Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Menjemput Bahagia


__ADS_3

Ngarep banget dapet jejak dari kalian.


Buat amunisi nerusin cerita ini.


Slogan awal nulis dipake lagi ah.


'Jangan lupa spam komen ya'.


Thanks a lot.


HAPPY READING


Pintu UGD terbuka dan Rio langsung bangkit dari tempat duduknya. Seorang pria muncul dengan jubah putihnya. Tanpa pikir panjang Rio langsung menyergapnya.


“Bagaimana kondisi istri saya?”


Dokter itu menghela nafas. “Saya belum bisa memastikan, saya sudah meminta pada dokter spesialis untuk memeriksanya, agar lebih akurat juga hasilnya.”


“Terimakasih Dokter. Lakukan tindakan apa pun yang menurut Dokter baik.”


Dokter tersebut mohon diri dan tak berselang lama muncul dokter perempuan dengan hijab besarnya. Dokter tersebut sempat menunduk hormat pada Dika sebelum masuk ke dalam ruang tempat di mana Indah diperiksa.


“Kamu kenal dia?” tanya Rio.


“Dia…” Dika menggantung ucapannya saat melihat Rina datang dengan membawa bayi di gendongannya. Dika bangkit dan menghampiri Rina, mengacuhkan Rio yang sebelumnya bertanya padanya.


“Kamu dapat ini dari mana?” tanya Dika saat sudah berhenti di samping Rina.


“Dari dokter siapa aku lupa namanya. Dia sedang ada pasien dan baby sitternya sedang ke kamar mandi, jadi aku ijin bentar buat ngajak jalan-jalan. Ya ampun lucunya, ututututu…”


Sejenak Dika dan Rina asik bermain dengan bayi itu hingga tak melihat dokter Halima yang sedang berbincang dengan Rio di depan UGD.


“Berusaha suka dengan anak kecil lebih manjur dari pada terapi hormonal.”


“Eh Dokter…” serempak Dika dan Rina yang terkejut dengan kemunculan dokter Halima yang tiba-tiba.


“Iya. Saya permisi dulu…”


Setelah berkonsultasi Rina mendesak untuk segera memulai treatment. Resep sudah di berikan dan Rina hari itu juga memulai ihtiarnya untuk segera memiliki keturunan. Hanya Rina yang harus bersusah payah mengkonsumsi suplemen dan vitamin, sementara tugas Dika adalah memastikan ia dan istrinya bahagia. Selain itu ia harus menjaga kondisinya agar tetap prima, itu saja.


“Eh Rio ke mana?”


“Nggak tahu. Tadi kan sama kamu,” ujar Rina sambil menggendong bayi perempuan yang umurnya belum genap 1 bulan itu.


Dika celingak-celinguk kesana-kemari, namun Rio sudah tak menampakkan jejaknya.


“Biarin lah, udah gede juga,” ujar Dika.


Kebetulan saat ini baby sitter yang bayi kecil sudah kembali. Dengan berat hati Rina harus mengembalikan anak kecil ini kepada yang punya.


“Pulang sekarang?” tanya Dika.


“Hmm…” Rina mengangguk dengan senyum menghiasi wajahnya.


Mereka berjalan menuju tempat di mana mobil diparkirkan. Saat tak sengaja melewati UGD, pintu sedikit terbuka dan menampakkan Rio yang tengah berbicara dengan Indah yang ternyata sudah sadarkan diri.

__ADS_1


“Mbak Indah sudah sadar sepertinya,” ujar Rina.


“Mau lihat kondisi dia?” tawar Dika.


“Mau…”


Dika dan Rina segera masuk ke sana.


“Ya ampun Mas, kan Rangga masih kecil.”


“Nggak masalah Ndah.  Rida dulu juga baru 2 tahun adiknya lahir. Dan sekarang bahkan Rangga sudah 3 tahun.”


“Tapi Maaass…”


“Apa yang kamu khawatirkan, hmm?”


“Aku takut nggak bisa kasih perhatian maksimal Mas. Apa lagi sekarang Rida udah sekolah.”


Rio meraih tangan Indah dan menggenggamnya.


“Kita sewa baby sitter ya.”


Indah menggeleng. “Aku nggak mau anak aku diasuh orang lain.”


“Ya nggak ngasuh full juga, tapi bantuin kamu doang.”


