Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Deposit


__ADS_3

Siapa yang kalian tunggu di part ini?


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.


HAPPY READING


“Itu muka kenapa Bos?” tanya Andre yang datang ke ruangan Dika untuk melakukan kerja perdana setelah seminggu liburnya.


“Itu dasi kenapa juga nggak simetris,” balas Dika dengan tatapan malasnya.


Andre langsung mengecek dasinya. Dan ternyata benar, dasinya terpasang asal tak rapi seperti biasa. Kedua calon ayah ini serempak tertawa dan duduk di dua kursi yang berhadapan.


“Aku baru sadar kalau kelakuan aneh Rina akhir-akhir ini karena perubahan hormone yang ia alami karena proses kehamilan,” ujar Dika tiba-tiba karena yakin sekertarisnya ini pasti juga sedang memikirkan hal yang sama dengan dirinya.


Andre tak menanggapi. Ia lebih memilih fokus dengan dasi di lehernya. Ia membuka dasi berwarna gelap itu dan memakai lagi dengan lebih rapi.


“Gimana Hana?” tanya Dika lagi saat melihat Andre diam saja.


Andre tak langsung menjawab. Ia lebih memilih untuk menyelesaikan aktifitas tangannya sebelum memulai obrolan dengan bosnya. Ini lah kelemahan hampir semua laki-laki, karena mereka tak bisa fokus untuk lebih dari satu hal.


“Dia minta makanan yang nggak manusiawi. Kalau nggak dituruti nggak bisa makan. Kalau dipaksa makan, makanan yang lain malah muntah-muntah nggak karuan,” ujar Andre saat tragedi bunga pepaya tadi malam.


Dika tertawa mendengar penuturan Andre. “Nggak manusiawi gimana? Minta makan emas apa berlian?” ejek Dika dari tempatnya.


“Ya kalau minta emas yang bisa dimakan ada, tempat belinya juga jelas, berlian tinggal cari tiruan makanan yang mirip seperti itu, lha ini dia minta apa kemaren, pare ya? Terus tadi malam minta bunga papaya. Kenapa nggak mawar saja sih yang lebih mudah carinya,” ujar Andre mencurahkan segala kesalnya.


“Mana kondisi dia belum baik lagi, gimana kabar anak gue yang dia kandung kalau maunya cuma makanan yang nggak jelas kayak gitu.”


Dika tertawa kecil sebelum akhirnya menetralkan lagi wajahnya.


“Maafkan Rina,” ujar Dika tiba-tiba dengan nada seriusnya.


Andre menggeleng. “Itu semua pure kecelakaan. Hana sudah cerita semuanya.”


Dika mengernyit. “Bagaimana kejadian di rumah Lili versi Hana?” tanya Dika penasaran. Pasalnya Rina sempat beberapa kali mengungkap penyesalannya di hadapan Dika karena tepat sebelum kejadian, ia sudah berkata kurang pantas untuk Hana. Wajarnya Hana akan marah, namun ia justru cidera demi menolongnya. Itulah kejadian versi Rina yang diterima Dika.


“Ya seperti yang dikatakan Rina saat perjalanan ke rumah sakit. Rina terpeleset dan Hana menolongnya. Dan saat Rina gantian ingin membantu Hana berdiri malah ia yang jatuh sendiri.”


“Itu saja?” desak Dika.


“Ya iya. Emang ada lagi?” Kini Andre yang dibuat heran. Kenapa Dika seperti tak terima mendengar apa yang dia ucapkan.


Dika menggeleng. Namun ekspresinya masih menyimpan seribu tanya.

__ADS_1


Degh!


Perasaan Andre mendadak tak enak. Sebelumnya Hana pernah berbuat buruk kepada Rina, bahkan sempat ingin mencelakakannya. Jadi sekarang mungkinkah Hana kembali pada dia yang sebelumnya.


Andre menatap Dika dengan cemas. “Bos, jangan bilang Hana melakukan hal yang nggak baik sama Rina?”


Dika meletakkan tangannya diatas meja dan menyandar punggungnya ke belakang. “Justru sebaliknya,” ujarnya kemudian.


Andre membelalakkan mata. “Maksud kamu?” tanyanya yang tak paham maksud Dika.


Dika menghela nafas. “I'm deeply sorry for my wife fault."


Mata Andre menyipit, alisnya tertaut. Ia ingin mendengarkan apa yang sebenarnya ingin Dika katakan.


"Rina sempat mengatakan hal buruk pada Hana terkait motifasi Hana dalam mendekati kamu. Ia menuduh Hana mendekati kamu hanya karena gagal saat mendekatiku. Sorry Ndre. Aku benar-benar berharap kamu bisa memaafkan Rina,” ujar Dika dengan sungguh-sungguh.


Andre tak menanggapi. Tangannya terkepal dan dengan kepalan tangan itu mengetuk-ngetuk meja.


“Makanya saat kamu bilang Hana cuma bercerita seperti itu aku jadi makin yakin, kalau Hana sebenarnya baik. Rina bahkan berkali-kali menyesalkan perkataannya terhadap Hana. Meski dulu Hana sempat berbuat kurang baik padanya, namun perbuatannya kemaren tetap tak bisa dibenarkan. Terlebih dengan apa yang Hana lakukan sehingga anakku bisa selamat padahal Rina belum tahu kalau dirinya tengah mengandung.”


Mendengar ucapan Dika Andre spontan mengangkat wajahnya. “Bos, apa kamu percaya dengan Hana?”


