
Dear, maaf ya.
Senja menghilang beberapa hari karena di rumah lagi ada acara.
So, maafkan ya Senja sempat nggak nyambangi Hana Andre dan Rina Dika.
Untuk pengumuman tanda cinta insyaallah segera. Terimakasih
HAPPY READING
“Isinya apa sih?” tanya Risma penasaran. Dengan gerakan tak sabar, ia segera meraih tangan Hana untuk menengok isinya. “Astaga…”
“Apa, apa?” serempak Anin dan Eka yang tak kalah penasaran.
Risma mendesah dan memungus isi kotak itu. “Kunci doang…” ujar Risma sambil mengangkatnya.
“Ya elah…” kompak Eka, Anin, dan Haning. Haning yang diam-diam juga penasaran sejak tadi kini tak dapat membendung lagi ekspresi terkejutnya.
“Lha terus kalau sudah dibayar kenapa masih ditinggal sini barang-barangnya?” tanya Haning dengan menatap aneh Hana.
Hana yang merasa mendapat tatapan tak nyaman hanya menghembuskan nafas enggan.
“Ya itu yang aku nggak tahu, soalnya perempuan tadi hanya membayar dan menitipkan itu…” ujar Nuke sambil menunjuk kotak yang Hana pegang.
Entah mengapa Risma begitu penasaran dengan kotak yang dipegang rekannya. "Masa isinya itu doang," ujarnya sambil mengambil alih kotak itu dari tangan Hana untuk dapat memeriksa isinya dengan seksama.
“E lihat deh…” ujar Risma tiba-tiba.
Spontan semua menatap ke arah Risma, tak terkecuali Hana yang semula memegang kotak yang Risma acak-acak. Risma segera mengeluarkan kertas kecil yang berhasil ia temukan dan membukanya.
"Apa itu?" tanya Eka.
"Baca Ris," pinta Anin.
"Aku baca ya..."
Hana sama sekali tak bereaksi saat Risma meminta ijin padanya.
Risma menghela nafas sembari mmbuka lipatan kertas di tangannya. Ia menatap semua yang ada di sana sebelum melihat dengan seksama tulisan di secarik kertas yang ia pegang.
“Raihana, bawa pulang semua pakaian ini. Aku menunggumu di rumah…” Setelah selesai membaca isinya, Risma kemudian menatap Hana dengan sejuta tanya.
Tak hanya Risma yang yang kini bertanya-tanya, tapi semua yang ada di sana termasuk Haning.
“Raihana itu kamu ya?” tanya Eka dengn polosnya.
“Han, dia siapa kamu?” tanya Risma yang dilingkupi rasa penasaran.
“Kamu simpanan laki-laki itu, iya?” tuduh Haning yang juga tak kalah penasarannya.
Sementara Nuke hanya bersedekap dada dengan raut dipenuhi tanya dan penasaran seperti yang lainnya.
Hana hanya menghela nafas dan menundukkan kepala sebagai jawabannya.
“Han, kalau kamu jujur, kita nggak akan marah kok meskipun harus kena efek dikerjai oleh seseorang yang kamu kenal ini, iya kan Mbak?” tanya Risma pada Nuke. Ia butuh pendapat Nuke karena wanita ini merupakan bosnya di tempat ini yang pule merasakan capek dan kesal karena ulah Andre yang sepertinya memang sengaja mengerjai Hana.
__ADS_1
Nuke yang ditanya hanya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
Kembali Hana menghela nafas, sebelum perlahan ia mengangkat wajahnya. “Maafkan saya kalau karena saya kalian semua jadi kena batunya,” ujar Hana akhirnya.
“Syukurlah kamu sadar. Tapi minta maaf saja tidak cukup.”
Tak ada yang memperingati ucapan Haning ini, karena jujur mereka merasa ketiban sial karena Hana, meskipun di atas kertas toko mereka mengalami keuntungan besar namun bagaimana Andre berulah tak hanya membuat lelah badan tapi juga hati dan pikiran.
“Dia adalah…”
“Permisi…”
Belum tuntas Hana berbicara, tiba-tiba seorang pria datang ke toko mereka. Tak ada suara yang mempersilahkan pria ini untuk masuk, namun pria ini melangkah begitu saja dan menghampiri Hana.
"Ini siapa lagi sih," lirih Haning yang hampir tak didengar oleh yang lain.
“Maaf Nona, saya ditugaskan untuk menjemput Nona Hana,” ujar pria ini.
“Menjemput kemana?” Hana mengabaikan tatapan-tatapan bingung yang tengah terarah padanya kini.
“Menjemput Nona pulang…”
"Nona?"
Entas suara ini keluar dari mulut siapa, karena kelima orang lain di sana sama-sama membeokan panggilan pria ini untuk Hana.
“Pulang kemana?” Hana masih saja bertanya karena sepertinya ini bukan orang suruhan Andre, karena selama ia bersama Andre belum pernah ia bertemu dengan yang ini.
“Ke rumah Tuan. Mari Nona…”
“Bisa Nona, tapi mari ke mobil dulu.”
Melihat wajah tegang Hana, semua jadi tegang. Sebenarnya mereka tak tahu situasi macam apa ini, yang jelas orang baru di tokonya ini bukan orang biasa.
“Saya ingin kamu menghubunginya di sini.” Suara Hana terdengar meninggi. Ia tak peduli dengan apa yang akan dipikirkan rekan-rekannya nanti.
