Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Kursi Roda


__ADS_3

HAPPY READING


Hana masih bisa berjalan, bahkan berlari pun ia msih sanggup. Tapi atas permintaan Andre yang terlalu khawatir dengan kondisi dirinya, makanya kini ia harus bersedia duduk dan di dorong di atas kursi roda saat ia ingin ke mana-mana.


“Novi, aku jalan saja ya.” Hana mendesah lelah. “Berasa kayak orang lumpuh tahu nggak,” lanjutnya dengan wajah kesal.


“Pak Andre sangat khawatir dengan keselamatan anda Nona. Jadi lebih baik seperti ini dulu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” jelas Novi yang benar-benar kekeh melakukan apa pun sesuai yang Andre inginkan.


Dari depan terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Seorang pria dengan setelan jasnya muncul setelahnya. Melihat siapa yang datang, cepat-cepat Hana bangkit untuk segera menyambutnya.


“Eh, kamu mau apa?!”


Andre membanting pintu mobilnya dan segera melesat menghampiri Hana yang sepertinya bersiap berlari ke arahnya. Begitu tiba di dekat Hana, perlahan ia mendorong tubuh wanita ini untuk mendudukkannya kembali ke atas kursi rodanya.


“Aku masih sanggup berjalan Andreee...”


Andre merendahkan tubuhnya dan memegang kedua bahu Hana. “Hana please. Aku nggak mau kamu jatuh kayak kemarin. Kamu ngerti ya,” ujar Andre sungguh-sungguh.


“Aku akan lebih berhati-hati. Aku juga tidak ingin ada hal buruk lagi yang terjadi pada dia,” balas Hana tak mau kalah.


Andre kembali menegakkan tubuhnya.  “No Hana, no. Kalau aku bilang enggak ya enggak. Kalau masih ngeyel kamu aku bawa ke rumah sakit lagi nih...”


Hana menggeleng cepat. “Di sini saja. Lagian kan sudah ada Novi di sini,” ujar Hana yang akhirnya pasrah.


“Ya kali aja kamu bandel dan bikin Novi kewalahan, kan mending kamu aku bawa ke rumah sakit saja.” Andre sangat menikmati wajah kalah wanitanya ini.


“Nggak kok. Aku nggak bandel kan?” Hana menatap Novi kemudian, berharap perawatnya ini akan mengiyakan. Ternyata di saat yang sama Andre juga menatap Novi menunggu jawaban apa yang akan dikeluarkan oleh wanita ini.


Mendapat tatapan seperti itu membuat Novi bingung sendiri. Ia jujur takut, mau bohong sepertinya juga bukan pilihan yang bijak.


“Gimana Nov. Sepertinya  pertanyaaan Hana cukup membuatmu kesulitan?” sarkas Andre saat melihat Novi tak kunjung menjawab pertanyaan yang menurutnya sederhana ini.


Novi menarik paksa kedua bibirnya, berusaha menciptakan senyuman yang indah dengan menampakkan gigi putihnya.


“Em…” Novi menelan ludahnya bersama dengan kata-kata kurang logis yang ia taksirkan tak bisa menyelamatkan pekerjaannya. Novi menunduk dan memejamkan mata sejenak, berharap saat matanya terbuka nanti Andre dan Hana sudah tak menatapnya seperti ini.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup, Novi perlahan membuka matanya. Namun sayang, ternyata Andre dan Hana masih tetap menatapnya seperti sebelumnya.


“Jadi…?” tanya Andre yang disertai tatapan mengintimidasi berhasil membuat Novi tak dapat berkutik kali ini.


“Pak, Non Hana belum makan sejak tadi,” adu Novi saat merasa ini bisa ia jadikan alasan melarikan diri.


Spontan Andre menatap Hana. “Bener?” tanyanya kemudian.


Hana hanya berusaha tersenyum semanis mungkin, berharap laki-laki yang merupakan ayah dari anak yang berada di dalam kandungannya ini akan luluh dan mengurungkan niatnya untuk kesal terhadapnya.


Dan berhasil. Andre tak marah kali. Ia bahkan berjongkok di depan Hana dan menatapnya lekat dari posisi ini.


“Kenapa kamu nggak mau makan? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan, hmm?”


Hana hanya membalas tatapan Andre tanpa ada niat untuk membalas ucapannya. Mengingat ia yang kini berjalan saja tak diperbolehkan, apakah mungkin jika ia mengungkapkan permintaannya akan Andre kabulkan.


“Hana, please."


"Cukup Dika yang hari ini membuatku kesal karena tak mengucapkan dengan jelas kemauannya yang harus aku kerjakan. Kamu jangan ya….” pintanya dengan meraih kedua tangan Hana untuk digenggamnya.


