
HAPPY READING
Kreyt!
Pintu yang menjadi penghalang dua mata yang saling merindu itu terbuka. Rista kembali mendapat kejutan yang sangat menyenangkan hatinya, namun sekuat tenaga selalu ditolak oleh logikanya.
Rista menatapkan langkahnya untuk maju, meski sebenarnya ia gemetar dan ingin lari saat ini juga.
“Hai semua…” sapa Rista begitu Hana yang berjalan di belakangnya terdengar menutup pintu.
“Nggak ada kuliah Ris?” tanya Dika yang sadar betapa berusahanya adiknya ini untuk mengangkat wajahnya.
“Ada Kak, tapi tugas sudah beres,” jawab Rista dengan senyum yang jelas sekali ia paksakan.
“Jangan keseringan bolos kamu,” ujar Dika menasehati.
“Cuma kalau ada perludoang kok…” elak Rista lagi.
Dika membiarkan Rista berbincang dengan Rina sementara ia melanjutkan bahasannya dengan Dedi. Mereka memang selalu merasa masing-masing tak ada meski berada di tempat yang sama.
“Itu Hana kok ditingga…” ujar Rina pada Rista yang ngeloyor sendiri ke tempatnya.
Rista yang baru sadar pun segera menepuk jidatnya. Ia langsung berbalik dan menggerakkan tangannya agar Hana mendekat. Dengan sesekali membungkukkan badan, Hana berjalan melewati Dedi dan Dika yang tengah serius berbincang tentang pekerjaan.
“Kok bisa barengan?” tanya Rina setelah dua wanita cantik ini sudah duduk di hadapannya.
“Aku tadi nemu Kak Hana di depan lagi…” Rista sengaja menggantung ucapannya. Ia sengaja ingin menggoda Hana.
Dan dengan gerakan cepat, Hana tiba-tiba meraih lengan Rista yang tergeletak bebas di atas pangkuannya. Rista pun membalasnya dengan menarik kedua bibirnya dan menyipitkan mata.
“Apa sih, malah senyam-senyum…” kata Rina saat melihat kelakuan adik iparnya yang tiba-tiba senyam-senyum tak jelas seperti ini.
“Itu Kak, aku kebelet pipis. Makanya tadi Kak Hana sampai ketinggalan. Aku ke kamar mandi sebentar ya…” pamit Rista yang langsung bangkit dari duduknya.
Namun bukannya berjalan ke arah kamar mandi yang ada di ruangan besar ini, Rista justru berjalan melewati Dedi dan Dika menuju pintu keluar.
“Rista mau kemana, kamar mandinya kan di sini!” ujar Rina setengah berteriak.
“Ada barang yang ketinggalan…!” jawab Rista dengan teriakan pula.
Tanpa terlebih dahulu berhenti, Rista melanjutkan langkahnya dan menghilang di balik pintu. Saat itu tanpa sengaja pandangan Dika dan Rina pun bertemu.
“Adikmu tuh…” ujar Rina nyaris tanpa suara
“Emang iya…” jawab Dika sambil menaikkan bahunya.
Dedi membuang muka kala pasutri ini dengan gerakan kompak menjadikan ia sasaran tatapan sinisnya. Ia tetap focus pada masalah yang sedang ia dan Dika bahas dan mengacuhkan serangan ganda yang dilakukan padanya.
“Si Bocil kabur lagi…?” tanya Andre yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Kalau begitu saya juga permisi…” Hana ingin segera keluar karena merasa tak ada kepentingan di sana.
“Kenapa kamu ikut-ikutan pergi?” protes Andre yang terlihat tak rela.
“Karena di sini sedang sibuk semua,” jawab Hana yang terlihat geram karena Andre seolah tak mengijinkannya pergi dari sini.
“Ya udah, aku antar…” tawar Andre yang kini sudah berada di samping Hana.
__ADS_1
“Nggak usah. Kamu lagi kerja juga…” tolak Hana.
“Nggak masalah. Ada tiga staf yang siap sedia bantuin aku…” ujar Andre dengan santainya.
“Tapi…”
Andre cuek dengan penolakan Hana dan berniat membawa Hana pergi dari sana.
“Apa Pak Andre sudah tidak ada pekerjaan?”
Suara Dika berhasil menghentikan langkah Andre seketika. Ia pun menatap bosnya yang nampak sibuk dengan dokter muda berkepala batu yang sayangnya berotak cerdas ini.
“Dokumen yang saya minta mana, kenapa belum diantar ke meja saya…” lanjut Dika menagih apa yang sebelumnya ia minta pada sekertarisnya.
“Sedang dikerjakan bos, kamu tenang saja, nanti juga sampai di meja anda…” Kekurangajaran Andre makin berlipat saat ia sedang ingin membawa Hana pergi dari sana dengan cepat.
“Itu tandanya pekerjaan kamu belum selesai, jangan seenaknya kalau masih punya tanggaung jawab.” Dika lelah menggunakan kata-kata formalnya untuk berbicara dengan sekertarisnya yang kurang ajar ini.
Hana berusaha melepas cekalan Andre. “Aku bisa pulang sendiri,” lirihinya kemudian. “Semuanya, saya permisi dulu. Maaf sudah menganggu pekerjaan anda semua.”
Hana menunduk hormat sebelum mohon diri.
“Tunggu Hana…”
Saat ia sudah bisa melepaskan diri dari Andre, namun kembali ada orang lain yang menahan Hana. Dia adalah Rina.
“Ada apa Nona?” tanya Hana yang sudah dalam posisi siap menghadap Rina.
“Apa kamu sibuk? Sepertinya saya sedang butuh bantuanmu,” lanjut Rina mengutarakan niatnya.
