Zona Berondong

Zona Berondong
Indah


__ADS_3

^^^Kira-kira visual yang pas untuk main cast siapa aja ya?^^^


^^^-happy reading-^^^


Sesaat setelah Rio keluar, Indah segera mengunci pintu dan berjalan mendekati Rina.


"Mbak, Mbak mau ngapain."


Rina gemetar, tubuhnya merosot saat punggungnya menabrak tembok.


"Ssttt..."


Mata Rina terpejam saat Indah berhenti di hadapannya.


"Kamu mikirin apa sih. Open your eyes cantik."


Rina ngeri mendengar suara itu.


"Hey, apa aku begitu menyeramkan?"


Perlahan Rina membuka mata. Melihat itu Indah segera mengulurkan tangannya. "Namaku Indah."


Rina tertegun. Ngapain dia senyumnya gitu?


"Hey..."


Suara itu berhasil menyadarkan Rina. Refleks Rina menjabat tangan itu. "Aku Rina."


"Kamu pacarnya Rio?"


Rina menelan ludah dengan susah payah.


"Jangan takut," ucap Indah saat melihat Rina ketakutan.


"Mbak benci sama aku?"


Indah turut bersandar pada tembok di samping Rina. "Awalnya iya."


"Ha?!"


"Iya, awalnya aku benci sama kamu, karena saat itu...."


"Apa yang dimaksud saat itu adalah beberapa hari, emm maksudku sekitar seminggu lalu?" tanya Rina menyela.


Indah menatap Rina lekat. "Maksudnya?"


Rina menghela nafas. Ia memberanikan diri untuk menatap gadis cantik di dekatnya. Perawakannya ramping rambut Bob dengan wajah yang kalem dan cantik. Ditambah dengan polesan make up tipis membuatnya kian mempesona. Tak mungkin sepertinya ia akan menyakiti Rina.


"Udah ngelihatinnya?" Kembali Indah bersuara untuk menyadarkan Rina dari lamunannya.


"Eh, iya Mbak."


Rina kembali terdengar mengatur nafas untuk mengumpulkan keberaniannya. "Beberapa hari yang lalu aku diam-diam membuntuti Mas Rio dan melihat dia masuk ke kamar kos. Dan di sana aku lihat Mbak lagi sakit."


Indah nampak terkejut mendengar perkataan Rina, namun cepat-cepat ia menormalkan wajahnya. "Terus?"


"Aku sempet denger pembicaraan kalian berdua. Maafkan kelancanganku Mbak."


Indah menatap langit-langit ruang kosong yang nampak banyak sarang laba-laba itu. "Aku wanita macam itu," Indah tersenyum miris. "Perasaan kamu sama Rio gimana?" lanjut Indah kemudian.


"Aku nggak ada niat ngerebut dia dari Mbak," Rina panik menanggapi pertanyaan itu.

__ADS_1


"Kamu suka sama dia?" Indah mengulang pertanyaannya.


Rina menunduk. Dia bingung bagaimana menjelaskannya. "Aku jadian saat aku tengah ada masalah dengan pacarku."


"Lalu sekarang?"


"Mbak...." Rina menghadap Indah dan memegang lengannya. "Dia kasar sama aku Mbak, dia suka ngancam aku juga. Aku takut Mbak, aku nggak mau sama dia lagi, aku nyesel Mbak..." Rina mulai terisak saat mengadu pada Indah.


"Hhhh, posisiku juga sulit."


Rina menyeka air matanya.


Indah menyodorkan ponselnya. "Aku minta nomor kamu."


Rina menerima ponsel itu dan mengetikkan nomernya di sana.


"Thanks." Indah kembali menyimpan ponselnya. "Sementara kita ikuti permainan Rio, aku bakal bantuin kamu. Karena..."


Rina menunggu Indah yang masih menggantung ucapannya.


"Karena aku nggak mau berbagi cinta."


"Mbak ini.... " Rina sengaja menggantung ucapannya untuk bertanya.


"Aku pacarnya Rio, dan belum lama ini aku sudah melakukan kesalahan yang membuatnya marah."


Ya Tuhan, bahkan Rio masih punya pacar. "Dia ninggalin Mbak?" tanya Rina.


Indah menggeleng. "Dia berubah jadi tempramen dan gampang curiga sama aku sekarang."


Rina diam karena ia masih tak paham dengan kondisi mereka.


"Pesan aku cuma 1, jangan kecewakan orang yang udah jelas sayang sama kamu. Atau..."


"Atau kamu akan menyesal seperti aku." Indah bangkit dan berjalan menuju pintu. "Rahasiakan pembicaraan kita barusan."


Indah membuka kunci pintu setelahnya.


"Aku boleh balik ke kelas aja nggak?" tanya Rina.


"Rio nyuruh aku buat nahan kamu di sini. Aku belum tahu rencana dia."


"Mbak. Aku takut."


"Aku akan berusaha melindungi kamu. Asalkan kamu juga bisa kerjasama denganku?"