“Bukan hanya aku tapi Rina juga. Mungkin dalam hati masih ada kecewadan ragu, tapi kami percaya jika ada kebaikan dalam diri Hana.”


Andre mengendurkan kepalan tangannya. “Thanks Brother.”


“Now, mari kita bekerja. Sebentar lagi ada anak yang harus kita nafkahi, tak hanya anak orang yang kita jadikan istri,” ujar Dika sambil menarik laptopnya.


Spontan Dika menggaruk tengkuknya mendengar ucapan Dika. “Gue belom nikah Bos.”


“Oh iya. Sekertaris Andre kan deposit duluan sebelum dihalalkan,” ejek Dika dengan senyum lebarnya.


“Itu dosa gue Bos, nggak usah diabsen juga,” balas Andre.


Dika bangkit dan memegang bahu Andre. “Segera halalkan dia.”


Andre menatap sekilas tangan Dika yang berada di pundaknya. “I will, tapi aku masih bingung harus mulai dari mana?”


“Maksud kamu?” Dika melepaskan tangannya dan kembali duduk di tempatnya.


“See, aku sudah salah dalam memulai hubungan ini. Dan ke depannya aku tak ingin salah lagi seperti nasehatmu waktu itu. Tapi aku miskin Bos, aku nggak ngerti yang beginian. Aku juga nggak tahu siapa yang harus aku ajak bicara dan mintai pertimbangan. Kalau mau ngomong sama orang tua, bisa-bisa mama papa jantungan sebelum cucunya dilahirkan.”


Dika mengernyit. Terlintas nama Rudi di pikirannya. Ayah sambungnya ini berfikiran terbuka dengan ketaatan yang kini digenggamnya. Apa mungkin dia bisa dimintai pertimbangan untuk kasus Andre ini?

__ADS_1


“Aku nggak pernah mengira bisa jatu cinta dengan wanita seperti Hana, tapi jujur aku tak pernah punya perasaan sedalam ini dengan wanita sebelumnya.”


“Are you sure? Bukan karena kamu mengagumi raga yang dianugerahkan Allah padanya?” tanya Dika memastikan.


Andre menatap datar. “Wanita cantik itu sekarang sudah lumrah Bos, tinggal bagaimananya kita sebagai pria mempertahankan yang cantik itu. Ya walaupun aku juga tahu Hana dari sananya sudah ada modal, tapi aku yakin perasaanku lebih dari itu.”


“Oh, aku pikir kamu sudah tak sadar dengan hal itu.”


“Ya sadar lah Bos. Diakui atau tidak aku dulu sempat mengincar Hana sebelum tahu dia suruhan Rahardja. Sebagai jomblo yang jarang berurusan dengan wanita, tentu kecantikan raganya membuat aku kepincut juga.”


Andre mengatakan apa pun yang ia rasakan pada Dika karena ia yakin menyembunyikan sesuatu dari bosnya ini adalah bukan perkara yang mudah.


“Next.”


“Namun karena kesetiaanku padamu aku menghancurkan Hana dengan tanganku sendiri hingga ia jatuh ke dasar jurang.”


“Selanjutnya?”


“Selanjutnya aku ingin menahan dia untuk membuat dia sadar bahwa dia nggak bisa meremehkan Andre Wiguna.”


“Dan akhirnya?”


“Aku jatuh cinta sama dia.” Andre menghela nafas karena Dika berhasil menggiringnya dengan lancar. “Tapi jujur saat pertama membawanya tinggal bersama, tak ada niatan sedikitpun untukku memilikinya, tapi makin aku mengerjainya makin aku tahu kalau bukan dia yang aku sandera tapi aku yang tersandera olehnya. Hingga membuat aku tak mau kehilangan dia dan melakukan berbagai cara untuk membuat Hana bertahan disampingku.”


“Hmmm,” Dika beberapa kali mengangguk seakan paham. “Bukan karena kalian sudah berbagi kenikmatan diatas ranjang?” tanya Dika sambil menaik turunkan alisnya.


Wajah Andre mendadak tak karuan. Sudut bibirnya tertarik, namun wajahnya terasa panas karena malu. Ada marah namun rasanya tertahan. Entahlah.


“Ah, terserah lah. Yang penting aku serius dengan dia," pungkas Andre sebelum menyugar rambutnya.


“Ha ha ha ha ha…” Dengan tangan terlipat di depan dada, Dika tak sungkan untuk menyemburkan tawanya. Sementara Andre hanya diam karna tak tahu harus melakukan apa. Ia akan menunggu hingga Dika puas dengan tawanya. Setidaknya itulah yang paling aman untuk dia lakukan.


Selepas tertawa, mereka mulai kembali ke wajah datarnya.


“Well, sekarang apa rencana kamu?” tanya Dika pada Andre yang dengan sabar menunggunya selesai tertawa.


“Aku masih bingung. Aku ingin segera menikahi dia, tapi bagaimana dengan mama papa.”


“Apa kamu sudah pernah coba bicara dengan om Edo dan tante Heni?”


Andre menggeleng.


“Kapan rencanyanya?”

__ADS_1


Setelah sebuah helaan nafas, Andre munlai menceritakan apa yang tengah ia hadapi dengan Hana. Menikah bukan hanya urusan dua manusia, dan meskipun Hana sebatang kara Andre tak bisa menutup mata jika ia merupakan anak tunggal kedua orang tuanya di tengah sebuah keluarga besar.


Bersambung…


__ADS_2