Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Mengintip


__ADS_3

Gimana nih, nambah nggak nih.


Kalau banyak yang cuap-cuap di kolom komentar nanti aku tambah satu part lagi.


Big hug, luv,luv, luv...


HAPPY READING


3 pasangan beda usia ini melanjutkan malam dengan bercanda. Selepas kunjungan dari dokter Halima, Reno juga tiba di sana. Ia sangat cemas saat mendengar kabar putri semata wayangnya tiba-tiba masuk rumah sakit, padahal


terkahir bertukar kabar, ia masih baik-baik saja.


“Mama papa pulang aja nggak apa-apa kok, lagian Rina juga udah baikan,” ujar Rina sambil memakan buah yang Santi kupaskan.


“Nggak ah, di rumah sepi,” tolak Santi yang duduk di samping Rudi.


“Sama Mbak, apa lagi kalau Mas Reno pulang malam, rasanya udah persis kayak di kuburan,” timpal Ririn.


Rina tiba-tiba merengut menatap suaminya. “Kamu nyuruh papa lembur ya?” tuduhnya pada suamina.


Dia yang mendadak jadi tersangka menggelengkan kepala dengan cepat. Mulutnya penuh keripik kentang, jadi ia tak bisa langsung menyangkal yang Rina tuduhkan.


“Ya bukan gitu Nak, Papa lembur ya karena ada urusan perusahaan nggak ada hubungannya sama suami kamu,” jelas Reno.


“Ya tapi kan Dika pemilik perusahaan. Seharusnya dia bisa menetapkan kebijakan dong,” ketus Rina.


“Kebijakan apa, kebijakan khusus mertua, ha ha ha,” canda Reno yang disambut tawa merdeka dari Dika.


Mereka melanjutkan candaan hingga larut malam. Sangat langka kesempatan dimana mereka bisa berkumpul seperti ini. Meski harus di rumah sakit, setidaknya bukan penyakit serius yang membuat Rina menginap di sana. Pelan-pelan Dika dan Rina mengubur ambisinya untuk segera punya anak. Belajar membuka mata dan mensyukuri apa yang sudah mereka punya.


***


Andre masih bersama Dian di ruang tamu sedangkan Hana masih diam di kamarnya. Alih-alih tidur, Hana begitu penasaran dengan apa yang Andre dan Dian lakukan. Pikirannya sudah traveling kemana-mana mengingat bagaimana kelakuan Andre saat tengah bersama dirinya.


Berjalan mengendap-endap dan membuka pintu perlahan. Saat pintu hampir terbuka, tiba-tiba ia tak sanggup jika ternyata di sana ada adegan dewasa. Meskipun ia sudah pernah memainkan permainan ini, tapi mata dan otaknya masih suka malu saat mengingat atau melihatnya adegan semacam ini.


Dukh!


Hana terdiam membayangkan nasib jidatnya yang terbentur pintu dan pantatnya yang harus bertubrukan dengan lantai saat Andre tiba-tiba mendorong pintu dari luar. Cepat-cepat Andre masuk saat melihat Hana yang duduk di atas lantai.

__ADS_1


“Kamu ngapain?!” tanya Andre dengan suara tertahan.


“Aa, aku…”


Hana bingung mencari alasan. Masa iya aku harus bilang lagi mau ngintipin apa yang sedang kamu lakukan bersama Dian. Batinnya kemudian.


“Cepet bangun.” Alih-alih menolong, Andre justru meminta Hana bangun sendiri.


“Aku harus nganterin Dian. Dia nggak bawa mobil ke sini.” Ujar Andre tanpa sedikit pun menatap Hana. Ia membuka lemari dan dengan santainya mengganti baju di sana. Ia sama sekali tak risih saat seperti ini di depan Hana, toh wanita ini


sudah pernah tel**jang bersamanya.


“Jangan coba-coba melarikan diri.” Ancam Andre sebelum pergi meninggalkan Hana yang duduk di tepi ranjangnya.


Kayaknya bener Andre sukanya sama Dian. Buktinya aku jatuh nggak ditolongin, malah ditinggal pergi begitu saja. Sadar Hana, sadar. Kamu itu nggak mungkin jadi wanita yang Andre suka. Tinggal tunggu aja takdir akan membawamu kemana. Kamu nggak punya pilihan selain jalani dan nikmati kenyataan yang kamu temui.


