Zona Berondong

Zona Berondong
Cumi Gosong


__ADS_3

^^^Karena part ini setting lokasinya di pantai, author pengen berbagi info kalau author berasal dari Trenggalek.^^^


^^^Apa hubungannya asal author sama pantai?^^^


^^^Hubungannya adalah di Trenggalek itu banyak pantainya. 🥰 🥰 🥰^^^


^^^Apa diantara temen-temen ada yang udah tahu Trenggalek itu mana?^^^


^^^-Happy reading-^^^


"Yey, sampai juga...." Inginnya Rista berteriak girang, namun 3 orang yang berada di kok belakang sedang tertidur pulas.


"Ini bener nggak sih Ta...?" tanya Dedi yang baru saja menghentikan mobilnya di bangunan bergaya minimalis namun elegan di hadapannya ini.


"Benar lah Kak, meskipun lama nggak ke sini Rista nggak mungkin lupa gitu aja..." Rista membuka pintu di sampingnya dan perlahan berjalan keluar.


Dedi melirik 3 orang yang tertidur itu sejenak kemudian keluar mengikuti Rista. Dari jarak sekian meter, ia dapat melihat dengan jelas wajah Rista yang sendu.


"Kak..."


Dedi berjalan mendekat tanpa menjawab panggilan Rista.


"Dari samping sini pantainya kelihatan." Rista kembali berjalan dengan Dedi yang mengikutinya dari belakang.


"Rista dulu suka renang di sini sambil lihat pantai..." Rista menceburkan kedua kakinya.


"Dingin Ta, jangan main air jam segini..."


Rista menatap Dedi yang berjongkok di dekatnya. Dia tersenyum dan kembali memainkan kakinya.


Dedi terpaku menatap gadis kecil di hadapannya. Apa benar dia baru berusia 13 tahun? Dan pesona gadis 13 tahun ini benar-benar mampu menyihir seorang Dedi Yohanes.


"Kalian di sini ternyata..."


Dika datang bersama Dian dan Rina di belakangnya.


"Maaf nggak langsung ngebangunin kalian. Rista main keluar gitu aja jadi aku ngikutin dia..." ujar Dedi.


"Nggak masalah..." Dika mengalihkan pandangannya menuju Rista. "Jadi bakar-bakar nggak?" tanyanya kemudian.


"Iya dong, masak mau tidur gitu aja." Rista bangkit dengan dibantu oleh kakaknya.


"Yuk masuk, dulu biar disiapin peralatannya..."


Dika berjalan masuk dengan diikuti empat orang lainnya. Barang-barang merekapun sudah dibawa masuk oleh penjaga villa.


"Mau ke atas dulu barangkali? Di sana viewnya bagus...," tawar Dika pada semua yang ada di sana.


"Boleh, boleh," kata Dian semangat.


"Ayo Kak..." Rista menarik tangan dua perempuan yang lebih tua darinya itu.


Dedi membanting tubuhnya di sofa yang berada tak jauh darinya. Wajahnya nampak begitu galau.


Dika segera mengikuti sahabatnya untuk duduk. "Thanks ya, udah jagain Rista selama gue sibuk sama urusan kerja."

__ADS_1


"Gue juga makasih elu udah ngasih makan gue," timpal Dedi dengan jenaka.


"Selama di sini elu nggak usah mikirin Rista. Biar gue yang ngurus dia." Dika menggeser posisinya untuk lebih dekat dengan Dedi. "Temen Rina kayaknya jomblo," bisik Dika disertai senyum menggoda.


Dedi menatap datar sahabatnya, kemudian kembali menyadarkan kepalanya. Aku tahu aku tak pantas untuk Rista, tapi kamu nggak usah sibuk nyariin aku lainnya.


"Jangan terlalu kaku, gue perhatiin Dian tertarik sama elu, tapi elunya yang kelewat cuek."


"Ck, urusin Rina sama Rista aja belum tentu beres, mau berlagak ngurus gue..."


"Tapi suer, Dian cakep juga, bodinya juga boleh tuh..." Dika coba mengajak Dedi untuk menatap Dian yang sedang asik ngobrol dengan adik dan gadisnya.


Dedi melirik mereka sejenak, bukannya memandang Dian, Dedi justru menjadikan Rista sebagai fokusnya. "Ngapa nggak kamu embat sekalian..."


"Ellah, sama Rina aja belum jelas statusnya..."


"Kapan mau diperjelas..."


Dika terkekeh, "Abis ini langsung otw ke KUA."


Keduanya kembali tertawa sebelum seseorang datang dan mengabarkan bahwa apa yang diminta Dika sudah selesai di siapkan.


"Kamu yang panggil mereka, aku langsung ke belakang ya..." kata Dedi yang langsung dibalas anggukan oleh Dika.


Dedi berjalan dan membawa dua kantong bahan mentah yang tadi sempat mereka beli di jalan.