“Selama saya mampu akan saya usahakan,” jawab Hana dengan penuh rasa hormat.
“Lili sedang sakit, dan saya waktunya pemeriksaan rutin. Apa kamu bisa menemani saya?” tanya Rina untuk mengetahui kesediaan Hana.
“Sayang, tadi kan aku sudah bilang kalau akan aku antar setelah pekerjaan ku bisa ditinggal,” sela Dika yang tak rela Rina pergi tanpa dirinya.
“Tapi nyatanya pekerjaan kamu masih sangat banyak sayang. Ya jangan ditinggal lah. Aku sama Hana saja ya. Bagaimana Hana?” Rina nampak memohon untuk kesediaan Hana.
“Bisa kok, bisa…” jawab Hana cepat.
“Katanya tadi kamu ada keperluan?” protes Andre karena tiba-tiba Hana bersedia menemani Rina.
Andre sepertinya tak rela Hana pergi dengan Rina, karena ia tak ingin membuang kesempatan untak dapat bersama Hana sekarang.
“Nggak jadi…” cuek Hana mengabaikan wajah Andre yang nampak tak sedap dipandang mata.
“Ya udah. Kamu duduk dulu ya.” Rina menyambut bahagia kesediaan Hana. Ia mengajak wanita ini mengobrol dan sesekali melibatkannya dalam pekerjaan yang tengah digarapnya.
Saat ia mulai larut berbincang dengan Rina, tiba-tiba Hana teringat ponsel Anin yang masih bersamanya.
“Duh ini gimana?” gumam Hana.
“Apa Han?” tanya Rina yang kebetulan mendengar celetuk Hana.
“Saya tadi ke sini mau mengantarkan ponsel ini kepada teman yang hari ini baru resmi menjadi karyawan Surya Group, tapi malah lupa,” jelas Hana penuh sesal.
“Kamu tahu tempat tinggalnya?” tanya Rina.
__ADS_1
“Tahu…” singkat Hana.
“Nanti bisa kita antarkan saat keluar,” ujar Rina memberi solusi dengan mudahnya.
Hana tersenyum lega. “Terimakasih Nona…”
"Sama-sama..."
Keduanya kembali berbincang. Meskipun Hana bukan karyawan di perusahaan ini lagi, namun kecerdasannya tak bisa diabaikan begitu saja. Terbukti sekarang Rina sangat terbantu dengan ide brilian Hana dan cara jitunya mengatasi setiap masalah yang Rina temui dalam pekerjaannya.
Diam-diam Andre merasa lega karena Rina bisa menerima Hana dengan sebaik ini. Semoga hubungannya dengan Hana juga akan diterima sebaik ini segera oleh orang tuanya.
“Pak Andre, bagaimana kabar dokumen yang saya minta…?” sekali lagi Dika mengingatkan.
“Iya Pak Restu, akan saya periksa sejauh mana staf saya mengerjakannya.” Memang ucapannya menggunakan bahasa baku yang baik dan benar namun kelakuan Andre sungguh tak mencerminkan sedikitpun rasa hormat antara sekertaris terhadap atasan. Namun Dika tak masalah, karena seperti ini lah mereka sebenarnya.
Andre keluar dan mencari Rahma. Saat itu Rahma juga tengah bangkit dari kursinya.
“Bagaimana dokumen yang tadi saya minta?” tanya Andre pada Rahma yang tadi ia utus untuk menangani masalah ini.
“Ini Pak. Kebetulan mau saya antarkan ke ruang pak Restu,” jawab Hana menunjukkan dokumen yang sudah ada di tangannya.
“Sini saya saja…”
Andre mengambil alih dokumen yang Rahma kerjakan. Ia kemudian masuk kembali ke ruangan bosnya.
“Gimana sekarang. Kenapa tadi yang keluar Nona Rista sedangkan wanita tadi masih di dalam bersama pak Dedi dan pak Andre juga.” Ucapan Elis ini mendapat respon berupa gelengan dari Rahma.
“Sudah, sudah. Kita dan mereka ada di kelas yang berbeda. Jangan ketinggian kalau punya keinginan. Otak rasional itu tak hanya digunakan dalam bekerja tapi juga kehidupan kita,” ujar Riza yang berusaha mengingatkan kedua rekannya.
“Mbak Riza kalau nggak ngerti diam saja,” kata Rahma.
“Emang kalian ngerti?” cibir Riza.
Di dalam, Rina sedang bersiap untuk pergi dengan Hana karena pekerjaannya sudah selesai semua.
“Ini…” Hana menyerahkan kunci mobil Andre yang ia gunakan sejak semalam.
“Kamu bawa saja dulu, nanti pulang kerja jemput aku…”
“Kalian mau kemana?” tanya Rina dengan tatapan curiga.
“Kita…” Hana yakin jika Andre akan membawanya ke apartemen atau rumahnya, tapi ia tahu ini tak pantas untuk diakui di depan orang-orang ini.
“Kita mau ambil barang-barang Hana di rumah temannya,” ujar Andre.
“Iya…” sahut Hana cepat.
“Oh, aku pikir kalian mau tinggal bersama lagi.” RIna tertawa dengan pemikirannya.
Dedi mendengus.
“Butuh nafas buatan pak dokter?” canda Andre.
Andre memang dasarnya kacau, tapi itu saat ia belum menjadi sekertaris utama di Surya Group. Ia sempat menjadi kulkas berjalan sebelum kehangatan cinta Hana mencairkannya. Dan sekarang ia sepertinya kembali menjadi Andre remaja yang slengekan seperti dulu.
Bersambung…
__ADS_1