Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Hantu


__ADS_3

HAPPY READING


Bertahan dalam gelisah, sungguh sama sekali tak menyenangkan. Aku ingin lari, tapi aku baru ingat jika aku tak punya siapa-siapa di dunia ini. Jika aku bertahan di sini, apakah ini merupakan sebuah keputusan yang tepat untuk aku pilih dan jalani?


Hana masih bimbang dengan apa yang ingin ia lakukan. Ia katanya punya papa tapi sejak kecil tak pernah menganggapnya. Namun sekalinya ia datang, sikap baiknya hanya bertujuan untuk mengirim Hana ke sarang musuh dan menjadikannya alat untuk menghancurkan lawannya. Ia benar-benar ingat jika Galih berdalih ini yang terbaik untuknya. Ia mendapat tugas ini karena wujud rasa sayangnya pada Hana sebagai orang tua. Tapi apakah iya? Bukankah sebagai orang tua harusnya tak akan tega melihat anaknya berada dalam bahaya.


“Ini sudah jam 9 malam, kenapa Andre belum juga pulang? Apakah ia akan menghabiskan malam ini dengan wanita?”


“Aaaaaaaaa!!!!”


Hana menutup mata dan telinganya. Ia langsung ambruk dan berguling-guling di atas ranjang empuk yang menjadi saksi pergulatannya semalam. Ia menendang-nendang ke udara, begitu seterusnya hingga ia harus rela tubuhnya jatuh terpelanting di atas lantai dengan bantal menimpanya.


Hana lupa akan rasa sakit yang harusnya dia rasa. Ia duduk dan memeluk bantal yang jatuh bersamanya.


“Mama, maafin Hana.”


Ia ingat jelas setiap adegan panas yang ia dan Andre lakukan bersama. Dengan penuh kesadaran ia menyerahkan mahkotanya pada pria yang belum dikenalnya dengan baik. Lebih parahnya lagi ia tahu bahwa Andre sangat membencinya.


Hana tiba-tiba meraba perutnya. “Mungkinkah akan ada Hana kecil di sini?”


“No no no no. Ini tak boleh terjadi. Aku tidak mau jika harus punya anak dalam keadaan seperti ini.”


Andre tak sedikitpun ragu dalam setiap tindakannya. Ia sangat mahir seakan ini adalah sesuatu yang sudah sangat dikuasainya.


"Andre pasti sudah biasa dengan gaya hidup seperti ini sebelumnya. Ia punya uang, ia punya wajah yang tampan. Meskipun hanya wajah kedua, tapi pesonya tak bisa diremehkan terlebih mengingat Restu Andika sudah punya Rina yang kecil kemungkinan wanita akan berani mendekatinya."


Hana menghela nafas.


"Mungkin aku hanya satu dari sekian wanita yang menyerahkan tubuhnya untuk Andre."


Hana benar-benar terprovokasi oleh ucapannya sendiri. Ia benar-benar merasa hancur saat ini.


Ia tahu berasal dari mana? Ia tahu bagaimana asal usul kehidupannya, ia tahu masa lalu mamanya. Ia melalui masa kecil yang menyedihkan dan selalu dicap sebagai anak haram karena tak pernah ada riwayat menikah di identitas mamanya namun ia mengakui Hana sebagai anaknya.


Satu-satunya hal yang bisa ia banggakan di atas semua kehinaan yang melekat pada dirinya sudah musnah. Dia tercipta di tengah kehidupan malam yang menjebak mamanya. Dan kini ia juga merasa ia tak lebih baik dari mereka yang menyerahkan tubuhnya pada siapa pun lelaki tanpa dasar cinta sama sekali.

__ADS_1


Kadang dia berfikir, jika saja mamanya menyerah pada takdir dan bertahan pada kehidupan malam bersama Hana juga, apakan ia akan merasakan penderitaan semacam ini. Setidaknya saat ada yang mengatainya wanita malam itu semua karena ia memang wanita malam. Karena sekeras apa pun Hana berjuang, ia tak bisa menolak kenyataan bahwa ia tercipta di tengah kehidupan malam.


“Mama. Maafkan Hana. Meskipun mama sudah berjuang keras agar Hana bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak, tapi nyatanya Hana yang menghancurkan hidup Hana sendiri.”


Hana mulai meneteskan air mata. Perlahan ia menekuk lututnya hingga menyentuh dada. Ia memeluk kedua lutut itu dan mulai menangis di sana.


“Mamaaaaa….”


