Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Kejutan


__ADS_3

HAPPY READING


Di tempat kos Risma, tiga wanita ini dibuat terpukau dengan penampilan wajah masing-masing yang baru saja mendapat sentuhan Hana. Mereka sempat khawatir jika mereka akan menyerupai badut karena Hana mengaplikasikan banyak item di wajahnya. Ternyata setelah jadi, hasil karya Hana sangat halus dan membuat wajah mereka mempesona seketika.


“Aku pikir akan menor, ternyata cakep ya…” ujar Eka sembari mengagumi penampilan wajahnya yang baru selesai hana dandani.


“Sejak kapan kamu bisa make up Hana?” tanya Anin yang yang tadi juga sempat norak seperti Eka ini.


“Sejak pekerjaanku menuntut kesempurnaan penampilan selain kemampuan yang bagus di bidangnya,” ujar Hana sambil mulai memakaikan make up pada Risma.


“Maksud kamu saat kamu di Surya Group?” tanya Anin memastikan.


“Tepat sekali,” singkat Hana.


“Berarti yang kerja di sana harus pintar make up juga ya?” tanya Anin lagi


“Ya nggak juga. Yang penting good looking saja.”


“Emang kamu dulu kerja di bagian apa?” tanya Eka penasaran.


Hana menarik kedua sudut bibirnya lebar. Ia nampak sedang memikirkan sebuah posisi yang masuk akal dalam waktu singkat. “Marketing,” jawabnya kemudian.


“Lah. Pantes kamu pinter banget dagangnya, emang sudah berpengalaman di bidang marketing,” timpal Anin.


“Ya tapi kalau berhadapan dengan customer langsung aku belum pernah,” jawab Hana sambil tetap fokus pada Risma.


“Ya tapi setidaknya kamu tahu teorinya,” imbuh Anin.


Hana mendesah dan mengangguk pasrah. Ia tak ingin lebih banyak berdebat karena hal ini bisa saja membuat rahasianya lebih banyak terungkap.


“Make up beres nih, sekarang kalian mau pakai baju apa?” ujar Hana setelah selesai memberikan sentuhan akhir di wajah Risma.


Tiga wanita yang sudah nampak cantik ini hanya saling menatap sebelum ketiganya melempar pandangan pada Hana dengan kompak, karena sebenarnya mereka juga tak tahu apa yang sebenarnya ingin mereka kenakan.


Hana paham dengan kondisi ketiga rekannya.“Ya udah, bongkar semua paperbag ini, dan pilih baju yang sekiranya mau kalian pakai nanti.”


"Kalau nggak cocok gimana?" cemas Eka.


"Tenang, aku bantu cocokin," kata Hana.


“Kalau aku?” Risma menunjuk dirinya yang memiliki badan paling berisi diantara keempatnya.


“Udah ikutan bongkar aja. Nanti bisa kita modif sesuai kebutuhan.”


“Kamu yakin Han aku bakal cocok?” tanya Risma ragu.


“Yakin Ma… Sementara kalian milih aku mandi dulu ya…”

__ADS_1


Hana sepat menyambar handuk sebelum bergerak dengan segera untuk masuk ke kamar mandi.


***


Haning benar-benar puas dengan penampilannya setelah menghabiskan banyak uang untuk penampilannya malam ini. Sekali lagi ia mematut penampilannya di depan cermin sebelum meninggalkan salon tempat yang ia percayakan bisa mengubah penampilannya.


“Aku pasti paling bersinar malam ini. Surya Group, aku datang…” lirih Haning dengan percaya diri.


Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian dan pembayaran pun telah ia bereskan, Haning segera meninggalkan salon dengan menaiki sebuah taksi menuju restoran tempat yang ia yakini akan menjadi permulaan babak baru dalam perjalanan karirnya.


Haning pun menjadi yang pertama tiba di lokasi. Ia dengan percaya diri menanyakan tempat yang sudah di pesan atas nama Surya Group. Dan masuk lah dia ke dalam sebuah ruangan berlabel VIP yang telah perusahaan ini persiapkan untuk mereka.


“Waaahhh…" Haning menatap takjub saat baru saja ia memasuki ruangan mewah ini. "Semoga semuanya lancar nanti Ya Tuhan…” gumam Haning seorang diri.


Haning pun segera mengeluarkan ponselnya setelah beberapa saat ia merasakan nyamannya tempat ini. Ia tak mau melewatkan tempat sebagus ini untuk mengabadikan gambar. Terlebih dengan penampilannya yang tak biasa sekarang. Haning mengambil foto dirinya di berbagai spot di ruangan ini. Tak lupa ia langsung menguploadnya ke social media untuk menaikkan eksistensinya.


“Haning…” sapa Nuke saat baru saja ia membuka pintu ruangan ini. "Sudah datang kamu?" tanyanya setelah pintu kembali ditutup.


“Iya Mbak Nuke…” Haning segera menyimpan ponselnya karena malu jika sampai kelakuan noraknya ketahuan.


“Yang lain mana?” tanya Nuke setelah sempat memeriksa ponselnya.


“Nggak tahu Mbak. Mungkin pada malu datang ke tempat mewah seperti ini.”


“Kamu tadi nggak barengan sama mereka?”


Haning berbohong perihal ia yang ijin pulang dulu pada rekan-rekannya. Sehingga saat keempat rekannya masih sibuk membereskan toko, ia sudah tak ada di sana.


“Oh ya sudah. Semoga mereka segera datang, karena sayang saja kalau mereka sampai melewatkan kesempatan ini,” ujar Nuke pada orang kepercayaannya ini.


