
HAPPY READING
Disebuah ruangan dengan desain elegan, Andre berdua bersama Hana menikmati makan siang mereka.
“Nggak suka makanannya?” tanya Andre saat melihat Hana hanya mengaduk-aduk makanan tanpa sekalipun memasukkan ke dalam mulutnya.
Hana meletakkan alat makannya dan menatap tajam Andre yang duduk di hadapannya. “Kamu bikin posisiku sulit tahu nggak?” ketus Hana kemudian.
“Sulit gimana sih” tanya Andre tak mengerti karena ucapan Hana yang tiba-tiba.
“Ya kamu pikir aja lah, apa yang mereka pikirkan saat kamu terus-terusan mengirimkanku makanan. Hana yang tiba-tiba muncul dan tak punya apa-apa seperti orang hilang, tiba-tiba didatangi pria kaya yang tak segan menggelontorka uang untuk memanjakanku.”
“Emang kamu bilangnya aku siapa?” tanya Andre setelah menelan makanan di mulutnya.
“Aku bilang kamu atasanku saat aku masih bekerja di Surya Group,” jawab Hana dengan kepala perlahan turun untuk menunduk.
Hana memilih segera memutus kontaknya dengan Andre, karena ia merasa tak nyaman setelah mengungkap fakta palsu yang sengaja ia karang. Andre diakui sebagai rekan kerjanya bukan atasannya pada rekan-rekan di tempat kerjanya sekarang.
“Ya sudah, memang benarkan?” Andre kembali menyuapkan makanan sembari terus menatap Hana.
Hana mendesah. “Ya tapi apa kamu nggak mikirin aku?” Tanya Hana sambil kembali menaukan kontak diantara keduanya.
“Apa yang ada di otak mereka saat melihat ada mantan bos yang memperlakukan mantan bawahan seperti yang kamu lakukan terhadapku?” lanjut Hana kemudian.
“Ya bilang saja kalau kita punya hubungan lain di luar bos dan bawahan, beres...” Andre kambali memasukkan makanan dan mengunyahnya dengan perlahan.
“Nah itu. Otak mereka pasti traveling Andre…” kesal Hana sambil menusuk dengan sekuat tenaga makanan di hadapannya.
“Ya biarin. Emang nyatanya kita udah trav…” Hana segera menyuapkan sepotong besar kentang ke dalam mulut Andre sebelum pria ini berbicara kemana-mana.
Andre Nampak terkejut namun ia tak marah dengan apa yang Hana lakukan. Ia justru terlihat senang dengan bibir tertarik sedikit di sudutnya. Ia kemudian bangkit dengan membawa piringnya dan duduk lagi di dekat Hana.
“Nih, suapin lagi,” ujarnya sambil meletakkan piringnya di depan Hana.
“Ogah…” tolak Hana dengan wajah merengut.
“Aku bakal makan kamu kalau nggak kamu suapin sekarang…”
Hana hanya bisa mendengus. Andre memang selalu punya cara manis untuk memaksa Hana. Ia pun meraih dengan kasar piring yang masih Andre pegang. Dengan wajah tak suka, Hana pun segera melakukan apa yang Andre minta.
“Mulutku nggak muat Hana kalau segitu banyaknya,” protes Andre saat Hana hendak menyuapkan sesendok besar makanan.
__ADS_1
“Terus gimana?”
“Ya kurangin dong…”
Masih dengan wajah cemberut, Hana kembali melakukan apa yang Andre minta. Meski ia berlagak kesal, namun jujur ia sangat bahagia. Dalam hati ia sangat merindukan momen ini. Momen dimana ia dan Andre hanya berdua. Melakukan interaksi berdua. Meski bukan hal yang manis dan romantis, tapi Hana sangat senang dengan situasi semacam ini.
Setelah adegan sok kesal yang Hana lakukan pada Andre usai, kini ia sudah menyandarkan kelapanya di dada Andre yang berada dalam posisi merangkul tubuh rampingnya.
“Apa kamu tahu acara makan malam besok?” tanya Hana sembari memainkan tangannya di dasi Andre yang berada di hadapannya.
“Ehm." Andre berdehem agar ia bisa menjaga ekspresi wajahnya. "Acara makan malam apa?” tanya Andre kemudian.
“Acara makan malam yang Surya Group adakan untuk mengapresiasi prestasi penjualan toko kami,” ujar Hana menjelaskan.
“Apa menurut kamu aku setidak punya kerjaan itu, sehingga harus mengurusi masalah kecil seperti ini?” Andre balik bertanya tanpa penekanan dalam ucapannya.
Hana terdiam. Tangannya pun berhenti memainkan dasi Andre. “Iya juga ya,” ucapnya kemudian setelah sempat merenung beberapa saat.
“Aku pikir ini semua cuma akal-akalan kamu, karena mbak Nuke bilang kalau kemungkinan besar karyawan yang direkrut itu adalah aku,” lanjut Hana sembil menatap Andre yang sibuk dengan ponselnya.
“Percaya diri sekali anda…” sarkas Andre tanpa mengalihkan pandangannya.
“Saya memang punya kemampuan Bapak…” balas Hana tak mau kalah. Ia tak tersinggung saat Andre menduakannya dengan seperti ini. Jangankan dengan hubungan keduanya yang tak jelas seperti sekarang, dulu saja saat keduanya masih tinggal bersama, Andre kerap kali seperti ini.
“Aku percaya…” ujar Andre sembari meletakkan ponselnya.
