Zona Berondong

Zona Berondong
Ketahuan


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


"Rina!"


Dedi tak menyangka Rina bisa tiba-tiba ada di sana. Saking terkejutnya, Rista pun dibuat tak mampu bersuara.


"Iya aku."


"Udah kagetnya dipending. Mending kalian mikirin gimana caranya selamat dari Dika."


Kedua sejoli ini berusaha merapikan penampilan mereka, sementara Rina memperhatikan sambil bersedekap dada.


"Udah sampai mana kalian?"


"Sampai mana apanya sih Rin?" Melihat Rista yang wajahnya memucat, Dedi berinisiatif untuk terlebih dulu menjawab.


"Ya kalian. Udah ngapain aja. Gr*** doang, or*l atau malah udal ML?"


"Rin! Nyadar nggak sih lu lagi ngomong sama anak umur berapa. Mana ngerti dia istilah yang begituan!" Emosi Dedi tersulut saat mendengar ucapan Rina.


"Dia emang nggak ngerti istilahnya, tapi udah paham cara ngelakuinnya!" balas Rina dengan tak kalah berapi-api.


"Oke fine. Gue salah. Mau lu apa?"


Rina menghela nafas, berusaha meredakan emosinya yang berada di puncak.


"Gue nggak akan ngehakimin kalian."


Rista langsung lemas mendengar Rina menurunkan intonasinya.


"Maafin Rista, Rista yang salah," lirih Rista dengan menundukkan kepala.


Rina berjalan menghampiri Rista. Ia sempat memegang bahu gadis kecil yang lebih tinggi darinya ini sebelum memeluknya.


"Jangan nangis. Udah kejadian juga."


Dedi beringsut ke tepian ranjang. Ia mencengkeram kepalanya dengan mata terpejam.


***


Tiga orang ini duduk di sudut ruang istirahat Dika. Terdapat meja kecil menyerupai mini bar di sana. Hanya diam tanpa ada percakapan apa-apa sejak Dika pamit pada Rina jika ada pertemuan yang harus didatanginya. Awalnya Dedi yang akan datang, namun Dika dan Andre masih mengira Dedi belum kembali dan masih pergi bersama Rista.


"Waktu terus berjalan, dan Dika akan segera kembali. Sekarang diantara kalian, siapa yang mau berbicara."


Dedi meraih tangan Rista dan menggenggamnya erat saat melihat mata gadis kecil ini mengeluarkan air mata.


"Aku yang salah. Aku yang nggak bisa nahan diri dan ngelindungi Rista."


Rista tak dapat membendung air mata yang semula berusaha ia tahan. Ia tak bisa berbuat apa-apa ketika Dedi harus mengakui kesalahan yang sebenarnya ia perbuat. Padahal kenyataannya Rista yang datang dan membuat Dedi seperti ini.


Rista menatap tak tega pada kekasihnya. Aku tahu sangat tak pantas perilakuku, aku hanya ingin dia segera menjadi milikku, sayangnya semua menganggapku masih kecil dan memikirkan pernikahan pun belum pantas. Bahkan Aisyah pun dinikahi rasulullah saat masih anak-anak, kenapa aku tak boleh?


Namun cara ini ternyata tak sanggup meruntuhkan pertahanan Dedi yang cukup kuat. Ia tetap memperlakukan Rista layaknya benda rapuh yang hanya boleh dipuja. Memang sudah kesana-kemari, namun tak ada banyak yang dilakukan pemuda ini.


"Rin, aku mohon, jangan sampai Dika tahu hal ini," ujar Dedi sungguh-sungguh.


"Nggak bisa," tolak Rina cepat.


"Aku tak bisa memutuskan semuanya ini sendiri, terlebih Rista adalah adiknya."

__ADS_1


Tepat saat itu juga, pintu terbuka, menampilkan sosok Dika di sana.


"Loh, ada kalian ternyata?" kagetnya saat melihat ada Rista dan Dedi bersama Rina.


Rina bangkit dan menghampiri suaminya. "Sayang, udah selesai?"


"Udah," jawab Dika singkat.


Langkah Dika terhenti saat menatap adik dan sahabatnya. Fokusnya tersita pada mata Rista yang sembab dan Dedi yang terlihat kacau. Aura cerahnya lenyap seketika, berubah menjadi aura membunuh yang siap mencabut nyawa kapan saja.


"Ada apa ini?"


"Sayang, duduk dulu yuk." Rina berusaha meredam emosi suaminya.


Dengan wajah gelapnya Dika menuruti ucapan istrinya.


"Maafin gue."


Rista menatap tak percaya apa yang baru saja Dedi katakan. Dika tak bergeming dengan tangan mengepal.


"Lu apain adik gue?!" teriaknya penuh emosi.


Rina masih memegangi lengan Dika. Jika tidak, mungkin kepalan tangan itu sudah menghantam Dedi saat ini.


