Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Kalah Lagi


__ADS_3

HAPPY READING


“Kenapa?”


Andre protes karena merasa Hana menolaknya.


Hana berusaha tersenyum manis sambil membenahi dasi Andre yang tak simetris saat ini. “Tahan ya. sebentar lagi juga sah…” ujarnya dengan lembut.


Andre mengabaikan ucapan Hana dan kembali berusaha mendekatkan wajahnya. Namun kali ini Hana tak pasrah begitu saja. Ia menoleh dan Andre pun kehilangan sasarannya.


“Jangan ya,” kembali Hana berujar dengan begitu pelan.


Andre terdiam. Dia masih saja memandangi Hana dengan mata sarat akan rasa ingin yang begitu kuat.


Hana mau aku berhenti, tapi kenapa suaranya begitu menggoda seperti ini. Kalau begini, aku malah jadi ingin membuatnya mendesah berkali-kali.


Glek!


Andre menahan ludah. Ia tak tahan, tapi apa daya Hana tak memberinya penyambutan. Bisa saja ia menerkam Hana sekarang, tapi ia tak mau ada rasa terpaksa di sana.


“Sebentarnya kapan, apa kamu bisa memberi kepastian?” tanya Andre sambil terus berusaha menahan diri. Ia berusaha bernegoisasi, barang kali Hana bisa luluh lagi kali ini. Membuat wanita ini menjilat ludah dan menyerah. Akhirnya memohon Andre untuk membuatnya mendesah. Itu menjadi hal yang paling Andre inginkan saat ini.


Hana menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai merasa sesak sehingga butuh asupan udara lebih banyak. Andre memang sudah tak lagi memaksa, tapi tetap saja posisi mereka yang tanpa jarak membuat ia gugup. Hingga Hana tak mampu menjawab tanya Andre yang telah diungkap kepadanya.


Andre tersenyum samar. Ia tahu Hana tak akan menang.


“Tell me Sayang. Sebentar itu sampai kapan?” tanya Andre  yang mulai kembali mendekatkan wajahnya.


Hana yang menyadari pergerakan kekasihnya. Ia bahkan bereaksi dengan melepaskan bibir yang semula digigitnya dan memejamkan mata untuk menandakan kepasrahannya. Namun Hana harus menelan kecewa kala Andre ternyata hanya lewat saja, begitu ia membuka mata.


Lebih kecewa lagi saat Andre perlahan mendorong tubuhnya hingga pelukan keduanya terlepas begitu saja. Andre memang tak mengacuhkan Hana, tapi dengan cara ini Hana merasa ditolak keberadaanya.


“Ya sudah, kamu sekarang lebih baik pulang…”


Hana membulatkan mata tak percaya. Memang ini yang dimau, saat ia menolak Andre yang ingin mencumbu. Tapi kenapa rasanya sekecewa ini saat Andre tak memaksakan inginnya seperti biasa. Bahkan dengan legowo melepaskannya.

__ADS_1


Jadi bingung kan apa mau Hana sebenarnya?


“Kok bengong?”


Andre meraih tangan Hana dan menciumnya. Romantic bukan?


Tapi sayangnya bukan ini yang Hana mau sekarang. Terbiasa melakukan kontak fisik di luar batas, nyatanya membuat ia tak puas hanya dengan interaksi yang biasa saja. Tapi apa daya. Ia terlanjur mengungkapkan penolakan di awal sehingga gengsi ia kalau kini harus meminta yang sebaliknya.


“Aku antar…”


Bahkan Andre bangkit dari tempatnya.


Kenapa Andre jadi begini. Biasanya ia paling tak bisa menahan diri. Apa Elis sudah berhasil menggodanya makanya ia bisa membiarkanku lepas seperti sekarang?


“Sayang,” ulang Andre saat Hana hanya diam saja. Ia tak bersuara bahkan tak bergerak dari tempatnya.


Hana menghela nafas sembari sejenak memejamkan matanya. Ia membulatkan tekat sambari berusaha menutup rapat-rapat kesal yang bergejolak.


Ddrrkkk!!!


Andre cuek dengan kondisi kekasihnya. Ia bahkan membimbing Hana untuk berjalan bersamanya. Hingga tiba di depan pintu ia berhenti setelah memutar tubuhnya.