Rina tak mampu melanjutkan langkah. Ia menutup mulutnya dan berlari dari sana.


Grrkkk!!


“Dika…”


“Yo, maaf aku permisi dulu.”


Dika segera pergi dari sana. Ia ingin segera mengejar istrinya.


“Dia kenapa Mas?” tanya Indah yang bingung dengan polah Dika.


Rio menggeleng kemudian memeluk istrinya.


“Jangan sedih.” Rio meraba perut istrinya yang masih datar. “Baik-baik ya di perut Mama. Jangan bikin Mama capek, sedih, repot…”


“Udah,” potong Indah cepat. “Belum lahir aja udah kamu marahin. Ya pentes anak-anak bisanya sama Mama nggak pernah bisa kalau cuma sama Papa.”


Senyum Rio mengembang sempurna. “Makasih sayang sudah bersedia mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anakku.”


Indah memejamkan mata saat Rio mengecup keningnya.


***


“Udah dong sayang. Apa yang kamu tangisi sih.”


Rina mengusap kasar air matanya. “Mbak Indah saja yang nggak niat punya anak lagi bisa hamil dengan mudahnya, sedangkan aku…” Rina menyambung ucapannya dengan air mata.


 

__ADS_1


Dika menghela nafas. Ia juga sama sebenarnya, namun jika ia mengatakan apa adanya, bisa-bisa Rina makin tertekan dan stress karenanya. Dan ini tak baik untuk program kehamilan yang tengah mereka jalani.


“Ya itu kan rejeki mereka, apa yang perlu kita risaukan. Karena kita juga punya rejeki yang mungkin tak mereka punya.”


Rina menghapus air matanya. “Memangnya ada?” tanyanya pada suaminya.


Alis Dika tertaut. Ia nampak memikirkan apa yang mereka miliki namun tidak untuk Rio.


Keluarga? Dia punya adik beda ibu, sedangkan aku beda ayah. Hanya saja untungnya tak banyak orang tahu tentang hal ini. Harta? Aku punya jauh lebih banyak darinya. Tapi ini bukan alasan yang bisa aku gunakan untuk bisa menenangkan Rina.


“Pasti tak ada kan.” Rina menarik nafas dan dihembuskannya.


Aku tak boleh seperti ini. Batin Rina menyemangati dirinya sendiri.


Rina berusaha menenangkan diri. Ia harus tenang dan selalu berfikir positif. Jika tidak keinginannya untuk segera memiliki momongan hanya akan jadi angan.


Rina menatap Dika yang wajahnya terlihat kaku.


“Sayang, maafkan aku. Nggak seharusnya aku kayak gitu,” ujar Rina pada suaminya.


Dika meraih tangan Rina dan mengenggamnya.


“Tak apa-apa sayang. Aku sendiri sebenarnya juga merasa iri tadi. Rio dengan mudah memiliki keturunan, bahkan kali ini datang tanpa direncanakan. Hanya saja aku lebih bisa menyembunyikan emosi dan tak langsung tumpah seperti kamu.”


“Maaf ya,” sesal Rina.


Dika menggeleng. “Aku tak butuh maaf. Aku butuh kita saling menguatkan.”


Rina menatap Dika tanpa suara, tatapannya datar seakan tak ada kata yang mampu ia ucapkan.


Dika menghela nafas paham akan kebingungan istrinya.


“Jatuh itu biasa sayang. Tapi hal ini jangan sampai membuat kita terpuruk. Kita harus bangkit segera dan melanjutkan hidup.”


Dika mengeratkan genggamannya .


“Saat aku jatuh, aku harap kamu akan datang dan bantu untuk segera bangun. Begitu pun saat kamu yang jatuh, aku tak akan diam saja dan membantumu untuk bangun segera. Namun jika ternyata kita sedang jatuh bersama, maka eratkan genggaman dan kita saling menguatkan untuk bangkit bersama-sama.”


“Sayang…”


Dika melepaskan tangan Rina dan merentangkan tangannya. “Sini peluk.”


Dengan senang hati Rina masuk ke dalam pelukan Dika. Mereka berpelukan dengan erat, kemudian bangkit dan berjalan beriringan untuk meninggalkan rumah sakit.


“Pengen salad buah,” ujar Rina tiba-tiba


“Mau beli?”


“Mau bikin.”


“Ayo belanja…”


Rina mengamit lengan Dika dan menjemput bahagia bersama.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2