Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Kecewa


__ADS_3

Halu, halu.


Jangan bosen meninggalkan jelak ya.


Tenang aja, Senja nggak baperan.


HAPPY READING


“Ayo pulang.”


Rina langsung bangkit dari sofa setelah mendengar suara suaminya. Ia menyambar slingbagnya sebelum berjalan menghampiri suaminya. Dengan tangan saling tertaut keduanya berjalan meninggalkan ruangan.


“Mau makan malam di mana?” tanya Dika pada istrinya.


“Terserah kamu,” jawab Rina lirih.


Dika menatap istrinya yang terlihat lemas.


“Kamu capek?” tanya Dika kemudian.


Menampilkan matanya yang sedikit memerah. “Aku ngantuk sayang.”


Dika menghentikan langkahnya. “Capek ya?” Dika mengulangi pertanyaannya.


“Enggak. Aku gampang banget ngantuk sekarang,” terang Rina.


“Kita pulang ya.”


Rina menggeleng. “Aku pengen makan.”


“Makan apa?”


“Emmm, resto Dian kayaknya mau launching beberapa hari lagi.”


“Kamu mau ke sana pas launching?”


Rina hanya menggeleng.


Diam-diam DIka merasa kesal. Ia sedang lelah, dan saat seperti ini kesabarannya masih harus diuji. Tanpa disengaja, tangan Dika mengepal hingga otot-ototnya menyembul keluar seketika. Rina ini maunya apa sih?


Setelah cukup melampiaskan kesal, ia segera merilekskan lagi


tananya. Dengan gerakan perlahan, ia melepaskan genggamannya. Ia menatap Rina yang berjalan di sampingnya sambil memegangi slingbag yang tersampir di pundaknya.


“Ke Dian sekarang ya,” ucap Rina tiba-tiba.

__ADS_1


“Emang posisi Dian dimana? Kamu capek, makan juga belum, sekarang malah mau nyari Dian.”


Rina menghentika langkahnya. Spontan Dika ikut berhenti juga.


“Sayang, aku pengen nyicipin semua menu yang ada di resto baru Dian.”


Dika terkejut bukan main dengan permintaan istrinya yang tak kira-kira ini.


“Ya kira-kira lah Rin. Ya mana mungkin menunya ada, kan launchingnya masih lusa.”


Meskipun Dika sudah tak dapat menyembunyikan kekesalannya, ia masih berusaha menjaga nada bicaranya. Ia tak ingin sampai mengeluarkan nada tinggi untuk istrinya, terlebih saat ini mereka masih berada di kantor dan banyak orang yang lalu lalang di sekitar mereka.


“Kan bisa minta Dian bikinin khusus buat aku,” ujar Rina dengan wajah berbinar. Ia sama sekali tak terpengaruh oleh perubahan wajah Dika yang mungkin bisa membuat gemetar jika orang lain yang diajak bicaranya.


Dika benar-benar tak habis pikir dengan istrinya ini. Ingin sekali ia memperingati Rina jika keinginannya ini tak cukup pantas untuk direalisasikan. Namun ia cukup waras dengan tak ingin ada orang lain yang melihat perdebatan mereka. Untuk itu Dika memilih untuk segera membawa Rina pergi dari sana dari pada harus ada orang yang melihat kondisi tak harmonis mereka.


Sementara itu, Rina girang bukan main saat Dika membawa ia buru-buru keluar dari kantornya. Yes, pasti langsung cus ke tempat Dian nih. Aku jadi penasaran dengan menu-menu yang ada di resto baru Dian.


“Jalan Pak.”


Sopir mulai menjalankan mobil setelah Dika perintahkan. Rina menatap lampu-lampu di jalan dengan bahagia, sebalum tiba-tiba ia ingat sesuatu.


“Sayang, kamu udah tahu lokasi Dian dimana?” tanya Rina di tengah perjalanan mereka. Pasalnya Dika sama sekali tak bertanya padanya sejak tadi tentang di mana lokasi Dian sekarang.


Dika menyugar rambutnya. “Kita nggak ke tempat Dian tapi langsung pulang.”


“Rina, cukup!”


Rina tersentak kali ini.


"Kamu rasional dikit dong. Dian itu kerjaannya banyak, ya kali mau buatin makanan khusus buat kamu malam-malam seperti ini. Ya kalau pun Dian nggak nolak permintaan kamu tapi yang yang punya permintaan yang kudu tahu diri,” kesal Dika menumpahkan kekesalannya.


“Jadi maksudnya aku nggak tahu diri?” lirih Rina dengan menahan air mata.


“Ya menurut kamu aja gimana?” Dika mengendurkan dasinya. “Aku sudah cukup bersabar ngadepin kamu akhir-akhir ini, tapi…”


Dika tak dapat melanjutkan ucapannya. Ia mendesis dan membuang wajahnya.