Dedi mulai menata seafood dan sosis di atas bara. Dia melayangkan pandangannya ke arah pasir pantai dan deburan ombak yang tak lelah menggeliat.


Dedi berjalan mendekati sebuah kursi rotan dan duduk di sana memandang hamparan langit yang bertabur bintang. Tuhan, aku tahu betapa besar kuasa-Mu. Tapi apa yang ku lalui ini benar jalan-Mu?


"Hhmmm...." Rista mengendus bau harum seafood yang beradu dengan arang. Dia berlari menuju pemanggang. "Kak Dedi yang bakar ya..."


"Hmm," jawab Dedi sambil bangkit dan merogoh ponsel ya yang bergetar. "Dika..." Dedi meminta ijin pada Dika untuk mengangkat sebuah panggilan. Dia terus berjalan setelah mendapat anggukan dari Dika.


"Hallo..."


"..."


"Tadi sempat susah sinyal."


"..."


"Semua baik-baik saja. Anda bisa tenang di sana..."


"..."


"Maaf, saya memang orang miskin, tapi saya tak ingin menukar persahabatan dengan uang. Saya melakukan semua ini karena saya ingin membalas Dika yang sudah begitu baik kepada saya..."


"..."


"Saya tak pernah keberatan jika ini memang baik untuk mereka..."


"..."


"Iya. Selamat malam."

__ADS_1


Dedi mematikan sambungan telfonnya. Sudah cukup lama Dedi seperti ini, mengawasi Dika dan adiknya, tepatnya sejak Rista memutuskan untuk tinggal bersama kakaknya tersebut.


"Kak Dediiii...!!! Udah mateng nih...!"


Suara gadis itu berhasil menarik kedua ujung bibir Dedi untuk tersenyum. Dia kembali mengantongi ponselnya dan segera bergabung di sana.


"Nih..." Rista menyodorkan cumi panggang di atas piring pada Dedi.


"Kok gini...?" Dedi mengangkat cumi bersama tusukannya.


"Iya, takut nggak mateng, eh kata Kak Dian ini udah otw gosong," ujar Rista dengan cengirannya.


Dedi mengacak rambut Rista dan mulai menggigit cumi di tangannya.


"Enak?"


Dedi mengangguk saat Rista bertanya seperti itu.


"Gue nggak percaya..." Dika merebut cumi dari tangan sahabatnya. Digigitnya sedikit dan dilepeh kemudian.


"Kakak....!!" protes Rista.


Dedi segera merebut cumi itu dari tangan Dika. "Hargai dong usaha Rista!" Dedi meraih dagu Rista dan membawa wajah cantik itu untuk menatapnya. "Senyum dong, Kakak makan nih cuminya..."


Dedi perlahan memakan cumi yang agak hitam dan sedikit pahit itu. Namun jadi begitu nikmat saat menatap senyum tulus dari wajah cantik Rista.


"Kakak nggak bohong kan?"


"Soal apa?" tanya Dedi dengan mulut yang masih penuh cumi.


"Itu enak?"


Dedi mengangguk mantap. "Untuk pengalaman pertama ini udah bagus banget Ta. Ya agak pahit sih di bagian gosongnya, tapi yang namanya di bakar di atas bara ya nggak masalah," ujar Dedi menjelaskan


"Iya, aku dulu juga gitu, tapi kalau udah sering masak pasti bisa..." Dian turut menimpali. Dia mungkin yang paling mengerti tentang masak-memasak di sini, karena mamanya yang hobi memasak hingga sang papa nenghadiahkan beberapa resto dengan konsep rumahan kepada istrinya. Jadi tak heran jika Dian paham tentang banyak jenis makanan.


Dika berjalan mendekati Rista dan perlahan memeluk adiknya. "Maafin Kakak...."


"Perasaan Kakak sering banget minta maaf," kata Rista dengan senyum yang sudah mengembang.


"Karena Kakak sayang sama Rista...."


"Makasih Kakak..." Rista membalas pelukan itu dengan erat.


"Lah, lu kenapa Rin diem kayak anak tiri...?" tanya Dedi saat melihat Rina yang sebelumnya tersembunyi di balik tubuh Dika.


Spontan semua menatap Rina mendengar celetuk Dedi. Rista melepas pelukan Dika dan menarik Rina untuk turut serta. Kini jadilah Dika dipeluk oleh dua gadis cantik di hadapannya.


"Kakak jangan lupain Kak Rina dong..."


"Enggak Ris, kalian sama pentingnya untuk Kakak."


Mendengar ucapan itu dada Rina menghangat. Jadi bagian penting buat kamu itu adalah bahagiaku, Dika...


Melanjutkan malam dengan memakan apa yang telah mereka buat menjadi pilihan. Rasanya malam minggu kali ini akan sulit mereka lupakan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2