
HAPPY READING
Sudah seminggu sejak kepergian Hana, Andre masih belum juga bisa menemukan dia. Ia sudah kembali bekerja, namun performanya belum bisa sebagus sebelumnya.
“Kamu istirahat dulu saja sekarang, dan jangan lupa segera kebali sebelum rapat di mulai,” ujar Dika saat Andre baru saja melaporkan agenda apa yang harus Dika selesaikan hari ini.
“Aku di sini saja Bos,” tolak Dika yang merasa tak punya banyak cadangan tenaga untuk ia gunakan selain untuk bekerja.
“Tubuh kamu butuh makanan Ndre. Aku tidak mau punya sekertaris yang penyakitan,” sarkas Dika
Andre terhelak mendengar ucapan Dika ia sempat tertawa namun sedikitpun tak ada niat untuk keluar atau sekedar ke kantin untuk mencari makanan pengganjal perutnya yang sama sekali belum terisi sejak pagi.
“Jangan bilang kamu mau minta jatah makan sama aku,” ledek Dika.
“Enggak Bos. Aku hanya ingin istirahat sejenak di sini.”
Andre memang punya ruangan sendiri, namun tak seberapa luas karena kari-harinya ia lebih sering berada di ruang yang sama dengan bosnya ini.
Dika tak berniat mendebat Andre lagi. Ia lebih memilih meraih ponselnya untuk segera menghubungi Rina. Saat Dika sedang asik berbicara dengan istrinya, tiba-tiba terdengar suara pintunya yang diketuk dari luar.
“Ndre, tolong ya…” ujar Dika dengan sedikit menjauhkan ponselnya.
Sebenarnya Andre malas sekali beranjak dari sofa, tapi bagaimana lagi. Yang memerintah dia ini adalah bosnya.
“Maaf Pak, ini pesanan Pak Restu,” ujar Elis begitu Andre membuka pintu.
Andre kemudian bergeser untuk dapat membuka pintu lebih lebar. “Tolong taruh di meja,” ujarnya pada Elis kemudian.
“Baik Pak. Permisi.”
Elis berjalan melewati Andre yang melaksakan apa yang baru saja Andre perintahkan. Setelah menaruh bawaannya, Elis segera keluar dan Andre kembai berjalan ke sofa setelah memastikan pintunya tertutup sempurna.
“Karena aku terlanjur pesan dua porsi, jadi kamu yang harus
bertanggung jawab menghabiskan salah satunya.” Dika yang entah sejak kapan sudah mengakhiri panggilannya, kini sedang menyandarkan punggungnya dan menatap Andre yang sudah berbaring lagi di sofa ruannya.
“Makasih Bos. Tapi perutku tak ada cukup tempat untuk makan sebanyak itu,” tolak Andre. Ia mulai tak paham dengan sistem di tubuhnya. Ia sama sekali tak lapar, meski akhir-akhir ini ia jarang sekali kemasukan makanan. Jangankan makanan, air pun rasanya sulit ia telan. Dan yang paling gampang diterima hanyalah nikotin yang jelas sekali tak baik untuk tubuhnya.
“Apa lambung kamu tengah mengalami penyempitan?” tanya Dika yang langsung membuyarkan lamunan Andre sekarang.
Andre mengernyit kemudia menggeleng. “Aku rasa tidak,” ujarnya kemudian.
“Ya sudah, aku sudah hampir pingsan saat harus berbicara dengamu. Kamu sudah seperti orang yang tak makan satu bulan,” lanjut Dika.
Andre masih nyambung diajak bicara, bahkan ia masih tangkas seperti biasa, namun yang Dika maksud adalah bau khas orang tak makan yang ia temukan dari sekertarisnya ini. Bau seperti ini biasanya muncul pada orang yang sakit atau yang tengah menjalankan puasa.
“Ayo sini, malah bengong lagi,” ujar Dika lagi.
“Aku nggak ada niat minta jatah makan Bos.” Andre masih berusaha menolak dengan halus.
“Siapa juga yang mau ngasih jatah makan gratisan. Aku akan potong dari gaji kamu.”
“Ha ha ha…”
Andre hanya tertawa sambil bangkit dari tempatnya. Jika sudah seperti ini, tak ada alasan bagi dia untuk menunda laju makanan untuk memasuki perutnya.
***
Drrrt ddrrttttt dddrrttttttt
__ADS_1
Bayu benar-benar ingin mengumpat sekarang. Ia benar-benar lelah karena shift panjang yang harusnya selesai pagi namun baru selesai siang ini. Baru saja ia mandi dan ingin mengistirahatkan diri, ternyata harus terganggu karena getar
ponselnya yang tiada henti.
“Halo.”
“Ya ampun. Udah ngangkatnya lama, malah langsung ngegas aja,” ujar seorang di seberang sana.
“Napa sih Ris. Aku capek mau istirahat,” kesal Bayu yang baru sadar jika yang menelfonnya ini adalah Risma.
“Ya udah deh. Aku minta tolong sama yang lain aja…” lanjut Risma dengan nada kecewa.
“E tunggu tunggu." cegah Bayu cepat. "Mau minta tolong apa?” lanjutnya kemudian.
Risma mendesah di seberang sana. “Bisa nggak kamu belii makan siang buat Hana. Aku tadi udah janji mau balik bawain dia makanan, nggak tahunya toko lagi rame banget sekarang.”
Bayu yang semula berbaring langsung duduk seketika. “Bisa kok. Bisa, bisa.”
“Emmmm, giliran masalah Hana saja cepet banget iya, iyanya.”
“Ya kan demi menolong sesama,” ujar Bayu sambil menggaruk kepalanya.
“Sesamanya cantik pula,” goda Risma.
