama Hana. Tapi sayang Elis tak sempat bertemu dengan Hana yang Andre maksud, sehingga sampai sekarang ia masih saja berkubang dalam rasa penasaran.
Mungkinkah Hana yang ada di sana adalah Hana mantan rekannya, atau jangan-jangan hanya kebetulan namanya sama.
“Kerja, kerja, kerja. Jangan sampai kita dapat teguran karena mengesampingkan efisiensi waktu,” ujar Riza lagi kala melihat rekannya masih diam sibuk dengan isi kepalanya.
Elis paham ialah yang dimaksud oleh seniornya ini, sehingga ia segera kembali memusatkan pikirannya pada tumpukan pekerjaannya. Apa berlebihan jika aku berharap suatu saat akan bisa masuk ke dalam kehidupan pribadi pak Andre?
Begitu Andre duduk di balik meja kerjanya, Andre melihat ada note yang di tempelkan di atas meja.
“Terimakasih ruangannya…” gumam Andre membaca tulisan yang tertera.
Andre tertawa kecil saat melihat tulisan tangan yang membuatnya sakit mata ini. Di jaman yang semodern ini, ternyata masih ada orang yang lebih suka menempelkan note seperti ini. Padahal mengirimkannya pesan akan lebih praktis dan menyenangkan.
“Dedi, Dedi. Kenapa kamu lebih suka menggunakan ruanganku? Bukankah kamu biasanya lebih suka menempel dengan sahabatmu itu. Jangan-jangan karena ada Rina sehingga kamu tak mau jadi obat nyamuk jika berada di sana…” Andre bermonolog menduga-duga apa yang kemarin terjadi pada dokter muda multi talenta yang baru saja kembali dari pengasingannya ini.
Andre tertawa lagi dengan pikirannya. Karena tak ingin lebih lama didera penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri jawabannya ke ruangan bosnya.
Ia bangkit lagi dan berjalan hingga melewati pintu. Di depan ruangan bosnya, barulah ia berhenti untuk mengetuk pintu.
Seakrab apa pun ia dengan Dika, Andre tak pernah lupa jika pria muda ini adalah bosnya. Ia tahu kapan harus berperan sebagai sahabat dan kapan waktunya menjadi bawahan.
“Masuk…”
Sayu-sayup terdengar suara Dika yang mempersilahkannya masuk dari dalam. Andre segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan sahabatnya.
“Pagi Bos…” sapa Andre sambil berjalan lurus menghampiri meja atasannya. Ia sempat tersenyum dan menundukkan kepala saat tak sengaja bertemu pandang dengan Rina di balik meja kerjanya.
“Tumbenan pagi ke sini. Ada apa?” tanya Dika pada Andre yang sudah duduk di hadapannya.
“Dedi kemarin ke sini?” tanya Andre to the point.
“Iya. Sore kemaren saat kamu ijin makan siang tapi malah menghilang sampai malam,” sarkas Dika.
Bukannya takut Andre justru melebarkan senyumnya. Ia bahkan sempat menyemburkan tawa meski tak lama. “Maaf Bos, tapi aku berani jamin kalau tak ada pekerjaan yang aku lewatkan.” jelas Andre setelah memastikan tawanya disimpan rapi sebelum kembali mulai berbicara.
“Tumben Dedi di ruanganku, bukannya biasanya dia lebih nyaman di sini?” tanya Andre untuk mencari jawaban dari rasa penasarannya.
Dika menghela nafas dan menatap istrinya. Rina nampak enggan turut bersuara sehingga Dika segera memutus kontaknya.
__ADS_1
“Kemarin secara nggak sengaja Rina juga ngundang Rista karena ingin membahas keterlibatan Rista dalam proyek es krimnya…” jelas Dika.
“O wow ow. Begitu rupanya.”
Dika menggerakkan alisnya. “Kenapa kamu peduli sekali, apa urusan Hana sudah bisa teratasi?”
“Iya. Aku bisa menjinakkannya sementara ini,” ujar Andre dengan bangga.
“Hmmmm, pantes. Sudah dibawa pulang ke rumah?” tanya Dika.
Andre mengangguk dengan senyum yang sejak tadi tak pudar.
“Awas hamil lagi,” ujar Dika memperingati.
Andre menghela nafas. Senyum yang semula merekah sempurna perlahan ia tanggalkan.
“Dia masih belum setuju untuk menikah?” ujar Andre dengan nada lemah.
“Tapi setuju tinggal serumah?” tanya Dika memastikan.
Tanpa ada yang tahu Rina juga menghentikan pergerakan tangannya karena penasaran dengan jawaban Andre.
Andre menggeleng.
“Syukurlah. Ternyata Hana waras,” ujar Dika mengurut dada.
“Astaga!!” Rina memekik tiba-tiba.
“Kenapa sayang?” tanya Dika yang langsung diselimuti rasa khawatir.
“Aku punya janji jam 10 nanti,” ujar Rina kemudian.
Dika yang sempat dag-dig-dug kini dapat kembali bernafas lega.
Melihat reaksi suaminya, Rina hanya mampu meringis dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
“Perlu aku antar?” tawar Dika.
Rina menggeleng. “Enggak usah. Aku sama Lili saja.”
“Yakin?”
“Yakin sayang…”
Rina melirik Andre sekilas. Sepertinya pria ini sama sekali tak tahu jika yang Rina maksud ada janji dengannya adalah Hana. Sehingga Rina urung untuk memberi tahu masalah Hana yang baru saja tertusuk pada pria ini. Toh ini akan lebih aman karena masalah yang sudah selesai akan runyam lagi jika Andre sudah campur tangan.
__ADS_1
Karena jika sampai Andre tahu Hana dilukai orang, dijamin ia tak akan diam dan membiarkan dalang penusukan Hana hidup tenang. Karakter Andre yang seperti ini sangat mirip dengan suaminya yang tak akan tinggal diam jika orang dekatnya disakiti. Sehingga terkadang untuk masalah yang dapat Rina selesaikan, ia merasa tak perlu untuk memberi tahu suaminya.
Bersambung…