Rina menunduk dan berusaha menahan air matanya. Aku capek, dan hanya ingin makan makanan Dian. Hanya begini apakah termasuk tidak tahu diri?


“Turunin aku di sini aja. biar aku ke Dian sendiri kalau kamu nggak bisa anterin,” lirih Rina.


“Ya nggak gitu sayang, tapi ya nggak enak aja sama Dian.” Dika berusaha menurunkan emosinya, at least menunda untuk menumpahkan.


Tanpa isakan, air mata Rina turun juga akhirnya. “Kemaren es krim suruh nunda, sekarang aku pengen makan masakan buatan sahabatku katanya nggak tahu diri. Aku tuh mintanya sama orang lain bukan sama kamu, kenapa harus kamu yang

__ADS_1


marah.”


“Ya karena aku suami kamu, jadi kewajiban aku untuk mengingatkan kamu jika ada hal tak pantas yang akan kamu lakukan.”


“Jadi menurutmu apa yang kamu lakukan ini tak pantas.” Rina menyeka air matanya. “Aku nggak minta kapal pesiar, aku nggak minta jet pribadi, aku nggak minta kamu beliin pulau, tapi aku cuma pengen makanan bikinan temen aku dan es krim doang. Itu yang kamu bilang tak pantas?” Suara Rina meninggi. Tangisnya pun sudah pecah kali ini.


“Ya kamu jangan kekanakan gini dong, please. Aku itu capek, pengen relaks, istirahat. Jangan kamu tambahin kerjaan lagi dengan meminta hal yang sulit kayak gini. Mau apa, pesiar? Tuh udah ada, mau yang baru nggak masalah, jet pribadi ayok tunjuk aja, pulau pribadi silahkan. mau buatan apa yang alami. Asalkan jangan bikin susah kayak gini, aku tuh capek.”


Rina terperangah dengan mata nanar tak percaya. “Kamu capek? Aku juga sama!" Dada Rina naik turun. "Dari pagi kita sama-sama kerja. Tadi aku cari es krim sendiri kamu cuma di kantor, lebih capek mana, ha?”


“Ya kalau kamu memang capek kerja, ya udah istirahat saja. Semula aku pikir lebih baik kamu yang menggantikan Andre ketimbang aku harus pick orang lain yang belum tentu bisa paham sama ritme kerjaku." Dika menghela nafas. "Dan ternyata aku salah.”


Rina kembali terisak.


“Maafin aku,” ujar Dika meskipun ia merasa tak sepenuhnya salah.


“Berarti kamu lebih suka deketan dengan orang lain dari pada aku?”


Dika memejamkan matanya saking kesalnya. Ia tak percaya jika Rina istrinya bisa semenyebalkan ini. “Kenapa kamu jadi kekanakan seperti ini sih.”


Rina mengangkat wajahnya yang tak kalah terkejut dari suaminya. “Tak tahu diri, tak pantas, kekanakan apa lagi!” Rina berteriak persis di depan wajah Dika. Suasana di mobil ini tegang seketika. Bahkan helaan nafas sopir yang di depan saja sampai terdengar jelas.


Dika memilih untuk diam ketimbang membalas ucapan istrinya. Ia menyandarkan punggungnya dan memijat pangkal hidungnya.


Ya Tuhan. Kenapa sekarang Rina jadi seperti ini. Apa sudah berusaha membahagiakan dia semampuku, tapi kenapa malah begini balasannya.


Merasa diacuhkan suaminya, Rina menunduk dan membiarkan semua air matanya tumpah. Ia menahan isaknya namun tak bisa dengan air matanya. Kenapa Dika sekarang berubah. Hanya karena permintaan sederhana saja kenapa dia sudah sebegitu marahnya. Apa aku sekarang sudah tak berarti apa-apa untuknya, atau jangan-jangan dia sudah mulai menatap wanita lain karena aku tak bisa memberikan anak untuknya.


***


Andre dan Hana sekarang sudah pulang ke apartemennya. Sore tadi mereka pamit dari rumah Miko bersamaan dengan Miko yang harus kembali ke rumah sakit.


“Hana.”


“Iya…” Hana yang baru saja mandi segera menghampiri Andre. “Ada apa?” tanyanya setelah duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari kekasihnya.


“Bagaimana hubunganmu dengan Galih Rahardja sebenarnya?” tanya Andre dengan sungguh-sungguh.


Hana menatap ragu pria muda ini. Aku sebaiknya gimana?


“Hana? Apa kamu berniat untuk terus menyembunyikan jati dirimu?” pertanyaan sebelumnya belum Hana jawab, namun Andre sudah melontarkan pertanyaan kedua.


Hana menelan ludah. Baru saja seharian Andre begitu manis terhadapnya, sama sekali tak menekan atau mengintimidasi, tapi kenapa begitu kembali ke apartemen ini Andre langsung berubah lagi.


“Hana…”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2