
^^^Hai hai hai. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin ya temen-temen.^^^
^^^Maaf banget lama menghilang.^^^
^^^Makasih banget yang udah mau nungguin kisah Dika dan Rina.^^^
...Finally, akhirnya mereka sah, yyeeyyyyyyy..........
...*HAPPY READING*...
"Saudara Restu Andika Putra Surya bin Hendro Eka Surya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Rina Malinda dengan mas kawin 1 set perhiasan emas dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Rina Malinda binti Reno Agustian dengan mas kawinnya tersebut tunai."
"Bagaimana saksi..."
"SAH..."
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih..."
Doa terus dipanjatkan bersambut air mata bahagia oleh kedua mempelai dan orang-orang tersayang.
Setelahnya, Dika dan Rina menanda tangani surat nikah berwarna merah dan hijau. Selanjutnya Rina mencium tangan Dika dan Dika mencium kening Rina untuk pertama kalinya setelah sah menjadi suami istri.
Di kursi saksi, Dedi mengulas senyum bahagia.
Bahagialah kawan. Aku akan merasa tenang walaupun harus berada jauh dari kalian.
Semua turut bahagia untuk kedua mempelai. Keluarga inti Rina pun akhirnya tahu siapa Dika yang sebenarnya. Dia bukan anak muda biasa sehingga membuat Reno rela melepas putri satu-satunya di usia yang begitu belia.
"Rriinnnnaaaa, selamat..."
Dian dan Nita menyerbu sahabatnya untuk memberikan selamat.
"Makasih ya...."
"Suwer, kemarin gue mau pingsan undangan elu datang, gue kira cuma mau ngeprank tahu nggak."
"Iya, Dian bener. Lagian lu tu ya niat banget bikin kita jantungan."
Rina kembali memeluk kedua sahabatnya.
"Kalian makan dulu ya, nanti ada sesuatu yang pengen aku obrolin sama kalian."
Tak banyak orang yang datang, namun sudah membuat kediaman Reno penuh dan ramai.
Salah satu sesi yang tak bisa dilewatkan adalah sesi foto. Sepasang pengantin Dika dan Rina berfoto dengan semua undangan yang ada.
"Ded, elu kudu sabar, jangan dulu nikahin adik gue, dia masih kecil."
"Kakak..."
Dedi segera memeluk sahabat yang baru saja melepas masa lajangnya ini, sementara Dika pun mengacuhkan rengekan Rista.
__ADS_1
"Siap Bos. Gue amanah kok."
...***...
Undangan sudah pulang sebagian, hanya menyisakan orang dekat Rina dan Dika.
"Pengen ngomongin apa sih?" tanya Nita saat Rina membawanya bersama Dian memisahkan diri dari keramaian.
"Duduk sini deh ya," ajak Rina pada kedua sahabatnya.
Kedua gadis ini hanya ikut saja.
"Nyadar nggak kalau selama acara tadi ponsel kalian nggak ada sinyal?"
Dian dan Nita segera merogoh ponsel yang sedari tadi tersimpan di dalam clutch mereka.
"Iya sih, mau upload di insta story nggak bisa."
"Iya, selebgram yang dipikir ya instagram melulu, cibir Nita."
Rina tertawa kecil melihat kedua sahabatnya.
"Maafin gue ya."
"Kenapa harus minta maaf?" tanya Dian.
"Ini atas permintaan gue."
"Maksudnya apa sih?" tanya Nita yang juga tak paham dengan arah pembicaraan Rina.
"Jangan nanya caranya, gue nggak tahu," imbuh Rina cepat sebelum kedua sahabatnya bertanya.
Rina menghela nafas setelah sesaat sebelumnya menangkap ekspresi tak paham dari kedua sahabatnya.
"Keluarga kita udah tahu kalau aku belum siap ngepublish pernikahan aku sama Dika."
"What?!"
Setelah sempat beradu pandang, Nita dan Dian serempak menatap heran sahabatnya.
"Ih, kayak simpenan dong."
"Iya. Yang ada orang nikah itu pengennya di publish biar nggak muncul kabar aneh-aneh atau apa lah. Apa lagi laki lu tu Dika. CEO Surya Group yang belakangan namanya mulai muncul ke permukaan. Nggak takut apa lu di samber orang." Dian nampak kesal mendengar keputusan sahabatnya.