“Maaf Nona, tapi ponsel saya di mobil.” Pria ini masih mencoba mencari alasan yang masuk akal sepertinya.
Hana tak lagi menjawab. Ia mengedarkan pandangannya ke berbagai sisi.
Degh!
Ya Tuhan. Batin Hana. DI luar ada beberapa orang yang tampilannya seperti pria ini.
“Maaf, tapi saya harus mengurus ini semua,” ujar Hana sambil meraih paperbag belanjaan Andre.
“Nona, sebaiknya anda segera ikut saya sekarang,” ujar pria ini sambil meraih tangan Hana. Hal ini membuat Hana tanpa sengaja menjatuhkan apa yang ia pegang.
“Pak, Hana sudah bilang tidak mau, kenapa harus dipaksa!” Risma berusaha menahan pria itu agar tak jadi membawa Hana.
“Lepaskan saya, lepas…” Hana mulai panic saat pria ini menariknya. Risma pun terhuyung karena tubuh mungilnya terhempaskan.
Risma yang hendak mengejar Hana justru di tahan oleh semua yang ada di sana. “Jangan cegah saya, saya cuma mau bantu Hana,” kekeh Risma.
“Ris, kita ngak ada yang benar-benar tahu siapa Hana,” ujar Eka mengingatkan.
__ADS_1
“Iya, kita cukup banyak mendapat kejutan sejak Hana datang,” imbuh Nuke yang sejak tadi lebih banyak diam.
“Tapi dia sudah banyak membantu saya,” Risma merosot saat melihat Hana ditarik melewati pintu.
“Mungkin sebaiknya kita tak banyak ikut campur dengan urusan Hana,” lagi Nuke berujar untuk menasehati.
Kali ini Haning tak banyak bersuara. Pikirannya sedang melayang kemana-mana dan menerka-nerka berbagai kemungkinan yang ada. Ia takut jika Hana ternyata orang jahat. Bagaimana kalau dia akan membalas perbuatan Haning padanya selama beberapa hari mereka bekerja.
“Ayo kita bereskan ini dulu kemudian pulang,” ujar Nuke tanpa celah untuk tawar-menawar.
Mau tak mau semua segera melaksanakan apa yang Nuke perintahkan. Tak semua acuh pada Hana terutama Risma, tapi mereka juga tak bisa banyak berbuat karena mereka tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Hana, siapa pun kamu, terimakasih atas banyak sekali bantuanmu padaku. Maafkan aku yang, tak bisa menolongmu.
***
“Sudah puas kamu sekarang?”
Hana tak berekasi. Dia hanya melihat sekilas Andre yang baru saja menanyainya di balik kemudi. Kemudian kembali fokus ke jalan.
“Coba kalau tadi aku telat, apa kamu sudah siap untuk perang dengan Rio lagi?”
“Kenapa kamu malah bawa-bawa Kak Rio?” Baru Hana mau menyahut saat Andre menyebutkan naman kakaknya.
Andre menatap Hana yang duduk di sampingnya. “Hanya kamu yang tahu jawaban pastinya,” ujar Andre kemudian. Ia memang tak ingin menuduh atau menerka meski nyatanya ia tahu kemungkinan besar Hana pergi karena ucapan Rio yang memintanya untuk berhenti merusak kebahagiaan orang.
“Ndre…” panggil Hana.
“Hmm…” Andre menatap sekilas sebelum kembali fokus menatap jalan.
“Bisa antarkan aku kembali ke rumah Risma?” pinta Hana dengan hati-hati.
“Kenapa, kamu sengaja ingin membuatku tahu dimana tempat kamu tinggal? Apa kamu sudah lelah bersembunyi.” Andre tersenyum samar menantikan reaksi Hana.
“Memangnya sejak kapan aku benar-benar bisa bersembunyi darimu?” ketus Hana.
“Ya kalau tahu kenapa kamu masih mau coba?”
“Aku hanya…” Hana bingung melanjutkan kalimatnya.
“Hanya apa?” desak Andre.
“Aku hanya…” Lagi-lagi ucapan Hana menggantung. Aku tak ingin merusak hubunganmu dengan papa mamamu. Ah, kenapa susah sekali hanya untuk berkata seperti ini, lanjut Hana dalam hati.
Andre tahu apa yang ada di kepala Hana. Bukan tahu tepatnya, tapi ia yakin saja. “Apa kamu benar-benar tak ingin ikut aku pulang?” tanya Andre yang sudah merasa cukup menggoda Hana.
Hana menoleh daan saat itu juga pandangannya langsung bertemu dengan Andre. Karena sekarang posisi mereka di lampu mereh sehingga aman jika mereka ingin saling menatap seperti ini.
“Hanya sekedar menemaniku makan malam,” lanjut Andre sebelum kembali menjeda ucapannya. “Jika memang kamu tak mau tinggal, aku janji akan mengantarmu pulang setelahnya,” pungkas Andre.
Perlahan kepala Hana mengangguk dengan sendirinya. Seandainya semuanya tak serba sulit seperti ini, pasti aku tak akan berfikir dua kali hanya untuk bersamamu lagi, ujar Hana dalam hati.
Entah siapa yang memulai, sekarang tatapan dua sejoli ini tak lagi saling mengunci dan fokus menatap jauh ke depan. Tak ada lagi yang bersuara diantara keduanya dan nampaknya mereka lebih sibuk dengan isi kepalanya.
Bersambung…
__ADS_1