
^^^Apakah ada orang beda keyakinan di sekitar kalian?^^^
^^^Bagaimana hubungan kalian dengan mereka?^^^
^^^-Happy reading-^^^
"Om, Tante, kita berangkat dulu..." pamit Dika pada kedua orang tua Rina.
"Hati-hati di jalan. Kalau capek istirahat," kata Ririn berpesan.
"Iya Tante, terimakasih. Assalamualaikum."
Dika menyalami Reno dan Ririn bergantian, diikuti Rina, Rista dan Dian.
Kemana Dedi?
Dia masih terlena dalam buaian mimpi.
"Apa mending Dedi di belakang ya?" tanya Rina sambil menatap Dedi yang tidur nyenyak di jok depan.
"Nggak usah, repot kalau kudu mindahin dia, mending kita langsung berangkat," tolak Dika.
Akhirnya Rina duduk di tengah bersama Rista, sementara Dian sendiri di belakang.
"Ini nanti jauh nggak?" tanya Dian.
Rina melempar pandangan kepada Rista, karena ini juga kali pertama ia ke villa milik mereka.
"Paling 2 jam perjalanan ya Kak ya?"
"Iya..." jawab Dia singkat sambil mulai menjalankan Alpard hitamnya.
"Nanti kalau Dika capek aku bisa gantiin kok," kata Dian dari belakang.
"Nggak masalah kok, kamu nikmatin perjalanan aja." Tolak Dika sambil mulai memutar lagu Memories....
Here's to the ones that we got
Cheers to the wish you were here, but you're not
Dika mulai larut dalam alunan lagu.
Toast to the ones here today
Rina terkejut saat untuk pertama kali mendengar suara Dika. Kenapa aku baru tahu kalau Dika juga bisa menyanyi sebagus ini?
'Cause the drinks bring back all the memories
And the memories bring back, memories bring back you
Dika sadar jika Rina tengah memperhatikannya. "Nyadar kok kalau aku ganteng, tapi ngelihatnya nggak perlu gitu juga."
"GR banget sih?"
"Fakta." Dika kembali membawa dirinya larut dalam alunan lagu.
"Cause the drinks bring back all the memories," Rina mengulang sebaris syair lagu maroon 5 itu.
"Liriknya emang gitu Rin. What do you think on me babe? Jangan kayak orang nggak kenal gitu deh?"
Rina meringis. Aku emang banyak nggak tahu tentang kamu.
"Jangan ngelamun, atau aku cari hotel dan makan kamu sekarang juga."
"Dika!" Rina merengut kesal setelah meneriaki mantannya ini. "Kalau ngomong jangan asal, malu ada mereka..."
"Kalau ada mereka malu?"
Rina mengangguk.
"Kalau nggak ada mereka mau?" goda Dika dengan smirknya.
__ADS_1
"Dika!" kembali Rina meneriaki Dika.
"Apa sayang. Jadi unboxing sekarang?"
"Astaga, aku malu sama mulut kamu..." Rina menutupi wajahnya dengan dua telapak tangan miliknya.
Dika terkekeh melihat tingkah ajaib mantan pacarnya ini. "Hey, coba angkat muka kamu..."
Rina mendengarnya, tapi ia malas mengikuti interupsi Dika.
"Kalau masih diem, langsung aku berentiin terus cium nih."
Dan sukses. Rina langsung menurunkan kedua telapak tangan yang menutupi wajah cantiknya.
"Lihat mereka."
Rina menoleh menatap Dian di belakang dan Rista di sampingnya. Ternyata mereka tengah memejamkan mata dengan telinga tersumpal headset.
"Nggak mungkin lah, aku ngomongin hal sensitif sama kamu terang-terangan di depan mereka."
Rina tersenyum menatap Dika. Meskipun hanya nampak sedikit tapi begitu terlihat tampan di matanya.
"Nggak ngomongin tapi main nelanjangin di kamar orang."
Rina dan Dika spontan menatap seseorang yang sejak tadi matanya terpejam. "Kamu nggak tidur?!" kompak keduanya.
"Kebangun gara-gara ada yang teriak," ujar Dedi dengan suara parau.
Dika menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sementara Rina hanya memegang pipinya yang terasa panas.
"Kak..."
Kembali terdengar suara yang tak lain adalah Rista.
"Kamu juga nggak tidur?!" panik Rina saat tahu ada satu orang lagi yang mungkin mendengar perbincangannya dengan Dika.
"Aku pengennya tidur, tapi laper."
"Yeeyyy...., Kak Dedi emang paling ngerti. Yuk Kak, cari makan dulu mumpung masih banyak yang buka."
Dika melirik sekilas adiknya yang merengek dari belakang. "Pengen makan apa?"
"Bakso cumi." Ucap Rista dengan berbinar.
"Pas banget Ta, nggak jauh dari sini ada..." kata Dedi menimpali.