"Justru itu..."
"Justru apa," potong Nita cepat.
"Dengerin..."
Kembali Nita hendak melanjutkan protesnya, namun Dian berhasil membuatnya diam. Dia sebenarnya sama saja, hanya ia ingin mengorek isi otak sahabatnya yang baginya telah membuat sebuah keputusan gila.
"Aku menikah bukan dengan orang biasa, jadi aku nggak boleh jadi biasa saja."
__ADS_1
"Kalau aku muncul sekarang, aku hanya akan dipandang sebagai wanita beruntung yang kebetulan dinikahi Dika. Aku hanya akan dipandang sebelah mata dan dengan gampang direndahkan."
"Terus rencana kamu apa?"
Nita melotot saat Dian bersuara. Tadi aja gue disuruh diem. Sekarang elu yang malah nyerocos sebelum Rina kelar ngomong.
"Aku bakal membangun identitasku tanpa campur tangan Dika. Setelah berhasil, aku baru siap menyapa dunia sebagai istri seorang Restu Andika."
Rina perlahan menjelaskan, pada kedua sahabatnya. Awalnya ia ingin merahasiakan pernikahannya dari kedua gadis ini, namun akhirnya ia urung. Makanya undangan untuk kedua gadis ini batu datang tepat sehari sebelum pernikahan dilangsungkan.
Saat Rina tengah mengobrol bersama kedua sahabatnya, Dika tengah mengobrol bersama Dedi dan Andre. Di sana ada Andre karena ia adalah anak Edo, orang kepercayaan mendian papa Dika.
"Aku mau, mau banget kerja sama kamu, tapi aku nggak ngerti apa pun, aku masih harus banyak belajar."
"Jangan bikin malu pak Edo dong," ucap Dedi dengan nada jenaka.
Andre hanya bisa garuk-garuk kepala. Ia serasa dipecundangi oleh dua orang yang bahkan lebih muda darinya.
"Aku tahu apa yang ada di pikiran kamu. Aku sendiri juga berat saat harus mendengar keputusan Dedi. Ingatan supernya sangat membantu setiap pekerjaanku."
"Kalian jangan gini dong. Aku kan juga manusia, dan kelebihan yang kamu gaungkan itu adalah kelainan yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi boomerang."
"Intinya Ndre, Dika bakal lebih nyaman jika yang menjadi asistennya adalah orang yang seusia. Jadi sebagai sahabat saya memohon sama kamu untuk bersedia berada di dekat dia."
"Siapkan memory cadangan karena akan banyak sekali agenda yang Dika hadapi. Jika otakmu tak mampu, maksimalkan teknologi yang ada."
"Diam kamu. Udah kayak mau mati aja ngomongnya," potong Dika yang tak suka dengan setiap ucapan Dedi.
"Emang yang pasti berjodoh dengan kita adalah maut, jadi nggak masalah kan," ucah Dedi dengan diakhiri tawa.
Tak lama Rista datang dan menghampiri Dedi.
"Segera ngomong sama Rista," bisik Dika sebelum Dedi berlalu bersama adiknya.
Dika pun mengajak Andre untuk bergabung dengan Rina dan kedua sahabatnya.
...***...
Malam hari di kediaman Reno. Dika baru saja selesai membersihkan dirinya. Terasa asing, namun inilah kamar gadis yang sejak tadi pagi resmi menjadi istrinya.
"Sayang, bisa tolong anter handuk nggak?"
"Udah aku siapin di deket pintu."
Ternyata benar, sudah ada handuk yang menggantung di handle pintu kamar mandi. Saat mengambil handuk, terlihat jelas Rina masih meringkuk dengan setelan kebaya yang melekat pas di tubuhnya.
Dengan hanya mengenakan handuk kimono, Dika berjalan menghampiri Rina.
"Sayang, mandi dulu gih..."
Rina merubah posisinya, dari meringkuk kini telentang dan menatap suaminya yang terlihat begitu tampan dengan rambut basahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Dika saat melihat Rina memegangi perutnya.
__ADS_1
Rina hanya menggeleng.
TBC