"Kerjasama apa?" Apa yang diinginkan Indah ini.


"Cukup ikutin apa yang aku bilang sama kamu."


Rina menunduk menatap ujung sepatunya. Apa aku benar-benar bisa mempercayaimu?


Derap langkah terdengar kian mendekat. Rina merasa jantungnya berdetak dengan begitu cepat.


Cklek


Hanya dengan suara pintu yang terbuka Rina bahkan sudah dibuat berjingkat saking kagetnya.


"Tinggalin kami Ndah." Ucap Rio saat dirinya muncul dari balik pintu.


"Yo. Kamu bisa langsung dilempar sama Om Ramlan kalau ketahuan berdua di sini."

__ADS_1


Mata Rina membulat mendengar ucapan Indah. Om Ramlan? Jangan-jangan yang dimaksud pak Ramlan kepala sekolah.


"Nggak akan, kamu tenang aja. Setelah wisuda. yayasan ini akan berpindah tangan padaku." Rio mendorong tubuh Indah untuk berjalan keluar.


"Itu masih akan Yo, bisa saja Om Ramlan dan papa kamu akan berubah pikiran kalau tahu sikap kamu kayak gini."


Rio tak menggubris ucapan Indah. Ia terus mendorong tubuh Indah ke arah pintu.


"Yo." Indah bersikeras menolak keluar. "Aku janji nggak bakal nyampurin urusan kamu. Tapi ijinkan aku di sini sekedar untuk mengawasi sekitar."


Akhirnya Rio membiarkan Indah berada di sana. Dia kemudian berjalan mendekati Rina. Dia mencengkeram rahang Rina dan membawanya mendongak ke atas.


"Jangan kamu pikir aku takut sama Reno Atmaja." Rio lantas menghempaskan wajah ayu itu.


"Mas, aku minta maaf, aku minta maaf juga buat papa. Dia cuma terlalu sayang sama aku."


Rio tersenyum miring. "Aku nggak ada urusan sama ikan teri, tapi yang jadi urusanku adalah pewaris tunggal Surya Group."


Rina diam. Dia masih belum dapat mencerna kata-kata yang diucapkan Rio.


Rio tersenyum remeh kepada Rina. "Rupanya kamu belum tahu dengan siapa kamu pacaran selama ini."


"Maksud Mas?"


"Bod*h, hahaha, gadis b*doh. Kenapa kamu bisa tak tahu ada tambang berlian di depan mata, hahhahaa!"


Rio terbahak. Di mata Rina, kini ia sungguh menjadi sosok yang begitu menyeramkan.


"Nggak nyangka jaman sekarang ada yang seb**oh kamu." Rio masih tertawa lagi. Dia kemudian menatap lekat gadis berseragam SMA di hadapannya ini. "Akan aku ajari bagaimana meraup berlian yang sudah ada di depan mata."


Rio, dia adalah keponakan dari kepala Sekolah Karya Bangsa. Ramlan Susanto adalah sepupu dari Galih Rahardja, ayah Rio. Dan ketua yayasan yang menaungi sekolah ini adalah ayah Rio yang mana nanti akan berpindah tangan pada Rio setelah dirinya di wisuda.


"Nggak, aku nggak bisa!"


Plak!


Pipi Rina kembali harus merasakan tamparan Rio. Kini dia kembali dibuat meringis saat Rio memcengkeram rahangnya.


Indah yang melihat itu tak bisa melakukan apa-apa saking syoknya. Bahkan saat aku melakukan kesalahan fatal pun Rio tak pernah melukaiku secara fisik.


"Kamu benar-benar sudah siap kalau video itu tersebar?!"


Rina tak lagi bisa membendung tangisnya. "Mas, kenapa harus aku?"


"Karena kamu bisa memuluskan rencana ku."


"Aku nggak bisa Mas, aku bahkan baru tahu semua hal yang tentang Dika barusan."


"Pakai tubuh kamu bo**h. Kamu pikir untuk apa aku masih menyelamatkan kepe**wanan kamu kalau bukan untuk memperdaya dia."


Sekilas pandangan Indah dan Rina bertemu. Ya Tuhan, kenapa ada skenario macam ini.


Rio mengepalkan tangannya dan mengarahkan sebuah bogem tepat di samping wajah Rina. Rina gemetar karena mengira bogeman itu akan mengenai wajahnya.


"Kamu pikirkan tawaranku baik-baik. Beri aku keputusan malam ini juga, atau besok pagi, kamu tanggung akibatnya."


Rio segera pergi meninggalkan Rina yang masih ketakutan. Tak berselang lama, Indah juga melakukan hal yang sama.


Rina perlahan bangkit. Ia tak ingin lebih lama berada di tempat ini. Ya Tuhan, aku harus minta tolong sama siapa.


TBC

__ADS_1


Makasih buat temen-temen yang udah mampir maupun yang udah berkenan mengapresiasi tulisan ini.


Mohon kritik dan saran jika ada kesalahan.


__ADS_2