Hana berusaha menyemangati diri sebelum ia merebahkan badan dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia masih merasa lemas hari ini, jadi bisa dipastikan jika ia tak bisa melarikan diri dalam kondisi seperti ini. Terlebih saat ia mendengar suara pintu yang terkunci, jadi bisa dipastikan Andre mengurungnya lagi kali ini.


Di luar Andre berjalan meninggalkan apartemen bersama Dian, sebenarnya Dian masih ingin lebih lama di sana dengan alasan untuk membantunya merawat Hana. Ia akan ikut pulang saat nanti Andre mengantar Hana ke rumahnya. Tapi jelas Andre tak setuju, karena faktanya Hana akhir-akhir ini menjadi penghuni tetap di rumahnya.


Dalam hati Dian bersorak gembira. Andre memilih mengantarkan dia pulang dibanding menemani Hana yang sakit. Jadi jelas sudah siapa yang lebih penting untuk laki-laki ini. Dian merasa Andre memanglah orang yang diinginkannya. Sebanyak apa pun ia mencoba membuka hati, tetaplah Andre tempatnya kembali.


“Kepo banget,” ujar Andre tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.


“Ya kan ini kali pertama kamu punya pacar, setelah…” Dian tak enak melanjutkan ucapannya.


“Setelah putus sama kamu maksudnya?” tebak Andre.


Dian mengangguk saat Andre paham maksudnya.


“Ya aku bukan kamu yang bisa punya pasangan tanpa rasa suka, jadi ya…”


Andre tak berniat melanjutkan ucapannya. Ia mulai memutar music agar Dian tak terus-terusan menanyainya.


Namun bukan Dian namanya jika ia menyerah begitu saja. Ia mematikan audio yang menganggunya itu dan menggeser duduknya untuk dapat menghadap Andre.


“Kamu yakin sama dia?”


Andre hanya menggidikkan bahu.

__ADS_1


“Kalau emang belum yakin mending kamu pututsin aja deh,” lanjut Dian.


Andre mengernyit. “Kenapa kamu tiba-tiba mikir kaya gitu?”


“Ya kayaknya dia cuma manfaatin kamu.”


“Dari mana kamu punya pikiran semacam itu?” tanya Andre yang perlahan menginjak pedal rem karena lampu merah yang menghadang perjalanan mereka.


“Emm, susah ngomongnya. Sekarang gini deh, apa dia selalu mengandalkan kamu, saat berbelanja, pergi makan, jalan-jalan.”


“Mengandalkan gimana?” tanya Andre memastikan.


“Ya dia nggak mau rugi dengan keluar biaya saat sama kamu.”


Andre mengangguk.


“Fix dia cewek matre Ndre, lepasin dia cari yang lain. Masih banyak kok cewek cantik yang mau sama kamu.”


Andre menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Ia tak ingin Dian melihat ia tertawa. Jelaslah Hana mengandalkan Andre. Karena hanya jiwa dan raganya saja yang ia tahan, dia membuang apapun yang ada pada Hana waktu itu, termasuk


barang berharga bahkan pakaian pun ia buang dan ia ganti dengan yang baru. Jadi bisa dikatakan 100% sekarang Hana bergantung padanya.


“Lagian Hana ini siapa sih, kamu nemunya dimana, berasal dari keluarga yang kayak gimana?”


Tiba-tiba Andre menepikan mobilnya.


“Kenapa Ndre?” tanya Dian yang tak mengerti dengan tindakan Andre.


Andre menyugar rambutnya dan menatap Dian. “Di samping ada taxi, ia bisa mengantarkanmu pulang sekarang.”


“Apa?!”


Andre menghela nafas. “Aku ada urusan Di, jadi aku nggak bisa antar kamu sampai rumah.”


“Gimana kalau aku ikut kamu aja.”


“Nggak bisa. Sekarang kamu turun ya…”


Dian mendengus dan membuka pintu. Dia menutup pintu dengan keras dan Andre kembali menjalankan mobilnya tanpa sepatah kata pun.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2