Meskipun Nuke ingin tokonya berkembang, namun ia tak mungkin menghalangi karir para karyawannya yang memang punya kemampuan. Sehingga jika memang ada yang layak untuk ditarik masuk ke Surya Group, maka ia akan dengan suka rela melepaskannya.


Setelah sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya masuklah seorang wanita cantik dengan rambut panjang dan tubuh tinggi nan ramping ke ruangan yang berisi Haning dan Nuke ini.


“Selamat malam. Dari Spark Shop ya?” tanya wanita cantik ini setelah mendaratkan pantatnya di sebuah kursi.


“Iya…” Nuke segera bangkit dan diikuti Haning. “Saya Nuke…” ujar Nuke sambil mengulurkan tangan.


Wanita cantik ini menjabat tangan Nuke yang sudah terulur. “Rista…”


“Saya Haning…” ujar Haning sambil mengulurkan tangan begitu jabatan antara Nuke dan Rista terlepas.


“Rista…” jawab Rista masih dengan keramahan dan senyum yang sama lebarnya.


“Silahkan duduk…” Rista mempersilahkan kedua wanita ini untuk kembali ke tempatnya.


“Apa anda hanya berdua?” tanya Rista setelah ketiganya berada dengan nyaman di tempat masing-masing.

__ADS_1


“Sebenarnya masih ada empat lagi, tapi sepertinya mereka masih dalam perjalanan,” jawab Nuke dengan wajah tak enak.


“Maafkan rekan-rekan saya ya Mbak, karena mereka suka susah kalau diminta tepat waktu,” imbuh Haning yang sepertinya tak begitu peduli dengan nasib rekan-rekannya.


Nuke menghela nafas mendengar ucapan Haning. Ingin sebenarnya ia sela, namun  sayangnya hal itu benar adanya.


“Tidak apa-apa? Saya saja yang terlalu bersemangat, bahkan penanggung jawab brand saja saja belum datang sampai sekarang?” ujar Rista.


“Oh jadi bukan Nona ini yang…” ucapan Nuke menggantung.


“Bukan. Saya juga bagian dari perusahaan, namun hanya sebagai penyumbang ide saja. Nanti yang datang adalah Sekertaris perusahaan kami karena beliau yang accesor dari clothing line yang menjadi jembatan kerjasama kita ini,” jelas Rista.


“Oh…” serempak Haning dan Nuke.


“Siapapun yang akan datang, kami sangat merasa sangat terhormat sekarang...” lanjut Nuke kemudian.


Ketiganya mulai berbincang tentang penerimaan pasar terhadap RR fashion yang sedang mereka garap. Rista sebagai salah satu desainer dan Nuke sebagai pelaku pasar yang berhubungan langsung dengn konsumen. Haning juga  tak mau ketinggalan ambil bagian dari perbincangan ini. sepertinya ia benar-benar menginginkan sebuah posisi dalam perusahaan raksasa ini.


Dan saat tiga orang ini sedang asik berbincang, tiba-tiba muncul Hana dan kawan-kawan yang datang dengan langkah tergesa. Haning berhasil dibuat takjub dengan penampilan ketiga orang rekannya yang nampak sangat berbeda dengan yang ia lihat biasanya.,Haning tak menyangka jika mereka bisa juga terlihat cantik seperti sekarang. Namun ia masih merasa beruntung karena tak ada yang secetar dirinya.


Sayang itu hanya menurut Haning, karena Rista kini bahkan dibuat terpaku sambil menatap Hana. Wanita ini terlalu cantik untuk ukuran pegawai toko kecil dan lebih pantas menjadi selebritis seperti yang sering ada di sekitarnya saat ia bekerja.


Nuke segera memperkenalkan keempat karyawannya yang baru tiba kepada Rista. Hingga tiba giliran Hana, ia nampak kaku karena perasaan takut jika adik dari orang nomor satu di Surya Group ini mengenalinya sebagai salah satu orang yang pernah ditendang dari perusahaan. Tapi ketakutan Hana ini tak berlangsung lama kala ia melihat Rista yang nampak biasa saja saat berkenalan dengannya. Kemungkinan ia tak mengenali siapa Hana ini sebenarnya.


“Maaf..."


Degh!


Baru saja jabatannya dengan Rista lepas, tiba-tiba Rista menahan bahu Hana yang hendak berlalu mencari tempat untuk duduk.


"Saya merasa tak asing dengan kamu. Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Rista pada Hana.


Mati aku. Batin Hana.


“Dia memang pernah bekerja di Surya Group juga Mbak,” ujar Eka dengan bangganya.


Refleks Hana menggigit bibirnya. Ingin sekali ia menyumpal mulut rekannya ini, karena dengan santainya ia membuka kartu yang berusaha ia tutup dari Rista. Jujur ia takut jika Rista sampai tak terima dengan semua hal buruk yang pernah Hana lakukan.


Cklek!


“Selamat malam. Apa saya datang terlambat…”


Mata para pekerja Spark Shop ini membulat sempurna, kala tahu siapa yang kini muncul di tengah mereka, termasuk Risma. Risma memang tahu Andre bekerja di Surya Group dan tahu juga jika ia adalah pacar Hana. Tapi ia benar-benar tak menyangka jika Andre menjabat posisi setinggi ini. Padahal nampak sekali ia masih sangat muda.


“Pak Andre silahkan duduk…” ujar Rista. Ia sepertinya lupa jika baru saja mengungkapkan pertanyaan pada Hana.


Hana hanya mampu menghela nafas. Ia sudah sukup siap akan kemungkinan semacam ini. Karena undangan yang datang hampir bersamaan dengan kemunculan Andre yang berhasil menemukannya/

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2