
HAPPY READING
“Seneng sekarang…?” Andre muncul di belakang Hana dan memeluknya dari belakang.
“At least, aku sekarang punya muka untuk ketemu sama orang tua kamu,” ujar Hana tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok mungil yang sudah nampak tampan meski kulitnya masih merah. Ia senang sekali menatap bayi ini, yang nampak lucu dengan mata yang belum sempurna terbuka.
“Kemaren mukanya kemana?” tanya Andre.
“Tck. Kamu mah…” Andre merasa kesenangannya lenyap sudah.
“Abis ini kita ke tempat mama ya...” pinta Andre pada Hana.
“Emangnya kamu nggak kerja?” ujar Hana balik bertanya.
“Udah ijin sama Dika,” jawab Andre dengan santainya.
“Kasihan Rina tahu.”
“Kok kasihan sama Rina?”
“Ya kalau Dika repot yang keseret pertama siapa?”
“Harusnya sih aku.”
“Kalau kamu nggak ada?”
“Sepertinya bukan lagi Rina, karena dia sudah hamil besar sekali.”
“Makanya kamu balik saja ke kantor. Biar aku yang di sini sementara…”
“Kalian kembali juga nggak apa-apa kok, sudah ada saya…” tiba-tiba Mustika muncul dari kamar mandi dan langsung nimbrung dalam obrolan anak muda ini.
“Tapi Mama sudah semalaman jagain Kak Indah,” ujar Hana nengingatkan.
“Nggak masalah. Rida sama Rangga sudah sama eyangnya, tinggal Indah sama anaknya saja saya bisa.”
Hana menghela nafas dan menatap Andre. “Andre,” panggilnya dengan suara rendah.
“Iya, iya aku balik kantor.”
Di satu sisi Hana ingin kembali pada pekerjaannya namun di sisi lain ia masih ingin menikmati suasana keluarga yang baru direngkuhnya ini.
“Tante, Hana saya tinggal ya. Dika pasti repot mengurus semuanya sendiri terlebih Dedi juga sedang sibuk di rumah sakit ini,” jelas Andre meski tak ditanya.
“Iya tenang saja. Hana di sini sama keluarganya, kamu yang hati-hati.”
Andre meringis. Iya juga. Kenapa harus aku titipkan, padahal mereka jauh lebih jelas hubungannya dengan Hana daripada aku.
“Ya udah Andre pamit…”
__ADS_1
Andre segera pamit pada Indah dan Mustika. Dengan diantar Hana ia meninggalkan ruangan Indah lanjut ke kantor untuk meneruskan pekerjaannya.
Setelah Andre pergi, Indah bersiap membersihkan diri. Ia masih ngeri jika harus sendiri sehingga meminta bantuan Rio untuk hal ini.
“Ma, maafkan Hana…” ujar Hana tiba-tiba.
“Kenapa kamu harus minta maaf. Kalau dilihat dari awal mama yang merusak semuanya.”
Hana menggeleng, namun selanjutnya ia tak berkata apa-apa. Sulit memang posisinya. Mungkin sebagai wanita Hana akan menyalahkan sang papa yang tak punya pendirian dan plin plan. Mencintai mamanya namun tak rela melepas Mustika. Apakah laki-laki memang seperti itu?
“Kita nggak bisa puter balik Nak, yang bisa kita lakukan adalah terus berjalan ke depan. Melakukan sebaik-baiknya dan berusaha tak terjatuh di lubang yang sama.”
“Iya Ma. Tapi kenapa Mama bisa sekuat ini?”
“Kuat apanya?”
“Ya kuat menjalani peran sebagai istri papa padahal papa punya mama Erika sebagai wanita lain dalam kehidupan kalian.”
Mustika mengambil alih bayi Indah yang sedari tadi ada di gendongan Hana. Ia kemudian menyentuh dengan lembut wajah bayi yang masih merah itu menggunakan jemarinya.
“Kamu mungkin akan menertawakan mama jika mama cerita bagaimana papa kamu yang selalu mencari alasan untuk tak menyentuh mama. Namun akhirnya malam itu terjadi dan di bulan berikutnya ada Rio di rahim Mama.”
Memang Mustika hanya mengatakannya dengan kalimat candaan namun Hana yang sudah khatam perihal hubungan dewasa dapat menerka apa maksud mama tirinya.
“Sini...” ujar Mustika bermaksud meminta cucunya yang tengah digendong Hana.
Mustika tak berkata apa-apa lagi ia memandangi bocah mungil ini yang menggeliat. Ia menimangnya dan menepuknya lembut beberapa kali. Setelah bayi ini nampak mulai terlelap, Mustika lantas meletakkan cucunya di dalam box secara perlahan dan kemudian menyelimutinya. Ia kemudian menghadap Hana dan memeluknya.
Semula Hana ragu dengan ketulusan Mustika, tapi dilihat dari caranya berbicara semua tak menampakkan ada kamuflase atau semacamnya. Ia tak segan mengatakan ia salah, namun ia juga mengatakan ketidak berdayaannya setelah ia salah langkah. Bukan kah ini sebuah kejujuran dimana seorang manusia tidak pernah menjadi mutlak benar atau pun salah.