“Tck. Berisik. Ya udah kamu kerja sana. Masalah Hana pokoknya kamu tahu beres saja.”
“Thanks ya Bay…” ujar Risma lega.
“Sama-sama,” jawab Bayu yang kantuknya sudah entah hilang ke mana.
Bayu mengakhiri panggilannya, ia menyempatkan diri untuk mencuci muka dan sekilas mematut penampilannya sebelum mencarikan makanan dan mengantarnya untuk Hana.
Saat Risma sedang pontang-panting kesana-kemari tiba-tiba ia dikagetkan dengan kemunculan orang terdekatnya namun yang paling tak ingin ia temui saat ini sebenarnya.
“Risma…”
Risma sudah berusaha menghindar, namun pria ini masih dengan mudah menemukannya.
“Apa sih Kak. Aku lagi kerja ini.”
“Kakak mau bicara.”
“Penting nggak, kalau enggak mending pergi saja.”
“Berhenti dulu. Nggak sopan banget diajak ngomon kakaknya malah seperti itu.”
Risma benar-benar menghentikan langkahnya dan menatap pria yang mengatakan dirinya sebagai kakak ini dengan enggan. “Mau kamu apa sih? Kalau minta duit nggak ada," ujar Risma to the point.
“Jangan gitu lah. Kamu udah banyak duit ya sekarang, bagi dong.”
Dasar tak tahu malu. Bukannya terimakasih hutangnya dilunasi, malah dengan tak tahu dirinya minta lagi seperti ini. Batin Risma.
“Udah dibilang nggak ada juga,” ketusnya pada pria berperawakan sedang dan berkulit sawo matang ini.
“Itu kemaren kamu baru ngelunasin utang Kakak kan. Katanya kelebihannya banyak. Kenapa kamu kasih ke mereka nggak kamu kasih kakak aja.”
"Bener-bener ya," desis Risma. Wanita berwajah bulat ini mengepalkan dengan kuat kedua tangannya. Ia segera meraih tangan Deni dan menariknya keluar dari toko tempat ia bekerja.
“Nitip ini kasih ke mbak Ning ya.” Risma menyerahkan beberapa lembar baju yang baru ia ambil dari gudang kepada salah seorang rekan yang baru saja dilewatinya.
__ADS_1
“Mau kemana Ris…”
Risma tak menggubris pertanyaan dari rekannya ini. Ia terus berjalan keluar bersama Deni di belakangnya.
“Kak. Kamu itu Kakak. Harusnya melindungi aku bukan menindasku.” Kesal Risma begitu keduanya sudah ada di luar.
“Ya aku juga berusaha melindungi kamu tapi mau melindungi pakai cara apa, sedangkan kamu aku ajak tinggal bareng saja nggak mau,” kilah Deni.
“Ya siapa juga yang mau tinggal bareng. Orang Kakak kerjanya cuma makan sama tidur, ya mending aku sendiri.”
“Ya jangan nyalahin Kakak kalau Kakak nggak bisa melindungi kamu.”
“Kak. Sekarang hutang Kakak sudah lunas, jadi Risma mohon, biarkan Risma hidup tenang, ya.”
“Kakak kan nggak pernah ganggu ketenangan kamu. Kakak ke sini cuma mau minta uang. Receh-receh aja nggak apa kok, sisa yang kamu kasih sama orang kemaren juga nggak apa-apa.”
Risma menatap pria ini dengan tatapan tak percaya. Benarkah dia ini adalah kakak kandungnya yang merupakan satu-satunya keluarga yang ia punya.
“Kakak ini mikirnya gimana sih. Bukannya terimakasih buat semua yang sudah Risma lakukan, malah sekarang sudah mau minta lagi. Apa sedikitpun nggak ada rasa malu kayak gini dengan Risma?”
“Kenapa malu, kita kan saudara. Bukan kah sebagai saudara kita harus berbagi.”
Ya Tuhan. Bener-bener ya ini orang. “Risma sudah kehabisan kata-kata. Sekarang kakak pergi, sebelum aku…”
“Sebelum apa?” tantang Deni.
“Sebelum aku…”
Deni menggerakkan alisnya seakan menantang adiknya ini.
“Sebelum aku teriaki maling.”
“Ha ha ha ha. Coba aja. aku yakin kamu nggak akan pernah berbuat seperti itu kepadaku.”
“Kakak mau nantangin?”
“Ayo. Lakuin aja kalau berani.”
Risma benar-benar merasa kesabarannya sudah habis. Ia tak bisa terus seperti ini dengan kakaknya.
“Oke. Jangan salahkan Risma…”
Deni hanya tersenyum remeh.
“Tolong.” Tak keras memang tapi masih bisalah didengar orang.
“Jangan main-main kamu Ris.” Deni cukup panik karena adik kecilnya sudah mulai berani dengan dia.
“Tollooooonnnggg!!!!!” Merasa ditantang Risma berteriak dengan lebih kencang.
Deni benar-benar panik. Beberapa orang mulai menatap mereka karena teriakan Risma. “Sekali lagi kakak ingatkan, kamu…”
“TTOOLLLOOOOOOOONNNNGGG!!!!!”
Risma langsung terduduk setelah berteriak dengan sekencang-kencangnya, sementara Deni langsung lari tunggang-langgang sebelum ia benar-benar di hajar masa. Risma tak pernah seperti ini sebelumnya. Bagaimana pun kesalnya dia, tetaplah Deni ini satu-satunya keluarga yang ia punya. Sehingga hati kecilnya sebenarnya tak rela memperlakukan kakaknya seperti ini.
“Ada apa?”
Risma seketika mendongak menatap seorang pria dengan setelan jasnya yang rapi memegang kedua bahunya.
__ADS_1
Bersambung…