“Apakah kamu akan mengabulkan jika aku mengucapkannya?” tanya Hana hati-hati.


Melihat Andre yang mendadak lembut seperti ini, membuat seseorang yang lebih banyak diam sejak tadi mulai ingin gigit jari. Sayang tangannya ada di bawah, sehingga ia harus merelakan bibirnya tergencet diantara gigi atas dan bawahnya. Ya Tuhan. Tuker posisi boleh nggak sih. Kayaknya buat dosa dikit nggak masalah kalau dapetnya yang kayak gini. Kalau udah halal kan tinggal tobat aja. Racau Novi dalam hati.


Tanpa menghiraukan Novi yang sudah dag dig dug sendiri, Hana dengan santainya menangkup wajah Andre. “Ngobrol di kamar ya. Aku pengen bahas ini berdua saja…”


Astaga. Novi rasanya ingin menghilang sejenak mendapati cobaan berat ini.


Andre pun sama seperi Hana, tak peduli ada yang lemas sejak tadi. Ia bangkit tanpa menjawab permintaan Hana. Ia justru menatap Novi yang sejak tadi diam bersama mereka. “Novi, kamu bisa istirahat dulu. Nanti kalau urusan kami sudah selesai, saya akan memanggil kamu.”


“Ndre…” Hana memegang tangan Andre dan menggoyangkannya perlahan. “Novi pulang saja nggak apa kok. Lagian kan sudah ada kamu.”


“Nanti kalau kemu kenapa-kenapa gimana Hana?"


Ketiganya diam sejenak. "Atau Novi menginap di sini saja?” usul Andre sambil menatap perawat Hana ini.

__ADS_1


“Dia kan kos…” potong Hana cepat sebelum Novi mengeluarkan suara.


Novi menelan kembali suaranya. Sebenarnya ia tak sepenuhnya menolak, karena jujur ia akui rumah ini jauh lebih nyaman dari kamar kosnya yang sempit dan pengap.


“Kos kamu dimana?” tanya Andre penasaran.


“Di dekat RSRA Pak…” jawab Novi segera.


Novi sebelumnya memang perawat yang bekerja di rumah sakit milik Rudi. Ia merupakan perawat muda yang tepat saat Hana keluar telah habis kontraknya dan begitu Andre menawarinya pekerjaan sebagai perawat pribadi Hana, ia memilih pekerjaan ini ketimbang memperpanjang kontraknya di rumah sakit. Alasannya simple, yaitu karena gaji yang Andre tawarkan sepuluh kali lipat dari gaji yang ia terima di rumah sakit. Mungkin nanti jika kerjasamanya dengan Andre selesai, ia bisa mencari pekerjaan baru atau membuka usaha dengan uang yang telah ia kumpulkan.


“Lumayan jauh ya. Kenapa kamu nggak tinggal di sini saja, biar nggak ribet pulang pergi," ujar Andre.


“Nah, boleh tuh,” imbuh Hana. “Lebih praktis nggak usah bolak-balik. Sekarang kamu nggak kerja di rumah sakit lagi kan?” tanya Hana memastikan.


Novi menggeleng. “Tidak Nona. Kontrak saya habis kemaren,” jawab Novi kemudian.


“Ya udah nggak ada masalah berarti. Gimana, mau tinggal di sini?” tanya Hana lagi.


Novi terdiam. Ia tampak menimbang.


“Udah, mau saja,” bujuk Hana. Sementara Andre hanya mengangguk menyetujui saat mata Novi tak sengaja bertemu tatap dengannya.


“Baik Nona.”


“Nah, kalau gitu pulang dari sini kamu beres-beres, besok kamu bawa barang-barang kamu ke sini,” ujar Hana.


“Apa benar tidak merepotkan?” tanya Novi hati-hati.


“Nggak kok, iya kan Ndre.” Hana minta pendapat pada Andre karena sejatinya tuan rumah di sini adalah dia.


“Iya, nanti pulangnya kamu sama sopir saja, biar besok sopir gampang kalau mau jemput kamu sekalian pindahan.”


“Nggak perlu Pak,” kaget Novi sambil mengibaskan kedua tangannya. Tak ada yang salah sebenarnya, hanya Novi tak enak saja mendapat bantuan sebanyak ini. Padahal gaji yang ia terima saja sudah banyak sekali.


“Udah, jangan sungkan,” kata Hana menimpali.

__ADS_1


Akhirnya Andre berbicara pada sopirnya agar segera bersiap-siap sementara Novi menyiapkan segala kebutuhan vitamin dan suplemen yang harus Hana minum malam ini. Setelah semuanya siap, barulah Novi pamit undur diri.


Bersambung…


__ADS_2