“Apa yang sekarang harus aku lakukan?” tanya Andre sambil menatap Hana dengan senyum yang tak mudah diartikan.


Bukan artinya Hana tak mengenal dengan baik calon suaminya, hanya saja ia terlalu mumet dengan keruwetan keinginan dan kenyataan yang tak sejalan terjadi padanya sekarang.


Andre masih saja memandangi Hana. Memandangi wajah kekasihnya yang nampak serba salah.


“Apa yang harus aku buka?”


Andre menyelipkan rambut Hana di belakang telinga. Ini mambuat Hana harus menelan ludah untuk kesekian kalinya. Ia tak mampu protes saat Andre bahkan lebih tertarik memperhatikan telinga dan leher jenjangnya yang kini tengah Andre bebaskan dari rambut yang menutupinya.


“Jawab Sayang...” desak Andre sambil memainkan ibu jari di pundak Hana sekarang.


“Daun pintu atau...”

__ADS_1


Tangan Andre bergerak ke depan dan berhenti di kancing teratas pakaian Hana.


Tahu ia menang, Andre bergerak perlahan mendekatkan wajahnya. Hana pun menyaambut dengan mata yang dipejamkan dan lengan yang dikalungkan.


Andre bersorak gembira karena akhirnya pagutannya bersambut juga. Ia berhasil membuat Hana mengambil kendali pergumulan mereka. Hingga saat dirasa mereka membutuhkan jeda, Andre memberi waktu pada Hana untuk mengisi pasokan oksigen di dadanya.


“Aku mau kamu Hana, aku butuh kamu Hana,” lirih Andre dengan suara berat dan sorot penuh hasrat.


Kalimat ini bak amunisi untuk hasrat membara yang berusaha Hana tahan sebenarnya. Ia yang sudah kepalang kebakaran membuat Andre benar-benar terpuaskan.


Mereka benar-benar melayang sekarang. Pertahanan yang semula hendak dikuatkan nyatanya runtuh bersama pakaian yang ditanggalkan.


***


Kediaman Restu Andika nampak sibuk meski hanya sekilas dilihat saja. Ini adalah hari dimana Rina pulang dari rumah sakit beserta Gendis bayinya. Jadi jelas lah perayaan bukan sesuatu yang akan di lewatkan untuk menyambut mereka.


“Mbak, Mbak, ini tolong…”


Tak cukup dengan banyaknya asisten yang lalu lalang dengan banyaknya hal yang harus disiapkan, tapi Santi juga tak mau kalah ambil bagian. Ia tak bisa mempercayakan seratus persen persiapan kepada orang tanpa ia ikut turun tangan untuk sekedar memantau semua berjalan sesuai yang telah direncanakan.


Sebagai besan, Ririn sudah coba untuk  menghentikan Santi, namun yang ada dia malah jadi ikut sibuk seperti ini.


Sementara Rina sekarang sedang di kamar bersama seorang neni yang baru datang hari ini. Seorang yang memiliki ahli untuk merawat bayi serta memiliki sertifikat resmi. Memang Rina belum banyak tahu masalah bayi, tapi ia ingin tahu bagaimana orang yang ia bayar mahal ini memperlakukan anak yang amat ia cintai.


“Itu nggak apa-apa emang digituin?” tanya Rina saat melihat kepala bayinya ditinggikan setelah selesai ia susui.


“Tidak apa-apa Nona. Memang harus dibuat bersendawa biar ASI yang baru diminum maksimal masuknya,” jelas perempuan ini.


“Kan sudah masuk?” tanya Rina memastikan.


“Nggak gumoh maksud saya,” jelas sang baby sitter pada Rina yang tengah memperhatikannya ini.


Dan berlanjutlah dialog antara keduanya bahkan hingga para nenek berkumpul di sana. Rina banyak sekali bertanya seputar bayi yang sempat dipelajarinya. Ia bukan bermaksud sedang menguji tapi juga memastikan kebenaran atas teori yang dipelajarinya. Karena wanita bernama Siti ini sudah punya pengalaman puluhan tahun selain validasi dari berbagai sertifikan yang ia miliki.


Siti juga bahkan merupakan terapist di baby spa yang berhasil ia dirikan atas usahanya bertahun-tahun bekerja. Namun dia berhasil dibawa ke sini untuk mengasuh Gendis yang tak mungkin dipasrahkan pada orang yang minim pengalamannya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2