"He'eh, He'eh..." Rista mengangguk antusias. "Ini kan Kak..." Rista menunjukkan ponselnnya pada Dedi. "Ini kan lagi viral..."
"Betul..." Dedi meraih ponsel itu dan melihatnya. "Kemarin aku pengen ngajak kamu ke sini, tapi kamu malah ngajakin bikin di rumah," lanjut Dedi sambil mengotak-atik ponsel Rista.
"Kalau nggak gitu aku nggak akan tahu kalau masakan Kakak enak...."
Dika menatap sahabat di sampingnya. "Sejak kapan kalian sekompak ini...?" heran Dika melihat keakraban Dedi dan adiknya.
"Sejak Kakak sering nyuruh Kak Dedi nemenin Rista," jawab Rista santai.
Sedangkan Dedi pura-pura sibuk dengan ponselnya. Aku bahkan mungkin jadi orang yang paling banyak mikirin kamu Ta sekarang ini.
"Isya' dulu kali ya..." ucap Rina saat menemukan kubah masjid dalam pandangannya.
"Oke deh, berhenti dulu di depan ya..."
Dika kemudian memarkirkan mobilnya di pelataran masjid besar dengan cat dominan putih dan hijau ini.
"Dian nggak kamu bangunin?" tanya Dika pada Rina sambil melepas seatbeltnya.
Rina menggeleng. "Nggak perlu..."
"Oo..." Dika, Rina dan Rista turun dari mobil dan segera masuk ke dalam masjid.
Saat itu juga Dian perlahan membuka mata karena merasa mobil yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti. "Loh kok kosong?"
__ADS_1
"Masih ada gue..." Dedi menjawab dari jok depan.
Dian mencoba mengamati sekitar. "Lagi sholat ya? Kamu kok masih di sini?" tanya Dian pada Dedi.
"Gue N***ni," jawab Dedi tanpa menoleh.
"Wah, sama dong..."
"Seneng banget kayaknya?" Dedi membuka seatbelt dan segera turut keluar dari sana.
"Nemu yang keyakinannya sama harusnya kan seneng," gumam Dian sebelum bangkit dan menyusul Dedi. "Ded...!"
"Hmm..." Dedi duduk pada serambi masjid. Diam-diam dia mengamati bagian dalam masjid. Saat itu Rista yang baru saja wudhu nampak masuk dengan menenteng mukena berwarna pink miliknya.
Melalui pintu yang berbeda, Dedi dapat melihat Dika yang begitu larut dalam sujudnya. Bagaimana rasanya sujud seperti mereka?
"Kamu ngapain?" Nita datang dan duduk di samping Dedi.
"Enggak." Dedi segera mengalihkan pandangannya dari dalam masjid.
"Sejak kapan temenan sama Dika?"
"Sejak setahun lalu."
"Sama adiknya?" kembali Dian bertanya.
"Belum lama ini."
Dian mengangguk. Gile ni anak, irit banget ngomongnya. Perasaan pas ketemu di mall nggak gini banget deh.
Dedi nampak mengeluarkan sebungkus rokok yang tersimpan dengan manis di sakunya.
"Kamu ngerokok?"
"Belum, masih mau dinyalain."
Fix, Dian menyerah. Ternyata mengajak ngobrol berondong keren ini cukup susah. Dia memutuskan untuk membuka sosial medianya dan mencoba bermain di sana. Iseng ia berfoto selfie dengan membelakangi Dedi. Alhasil Dian nampak tengah berfoto dengan seorang cowok keren di belakangnya.
Tak lama setelah foto terupload, kolom komentar segera membanjir karena Dian memang cukup aktif di sosial media dengan ratusan ribu followers. Kebanyakan mereka fokus dengan pemuda tampan di belakang Dian.
"Di, kamu juga kebangun?" tanya Rina.
Dian mengalihkan sejenak perhatiannya dari benda kotak yang dipegangnya. "Iya..."
"Langsung cari makan?" tanya Dika sambil menyugar rambutnya yang sedikit basah.
Kembali Rina dibuat terpesona hanya dengan tingkah sederhana Dika.
"Awas iler awas?" celetuk Dian tiba-tiba.
Semua menatap ke arah Dian, kecuali Rina yang masih fokus pada mantan kekasihnya.
Dian kemudian menunjuk Rina dengan dagunya.
Dika terkekeh dan segera meraih pinggang gadisnya. "Pengan makan apa di makan..." bisik Dika tepat di telinga Rina.
Rina geram dan hendak memukul dada Dika. Namun urung saat Rista mulai merengek.
"Kak, laper...."
Dika menatap adiknya yang sudah cemberut.
"Ayo..."
Tanpa banyak kata Dedi segera masuk di bangku kemudi disusul Rista di sampingnya.
Kemudian 3 orang lainnya duduk di jok belakang.
Sebelum berjalan Dedi kembali menatap bangun besar di hadapannya. Apakah boleh aku bersujud di sana sekali saja?
TBC
__ADS_1