
...*HAPPY READING*...
Rumah terasa sepi saat para anak sudah memilih hidup mandiri.
"Kebetulan ya kita ketemu di sini."
"Iya Mbak Santi. Saya terlalu kangen sama Rina dan Dika. Menunggu mereka kerumah entah kapan waktunya baru akan tiba."
Dua pasang suami istri yang merupakan besan ini tiba di rumah Dika dan Rina. Namun ternyata yang punya rumah malah belum tiba saat ini. Hanya ada asisten yang kini mempersilahkan mereka untuk menunggu kedatangan sepasang suami-istri anak-anak mereka.
" Ini tadi dari mana?" tanya Rudi yang memilih untuk duduk di teras bersama Reno.
"Ririn tiba-tiba muncul dikantor dan mengajak saya kesini. Katanya udah nggak bisa lebih lama lagi nahan kangen. Kalau bapak?"
"Kita awalnya diajak Rista buat ke kampus untuk memberikan selamat langsung pada Rina. Kita optimis kalau ujian karya tulis Rina pasti akan sukses mengingat totalitas dia dalam mengerjakannya selama ini. Tapi mendadak ada operasi darurat sedangkan di rumah sakit kekurangan dokter, jadi... "
Reno paham maksud besannya ini. Ia mengangguk sebagai tanda mengerti.
" Sepertinya butuh tambahan dokter ahli di rumah sakit anda."
" Benar. Saya dulu merasa kurang kerjaan mengambil spesialis neurologi, namun sekarang saya merasa beruntung. "
" Apa itu?" tanya Reno yang awam tentang ilmu kedokteran.
"Berkaitan dengan saraf pusat. Dulu saya pikir saya akan berhubungan dengan orang gila atau stress. Ternyata bukan itu saja."
"Saya benar-benar tak paham Pak."
Reno menertawakan dirinya sendiri yang kini nampak bodoh di hadapan besannya.
"Saya juga yang seorang dokter awalnya tak paham, tapi karena terlanjur nyemplung akhirnya terpaksa paham."
Keduanya menyeruput minuman hangat yang baru saja diantarkan oleh pembantu di rumah Dika.
"Oh, iya. Dedi kan kuliah kedokteran. Bagaimana kabarnya?"
"Sepertinya dia masih asik di sana. Teman-teman saya membuat dia betah untuk terus belajar."
"Anda sungguh dermawan sekali."
"Maksud anda?"
"Tak ada hubungan darah dan tak mengenal Dedi sebelumnya, namun anda begitu bermurah hati sampai membiayai sekolahnya ke Amerika."
"Sepertinya anda salah paham."
"Maksudnya?"
"MAS, JANGAN DILUAR AJA. BANTUIN KITA!!"
Baru saja Rudi hendak menjawab, namun sudah ada teriakan dahsyat dari istrinya.
"Entah sampai kapan Santi akan kekanakam seperti ini, suka teriak-teriak tanpa tahu tempat."
"Tapi saya sering iri dengan kemesraan anda."
"Bukankah anda juga sama?" balas Rudi.
__ADS_1
"MAS!!"
Kembali suara Santi terdengar melengking.
"Saya masuk dulu, sebelum perabot di rumah ini beterbangan ke arah kita."
"Mari..."
Ternyata 2 wanita dewasa ini sedang memasak. Mereka ingin menghidangkan makanan spesial untuk Rina dan Dika.
Saat masakan sedang di tata di meja, terdengar deru mobil berhenti di depan rumah.
"Sepertinya mereka pulang Mbak Ririn."
"Benar Mbak. Mereka pasti senang dengan masakan istimewa buatan Mbak."
"Ditambah lagi dengan desert-desert menggiurkan yang Mbak Ririn buat."
Ririn dan Santi belum merubah panggilannya. Merek nyaman memanggil Mbak satu sama lain. Tapi entahlah jika sudah ada cucu nanti. Mungkin panggilan mereka juga akan ikut berubah dengan sendiri.
" Ya ampun, papa mama!" pekik Rina saat mendapati ada orang tua dan mertua di rumahnya.
"Salam dulu Nak, kebiasaan ih," tegur Ririn pada anaknya.
"Rina kesenangan Ma. Dan lagi apa ini, ya ampun...."
Rina berjalan memutar menjemput suaminya yang masih tertinggal di belakang.
"Lihat deh, sayang. Makanannya banyak banget."
"Iya, iya. Aku juga lihat ini."