"Sayang, sabar dulu. Ingat, Dedi juga berperan dalam hubungan kita. Jika tak ada dia yang susah payah jadi penjaga, mungkin aku udah kamu perawanin sejak lama."


Krik krik


Dika cengo sembari menatap Rina. Ya Tuhan mulutnya. Kenapa harus muncul kalimat itu di saat seperti ini. Racau Dika sebelum akhirnya membuang muka.


Suasana tegang mengendur seketika. Pulang dari bulan madu Rina jadi susah mengendalikan mulutnya. Mungkin filternya tertinggal di Turki sana.


"Ehm, Ehm..." Dika berdehem untuk mencairkan suasana canggung yang diciptakan istrinya.


"Sayang bisa ambilin minum nggak?" lanjutnya


Rina segera berjalan menuju sebuah kulkas kecil.


"Ambilin buat mereka juga."


Rina kembali dengan membawa 4 minuman kemasan di tangannya sesuai permintaan suaminya.


Dengan tak sabar, Dika membuka salah satunya dan meminum dengan tergesa.


Krak


Dika meremas botol plastik malang yang telah tandas isinya itu dan menatap intens sahabatnya.


"Ded, kita sahabatan udah lama, sekarang rencana kamu apa?"


Dedi meraih minuman dingin di hadapannya, berharap dapat membantu mending kan kepala.


"Akhir pekan ini aku berangkat?" ucap Dedi akhirnya.


"Berangkat kemana?" tanya Rista yang tak paham dengan apa yang dibicarakan kaka dan kekasihnya.


Dika mulai gelisah. Ia akan segera kehilangan tangan kanan serba bisa secepat ini. Rina pun sama, turut cemas dengan beban berat yang ada Dika pikul sendiri tanpa Dedi di sampingnya.


"Apa karena masalah ini?"

__ADS_1


Dedi menggeleng.


"Aku hanya ingin punya waktu untuk beradaptasi di sana."


"Hey, kalian ngomongin apa sih?" kembali Rista bertanya karena merasa diacuhkan.


Dika dan Rina sepakat diam, memberi waktu untuk Dedi berbicara dengan adik mereka.


"Ta, kamu tahu aku udah diterima di sebuah fakuktas kedokteran?"


"Tahu."


Dedi menghela nafas, mengusir ragu agar dapat segera mengungkap rencananya pada Rista.


"Jadi, untuk beberapa tahun kedepan kemungkinan kita tidak bisa ketemu."


Rista mengerjap dan menatap ke sana kemari. Ia memang belum tahu rencana Dedi yang satu ini.


"Kenapa? Apa ada larangan untuk memiliki pacar selama study?"


Sesekali Dika beradu pandang dengan Rina. Diam-diam mereka sudah bersiap dengan berbagai reaksi yang akan terjadi pada Rista.


"Bukan, tapi aku harus giat belajar demi mempertahankan beasiswa."


"Kenapa harus capek-capek kejar beasiswa, papa kan udah ngecover semua."


"Meskipun tak ada beasiswa, aku tetap harus sungguh-sungguh belajar dan mungkin tak ada waktu untuk memikirkan hal selain itu."


Rista menatap sekilas kakak dan kakak iparnya.


"Sepertinya hanya aku yang baru tahu sekarang."


Rista tertawa miris.


"Kuliah dimana?" kembali Rista bertanya tanpa menatap yang diajak berbicara.


Dedi tak suka melihat Rista seperti ini, makanya ia selalu merasa tak sanggup untuk membicarakan ini lebih awal. Dedi segera memegang bahu Rista dan mendekap erat tubuhnya.


"Ta, aku sebenarnya berat mengambil keputusan ini, tapi..."


"Dimana?!" ulang Rista dengan nada meninggi.


"Harvard?" kini Dedi yang dibuat tak sanggup menatap gadisnya.


Sesaat Rista merasa kehilangan detak jantungnya. Ia tahu dimana kampus ini berada, di belahan dunia lain yang waktunya saja jauh berbeda.


Ia benar-benar merasa kecewa. Mengapa ia menjadi orang terakhir yang tahu hal ini. Dengan pikiran kacau Rista mendorong tubuh Dedi dan berlari meninggalkan mereka semua.


"Ta!!!"


Dedi hendak berlari menyusul kekasih kecilnya, namun tiba-tiba Rina berdiri dan menghadangnya.


"Izinkan aku berbicara padanya."


"Rin, aku nggak bisa..."


"Please Ded. Kalian sama-sama kacau. Jadi biarin Rina yang ngomong sama Rista," lerai Dika sebelum Dedi menghempaskan tubuh istrinya.


Dedi terduduk di lantai dan melayangkan pukulan kuat di sana.

__ADS_1


"Apa keputusanku ini terlalu egois? Untuk apa aku sembuh jika akhirnya Rista harus terluka."


TBC


__ADS_2