“Namun sebagai manusia ada kalanya saya muak. Saya merasa mas Galih terlalu kejam terhadap saya, sehingga saya mulai punya pikiran kotor untuk melakukan hal yang sama dengannya.”
“Lalu?”
“Lalu bukannya saya merasa senang justru kemudian saya makin hancur karena…”
Hana tak kembali mendesak. Ia hanya ingin mendengar apa yang Mustika katakan. Karena Hana sadar ini bukan hal yang baik tentang diri mama tirinya. Ia sendiri punya aib yang meskipun orang lain sudah ada yang tahu tetaplah hal ini tak nyaman untuk dibicarakan.
“Ini menjadi salah satu sebab tak baiknya hubungan Rahardja Group dan Surya Group sampai sekarang…” ujar Mustika setelah beberapa lama ia diam sementara.
Hana sama sekali tak berani bersuara sekarang. Ternyata permasalahan dua perusahaan ini tak sesederhana dugaannya. Tidak hanya pure saingan bisnis, namun juga ada urusan hati di dalamnya.
“Ooooeee, ooeee….”
“Ha? Dia nangis…” gumam Mustika. Ia lantas segera mengangkat bayi Indah dan mulai menggendongnya lagi.
“Sebentar ya cucu Oma, Mama kamu masih mandi sama Papa… cup, cup, cup…”
“Hana, coba kamu cek Indah ya, sepertinya dia sudah haus.”
__ADS_1
“Baik Ma…”
Dan hari ini Hana menghabiskan waktunya untuk turut menjaga Indah dan anak yang baru dilahirkannya, karena hanya ada mustika dan Rio yang menemani. Galih ada pekerjaan dan orang tua Indah menjaga kedua anaknya di rumah. Jadi Hana memang merasa ia perlu ada di sana.
Malam hari…
“Hana dijemput Andre kan?” tanya Indah pada Hana yang tadi sudah bilang jika malam ini ia tak menginap di rumah sakit lagi.
“Iya Kak…” jawab Hana sambil melipat selimut untuk keponakannya.
“Pulangnya?”
“Ki, kita nggak serumah kok…” sahut Hana cepat.
Indah tersenyum dan menggerakkan tangannya agar Hana mendekat. Pernah mempelajari psikologi meski bukan ahlinya tapi Indah tahu prinsip dasar yang tengah Hana lakukan sekarang.
Secara alamiah, seorang manusia tak kan pernah mau dipandang salah meski faktanya ia bersamalah. Untuk itu jika ia merasa ada kesalahan dalam dirinya, ia cenderung akan membela diri meski nyatanya belum ada serangan yang datang padanya. Ini tak lebih dari sebuah upaya untuk pencegahan sebelum ada kejadian.
“Kakak nggak akan marah. Kalau nggak keberatan kamu bisa kok tinggal sama kakak, itu kalau nggak keberata. Tapi kalau ngerasa kurang nyaman, ya kamu nggak apa-apa tetap di tempat kamu sekarang, yang penting kamu hati-hati dan saling mengingatkan, ya…”
Hana menatap wanita cantik ini. Wanita cantik yang sanget serasi bersanding dengan kakaknya yang tampan. “Kak…”
Alih-alih menjawab panggilan Hana, Indah lebih memilih merentangkan kedua lengannya. Dan merasa tak ada yang bisa ia katakan Hana pun segera merangsek untuk memeluk Indah sekarang.
“Makasih Kak…” ujar Hana di tengah pelukannya.
Saat baru saja adegan berpelukan itu diakhirnya, tiba-tiba seseorang mendorong pintu dari luar. Dan Andre muncul setelah pintu terbuka.
“Kok sudah sampai?” tanya Hana yang tak menyangka Andre akan muncul secepat ini.
“Iya. Bukankah aku harus mengantarkanmu pulang…” ujar Andre beralibi.
“Tck, sama saja,” gumam Indah sambil menahan tawa.
Andre yang tak paham lantas menatap Hana yang menarik lebar kedua sudut di bibirnya. Wanita ini bukan sedang tersenyum namun sedang meringis canggung.
“Kalian kalau mau pulang, pulang aja,” ujar Indah yang terdengar seperti mengusir.
“Tapi Kak Rio masih keluar,” kata Hana.
“Hanya ke apotik,” ucap Indah
“Nunggu sebentar nggak apa-apa kok,” timpal Andre.
“Kalian balik saja, sandiwara kalian gampang terbaca, xe xe xe…” Indah tak tahan untuk tak mengatakan penilaiannya.
Andre dan Hana kompak mengatubkan bibirnya.
“Kita pamit, Indah…” ujar Andre akhirnya.
__ADS_1
Indah mempersilahkan dengan gerakan tangan, dan sejoli ini benar-benar meninggalkannya seorang diri.
Bersambung…