"Oh iya lupa," gumam Rina kemudian mengikuti apa yang Dika lakukan.
"Mama janjian ya, kok nggak bilang-bilang sih mau ke sini?" tanya Rina yang mengamit kedua mamanya di kanan dan kiri tubuhnya.
"Kita tadi ketemunya juga pas udah nyampe sini, ya kan Mbak?"
"Iya. Terus pas kita masuk Mbak kamu lagi mau masak ya udah kita ambil alih aja," imbuh Santi.
"Ih seneng deh. Untung kita tadi nggak ngikut idenya Rista buat jalan-jalan dan nggak usah pulang."
"Rista jadi ke kampus?" tanya Rudi pada Dika.
"Iya Yah, abis itu terus ke kantor dan bikin geger," ucap Dika diakhiri tawa.
"Kenapa, bikin ulah apa adik kamu?" tanya Rudi santai.
"Nggak apa-apa sih Yah, cuma ngasih pelajaran buat pegawai yang kurang ajar."
Rina mendadak merasa bersalah. Karena menuruti keinginannya, suami dan adik iparnya bahkan harus banyak menemui masalah.
"Eh makan yuk, keburu dingin."
Cepat-cepat Santi mengalihkan perhatian saat ia menyadari perubahan raut wajah menantunya. Ia sendiri kadang kurang sepaham dengan pemikiran Rina yang memilih untuk menyembunyikan pernikahan, namun melihat sejauh ini tak ada gelagat mencurigakan yang ditunjukkan menantunya ini, maka ia memilih untuk mencoba paham.
"Rista tadi kemana, kok nggak ikut ke sini?" tanya Ririn pada anak dan menantunya.
__ADS_1
Dika menghela nafas.
"Tadi saya salah ngomong Ma, makanya dia ngambek."
"Kamu marahin dia?" terka Santi.
"Enggak Ma, tadi Restu nggak sengaja bandingin apa yang dia lakukan dengan yang pernah Dedi lakukan untuk melindungi saya."
"Terus?"
"Dia kabur gitu aja."
Santi mendengus.
"Anak ini. Mas apa sebaiknya..."
"Sebaiknya kita makan dulu," potong Rudi cepat.
Santi menatap kesal suaminya namun ia tetap patuh akan ucapannya.
Bagi Rudi membahas Rista dan Dedi tak tepat saat ini, mengingat ada Reno dan Ririn yang merupakan orang lain. Memang hubungan mereka sangat baik dan dekat, namun tetap saja mereka adalah besan yang sejatinya orang lain yang terikat dalam hubungan kekeluargaan.
Untuk sementara waktu hanya ada suara denting sendok garpu yang beradu dengan piring di ruang makan rumah Dika. Jika biasanya mereka hanya makan malam berdua, kini ada 4 orang lain di sana.
"Abis ini rencana kamu apa sayang?" tanya Santi pada Rina.
"Rina masih mau lanjut belajar di tempat tante Jasmin kayaknya Ma."
"Nggak pengen buka galeri sendiri aja sayang?"
"Enngg..., belum berani Ma, lagian Rina belum punya nama."
"Mama rasa 4 tahun itu sudah cukup kamu belajar sama Jasmin, sekarang waktunya kamu mengembangkan diri," sambung Ririn.
"Dika setuju Ma. Lagian Rin, kalau kamu masih di sana kamu akan repot bantu-bantu dan akan mengurangi waktu buat mengasah kemampuan. Iya kan?"
"Iya sih? Terus aku di rumah gitu?"
"Ya kalau bosen di rumah kamu kan bisa ke kantor. Itung-itung nemenin suami."
"Nah kan keluar juga isi kepala kamu sebenarnya."
Mendengar ucapan mamanya, Dika hanya mampu garuk-garuk kepala.
"Ya kan pengen deket-deket sma istri itu pahala Ma."
"Atau sekalian aja Rina kamu kasih jabatan di kantor, jadi asisten pribadi misalnya. Ya cuma biar Rina nggak canggung di kantor selama kalian masih pengen ngumpetin pernikahan," usul Santi.
"Nah Dika setuju."
"Ehm..."
Rudi menatap sekeliling saat semua mendadak diam. Ternyata dehemannya cukup ampuh membuat semua menutup mulut.
"Saya juga setuju..."
Semua tertawa saat ternyata Rudi yang tak banyak kata ikut nimbrung juga dalam rumah tangga anaknya.
__ADS_1
TBC