Hana benar-benar menyesali kebodohannya. Perjuangan kerasnya selama ini sia-sia. Dengan mudahnya ia menyerah begitu saja dengan orang yang mungkin saja akan  membuatnya bernasib sama dengan mamanya. Memberinya anak dan menelantarkannya kemudian seperti Galih Raharja.


Hana menangis hingga lelah, hingga akhirnya ia memejamkan mata begitu saja.


***


Sudah dini hari dan Andre masuk ke dalam apartemennya dengan tergesa. Pintu utama terbuka tapi ia tak menemukan


kehidupan di sana.


Apakah Hana pergi?


“Jadi untuk apa aku libur selama seminggu jika sudah tak ada lagi yang menghangatkan kasurku?” Andre tertawa sendiri merasa huniannya ini begitu sepi.


Andre tak peduli apa pun yang diucapkannya, toh tak ada orang lain di sana yang akan mendengar ucapannya.


Andre menanggalkan pakaiannya dan melempar sesuka hatinya. Meskipun ini sudah dini hari, tapi ia harus tetap mandi


untuk membersihkan diri. Ia berdiri di bawah shower dan langsung menyalakannya. Ia membiarkan air hangat itu mengguyur tubuh lelahnya. Tak ada yang ia lakukan selain berdiri dan diam. Ia masih merenungkan apa yang akan ia lakukan sekarang. Jika sebelum ada Hana ia hanya fokus untuk bekerja dan meraih kesuksesan di usia muda, kini pikirannya mulai kemana-mana. Ia mulai mengkhawatirkan banyak hal termasuk kehidupannya di masa yang akan datang.


Puas membiarkan tubuhnya basah, Andre mematikan shower dan mengambil handuk. Ia sangat lelah hingga tak punya cukup tenaga untuk membuka lemari dan mencari pakaian ganti untuknya. Dengan handuk sebatas pinggang, ia


bergerak ke arah ranjang. Ia ingin segera tidur karena merasa kehabisan daya.


“Awh!”


Andre mundur saat ia merasa kakinya menabrak sesuatu. Ia juga sedikit merasa aneh saat mendengar suara rintihan.

__ADS_1


“Kalau itu suara hantu kenapa aku sama sekali tak merasa takut saat mendengarnya?” gumam Andre pasca mendengar suara rintihan.


Andre mundur beberapa langkah dan menyalakan lampu tidurnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat seorang wanita


meringkuk di lantai samping ranjangnya.


Andre berkacak pinggang sambil melihat ke bawah. Ia menatap tak percaya apa yang baru saja dilihatnya.


“Dasar rumput liar. Apa kamu tidak bisa anggun sedikit.”


Andre berjongkok dan menyelipkan kedua tangannya di bawah lutut Hana dan sebelah lagi di punggungnya. Perlahan ia mengangkat tubuh Hana dan menidurkannya di atas ranjang.


“Kalau ingin menggodaku bukan begini caranya. Apa kamu tidak tahu cara yang lebih baik untuk menggoda pria?”


Andre bicara sendiri seperti orang gila. Teknologi fast charging ternyata tidak hanya dikembangkan untuk ponsel saja, tapi Andre yang beberapa menit lalu menyerah karena kehabisan daya, kini tiba-tiba ia merasa energinya penuh dan siap  melakukan apa saja.


Setelah menyelimuti Hana, ia berjalan menuju lemari pakaian. Ia tak mungkin tidur dalam kondisi seperti ini saat Hana ada di sampingnya. Andre merasa mengendalikan diri menjadi hal yang sangat sulit saat bersama rumput liar ini.


“Mama.”


Andre langsung menoleh menatap Hana yang nampak gelisah dalam tidurnya. Namun tak seberapa lama, Hana kembali tenang di atas ranjnganya. Andre mengambil kaos oblong setelah sebelumnya mengenakan celana.


“Maafin Hana, mama, mama.”


Andre segera menutup pintu lemarinya. Ia berjalan dengan segera untuk menghampiri Hana.


“Mama, Hana takut ma…”


Andre menyelipkan lengannya di bawah tengkuk Hana. Ia membawa wanita ini tidur di pelukannya.


Aku tak tahu acting semacam apa yang kamu lakukan. Yang jelas kamu sudah berhasil membawaku masuk dalam permainanmu. Jadi mulai saat ini mari kita bermain bersama.


Andre memeluk tubuh Hana dengan erat dan terlelap bersamanya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2