Diam-diam Hana merasa senang karena akhirnya ia tak punya saingan. Tak dapat dipungkiri jika Hana sangat bahagia ketika Andre bisa menatap penuh kepadanya. Seberapa pun kuatnya Hana pergi dari Andre, namun pada akhirnya ia akan tetap luluh jika pria ini sudah menemukannya. Karena memang seluruh hati Hana telah Andre kuasai sepenuhnya.
Andre mengeratkan pelukannya pada tubuh Hana setelah tangannya kini tak memegang apa-apa. Ia menggeser tubuhnya persis di belakang Hana dan menenggelamkan wajahnya di leher jenjang wanita cantiknya. Kata-kata yang sebelumnya mengalir dengan lancarnya, kini mendadak sirna entah kemana. Dua manusia berbeda jenis kelamin ini, kini tengah berselimut diam, dengan tubuh yang membil alih bahasa.
Hana yakin ada hasrat lain yang menguasai Andre saat ini. Nafasnya terdengar berat, menerpa permukaan lehernya yang tak berbalut apa-apa. Logikanya berkata untuk melepaskan diri, namun nalurinya berkata untuk diam dan membiarkan apa pun yang terjadi.
Dan tanpa perlu menunda waktu, terjadilah apa yang sudah Hana yakini sebelumnya. Andre mulai mendaratkan kecupan-kecupan lembut di kulit mulus Hana, namun dalam sekejap berubah ritme menjadi ganas dan memanas. Dengan tak sabar ia memutar tubuh Hana untuk kemudian menyambar benda tipis nan kenyal yang sudah sangat dirundukannya.
Tubuh Hana lemas tanpa daya. Ototnya telah kabur entah kemana karena tak sanggup melihat adegan berani yang Andre dan Hana mainkan saat ini.
“And… emmm, Ndre…” Hana berusaha melepaskan bibirnya dengan sebisa mungkin menghindari raupan Andre. Ia berpaling kesana-kemari asal bibir keduanya tak tertaut kembali. Dadanya terasa sesak karena kehabisan pasokan udara, ditambah sekarang posisi Andre yang entah sejak kapan sudah menumpukan berat badan padanya.
“Kenapa Hana…” Andre terlihat gusar dengan nafas yang
menderu kasar setelah Hana melepaskan diri darinya.
__ADS_1
Setelah bebas, Hana segera meraih minuman di atas meja kala tubuhnya sudah kembali tegak. Ia meminum isinya dengan segera mengabaikan pakaian yang terbuka pada bagian depan. Saat telah berhasil menuntaskan dahaga, Hana baru sadar jika kancing banjunya telah hilang entah kemana.
Andre menyugar rambutnya, dan mengeluarkan sebatang rokok untuk ia nyalakan. Sementara Hana kini terdiam sambil menatap penampilannya. Dengan kancing yang telah hilang, Hana berusaha menutupi bagian sensitifnya dengan memegang erat kedua sisi bajunya.
Saat sebagian kewarasannya sudah kembali, Hana jadi khawatir dengan kabar lehernya. Ia menggigit bibirnya yang terasa kebas, dan segera mencari ponsel untuk mengecek keadaan organ yang menyangga kepalanya ini.
“Andreeee…!!!”
“Kenapa Han…” Andre yakin Hana pasti akan meneriakinya saat sadar ia telah berhasil membuat karya.
“Kok kamu bikin beginian sih?” protes Hana sambil menunjukkan keadaan lehernya.
“Kenapa? Kurang banyak ya. Sini aku tambahin…”
Hana langsung bangkit saat Andre hendak mendekatinya lagi. “Kamu nggak waras,” kesalnya kemudian.
“Kewarasanku hilang gara-gara kamu Hana,” ujar Andre sambil kembali menghisap gilingan tembakau yang terselip di sela jarinya.
“Ini gimana Ndre. Mana bisa aku kebali kerja dengan keadaan seperti ini.” Hana sadar tak mungkin ia protes karena kondisi bajunya yang mengenaskan dan kehilangan kancing, karena jika di awal tadi ia tak memberi kesempatan, maka ia yakin hal semacam ini tak mungkin terjadi.
“Ya sudah, kita pulang saja dan kamu nggak usah balik ke sana. Aku yakin tidak ada kontrak kerja yang kamu tanda tangani sehingga mengikat kamu untuk tak mengundurkan diri.”
“Iya, tapi mereka mikirnya apa tentang aku.”
Andre mematikan rokoknya yang baru berkurang setengahnya. Ia membawa tangannya ke atas meta dan menyatukannya di sana. “Hana, jangan terus-terusan mikirin orang lain dan mengorbankan diri kamu. Jangankan kita yang penuh dosa, orang yang suci dan nyaris tanpa cela saja masih terlihat cacat di mata sesama manusia.”
“Tapi Ndre, di dunia ini kita hidup tak hanya sendiri. Mana mungkin kita bisa bersikap biasa saja jika orang disekitar tak menerima.”
Andre meraih pergelangan tangan Hana dan menariknya. “Sumpah Han, aku pengen hamilin kamu lagi kalau kamu masih aja gini,” ujar Andre tepat setelah Hana kembali jatuh dalam pelukannya.
“Jangan…”
Hana menahan dada Andre saat pria ini hendak kembali mendaratkan bibirnya.
“Kenapa?”
“Ini tempat makan, bukan tempat…” Hana bingung kenapa harus kata-kata itu yang ia ucapkan sekarang. Tiba-tiba ia merasa Andre mendorong tubuhnya bersamaan dengan jas yang menyelimutinya dari belakang.
“Eh, eh. Andre, Andree!!”
Dan dengan gerakan yang tak kalah cepat, Andre membawa Hana berjalan dengan memegang pergelangan tangannya.
__ADS_1
Bersambung…